"Aku hanya ingin tertawa, sehingga hati aku mati rasa akan luka"
Kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu
Memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan
Terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja
Seakan-akan sosokmu nyata
Menjelma menjadi pahlawan kesiangan
Yang merusak kebahagiaan
Dalam kenangan
kau seret aku perlahan
Menuju masa yang harusnya aku lupakan
Hingga aku kelelahan
Hingga aku sadar
bahwa aku sedang dipermainkan
Inikah caramu menyakitiku?
Senin, 25 Agustus 2014
Kamis, 21 Agustus 2014
setengah malam.
Andai waktu dapat diputar balikan
Ingin rasanya kembali ke masa terbodohku, setidaknya aku bisa memperbaiki, walau pada nyatanya semuanya hanya angan klise hari hariku.
Sejatinya waktu terus berjalan kedepan, menerjang dan menginjak apa yang ada pada kemarin itu.
Lalu kini aku terus dibuntuti oleh penyesalan terbrengsek ku...
Ingin rasanya kembali ke masa terbodohku, setidaknya aku bisa memperbaiki, walau pada nyatanya semuanya hanya angan klise hari hariku.
Sejatinya waktu terus berjalan kedepan, menerjang dan menginjak apa yang ada pada kemarin itu.
Lalu kini aku terus dibuntuti oleh penyesalan terbrengsek ku...
Selasa, 13 Mei 2014
Membunuh Rasa
Semula, aku tahu kita tak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Ketika cinta terlampau besar untuk kutinggalkan, namun terlampau kecil untuk terlihat di antara tingginya egomu. Entah siapa yang salah, aku ataukah kamu? Atau kita hanya bosan bermain-main di hati yang itu-itu saja?
Jangan paksa aku memutarbalikkan cinta menjadi benci hanya karena sikapmu itu. Kamu tahu, tak selamanya cinta menang melawan luka. Mungkin akan datang saatnya aku meninggalkanmu begitu saja, tanpa mau menengok lagi untuk menjawab semua tanya.
Tak akan bisa bertahan jika kamu terus-menerus memaksakan kehendak dan aku menjadi yang tak mampu berkata tidak. Tak akan bisa sejalan jika melulu kita berbeda pandangan, diakhiri dengan hati yang enggan mengalah. Tak akan bisa sejajar jika yang tinggi tak mau merendah, sedang yang rendah enggan menyocokkan. Entah kita yang tak perlu lebih keras untuk mempertahankan, atau ini hanyalah sebatas ujian.
Sudah puas mengatasnamakan perasaan diantara semua peraturan yang kau paksakan? Kasihan hati, dialah pihak yang paling tersakiti. Setelah temboknya kau buat runtuh, lalu ingin kau buat kekuatannya terbunuh?
Katamu terserah, tapi mencegatku memilih arah. Katamu ini itu bebas, tapi saatku mulai melangkah segala hakku kau rampas. Kamu melenggang tanpa memberiku ruang, hingga tiap bagian dari diriku perlahan hilang. Setiap detik selalu kau tawarkan pilihan, tapi telingamu enggan mendengarku memberikan jawaban. Bolehkah jika kali ini aku yang menyugguhkanmu sebuah pilihan? Pertahankan egomu, atau lepaskan aku?
Bisa kupahami jika kamu ingin merasa sangat dicintai. Namun, apakah kamu lupa aku juga punya hati? Tak bisakah kamu memberi cinta yang sama besarnya? Mengapa hanya kamu yang boleh bilang kecewa, sementara aku yang harus terus berusaha?
Aku lupa rasanya bahagia ketika kamu sulit dibahagiakan. Sebab kunci bahagiaku terlanjur kutitipkan padamu; jika kamu tidak bahagia, bagaimana bisa aku bahagia?
Rupanya mencintamu sebesar ini masihlah belum cukup untuk mempertahankan kita. Lalu aku bisa apa?
Beberapa hal kusimpan dalam diam, hingga kamu bahkan tidak mendengar betapa sakitnya semakin menjalar. Beberapa kesalahan entah memang terampuni atau justru sudah tak mampu kuingat lagi. Beberapa usaha mencapai titik lelahnya, dan membuatku sedikit demi sedikit ingin menyerah. Tanpa kuduga, cinta yang begitu besar pada akhirnya membunuh diriku sendiri.
Yang kuingin kita bisa kembali ke hari lalu, ketika tak ada perselisihan dua ego. Yang kuingin kita saling hentikan keras kepala masing-masing yang membuat kita menjadi asing. Yang kuingin kita yang saling mengisi, bukan saling lupa posisi. Silakan kamu putuskan; perbaiki dan tetap tinggal, atau biarkan saja kita tinggal?
Jangan paksa aku memutarbalikkan cinta menjadi benci hanya karena sikapmu itu. Kamu tahu, tak selamanya cinta menang melawan luka. Mungkin akan datang saatnya aku meninggalkanmu begitu saja, tanpa mau menengok lagi untuk menjawab semua tanya.
Tak akan bisa bertahan jika kamu terus-menerus memaksakan kehendak dan aku menjadi yang tak mampu berkata tidak. Tak akan bisa sejalan jika melulu kita berbeda pandangan, diakhiri dengan hati yang enggan mengalah. Tak akan bisa sejajar jika yang tinggi tak mau merendah, sedang yang rendah enggan menyocokkan. Entah kita yang tak perlu lebih keras untuk mempertahankan, atau ini hanyalah sebatas ujian.
Sudah puas mengatasnamakan perasaan diantara semua peraturan yang kau paksakan? Kasihan hati, dialah pihak yang paling tersakiti. Setelah temboknya kau buat runtuh, lalu ingin kau buat kekuatannya terbunuh?
Katamu terserah, tapi mencegatku memilih arah. Katamu ini itu bebas, tapi saatku mulai melangkah segala hakku kau rampas. Kamu melenggang tanpa memberiku ruang, hingga tiap bagian dari diriku perlahan hilang. Setiap detik selalu kau tawarkan pilihan, tapi telingamu enggan mendengarku memberikan jawaban. Bolehkah jika kali ini aku yang menyugguhkanmu sebuah pilihan? Pertahankan egomu, atau lepaskan aku?
Bisa kupahami jika kamu ingin merasa sangat dicintai. Namun, apakah kamu lupa aku juga punya hati? Tak bisakah kamu memberi cinta yang sama besarnya? Mengapa hanya kamu yang boleh bilang kecewa, sementara aku yang harus terus berusaha?
Aku lupa rasanya bahagia ketika kamu sulit dibahagiakan. Sebab kunci bahagiaku terlanjur kutitipkan padamu; jika kamu tidak bahagia, bagaimana bisa aku bahagia?
Rupanya mencintamu sebesar ini masihlah belum cukup untuk mempertahankan kita. Lalu aku bisa apa?
Beberapa hal kusimpan dalam diam, hingga kamu bahkan tidak mendengar betapa sakitnya semakin menjalar. Beberapa kesalahan entah memang terampuni atau justru sudah tak mampu kuingat lagi. Beberapa usaha mencapai titik lelahnya, dan membuatku sedikit demi sedikit ingin menyerah. Tanpa kuduga, cinta yang begitu besar pada akhirnya membunuh diriku sendiri.
Yang kuingin kita bisa kembali ke hari lalu, ketika tak ada perselisihan dua ego. Yang kuingin kita saling hentikan keras kepala masing-masing yang membuat kita menjadi asing. Yang kuingin kita yang saling mengisi, bukan saling lupa posisi. Silakan kamu putuskan; perbaiki dan tetap tinggal, atau biarkan saja kita tinggal?
Minggu, 13 April 2014
kata hati
Aku lebih suka berbicara pada embun embun setelah hujan reda, meski hanya perbincangan yang tak berarah. Walau terkadang aku lupa diri, lupa akan rahasiaku, tapi aku tak takut, karna aku tau, embun bisu.
Dalam kebisuannya, kusimpan rangkaian cerita, satu, atau dua rahasia,
Yakin, hanya satu atau dua?
Mungkin satu atau dua hanya perumpamaan, mungkin lebih tepatnya, semua rahasiaku.
Setelah hujan, mungkin aku lebih sering terlihat.
Baru saja keluar dari tempat persembunyian,
Tempat persembunyian?
Memangnya kau kenapa? Kenapa harus bersembunyi?
Apa kau orang jahat?
Oh, tentu saja aku bukan orang semacam itu, aku hanya saja terlampau muak dengan peradabanku ini.
Apa kau membenci dunia? Apa kau membenci Tuhan yang telah menciptakan dunia?
Aduh, tidak tidak, aku bukan membenci dunia ini, aku hanya membenci diriku dan peradabanku.
Lantas apa yang membuat mu membenci dirimu sendiri dan peradabanmu itu?
Hey, sudah jangan banyak bertanya padaku, aku bukan orang yang ramah dan senang bersosialisasi.
Aku membenci diriku yang selalu merasa sendiri, dalam peradabanku, mungkin aku memiliki orang orang yang kenal bahkan dekat dengan aku, tapi mereka bukan seperti yang ku inginkan, mereka tidak sejalan denganku. Mengerti aku saja mereka tak bisa, jangankan mengerti, mendengarkan aku saja tidak. Lalu gunanya apa aku berkomunikasi dengan mereka? Mereka tidak bisu, mereka memiliki akal, mereka berpikir, tidak seperti embun yang bisu. Tapi mereka tidak mendengar lebih baik daripada embun.
Hey, sudah sana kau pergi, kenapa aku bercerita padamu? Kau orang asing. Bahkan kau bukan embun, dasar kau, memang pengungkit rahasia yang pandai.
Ohahaha, tenang saja, aku mungkin bukan embun, aku mungkin bisa berpikir, dan memiliki akal, tapi aku pendengar yang baik bukan? Dan yang terpenting aku adalah bagian darimu.
Apa? Bagian dariku? Maksudmu bagaimana?
Akulah anugrah yang Tuhan ciptakan . Aku ini akal dan pikiranmu sendiri, sudah lama kau tidak mengajak aku berbincang bincang, aku rindu. Dan kau tidak perlu takut, karena tak diciptakan dengan kemampuan membongkar rahasia orang lain hahaha..
Tidak. Sama saja kau asing. Aku lebih suka bercerita pada embun.
Ohya? Lalu bagaimana ketika musim kemarau panjang, tak ada hujan? Apakah embun ada?
Oh, aku tak terpikirkan sampai sejauh itu.
Jangan takut. Ada aku yang selalu ada, ada atau tidak adanya hujan, aku tetap hadir untukmu.
Aku tidak yakin itu. Aku bosan berasionalis denganmu.
Tenanglah, aku memang tercipta dengan sikap yang sangat rasionalis. Tapi kali ini aku sudah dewasa dan sadar, akupun memiliki satu bagian kecil, bahkan kecil sekali, yang dinamakan hati.
Hati? Bukankah otak dan hati sudah tercipta masing masing?
Memang. Tapi otakpun hidup. Dan memiliki hati. Tak berwujud. Dan disebut "kata hati"
Kata hati?
Iya kata hati. Ketika logika dari sistem otak bersatu dengan perasaan dari sistem hati. Maka terciptalah kata hati, dimana mereka hadir saat kau berpikir dan berperasaan dalam porsi yang seimbang.
Jadi? Kita bisa berteman?
Tentu bisa, aku memang diciptakan untuk menemani kau,
Baiklah aku percaya, kau penjaga rahasia yang baik.
Bahkan mungkin lebih baik dari embunku.
Dalam kebisuannya, kusimpan rangkaian cerita, satu, atau dua rahasia,
Yakin, hanya satu atau dua?
Mungkin satu atau dua hanya perumpamaan, mungkin lebih tepatnya, semua rahasiaku.
Setelah hujan, mungkin aku lebih sering terlihat.
Baru saja keluar dari tempat persembunyian,
Tempat persembunyian?
Memangnya kau kenapa? Kenapa harus bersembunyi?
Apa kau orang jahat?
Oh, tentu saja aku bukan orang semacam itu, aku hanya saja terlampau muak dengan peradabanku ini.
Apa kau membenci dunia? Apa kau membenci Tuhan yang telah menciptakan dunia?
Aduh, tidak tidak, aku bukan membenci dunia ini, aku hanya membenci diriku dan peradabanku.
Lantas apa yang membuat mu membenci dirimu sendiri dan peradabanmu itu?
Hey, sudah jangan banyak bertanya padaku, aku bukan orang yang ramah dan senang bersosialisasi.
Aku membenci diriku yang selalu merasa sendiri, dalam peradabanku, mungkin aku memiliki orang orang yang kenal bahkan dekat dengan aku, tapi mereka bukan seperti yang ku inginkan, mereka tidak sejalan denganku. Mengerti aku saja mereka tak bisa, jangankan mengerti, mendengarkan aku saja tidak. Lalu gunanya apa aku berkomunikasi dengan mereka? Mereka tidak bisu, mereka memiliki akal, mereka berpikir, tidak seperti embun yang bisu. Tapi mereka tidak mendengar lebih baik daripada embun.
Hey, sudah sana kau pergi, kenapa aku bercerita padamu? Kau orang asing. Bahkan kau bukan embun, dasar kau, memang pengungkit rahasia yang pandai.
Ohahaha, tenang saja, aku mungkin bukan embun, aku mungkin bisa berpikir, dan memiliki akal, tapi aku pendengar yang baik bukan? Dan yang terpenting aku adalah bagian darimu.
Apa? Bagian dariku? Maksudmu bagaimana?
Akulah anugrah yang Tuhan ciptakan . Aku ini akal dan pikiranmu sendiri, sudah lama kau tidak mengajak aku berbincang bincang, aku rindu. Dan kau tidak perlu takut, karena tak diciptakan dengan kemampuan membongkar rahasia orang lain hahaha..
Tidak. Sama saja kau asing. Aku lebih suka bercerita pada embun.
Ohya? Lalu bagaimana ketika musim kemarau panjang, tak ada hujan? Apakah embun ada?
Oh, aku tak terpikirkan sampai sejauh itu.
Jangan takut. Ada aku yang selalu ada, ada atau tidak adanya hujan, aku tetap hadir untukmu.
Aku tidak yakin itu. Aku bosan berasionalis denganmu.
Tenanglah, aku memang tercipta dengan sikap yang sangat rasionalis. Tapi kali ini aku sudah dewasa dan sadar, akupun memiliki satu bagian kecil, bahkan kecil sekali, yang dinamakan hati.
Hati? Bukankah otak dan hati sudah tercipta masing masing?
Memang. Tapi otakpun hidup. Dan memiliki hati. Tak berwujud. Dan disebut "kata hati"
Kata hati?
Iya kata hati. Ketika logika dari sistem otak bersatu dengan perasaan dari sistem hati. Maka terciptalah kata hati, dimana mereka hadir saat kau berpikir dan berperasaan dalam porsi yang seimbang.
Jadi? Kita bisa berteman?
Tentu bisa, aku memang diciptakan untuk menemani kau,
Baiklah aku percaya, kau penjaga rahasia yang baik.
Bahkan mungkin lebih baik dari embunku.
Sabtu, 12 April 2014
Atas nama Hati, maafkan aku.
Aku: Rindu ini untuk siapa?
Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Ah. Mengapa?
Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
Aku: Bodoh?
Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
Aku: Bagaimana bisa?
Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
Aku: Jadi aku harus bagaimana?
Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
Aku: Kau marah?
Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
Aku: Hubungan yang sulit...
Kepala: Aku tahu, aku tahu.
Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
Aku: Kita teman kan?
Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
Aku: Ah.
Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
Aku: Ah.
Kepala: Maafkan aku.
Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.
Aku: Apa?
Kepala: Kerasionalitasanku.
Aku: Itu hal yang buruk?
Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?
Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Ah. Mengapa?
Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
Aku: Bodoh?
Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
Aku: Bagaimana bisa?
Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
Aku: Jadi aku harus bagaimana?
Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
Aku: Kau marah?
Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
Aku: Hubungan yang sulit...
Kepala: Aku tahu, aku tahu.
Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
Aku: Kita teman kan?
Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
Aku: Ah.
Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
Aku: Ah.
Kepala: Maafkan aku.
Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.
Aku: Apa?
Kepala: Kerasionalitasanku.
Aku: Itu hal yang buruk?
Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?
Rabu, 19 Maret 2014
dia!
Perkenalanku denganmu membawaku kepada tahapan kehidupanku yang berakhir dengan perasaan cinta.
Namamu terus terulang di pikiranku dengan perulangan yang berlangsung selamanya.
Besarnya cinta yang tumbuh divalidasikan harus sama dengan tak terhingga
Karena hati ini tak akan dapat menerima bahwa cintaku padamu dapat dihitung dengan angka2 yang rasional
Dengan pergerakan rasa berlintasan lingkaran yang tak tau dimana titik awal dan titik akhirnya dan akan berputar untuk selamanya
Merangkai rusuk - rusuk asa untuk menjadikannya ruang untuk rasa ini.
Ruang dengan sisi terbuka yang siap menantimu masuk kedalamnya dan menutup sisi tersebut.
Perasaan ini tak akan dapat diturunkan seperti bilangan - bilangan yang di difrensialkan.
Tetapi rasa ini seperti seperti bilangan eksponensial dengan bilangan pangkat tak terhingga
Begitu besar rasa ini membuat hukum gravitasi terabaikan
Membuatku tenggelam dalam teduhnya tatapanmu tanpa memperdulikan hukum archimedes.
Cintamu juga dapat membuatku terbang tanpa harus memiliki tekanan pada sayap - sayapku seperti yang dikatakan oleh bernoulli
Dan hanya hukum relativitas waktulah yang berlaku terhadap kita.Dimana aku merasa waktu begitu lambat berjalannya saat tak bersamamu, tetapi waktu berlalu begitu cepat saat aku bersamamu
Dan perasaan cinta ini merupakan unsur yang tidak terdapat dalam tabel periodik, dan tidak akan pernah ditemukan untuk selamanya.
Rasa cinta ini juga bukanlah unsur yang dapat disatukan dengan menyatukan unsur2 yang ada di alam ini.
Rasa ini hanya dapat terbentuk dengan menyatukan kita berdua.
Memukul dengan keras sehingga terasa begitu kuat di dalam hati ini seperti unsur padat
Mengalir melalui celah - celah terkecil yang ada di hati ini sehingga sampai ke kedalaman hati yang paling dalam seperti unsur cair
Dan seperti unsur gas yang selalu memenuhi ruang yang ditempatinya, rasa cinta ini selalu menyesakkan hati ini.
Aku rela kehilangan semua inderaku demi rasa ini.
Cintamu akan menjadi mata untukku
Dengan kemampuan merefleksikan cahaya dan memunculkan hal - hal indah yang bahkan tidak perlu kupandang sudah dapat membahagiakanku
Cintamu juga akan menjadi pengganti hidungku, cintamulah yang akan mengalirkan oksigen kepadaku. Cintamu akan menjadi indera pengecapku, yang memberikan sensasi rasa yang melebihi rasa manis, asin, asam, dan pahit.
Dan aku juga rela jika rasa ini menggantikan telingaku meski aku harus mendengarkan namamu dibisikkan ke otakku setiap saat.Cintamu juga akan menggantikan indera perasaku, memberikan rasa bedebar - debar yang tak terkendali saat engkau menyentuhku. Perasaan yang aku punya untukmu telah melebihi semua ilmu yang ada.
Satu yang kutahu bahwa cinta kita tak akan pernah dapat dijelaskan oleh ilmu apapun. Cinta kita tak perlu dijelaskan oleh pengetahuan. Rasa ini tak logis namun nyata adanya. Karena untuk mendapatkan rasa ini aku tak perlu otak yang berpikir, hanya hati yang berdebar dengan hebatnya tiap aku mendengar suaramu dan melihat parasmu
Namamu terus terulang di pikiranku dengan perulangan yang berlangsung selamanya.
Besarnya cinta yang tumbuh divalidasikan harus sama dengan tak terhingga
Karena hati ini tak akan dapat menerima bahwa cintaku padamu dapat dihitung dengan angka2 yang rasional
Dengan pergerakan rasa berlintasan lingkaran yang tak tau dimana titik awal dan titik akhirnya dan akan berputar untuk selamanya
Merangkai rusuk - rusuk asa untuk menjadikannya ruang untuk rasa ini.
Ruang dengan sisi terbuka yang siap menantimu masuk kedalamnya dan menutup sisi tersebut.
Perasaan ini tak akan dapat diturunkan seperti bilangan - bilangan yang di difrensialkan.
Tetapi rasa ini seperti seperti bilangan eksponensial dengan bilangan pangkat tak terhingga
Begitu besar rasa ini membuat hukum gravitasi terabaikan
Membuatku tenggelam dalam teduhnya tatapanmu tanpa memperdulikan hukum archimedes.
Cintamu juga dapat membuatku terbang tanpa harus memiliki tekanan pada sayap - sayapku seperti yang dikatakan oleh bernoulli
Dan hanya hukum relativitas waktulah yang berlaku terhadap kita.Dimana aku merasa waktu begitu lambat berjalannya saat tak bersamamu, tetapi waktu berlalu begitu cepat saat aku bersamamu
Dan perasaan cinta ini merupakan unsur yang tidak terdapat dalam tabel periodik, dan tidak akan pernah ditemukan untuk selamanya.
Rasa cinta ini juga bukanlah unsur yang dapat disatukan dengan menyatukan unsur2 yang ada di alam ini.
Rasa ini hanya dapat terbentuk dengan menyatukan kita berdua.
Memukul dengan keras sehingga terasa begitu kuat di dalam hati ini seperti unsur padat
Mengalir melalui celah - celah terkecil yang ada di hati ini sehingga sampai ke kedalaman hati yang paling dalam seperti unsur cair
Dan seperti unsur gas yang selalu memenuhi ruang yang ditempatinya, rasa cinta ini selalu menyesakkan hati ini.
Aku rela kehilangan semua inderaku demi rasa ini.
Cintamu akan menjadi mata untukku
Dengan kemampuan merefleksikan cahaya dan memunculkan hal - hal indah yang bahkan tidak perlu kupandang sudah dapat membahagiakanku
Cintamu juga akan menjadi pengganti hidungku, cintamulah yang akan mengalirkan oksigen kepadaku. Cintamu akan menjadi indera pengecapku, yang memberikan sensasi rasa yang melebihi rasa manis, asin, asam, dan pahit.
Dan aku juga rela jika rasa ini menggantikan telingaku meski aku harus mendengarkan namamu dibisikkan ke otakku setiap saat.Cintamu juga akan menggantikan indera perasaku, memberikan rasa bedebar - debar yang tak terkendali saat engkau menyentuhku. Perasaan yang aku punya untukmu telah melebihi semua ilmu yang ada.
Satu yang kutahu bahwa cinta kita tak akan pernah dapat dijelaskan oleh ilmu apapun. Cinta kita tak perlu dijelaskan oleh pengetahuan. Rasa ini tak logis namun nyata adanya. Karena untuk mendapatkan rasa ini aku tak perlu otak yang berpikir, hanya hati yang berdebar dengan hebatnya tiap aku mendengar suaramu dan melihat parasmu
aku mencintaimu, jangan lupa itu
Kau bosan bicara cinta?
Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.
Kenapa?
Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.
Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.
Sudah seberapa jauh kaupergi?
Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?
Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?
Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.
Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit.
Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega.
Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu. Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu.
Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?
Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.
Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.
Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.
Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan.
Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.
Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.
Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku.
Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.
Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.
Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.
Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?
Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?
Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.
Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat.
Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.
Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar.
Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.
Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?
Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan.
Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci.
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya.
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu.
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.
Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.
Kenapa?
Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.
Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.
Sudah seberapa jauh kaupergi?
Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?
Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?
Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.
Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit.
Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega.
Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu. Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu.
Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?
Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.
Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.
Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.
Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan.
Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.
Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.
Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku.
Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.
Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.
Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.
Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?
Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?
Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.
Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat.
Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.
Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar.
Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.
Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?
Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan.
Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci.
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya.
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu.
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.
mimpi
Kita, selalu punya mimpi. Aku, kamu, mereka.
Kadang mimpi kita sama, meskipun lebih sering berbeda. Tapi dalam satu hal, kita selalu punya mimpi yang sama. Dalam satu perahu, kita akan memiliki tujuan sama. Dalam satu pesawat, kita akan memiliki tujuan sama. Setidaknya arahnya sama, meski nanti mungkin akan melanjutkan perjalanan lanjutan bagi yang lainnya.
Dan dalam menuju mimpi itu, jangan sampai kita terlalu menginginkan banyak hal, sampai kita lupa tentang moral. Karena memiliki banyak hal, tidak pernah terlalu berarti di hadapan Tuhan, dan akan dianggap rendah bagi orang yang kita rugikan. Kita sering lupa bahwa sebenarnya yang paling kaya bukanlah yang memiliki terbanyak, tetapi yang membutuhkan paling sedikit. Lalu melakukan berbagai hal hanya karena kita menginginkannya.
Jangan sampai kita lupa bahwa dua orang bisa melihat satu hal yang sama tapi dari sudut pandang yang berbeda. Kalau dipertemukan, bisa jadi kesimpulannya akan sama. Tapi kalau lebih sibuk dengan pembenaran masing-masing, tidak akan sampai pada kesimpulan bahwa yang dilihat adalah sama. Untuk berbahagia, kita harus bersabar sebentar. Termasuk dalam memiliki pendapat yang berbeda. Apa pun perbedaannya, kita harus ingat bahwa kita berada dalam arah yang sama.
Dan karena kita punya mimpi yang sama, untuk maju bersama, mari kita selaraskan hati dan pikiran, lalu terus berjalan. Ada kendala, iya. Ada masalah, tentu saja. Tapi kita pasti bisa melaluinya.
Kita adalah buku cerita. Gak ada salah satu babnya, buku itu berkurang maknanya.
Kita adalah rumah lengkap yang masing-masing kita memiliki peran di dalamnya. Pintu, jendela, atap, lantai, dinding, dan lain sebagainya. Tanpa salah satunya, rumah itu tidak akan lagi memiliki keamanan yang sama.
Kita adalah kita yg memiliki mimpi sama, untuk berjalan bersama, untuk ngasih uluran tangan ketika ada yang kelelahan, untuk memberikan senyuman ketika ada yang tidak sabaran, untuk tetep berada di barisan spy gak ketinggalan atau ditinggalkan.
Karena jarak terjauh itu saling meninggalkan, jarak terdekatnya, saling bergandengan tangan.
Aku udh sering blg, kita selalu punya pilihan,
Kadang mimpi kita sama, meskipun lebih sering berbeda. Tapi dalam satu hal, kita selalu punya mimpi yang sama. Dalam satu perahu, kita akan memiliki tujuan sama. Dalam satu pesawat, kita akan memiliki tujuan sama. Setidaknya arahnya sama, meski nanti mungkin akan melanjutkan perjalanan lanjutan bagi yang lainnya.
Dan dalam menuju mimpi itu, jangan sampai kita terlalu menginginkan banyak hal, sampai kita lupa tentang moral. Karena memiliki banyak hal, tidak pernah terlalu berarti di hadapan Tuhan, dan akan dianggap rendah bagi orang yang kita rugikan. Kita sering lupa bahwa sebenarnya yang paling kaya bukanlah yang memiliki terbanyak, tetapi yang membutuhkan paling sedikit. Lalu melakukan berbagai hal hanya karena kita menginginkannya.
Jangan sampai kita lupa bahwa dua orang bisa melihat satu hal yang sama tapi dari sudut pandang yang berbeda. Kalau dipertemukan, bisa jadi kesimpulannya akan sama. Tapi kalau lebih sibuk dengan pembenaran masing-masing, tidak akan sampai pada kesimpulan bahwa yang dilihat adalah sama. Untuk berbahagia, kita harus bersabar sebentar. Termasuk dalam memiliki pendapat yang berbeda. Apa pun perbedaannya, kita harus ingat bahwa kita berada dalam arah yang sama.
Dan karena kita punya mimpi yang sama, untuk maju bersama, mari kita selaraskan hati dan pikiran, lalu terus berjalan. Ada kendala, iya. Ada masalah, tentu saja. Tapi kita pasti bisa melaluinya.
Kita adalah buku cerita. Gak ada salah satu babnya, buku itu berkurang maknanya.
Kita adalah rumah lengkap yang masing-masing kita memiliki peran di dalamnya. Pintu, jendela, atap, lantai, dinding, dan lain sebagainya. Tanpa salah satunya, rumah itu tidak akan lagi memiliki keamanan yang sama.
Kita adalah kita yg memiliki mimpi sama, untuk berjalan bersama, untuk ngasih uluran tangan ketika ada yang kelelahan, untuk memberikan senyuman ketika ada yang tidak sabaran, untuk tetep berada di barisan spy gak ketinggalan atau ditinggalkan.
Karena jarak terjauh itu saling meninggalkan, jarak terdekatnya, saling bergandengan tangan.
Aku udh sering blg, kita selalu punya pilihan,
kamu, sempurna
maaf, karena cinta yang aku punya penuh dengan cacat yang melekat.
maaf, untuk cintaku yang buta. yang tak pernah bisa melihat hal-hal yang tidak indah dari dirimu. yang tak pernah bisa melihat kelemahanmu. yang tak pernah bisa melihat alasan untuk tidak mengagumimu.
maaf, untuk cintaku yang tuli. yang tak pernah mendengar suara-suara buruk tentangmu. semua hal yang menyangkut dirimu, selalu terdengar sebagai alunan nada rindu.
maaf, untuk cintaku yang bisu. yang tak pernah bisa membahasakan apa yang aku rasa. yang tak pernah bisa bertutur manis di hadapanmu. tentang rasa…. tentang cinta.
maaf, untuk cintaku yang lumpuh. yang tak pernah sanggup untuk menggerakkan langkahku menuju kamu.
kamu, terlalu tinggi untuk aku gapai hanya dengan satu sayap yang kumiliki.
maaf, untuk cintaku yang buta. yang tak pernah bisa melihat hal-hal yang tidak indah dari dirimu. yang tak pernah bisa melihat kelemahanmu. yang tak pernah bisa melihat alasan untuk tidak mengagumimu.
maaf, untuk cintaku yang tuli. yang tak pernah mendengar suara-suara buruk tentangmu. semua hal yang menyangkut dirimu, selalu terdengar sebagai alunan nada rindu.
maaf, untuk cintaku yang bisu. yang tak pernah bisa membahasakan apa yang aku rasa. yang tak pernah bisa bertutur manis di hadapanmu. tentang rasa…. tentang cinta.
maaf, untuk cintaku yang lumpuh. yang tak pernah sanggup untuk menggerakkan langkahku menuju kamu.
kamu, terlalu tinggi untuk aku gapai hanya dengan satu sayap yang kumiliki.
untukmu : barangkali
Barangkali memang ada beberapa hal yang sengaja kita biarkan mengendap untuk menjaga perasaan atau hal-hal yang tidak kita persiapkan. Kita, tepatnya aku, sedang dalam pencaharian tentang kita, tentang apa dan bagaimana kita? Mungkin kamu bisa membantuku menjawab apa arti kita bagimu? Sebab aku kehabisan ide mengartikan kita. Kita saling mencari ketika butuh, tapi kita lupa bahwa saling membutuhkan dapat menjadi alasan seseorang untuk berhenti mencari.
Lagi-lagi banyak pertanyaan di kepala, kepalaku ini rumit tapi kamu mampu menerjemahkannya. Cukup semarak cerita yang kita bagi, tentang malam dan bintang-bintang pemalu, tentang keterasingan kita pada masa lalu. Masa yang tak pernah mampu kita tuju tapi pahitnya masih jelas kita kecap. Seluruh isi kepala kita yang bahkan belum sepenuhnya kita jelajahi, kita tak pernah tahu apa yang kita mau.
Kamu haus, mari istirahat sebentar. Sambil kuceritakan satu kisah padamu, tentang seseorang yang lupa merasa, dibunuhnya beberapa mimpi, dijalaninya hari-hari tanpa ambisi. Hanya jalan, tapi dia tahu, setiap mimpi yang dibunuh akan lahir kembali, lebih besar, lebih kuasa –sebab dia percaya pada reinkarnasi. Lalu tiba satu ketika, kala seseorang datang, terluka sama parah hingga membuatnya iba. Baginya yang pernah jatuh, amat sakit ketika jatuh tapi tak ada yang memapah. Untuk itu dia memapah orang itu berdiri, berjalan menelusuri meter, kilo hingga orang tersebut kembali tegak berdiri. Sebagai gantinya, dia yang kembali jatuh, hatinya jatuh.
Tapi dia sadar sekali bahwa jatuh cinta itu tidaklah sakit, sebab hanya tindakan pribadi, keinginan memiliki dan dicintai lah yang berpotensi melukai. Sayangnya, dia merasakan keduanya, tidak ada yang biasa sejak seseorang itu mengisi kepalanya. Kepalanya yang penuh itu diacak-acak, logikanya, akal sehatnya mengambang, kepalanya dibanjiri seseorang. Sekali lagi, ini bahaya bagi orang yang lupa caranya merasa –atau letih merasa.
Sayangnya seseorang itu belum tahu atau barangkali tahu tapi sengaja menutupi. Sedangkan dia pun memilih diam, padahal isi kepalanya sudah berontak ingin keluar. Kamu mungkin mengerti rasanya menahan diri ketika kepalamu amat penuh. Sakitnya pindah ke dada. Tapi lagi-lagi, beberapa hal memang sebaiknya dibiarkan berlalu begitu saja. Kamu mungkin bertanya lalu bagaimana seseorang itu? Seseorang itu ada dihadapannya sekarang. Aku sebagai dia dan kamu sebagai seseorang itu. Barangkali memang cukup seperti ini, cukup untuk kita sama-sama sadar bahwa kita saling membutuhkan. Aku membutuhkanmu lebih dari sekadar tubuh, aku membutuhkanmu yang tabah menyikapiku. Itu saja cukup, bagiku.
Kita memang tak mampu mengulang waktu, tapi karenamu aku semakin bijak memanfaatkan ingatan untuk setidaknya merekamnya dalam-dalam dalam kepala. Aku senang, semoga kamu pun begitu
Lagi-lagi banyak pertanyaan di kepala, kepalaku ini rumit tapi kamu mampu menerjemahkannya. Cukup semarak cerita yang kita bagi, tentang malam dan bintang-bintang pemalu, tentang keterasingan kita pada masa lalu. Masa yang tak pernah mampu kita tuju tapi pahitnya masih jelas kita kecap. Seluruh isi kepala kita yang bahkan belum sepenuhnya kita jelajahi, kita tak pernah tahu apa yang kita mau.
Kamu haus, mari istirahat sebentar. Sambil kuceritakan satu kisah padamu, tentang seseorang yang lupa merasa, dibunuhnya beberapa mimpi, dijalaninya hari-hari tanpa ambisi. Hanya jalan, tapi dia tahu, setiap mimpi yang dibunuh akan lahir kembali, lebih besar, lebih kuasa –sebab dia percaya pada reinkarnasi. Lalu tiba satu ketika, kala seseorang datang, terluka sama parah hingga membuatnya iba. Baginya yang pernah jatuh, amat sakit ketika jatuh tapi tak ada yang memapah. Untuk itu dia memapah orang itu berdiri, berjalan menelusuri meter, kilo hingga orang tersebut kembali tegak berdiri. Sebagai gantinya, dia yang kembali jatuh, hatinya jatuh.
Tapi dia sadar sekali bahwa jatuh cinta itu tidaklah sakit, sebab hanya tindakan pribadi, keinginan memiliki dan dicintai lah yang berpotensi melukai. Sayangnya, dia merasakan keduanya, tidak ada yang biasa sejak seseorang itu mengisi kepalanya. Kepalanya yang penuh itu diacak-acak, logikanya, akal sehatnya mengambang, kepalanya dibanjiri seseorang. Sekali lagi, ini bahaya bagi orang yang lupa caranya merasa –atau letih merasa.
Sayangnya seseorang itu belum tahu atau barangkali tahu tapi sengaja menutupi. Sedangkan dia pun memilih diam, padahal isi kepalanya sudah berontak ingin keluar. Kamu mungkin mengerti rasanya menahan diri ketika kepalamu amat penuh. Sakitnya pindah ke dada. Tapi lagi-lagi, beberapa hal memang sebaiknya dibiarkan berlalu begitu saja. Kamu mungkin bertanya lalu bagaimana seseorang itu? Seseorang itu ada dihadapannya sekarang. Aku sebagai dia dan kamu sebagai seseorang itu. Barangkali memang cukup seperti ini, cukup untuk kita sama-sama sadar bahwa kita saling membutuhkan. Aku membutuhkanmu lebih dari sekadar tubuh, aku membutuhkanmu yang tabah menyikapiku. Itu saja cukup, bagiku.
Kita memang tak mampu mengulang waktu, tapi karenamu aku semakin bijak memanfaatkan ingatan untuk setidaknya merekamnya dalam-dalam dalam kepala. Aku senang, semoga kamu pun begitu
Untuk: Hati
Jangan tanya kenapa aku mengirimkan surat ini untukmu, karena aku juga tidak tahu. Mungkin salah satunya karena kamu sedang tidak baik-baik saja, atau sempat tidak baik-baik saja. Sejatinya, hidup adalah tentang dua hal, mempersiapkan kedatangan dan kepergian. Namun, kita selalu tidak pernah mampu mempersiapkan hal ke dua. Akhirnya, kesedihan datang berbondong untuk menemani. Pada akhirnya, sekarang kamu mulai menemukan kembali bahwa banyak yang lebih berarti ketimbang patah hati. Iya, hatimu jelas penting tapi yang lebih penting kamu tidak kehilangan dirimu sendiri. Dan selamat menemukan kembali. Itu saja surat dariku, sampai jumpa dan selamat berbahagia.
kita dan cinta
Aku tak berdaya
Dihantam kerasnya perasaan ini
Tetapi entah mengapa dunia seakan tak rela
Tak rela jika aku dan kamu disatukan perasaan ini
Cinta seharusnya tak menyerah
Cinta seharusnya bukan putus asa
Saat putaran sang waktu mengalahkan rotasi bumi dan membusukkan setiap kenangan yang ada
Tapi cinta tak akan pernah membusuk oleh kejamnya sang waktu
Waktu memang kejam
Menggerogoti raga ini, hingga tak ada yang bersisa kecuali jiwa ini
Tapi siapa yang tau, jiwa ini kesepian
Jiwa tanpa cinta.
Karena jiwa ini tak memperjuangkan cinta
Dan ia kalah dihadapan keangkuhan sang waktu
Itu kita, bukan cinta
Cinta tak seharusnya berlutut tak berdaya akan kesombongan sang waktu
Cinta seharusnya abadi, melebihi waktu itu sendiri
Aku dan kamu seharusnya seperti cinta
Tak berakhir karena waktu
Aku dan kamu seharusnya abadi
Saling mengerti
Saling menunjukkan jalan menuju keabadian
Dan jiwa kita berdua seharusnya tak kesepian
Karena jiwa kita harusnya saling melengkapi
Tapi inilah kita, kita bukan cinta
Ini kita, itu cinta.
Dihantam kerasnya perasaan ini
Tetapi entah mengapa dunia seakan tak rela
Tak rela jika aku dan kamu disatukan perasaan ini
Cinta seharusnya tak menyerah
Cinta seharusnya bukan putus asa
Saat putaran sang waktu mengalahkan rotasi bumi dan membusukkan setiap kenangan yang ada
Tapi cinta tak akan pernah membusuk oleh kejamnya sang waktu
Waktu memang kejam
Menggerogoti raga ini, hingga tak ada yang bersisa kecuali jiwa ini
Tapi siapa yang tau, jiwa ini kesepian
Jiwa tanpa cinta.
Karena jiwa ini tak memperjuangkan cinta
Dan ia kalah dihadapan keangkuhan sang waktu
Itu kita, bukan cinta
Cinta tak seharusnya berlutut tak berdaya akan kesombongan sang waktu
Cinta seharusnya abadi, melebihi waktu itu sendiri
Aku dan kamu seharusnya seperti cinta
Tak berakhir karena waktu
Aku dan kamu seharusnya abadi
Saling mengerti
Saling menunjukkan jalan menuju keabadian
Dan jiwa kita berdua seharusnya tak kesepian
Karena jiwa kita harusnya saling melengkapi
Tapi inilah kita, kita bukan cinta
Ini kita, itu cinta.
diamnya diriku
Aku akan lebih banyak diam. Lebih banyak menerima. Lebih banyak rela. Lebih banyak kehilangan dan lebih banyak terluka. Aku akan lebih banyak diam, sementara kamu tak perlu tahu apa-apa. Aku akan lebih banyak mengadu pada Penciptaku. Aku akan bicara soalmu sebebas-bebasnya, cukup dengan Dia. Aku akan lebih banyak terlihat baik-baik saja di depanmu. Agar bahagiamu bebas berkeliaran, sementara milikku terpenjara pada kehilangan yang paling sunyi. Aku akan lebih banyak menunduk untuk mengacuhkanmu, meski dengan menatapmu itu nyawa terbesarku. Aku takkan tega membiarkan wajahku terlihat penuh airmata saat melepasmu tanpa aba-aba. Ketidaktahuanmu itu sungguh mericuhkan duniaku yang rasanya ingin bersuara menunjukkan semua. Tapi tak semuanya harus terlihat, tak semuanya harus terungkap, meski harus tahunan atau selamanya dijaga. Tak apa, mungkin begini seharusnya cinta diperankan. Padamu, olehku.
Tidak ada yang tahu sebesar itu perasaanku. Tidak ada yang tahu bahwa sebegitu berharganya satu pertemuan yang menghadirkan kamu. Tidak ada yang tahu bahwa bersebelahan denganmu, itulah yang kutunggu. Kamu asing dengan duniaku dan duniamulah yang membiasakanku dengan keberisikan akan dia. Mungkin ini saatnya menutup telinga dari suara-suara yang menggoreskan luka baru, ini saatnya kepergianku. Ini saatnya aku membawa pergi hati dan seisinya agar terobati. Lebih cepat angkat kaki, lebih baik. Aku tak ingin membiarkan perulangan ini melukaiku berulang-ulang dan aku hanya akan menanggapinya dengan sebuah ‘kembali’. Semoga ini tidak akan terjadi.
Tidak ada yang tahu sebesar itu perasaanku. Tidak ada yang tahu bahwa sebegitu berharganya satu pertemuan yang menghadirkan kamu. Tidak ada yang tahu bahwa bersebelahan denganmu, itulah yang kutunggu. Kamu asing dengan duniaku dan duniamulah yang membiasakanku dengan keberisikan akan dia. Mungkin ini saatnya menutup telinga dari suara-suara yang menggoreskan luka baru, ini saatnya kepergianku. Ini saatnya aku membawa pergi hati dan seisinya agar terobati. Lebih cepat angkat kaki, lebih baik. Aku tak ingin membiarkan perulangan ini melukaiku berulang-ulang dan aku hanya akan menanggapinya dengan sebuah ‘kembali’. Semoga ini tidak akan terjadi.
dengan sederhana
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti embun hinggap di tepian daun dan tanah yang sabar menyambutnya jatuh
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti mata yang berkedip menyambut pagi, dan daun jendela yang mengintip matahari
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti gerimis pada jendela dan uap nafasmu menulis nama: ‘kita’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti waktu yang tak pernah berhenti dan senyummu yang mengabadikannya
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti sebuah peluk yang sebentar dan satu kecup yang perlahan saja
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti kata ‘rindu’ yang kuucap dan kau membalasnya dengan ‘aku juga’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin melupakanmu dengan sederhana. sesederhana airmata yang mengalir. sesederhana genggam tangan yang terlepas
tapi aku ingin mencintaimu.
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti mata yang berkedip menyambut pagi, dan daun jendela yang mengintip matahari
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti gerimis pada jendela dan uap nafasmu menulis nama: ‘kita’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti waktu yang tak pernah berhenti dan senyummu yang mengabadikannya
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti sebuah peluk yang sebentar dan satu kecup yang perlahan saja
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti kata ‘rindu’ yang kuucap dan kau membalasnya dengan ‘aku juga’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin melupakanmu dengan sederhana. sesederhana airmata yang mengalir. sesederhana genggam tangan yang terlepas
tapi aku ingin mencintaimu.
senja
Terkadang aku seperti senja yang merindukan langit, tapi aku takut, aku takut langit tak akan pernah menerima senja, disaat mendung ada Dan akupun berpikir, mengapa senja selalu hrs mengalah pada mendung? Bukankan langit itu luas? & bukanya langit itu memang tercipta untuku? Ataukah memng aku hrs slalu brbagi? Brbagi langit dgn sang mendung?Aku rasa aku tak ckup rela untk smua ini, aku menginginkan langitku sndri. Tidak, Tuhan menciptakan aku sebagai senja, yg memang ditakdirkan selalu bersama langit dan mendung. Aku akan selalu bersama dengan semua itu, Dan takdirku memang sebagai senja yg selalu merindu pada langit miliknya, yg harus selalu berbagi dengan sang mendung, Akulah senja, yang selalu bermimpi merindukan langitku sendiri, tanpa adanya sang mendung. Tapi semua memang hanya sebuah mimpi. sebatas mimpi sang senja.
mungkin perpisahan
Tiba-tiba saya menjadi haru sebab pertemuan ini telah sampai di ujung waktu. Dasar! Tanpa sadar, saya telah dikadali. Siapa bilang waktu tak dapat menipu. Buktinya, ia baru saja mengibuli saya. Ia datang lebih cepat sementara saya baru akan menikmati perkenalan. Sial. Saya bahkan baru akan memahami sedapnya mempunyai kenalan. Saya bahkan merasa baru akan mengenalkan nama setelah sekian lama saling bersalaman.
Tiba-tiba saya menjadi kesal sendiri. Kenapa saya lupa, pertemuan itu selalu menjanjikan perpisahan. Mengapa saya tak menyediakan payung yang lebih tegap untuk menghindari hujan air mata yang mungkin saja sebentar lagi akan membanjiri hati saya.
Tapi, begitulah. Saya harus memahami diri dan waktu. Sebagai orang besar, saya harus menghargai waktu yang telah dengan bergegas mengingatkan bahwa masa pertemuan saya telah habis. Waktunya berpisah. Waktunya mengakhiri perkenalan. Waktunya beranjak menghadiri pertemuan baru. Bersua dengan orang sama sekali asing, menjalin hubungan, dan bersiap lagi untuk menyelesaikan senyuman. Begitu terus dan seterusnya. Kita tak pernah dibiarkan abadi untuk sebuah perkenalan yang melenakan. Selalu ada masa, selalu disediakan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, dan bila diizinkan, sampai bertemu di lain waktu
Kemudian selesailah.
Saya harus mengucapkan salam. Kau juga. Haruskah kita berpelukan?
Ah, pelukan. Untuk apa kita berpelukan, bila hanya akan menambah keharuan perpisahan. Kau tahu, pelukan itu menyebabkan semakin dekat, sementara kita akan berjauhan. Kau tahu, perpisahan berarti saling menjauh satu sama lain. Saya tak ingin berpelukan –jangan dengarkan saya, karena sesungguhnya saya sangat menginginkan pelukan perpisahan itu-. Saya tak mau merangkulmu jika rangkulan itu dengan berat hati harus saya lepaskan.
Dan semua cerita –kalaupun ada- hendaklah kau simpan, hingga bila suatu hari nanti bertemu lagi, kita dapat mengulang kembali masa-masa berkenalan kita. Tentu saja, dengan situasi saya dan kau yang sudah jauh berbeda. Kita tak lagi menjadi remaja yang selalu kegirangan menghadapi kehidupan. Mungkin kau telah berubah menjadi seseorang yang lebih tua; obsesi membuat kita cepat tua. Satu-dua butir jerawat yang kala itu bersemi indah di wajahmu, mungkin akan berganti keriput yang sudah mulai tampak berbaris di pelipis matamu. Lalu, mata kita sudah saling ditempeli kaca mata. Atau, bila kau masih senang bermata dua, pasti kau menjaga sekali kesehatan matamu. Sedang saya, tentu kau tahu, dari sekarang saya sudah cacat. Mata saya sudah empat. Satu lagi, saya yakin, bila kita bertemu nanti, saya lebih gemuk-padat-berisi. Tak perlu kau heran, anggap saja ini sebagai bentuk balas dendam atas kecekingan saya semasa muda.
Ah, terlalu jauh angan saya rupanya. Bagaimana mungkin saya begitu berani –kalau tidak gila- mendahului rencana Tuhan Maha Agung. Bagaimana mungkin saya berhak menyusun rencana pertemuan saya denganmu suatu waktu nanti. Siapa saya? Tuhan pasti punya rencana yang lebih manis untuk kita. Saya percaya itu.
Saya akhir-akhir ini sering takut. Entah kenapa, saya selalu terjebak pada kemungkinan terburuk. Saya selalu terpuruk pada kemungkinan-kemungkin yang tidak saya harapkan terjadi. Namun, semua itu mesti saya hadapi. Mesti saya siapkan juga hati, perasaan dan batang tubuh saya untuk menerima. Bukankah itu semua merupakan bagian dari rencana Tuhan?
Mungkin, bila nanti, kita tidak bertemu lagi. Sebab kau hilang ingatan, atau merantau ke tempat yang sangat jauh dan dalam waktu yang sangat lama sehingga tidak memungkinkan lagi bagi kita untuk bisa bersua muka. Ingatlah, saya di sini selalu ingat kamu. Walaupun nantinya kita kehilangan nomor telepon, email, skype, atau kau keluar dari jejaring sosial sebab kau terlalu sibuk bekerja dan berkeluarga, saya akan selalu titip pesan kepada Tuhan agar menjagamu, dan supaya kau tak melupakanku. Kau mau kan berjanji untuk –setidaknya- mengingat pertemuan ini, meskipun kau tak mau berangan-angan tentang apa yang akan terjadi di masa depan?
Dan, saya jatuh lagi pada kemungkinan yang maha buruk, kau tidak mau mengingat saya lagi. Apa pasal, tidak jelas. Mungkin ada kejengkelan yang kau sembunyikan selama kita berkenalan yang akhirnya berurat-akar karena selama pertemuan kau tak pernah mencabutnya. Mungkin, ada sesak yang lupa kau luahkan kepada saya saat perpisahan datang. Hingga, ketika saat-saat usai kita merupakan saat yang membahagiakan bagimu. Itu berarti, kau tak lagi bertemu dengan saya, orang yang membuat rasa jengkelmu berurat-akar.
Bila benar begitu, –sial, kenapa saya malah meneruskan kemungkinan maha buruk ini?-. Bila benar begitu, Tuhan berarti telah salah besar mempertemukan kita. Tidak, bukan Tuhan yang salah. Tuhan selalu benar, itu pasal yang harus dipatuhi tanpa komentar. Yang salah itu kita. Kita yang kekanak-kekanakan masa itu. Bukankah perpisahan itu memang datang saat kita remaja-belia? Saat kepentingan diri sendiri selalu benar. Saat darah menang sendiri masih membuncah dengan gelegak yang membakar. Lalu, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?
Tidak ada! Nyaris tidak ada yang bisa kita lakukan. Perpisahan sudah pulang membawa cerita kita yang sudah menjadi kenangan. Tak bisa diminta kembali. Perpisahan bahkan lebih egois daripada masa muda kita. Bahkan tak bisa dibujuk oleh traktiran, seperti yang saling kita lakukan bila kau atau aku merajuk.
Kita hanya bisa belajar. Bila di masa depan kita masih dipercaya untuk bertemu dengan orang lain yang bukan kenalan kita sebelumnya, kita mesti belajar dari kesalahan masa lalu. Kita harus lebih dewasa. Kita harus memanfaatkan sekali pertemuan itu dan tidak menodainya dengan hati yang membengkak. Bila ada yang rasanya kurang enak, kita mungkin bisa membicarakan dan mencarikan solusinya. Saya yakin itu cara yang baik.
Sekarang, ada baiknya kita sudahi saja kenangan ini. Kita simpan ia baik-baik di tempat yang paling kita percaya, yaitu hati kita masing-masing. Kita susun rapih-rapih hingga bila kita saling merindukan, kita tak perlu susah-susah bergundah-gundah. Kita hanya perlu membukanya kembali; lembaran-lembaran kenangan itu. Apa kau setuju? Ah, saya melihatmu mengangguk dengan mantap.
Tiba-tiba saya menjadi begitu sedih. Apa kau juga, Kawan?
Tiba-tiba saya menjadi kesal sendiri. Kenapa saya lupa, pertemuan itu selalu menjanjikan perpisahan. Mengapa saya tak menyediakan payung yang lebih tegap untuk menghindari hujan air mata yang mungkin saja sebentar lagi akan membanjiri hati saya.
Tapi, begitulah. Saya harus memahami diri dan waktu. Sebagai orang besar, saya harus menghargai waktu yang telah dengan bergegas mengingatkan bahwa masa pertemuan saya telah habis. Waktunya berpisah. Waktunya mengakhiri perkenalan. Waktunya beranjak menghadiri pertemuan baru. Bersua dengan orang sama sekali asing, menjalin hubungan, dan bersiap lagi untuk menyelesaikan senyuman. Begitu terus dan seterusnya. Kita tak pernah dibiarkan abadi untuk sebuah perkenalan yang melenakan. Selalu ada masa, selalu disediakan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, dan bila diizinkan, sampai bertemu di lain waktu
Kemudian selesailah.
Saya harus mengucapkan salam. Kau juga. Haruskah kita berpelukan?
Ah, pelukan. Untuk apa kita berpelukan, bila hanya akan menambah keharuan perpisahan. Kau tahu, pelukan itu menyebabkan semakin dekat, sementara kita akan berjauhan. Kau tahu, perpisahan berarti saling menjauh satu sama lain. Saya tak ingin berpelukan –jangan dengarkan saya, karena sesungguhnya saya sangat menginginkan pelukan perpisahan itu-. Saya tak mau merangkulmu jika rangkulan itu dengan berat hati harus saya lepaskan.
Dan semua cerita –kalaupun ada- hendaklah kau simpan, hingga bila suatu hari nanti bertemu lagi, kita dapat mengulang kembali masa-masa berkenalan kita. Tentu saja, dengan situasi saya dan kau yang sudah jauh berbeda. Kita tak lagi menjadi remaja yang selalu kegirangan menghadapi kehidupan. Mungkin kau telah berubah menjadi seseorang yang lebih tua; obsesi membuat kita cepat tua. Satu-dua butir jerawat yang kala itu bersemi indah di wajahmu, mungkin akan berganti keriput yang sudah mulai tampak berbaris di pelipis matamu. Lalu, mata kita sudah saling ditempeli kaca mata. Atau, bila kau masih senang bermata dua, pasti kau menjaga sekali kesehatan matamu. Sedang saya, tentu kau tahu, dari sekarang saya sudah cacat. Mata saya sudah empat. Satu lagi, saya yakin, bila kita bertemu nanti, saya lebih gemuk-padat-berisi. Tak perlu kau heran, anggap saja ini sebagai bentuk balas dendam atas kecekingan saya semasa muda.
Ah, terlalu jauh angan saya rupanya. Bagaimana mungkin saya begitu berani –kalau tidak gila- mendahului rencana Tuhan Maha Agung. Bagaimana mungkin saya berhak menyusun rencana pertemuan saya denganmu suatu waktu nanti. Siapa saya? Tuhan pasti punya rencana yang lebih manis untuk kita. Saya percaya itu.
Saya akhir-akhir ini sering takut. Entah kenapa, saya selalu terjebak pada kemungkinan terburuk. Saya selalu terpuruk pada kemungkinan-kemungkin yang tidak saya harapkan terjadi. Namun, semua itu mesti saya hadapi. Mesti saya siapkan juga hati, perasaan dan batang tubuh saya untuk menerima. Bukankah itu semua merupakan bagian dari rencana Tuhan?
Mungkin, bila nanti, kita tidak bertemu lagi. Sebab kau hilang ingatan, atau merantau ke tempat yang sangat jauh dan dalam waktu yang sangat lama sehingga tidak memungkinkan lagi bagi kita untuk bisa bersua muka. Ingatlah, saya di sini selalu ingat kamu. Walaupun nantinya kita kehilangan nomor telepon, email, skype, atau kau keluar dari jejaring sosial sebab kau terlalu sibuk bekerja dan berkeluarga, saya akan selalu titip pesan kepada Tuhan agar menjagamu, dan supaya kau tak melupakanku. Kau mau kan berjanji untuk –setidaknya- mengingat pertemuan ini, meskipun kau tak mau berangan-angan tentang apa yang akan terjadi di masa depan?
Dan, saya jatuh lagi pada kemungkinan yang maha buruk, kau tidak mau mengingat saya lagi. Apa pasal, tidak jelas. Mungkin ada kejengkelan yang kau sembunyikan selama kita berkenalan yang akhirnya berurat-akar karena selama pertemuan kau tak pernah mencabutnya. Mungkin, ada sesak yang lupa kau luahkan kepada saya saat perpisahan datang. Hingga, ketika saat-saat usai kita merupakan saat yang membahagiakan bagimu. Itu berarti, kau tak lagi bertemu dengan saya, orang yang membuat rasa jengkelmu berurat-akar.
Bila benar begitu, –sial, kenapa saya malah meneruskan kemungkinan maha buruk ini?-. Bila benar begitu, Tuhan berarti telah salah besar mempertemukan kita. Tidak, bukan Tuhan yang salah. Tuhan selalu benar, itu pasal yang harus dipatuhi tanpa komentar. Yang salah itu kita. Kita yang kekanak-kekanakan masa itu. Bukankah perpisahan itu memang datang saat kita remaja-belia? Saat kepentingan diri sendiri selalu benar. Saat darah menang sendiri masih membuncah dengan gelegak yang membakar. Lalu, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?
Tidak ada! Nyaris tidak ada yang bisa kita lakukan. Perpisahan sudah pulang membawa cerita kita yang sudah menjadi kenangan. Tak bisa diminta kembali. Perpisahan bahkan lebih egois daripada masa muda kita. Bahkan tak bisa dibujuk oleh traktiran, seperti yang saling kita lakukan bila kau atau aku merajuk.
Kita hanya bisa belajar. Bila di masa depan kita masih dipercaya untuk bertemu dengan orang lain yang bukan kenalan kita sebelumnya, kita mesti belajar dari kesalahan masa lalu. Kita harus lebih dewasa. Kita harus memanfaatkan sekali pertemuan itu dan tidak menodainya dengan hati yang membengkak. Bila ada yang rasanya kurang enak, kita mungkin bisa membicarakan dan mencarikan solusinya. Saya yakin itu cara yang baik.
Sekarang, ada baiknya kita sudahi saja kenangan ini. Kita simpan ia baik-baik di tempat yang paling kita percaya, yaitu hati kita masing-masing. Kita susun rapih-rapih hingga bila kita saling merindukan, kita tak perlu susah-susah bergundah-gundah. Kita hanya perlu membukanya kembali; lembaran-lembaran kenangan itu. Apa kau setuju? Ah, saya melihatmu mengangguk dengan mantap.
Tiba-tiba saya menjadi begitu sedih. Apa kau juga, Kawan?
mengapa kamu?
Ada jatuh yang tak pernah kuduga-duga, hingga sebuah tanya muncul dalam benak; mengapa kamu? Mengapa pada seseorang yang dapat kuketahui dengan pasti, bahwa akhirnya adalah tidak mungkin? Ada rasa yang datang tanpa diundang, hingga tanpa sadar kuletakkan namamu pada urutan paling pertama dalam segala hal. Ada cinta yang sampai kini masih kusangkal. Sebab, memberi hati kepadamu tak pernah sebelumnya terpikirkan.
Barangkali, begitulah risiko jatuh cinta. Betapapun sudah berhati-hati, selalu saja ada jalannya jika memang harus terjadi. Sementara hati sebetulnya sudah lelah terjatuh sendirian, tapi Tuhan mendatangkan kamu di hadapan. Kali ini entah sebagai jawaban, entah sebagai penambah pertanyaan, entah sebagai pemberi pelajaran.
Jadi, mau dibawa ke mana hatiku yang ada dalam genggammu itu?
Haruskah aku menujumu, perjuangkan kamu lebih jauh? Atau kembali saja pada titik mula—cukup jadi pendamba?
Andai kamu mengerti, ini bukan tanpa alasan. Sebab yang kulihat hanya dia, pada tatap matamu yang paling dalam. Sebab yang kudengar hanya namanya, pada tiap nada kebahagiaan. Sementara aku, tinggal di antara ribuan pertanyaan; tentang mengapa kita kemudian dipertemukan. Sementara aku, berdiam di tengah ratusan perkiraan; tentang mengapa kepadamu, jatuhku tampak diizinkan. Jauh, sebelum cinta tampak nyata, sudah kusadari bahwa semuanya akan berakhir dengan sia-sia.
Dalam hujan perasaan yang jarang sekali melegakan, aku tersadar bahwa cinta tak ma(mp)u dipaksakan. Percuma aku berusaha dekat dengan yang lainnya, jika hatiku cuma kamu yang punya. Inginnya kamu ada dua; satu untukku, satu untuknya. Tapi kutahu, cerita ini tak mungkin tertulis begitu. Cerita ini menawarkan bahagia yang sama untuk kita semua—tapi sayangnya, bukan dari masing-masing kita.
Kamu seperti ada untuk kucintai saja, bukan untuk kumiliki. Seperti dekat yang tak terjangkau, terasa tapi tak tergenggam, ada yang seperti tiada.
Barangkali, begitulah risiko jatuh cinta. Betapapun sudah berhati-hati, selalu saja ada jalannya jika memang harus terjadi. Sementara hati sebetulnya sudah lelah terjatuh sendirian, tapi Tuhan mendatangkan kamu di hadapan. Kali ini entah sebagai jawaban, entah sebagai penambah pertanyaan, entah sebagai pemberi pelajaran.
Jadi, mau dibawa ke mana hatiku yang ada dalam genggammu itu?
Haruskah aku menujumu, perjuangkan kamu lebih jauh? Atau kembali saja pada titik mula—cukup jadi pendamba?
Andai kamu mengerti, ini bukan tanpa alasan. Sebab yang kulihat hanya dia, pada tatap matamu yang paling dalam. Sebab yang kudengar hanya namanya, pada tiap nada kebahagiaan. Sementara aku, tinggal di antara ribuan pertanyaan; tentang mengapa kita kemudian dipertemukan. Sementara aku, berdiam di tengah ratusan perkiraan; tentang mengapa kepadamu, jatuhku tampak diizinkan. Jauh, sebelum cinta tampak nyata, sudah kusadari bahwa semuanya akan berakhir dengan sia-sia.
Dalam hujan perasaan yang jarang sekali melegakan, aku tersadar bahwa cinta tak ma(mp)u dipaksakan. Percuma aku berusaha dekat dengan yang lainnya, jika hatiku cuma kamu yang punya. Inginnya kamu ada dua; satu untukku, satu untuknya. Tapi kutahu, cerita ini tak mungkin tertulis begitu. Cerita ini menawarkan bahagia yang sama untuk kita semua—tapi sayangnya, bukan dari masing-masing kita.
Kamu seperti ada untuk kucintai saja, bukan untuk kumiliki. Seperti dekat yang tak terjangkau, terasa tapi tak tergenggam, ada yang seperti tiada.
damn
Sosoknya yang memiliki perawakan tinggi besar selalu terlihat gagah. Kulitnya kecoklatan, dengan sepasang mata indah dan alis yang tebal. Hidungnya yang mancung dan rambutnya yang bermodel agak spiky menambah pesona dirinya. Senyumnya yang dihiasi oleh deretan gigi putihnya yang rapi mampu melelehkan hati setiap wanita yang melihatnya.
Siswa mana di sekolah ini yang tak kenal Mario Pratama ? Siswa kelas XII IPA 4 yang terkenal akan ketampanannya, juga keahliannya di dalam bidang akademis dan non-akademis. Tak hanya menjadi kapten tim basket di sekolah, ia juga berhasil membawa nama sekolah ini di Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi. Ia juga orang yang pandai bergaul. Tak heran jika banyak orang yang ingin jadi temannya.
Jumlah teman dekat Mario sebanding dengan jumlah wanita-wanita cantik di sekolah yang siap bersaing untuk mencuri hati sang arjuna. Mulai dari Ami, seorang kutu buku yang jadi langganan korban bullying di sekolah. Hingga Stella, ketua ekskul Modern Dance yang menyandang predikat sebagai “Cewek Cantik Terpopuler” di sekolah.
Bagaimana dengan aku ? Apakah aku tertarik untuk merebut hati Mario, sama halnya dengan anak-anak perempuan di sekolahku ? Oh… Hidupku terlalu berharga untuk diisi dengan hal bodoh seperti itu. Hukum alam menyatakan bahwa, seranggalah yang harusnya mendekati bunga. Bukan sebaliknya.
****
Siang itu aku tengah berjalan sendirian di koridor sekolah sambil membawa sebuah map berisi kertas-kertas tugas milikku.
Dari jauh kulihat sosok Mario dan Stella sedang jalan berdua, berlawanan arah denganku. Dengan manja, Stella menggandeng tangan Mario. Namun… Stella justru menguncinya ! Tak rela melepaskan tangan Mario dari gandengannya. Terlihat ekspresi wajah Mario yang mulai tak nyaman dengan tingkah laku Stella yang kekanakan seperti itu.
Sebentar lagi aku akan berpapasan dengan mereka. Aku lebih memilih untuk membuang muka, daripada menonton adegan yang memuakkan tersebut. Toh, Mario pun tak akan mengenalku kan ?
“ Hai Arina “ ucap Mario begitu ia berpapasan denganku.
Aku kaget. Lalu segera mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk. Kutatap wajah Mario dan… ada segaris senyum menawan di bibirnya. Seketika saat itu juga aku jadi salah tingkah. Aku mencoba membalas sapaan Mario dengan sebuah senyuman. Namun karena aku terlalu gugup, yang kutampakkan malah sebuah senyum mengerikan yang membuat Mario tertawa kecil. Tunggu… Darimana ia tahu namaku ?
Aku membalikkan badanku untuk melihat sosok Mario dan Stella yang sudah berlalu. Kuharap saat itu Mario ikut membalikkan badannya dan tersenyum lagi padaku. Namun ternyata yang berbalik badan adalah wanita di sampingnya. Yang kemudian melemparkan tatapan tajam ke arah ku. Tatapan kebencian.
Aku menghela nafas. Stella. Gadis yang selalu mendapatkan segala hal yang ia inginkan.
****
Aku dan Ilana duduk berdua di taman sekolah yang berada dekat dengan lapangan parkir. Ilana tengah menunggu kekasihnya yang sore ini telah berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah, sambil menemaniku menunggu supir yang biasa menjemputku.
“ Nggak biasanya Pak Nunu lama jemput kaya gini… “ keluhku.
“ Sabar Rin. Pasti bentar lagi dia dateng kok “ hibur Ilana.
Empat puluh lima menit lamanya aku dan Ilana menunggu kedatangan Pak Nunu, tapi beliau belum muncul juga. Kedatangan Pak Nunu pun disusul oleh kedatangan kekasih Ilana.
“ Rin, Rico udah jemput nih… Gimana dong ? “ tanya Ilana yang merasa tak enak meninggalkanku sendirian.
“ Iya nggak apa-apa kok, Rin. Udah kamu sana pulang, udah sore. Pasti bentar lagi Pak Nunu dateng. Kalau nggak pun, aku bisa pulang naik taksi “ jawabku yang mencoba untuk meyakinkan Ilana.
“ Beneran nggak apa-apa ? “ tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.
“ Yaudah kalo gitu… Aku pulang duluan ya, Rin. Kamu hati-hati nunggu sendiran. Dadaaah “ ucapnya sambil melambaikan tangan.
“ Daaah “ balasku.
Ilana pun pergi menghampiri kekasihnya yang sedang menunggu di tempat parkir. Beberapa menit kemudian ia dan kekasihnya pulang.
Tak lama setelah Ilana dan kekasihnya pergi, ponselku bergetar tanda sms masuk. Kubuka ponselku dan ternyata ada sms dari Pak Nunu yang menyatakan bahwa hari ini ia tak bisa menjemputku karena anaknya sedang sakit. Oke, tak apa. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.
Begitu aku berdiri dari bangku taman dan baru saja membalikkan badan, sesosok pria tinggi berjaket hitam yang mengenakan helm full face berdiri di hadapanku. Aku kaget dan hampir berteriak. Namun pria itu segera melepas helmnya.
“ Hei Rin ! Udah mau pulang ? “ tanya Mario. Aku menghela nafas lega karena ternyata pria itu adalah Mario.
“ Mmm… Iya kak “ jawabku tanpa bertele-tele.
“ Bareng aku, yuk ? “ ajak Mario.
Mario Pratama ? Pria paling populer di sekolah mengenalku dan mengajakku pulang bersamanya ? Oh Tuhan… Mungkin aku tengah bermimpi sekarang. Aku hanya seorang anggota ekskul KIR yang tak secantik dan sepopuler Stella. Namun mengapa Mario…
Tolong jatuhkan apapun dari langit tepat di atas kepalaku ini, Tuhan. Agar aku bisa yakin bahwa ini bukanlah mimpi. Kalaupun ini hanya mimpi, aku bisa segera bangun agar mimpi indah ini tak berkepanjangan yang justru akan menyakitkan hatiku.
“ Hey ! Malah ngelamun… Ayo pulang bareng aku “ paksa Mario yang kemudian menarik tanganku. Salah tingkah aku dibuatnya.
“ Ng… Eh… Itu pacar kakak gimana ? “ tanyaku yang merasa tak enak pada Stella, mengingat kejadian tadi siang.
“ Pacar yang mana ? “ tanya Mario bingung.
“ Yang tadi siang “
“ Aduh… Si manja itu bukan pacar aku, Rin ! Ayo ah pulang. Nggak baik anak cewek pulang sore sendirian “ paksa Mario sambil terus menarik tanganku.
Akhirnya aku pun pasrah terhadap paksaan Mario. Oke, terima saja kalau Mario benar-benar ingin pulang bersamaku. Ternyata hukum alam yang menyatakan bahwa seranggalah yang mengejar bunga itu berlaku…
****
Aku dan Mario terlibat dalam sebuah percakapan panjang selama perjalanan pulang tadi. Ternyata Mario mengenalku karena ternyata, aku cukup terkenal – katanya. Aku memang sangat aktif dalam ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja. Aku bersama teman-temanku di KIR sering menjuarai beberapa lomba yang berhubungan dengan Sains. Tetapi bukan olimpiade seperti Mario. Menariknya, aku baru sadar bahwa ternyata aku dan Mario tertarik dalam bidang yang sama. Yah… Aku berharap kami bisa menjalin sebuah hubungan dekat karena kesamaan ini.
****
“ Yang roketnya meluncur paling tinggi, yang ditraktir es krim ya ? “ ujar Mario pada suatu siang di halaman belakang sekolah. Kami tengah melakukan sebuah eksperimen peluncuran roket air pada saat itu.
Semenjak Mario mengajakku pulang bersamanya beberapa hari yang lalu, hubungan kami memang makin dekat. Ditambah lagi, kini ia bergabung dengan ekskul KIR. Kami makin sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku pun… Merasa nyaman bila berada di dekatnya.
“ Siap ya… “ ucap Mario.
Aku bersiap menekan pompa sepeda yang akan memacu roket airku untuk meluncur.
“ Satu… Dua… Tiga ! “
Kami berdua menekan pompa sepeda masing-masing. Roket yang kami buat pun sama-sama meluncur. Namun sayang… Luncuran roket Mario tak setinggi luncuran roketku. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum puas.
“ Oke oke deh… Ayooo aku traktir es krim coklat ya “ ucap Mario yang sudah mengaku kalah terlebih dahulu. Aku pun tertawa.
Bersamanya aku pergi ke kantin sekolah yang menjual es krim. Tak segan kami mendatangi tempat yang ramai akan pengunjung itu sambil masih mengenakan jas laboratorium.
Mario duduk berdua bersamaku di bangku kantin sambil melahap es krim. Mulutku belepotan oleh noda es krim.
“ Aduh kamu kaya bocah aja… “ kata Mario sambil meraih sebuah kertas tissue dan mengelapkannya ke bibirku.
Aku pun jadi salah tingkah diperlakukan semanis itu oleh Mario. Setahuku, belum pernah ada perempuan yang diperlakukan seistimewa ini oleh Mario. Karena aku baru saja mendengar kabar angin bahwa Mario belum pernah berpacaran. Dan dugaanku kemarin-kemarin bahwa Stella adalah kekasih Mario ternyata salah.
“ Makasih kak “ ucapku sambil tersipu malu. Kalau sudah malu begini, pasti telinga dan wajahku memerah seperti sekarang.
“ Sama-sama adik manis… “ balasnya sambil mencubit pipiku.
Oh cukup Mario ! Kau telah membuatku sadar bahwa sekarang aku mulai menyukaimu. Menggilaimu layaknya sebagian besar kaum hawa yang selalu berusaha mencuri hatimu. Dan sekarang sebagian besar gadis-gadis manis di sekolah ini tengah bersiap untuk memusuhiku karena adegan “manis” tadi ternyata tertonton oleh mereka. Termasuk sang bintang sekolah, Stella.
****
Sepanjang waktu makan siangku dengan calon ibu tiriku di restoran kuhabiskan dengan melamun. Pikiranku tak bisa lepas dari sosok pria sempurna itu. Semenjak kedekatanku dengannya, aku merasa jadi perempuan paling beruntung di sekolah. Banyak perempuan yang dekat dengan Mario, tapi tak ada yang diperlakukan seistimewa aku.
“ Rina kenapa senyum-senyum sendiri begitu ? “ tanya mommy – panggilan untuk calon ibu tiriku.
“ Ehehehe nggak apa-apa mom, cuma… Ehehehehe Rina nggak apa-apa kok “ jawabku sambil tersipu malu.
Aku memang sangat akur dengan calon ibu tiriku. Mungkin karena sejak batita aku sudah tak punya ibu, jadi aku sangat menginginkan ada sosok ibu dalam hidupku. Untungnya calon ibu tiriku ini sangat baik. Tak seperti yang ada di film-film, yang suka sekali menyiksa anak dari suaminya. Mommy lain, ia sangat baik dan perhatian sekali padaku. Ia sudah menyayangiku layaknya anaknya sendiri.
“ Hmm… Rina lagi jatuh cinta ya ? “ tebak mommy.
Mendengar tebakan mommy, aku salah tingkah. Bingung harus menjawab apa. Haruskah aku berbohong ? Tapi aku selalu terbuka pada mommy. Namun jika aku jujur, aku terlalu malu untuk menceritakannya.
“ Hehehe iya… “ jawabku malu-malu. Mommy tersenyum padaku. “ Tapi jangan bilangin ayah, mom. Please… “ aku memohon pada mommy agar tak menceritakan hal ini pada ayah. Karena aku tahu bahwa ayah belum mengizinkanku untuk berpacaran.
“ Iya iya… Emang Arina lagi suka sama siapa sih ? “ tanya mommy penasaran.
“ Ada mom… Kakak kelasnya Arina “ jawabku yang masih malu-malu.
“ Oh iya ? Duh ngingetin mommy jaman masih SMA tuh. Orangnya gimana ? “ tanyanya lagi.
“ Dia baik, mom. Pinter lagi, jago basket, ganteng juga. Kemaren-kemaren dia sempet anterin Rina ke rumah. Pokoknya Rina nyaman banget kalo deket sama dia. Dia juga care banget sama Rina “ aku menggambarkan sosok Mario pada mommy.
“ Wow… Siapa namanya ? “.
Namun belum sempat aku menyebut nama “Mario”, ponsel mommy berdering. Ada panggilan masuk dari ayahku. Ayah meminta mommy agar segera mengantarku pulang ke rumah.
“ Oke… Lain kali kita lanjut ceritanya ya, sayang. Kita mesti pulang “ kata mommy.
Aku menyayangkan mommy belum tahu nama pria yang kusukai itu. Tapi tak apalah… Masih banyak waktuku untuk bercerita tentang Mario dengan mommy.
****
Dugaanku bahwa sebagian besar gadis-gadis di sekolah akan memusuhiku ternyata benar. Tak hentinya aku menerima tatapan tajam dari setiap gadis yang kutemui di koridor sekolah. Ada pula yang saling berbisik satu sama lain sambil menyebut namaku. Aku mendadak populer di sekolah karena hal ini.
Namun Stella tak kunjung muncul di hadapanku. Kukira ia akan menghabisiku karena kedekatanku dengan pujaan hatinya. Ternyata ia telah mengalah duluan dan mengakui bahwa Mario lebih tertarik denganku dibandingkan dengannya.
“ Mendadak artis kamu, Rin “ ucap Ilana sambil menyantap semangkuk bakso bersamaku di kantin.
“ Ih nggak ah… Biasa aja “ balasku merendah. Tapi apa yang Ilana katakan tadi memang benar. Kini aku sepopuler Mario dan Stella.
“ Ih asli eksis tau ! Semenjak kamu deket sama Kak Mario… Hmm kayanya bentar lagi sahabatku ini bakalan punya pacar nih “ goda Ilana.
“ Lanaaaa apaan sih ? Nggak ih nggak… “ aku mencoba menangkis godaan Ilana, walaupun sebenarnya aku sangat mengamini.
“ Hahahaha salah tingkah dia… Kamu juga suka kan sama Kak Mario ? “ tanya Ilana.
Wajah dan telingaku memerah lagi. Kurasa dengan melihat reaksi tubuhku yang seperti ini, Ilana sudah tau jawabannya tanpa aku harus berkata-kata.
“ Oke deeeh… Kalo udah jadian nanti, traktir aku ya “ goda sahabatku lagi. Aku tersenyum malu dan mengangguk.
“ Seyakin apa kamu bisa jadian sama Mario ? “ tanya Stella yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku sambil melipat kedua tangannya dibawah dada, bersama segerombolan teman-temannya yang suka menggencet adik kelas.
“ Apa sih kamu, La ? Ikut-ikutan aja ! “ Ilana kesal terhadap Stella mulai bikin ulah.
“ Kamu diem deh ! “ bentar Stella pada Ilana.
Ilana hendak memukulnya, namun aku segera memegang tangannya. Menahannya agar ia tak melampiaskan emosinya secara kasar pada Stella yang malah akan memperpanjang masalah.
“ Aku sih nggak berniat untuk gencet kamu atau sakitin kamu ke sini, Rin “ ucap Stella.
“ Cuma mau ngingetin… “ Stella mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai membisikkan sesuatu. “ Jangan terlalu PD, cewek cupu “, ucapnya.
Terbakar rasanya telingaku mendengar ucapan Stella. Emosiku meluap. Ingin rasanya aku mengguyur teman sekelasku itu dengan es jeruk yang bekas kuminum tadi. Namun aku segera sadar bahwa hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Kutarik lengan Ilana, lalu segera membawanya pergi dari kantin saat itu juga.
Jangan sampai nanti kau menangis darah karena mendengar berita bahwa aku telah jadi kekasih Mario, Stella. Ancamku dalam hati.
****
“ Arinaaaa !!! “ panggil seseorang dari belakangku. Aku yang sedang berjalan sendirian menuju tempat parkir sekolah, berhenti melangkah dan membalikkan badan. Mario.
“ Udah dijemput ? “ tanya Mario.
“ Iya udah, kak. Ada apa ? “ aku berbalik tanya. Mario menggaruk-garuk kepalanya pertanda bingung. Namun ia segera angkat bicara.
“ Mmm… Kamu mau nggak besok malem dinner sama aku ? “ ajak Mario.
Apa ? Dinner ? Dengan Mario ? Berikan aku alasan logis mengapa aku harus menolak kesempatan emas seperti ini.
“ Hmm gimana ya… Dalam rangka apa dulu nih ? “ tanyaku yang pura-pura jual mahal pada Mario.
“ Aku mau kasih kamu kejutan, Rin “ jawabnya. Kejutan ? Apa jangan-jangan… Mario mau…
“ Dinnernya dimana kak ? “
“ Di Deutch Cafe. Tau kan ? “
“ Iya tau, kak. Jam berapa ? “
“ Jam tujuh malem. Aku tunggu kamu di sana ya… Ada kejutan yang mau aku kasih buat kamu “.
Mario berhasil membuat perasaanku campur aduk pada saat itu. Antara senang, cemas, salah tingkah, penasaran, pokoknya semuanya bercampur jadi satu. Tak sabar rasanya menantikan esok malam. Karena aku yakin, besok akan jadi hari yang bersejarah bagiku. Bagi kami berdua.
“ Aku tunggu ya adik manis “ ucapnya sambil mencubit pipiku.
****
Keesokkan harinya, di waktu sore.
Ilana berkunjung ke rumahku demi membantuku memilihkan pakaian untuk malam ini. Mommy tidak bisa membantu karena kebetulan hari ini ia sedang menemani ayah mengunjungi pesta pernikahan kliennya.
Butuh waktu berjam-jam bagiku dan Ilana untuk memilih pakaian yang pas. Setelah ada satu pakaian yang cocok aku pakai pada saat itu, Ilana segera mendandaniku. Bagaikan seorang penata rias handal, Ilana berhasil menyulapku dari seekor itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik.
“ How beautiful you are… “ puji Ilana sambil memperhatikan sosok diriku yang tak seperti biasanya di kaca.
Aku tertegun melihat diriku sendiri dengan pakaian indah dan polesan make up di wajahku. Aku benar-benar terlihat menawan pada saat itu, tak kalah dengan Stella. Mungkinkan malah ini Mario akan terpesona melihatku ?
“ Good luck… My best friend… “ ucap Ilana sambil memelukku. Aku memberikan pelukan terhangatku untuk sahabatku yang satu ini.
“ Aku janji… Kalo malem ini aku jadian sama Kak Mario, besok kamu aku traktir di kantin sepuasnya “ ucapku.
“ Beneran ya, Rin ? “
“ Iya “
Setelah memberikan beberapa kata penyemangat, Ilana mengantarku ke depan rumah untuk segera pergi. Pak Nunu sudah siap di depan rumah untuk mengantarku ke Deustch Cafe. Aku melambaikan tanganku pada Ilana, ia pun membalasnya.
God… Wish tonight gonna be my night.
****
Tak sampai sepuluh menit aku menunggu di Deutch Cafe, pria yang kutunggu akhirnya datang. Ia mengenakan setelan casual namun tetap trendy dan tetap menawan di mataku. Tak tampak di wajahnya sedikitpun tanda-tanda ia terpesona padaku. Apa dandananku terlalu sederhana ?
“ Udah lama nunggu, Rin ? “ tanya Mario sambil mengambil tempat duduk berhadapan denganku. Aku tersenyum dan menggeleng.
“ Syukurlah… Oh iya… Mau makan dulu apa kejutan dulu nih ? “ Mario menawarkan pilihan.
Oke, jujur. Aku tak akan mungkin bisa makan dengan nyaman apabila terus dirundung rasa penasaran. Jadi sepertinya, aku harus mengetahui kejutannya terlebih dahulu. Bukankah lebih nyaman apabila aku dan Mario makan berdua dan status kami sudah menjadi sepasang kekasih ?
“ Oke deh adik manis… Tutup matanya ya “ suruh Mario.
Bagaikan seekor anjing kecil yang setia pada majikannya, aku menurut pada suruhan Mario. Kupejamkan mataku rapat-rapat, lalu kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Berharap begitu aku membuka mata nanti, sudah ada setangkai bunga mawar di hadapanku lengkap dengan pernyataan cinta dari Mario. Atau justru kejutan yang lebih romantis.
“ Aku hitung mundur ya… Tiga… Dua… Satu… “
Kuturunkan kedua tanganku dan perlahan aku mulai membuka mata. Aku pun heran terhadap kejutan yang Mario buat.
“ Ayah ? Mommy ? “ kedua orang tuaku berdiri tepat di hadapanku bersama dengan Mario. Apa maksudnya ini ? Mario sudah menyukaiku sejak lama dan justru mendekati orang tuaku terlebih dahulu sebelum aku atau bagaimana ? Aku bingung.
“ Surprise ! “ seru mereka bertiga.
“ Surprise ? “ tanyaku heran.
“ Mario ini anak mommy, sayang… Ternyata kalian akur sekali ya “ ucap mommy.
“ Dan sebentar lagi kalian akan jadi saudara, karena ayah sama dan mommy mau menikah bulan depan “ tambah ayah.
Rasanya bagaikan dibawa terbang tinggi ke angkasa ratusan kilometer, namun pada akhirnya dihempaskan ke tanah dengan keras. Dan hempasannya itu tepat pada wajahku. Wajahku yang sekarang harus menanggung malu terhadap Ilana, Stella, teman-teman satu sekolahku, juga mommy. Aku tak yakin mommy tahu bahwa pria yang kusukai itu ternyata anaknya sendiri, karena aku sama sekali tak menyebut-nyebut namanya.
Dan mengapa mommy tega tak menceritakan dengan detail mengenai kehidupannya ? Mengenai anaknya yang ternyata jadi kakak kelasku di sekolah ? Mengenai anaknya yang ternyata adalah pria tampan paling populer di sekolah ? Yang kemarin-kemarin begitu dekat denganku dan kami berdua dikabarkan akan segera jadi sepasang kekasih ?
Tiba-tiba ucapan Ilana terngiang di telingaku. “Jangan terlalu PD”. Ya, gadis cantik yang otaknya sedikit dungu itu memang ternyata ada benarnya. Kepercayaandiriku terlalu tinggi sehingga kini aku sendiri yang harus merasakan akibatnya. Dan kini mereka bertiga – ayah, mommy, Mario – berhasil membuatku mati kutu.
“ Hehehehe ini kejutannya adik manis… Kamu seneng kan ? Bentar lagi kita sodaraan deh “ ucap Mario sambil merangkulku lalu mencubit pipiku. Adik manis. Oh. Ternyata aku memang benar-benar akan jadi adikmu.
“ Pasti Arina seneng kan ? Sudah, ayo kita makan kalau begitu. Kita rayakan calon keluarga baru ini “ ucap ayah yang begitu antusias.
Aku kembali ke tempat dudukku semula, dengan Mario yang kini duduk di sampingku. Nafsu makanku sudah pudar semenjak mommy berkata, “Mario ini anak mommy”.
Mual aku rasanya apabila mengingat perlakuan-perlakuan manis yang Mario berikan padaku kemarin-kemarin. Ternyata ia sudah mengenalku terlebih dahulu dari mommy, bukan karena keaktifanku dalam ekskul KIR. Ia pun bersikap manis padaku karena aku ini calon adik tirinya. Pantas saja, kata “adik manis” begitu sering terdengar di telingaku. Ingin rasanya kuulang waktu agar aku bisa mencabut kembali perasaanku yang sudah kutanam di hati Mario.
Di saat ayah, mommy, dan Mario sudah mulai menyantap hidangan dinner mereka. Aku masih saja diam karena benar-benar tak bernafsu untuk makan. Tak terbayang rasanya apabila harus tinggal serumah dengan pria di sampingku ini.
“ Arina kenapa diam saja ? Ayo makan “ suruh ayah.
“ Sebenernya dia lagi jatuh cinta tuh mas, sama kakak kelasnya. Siapa namanya Rin ? “ tanya mommy.
Damn.
THE END
Siswa mana di sekolah ini yang tak kenal Mario Pratama ? Siswa kelas XII IPA 4 yang terkenal akan ketampanannya, juga keahliannya di dalam bidang akademis dan non-akademis. Tak hanya menjadi kapten tim basket di sekolah, ia juga berhasil membawa nama sekolah ini di Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi. Ia juga orang yang pandai bergaul. Tak heran jika banyak orang yang ingin jadi temannya.
Jumlah teman dekat Mario sebanding dengan jumlah wanita-wanita cantik di sekolah yang siap bersaing untuk mencuri hati sang arjuna. Mulai dari Ami, seorang kutu buku yang jadi langganan korban bullying di sekolah. Hingga Stella, ketua ekskul Modern Dance yang menyandang predikat sebagai “Cewek Cantik Terpopuler” di sekolah.
Bagaimana dengan aku ? Apakah aku tertarik untuk merebut hati Mario, sama halnya dengan anak-anak perempuan di sekolahku ? Oh… Hidupku terlalu berharga untuk diisi dengan hal bodoh seperti itu. Hukum alam menyatakan bahwa, seranggalah yang harusnya mendekati bunga. Bukan sebaliknya.
****
Siang itu aku tengah berjalan sendirian di koridor sekolah sambil membawa sebuah map berisi kertas-kertas tugas milikku.
Dari jauh kulihat sosok Mario dan Stella sedang jalan berdua, berlawanan arah denganku. Dengan manja, Stella menggandeng tangan Mario. Namun… Stella justru menguncinya ! Tak rela melepaskan tangan Mario dari gandengannya. Terlihat ekspresi wajah Mario yang mulai tak nyaman dengan tingkah laku Stella yang kekanakan seperti itu.
Sebentar lagi aku akan berpapasan dengan mereka. Aku lebih memilih untuk membuang muka, daripada menonton adegan yang memuakkan tersebut. Toh, Mario pun tak akan mengenalku kan ?
“ Hai Arina “ ucap Mario begitu ia berpapasan denganku.
Aku kaget. Lalu segera mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk. Kutatap wajah Mario dan… ada segaris senyum menawan di bibirnya. Seketika saat itu juga aku jadi salah tingkah. Aku mencoba membalas sapaan Mario dengan sebuah senyuman. Namun karena aku terlalu gugup, yang kutampakkan malah sebuah senyum mengerikan yang membuat Mario tertawa kecil. Tunggu… Darimana ia tahu namaku ?
Aku membalikkan badanku untuk melihat sosok Mario dan Stella yang sudah berlalu. Kuharap saat itu Mario ikut membalikkan badannya dan tersenyum lagi padaku. Namun ternyata yang berbalik badan adalah wanita di sampingnya. Yang kemudian melemparkan tatapan tajam ke arah ku. Tatapan kebencian.
Aku menghela nafas. Stella. Gadis yang selalu mendapatkan segala hal yang ia inginkan.
****
Aku dan Ilana duduk berdua di taman sekolah yang berada dekat dengan lapangan parkir. Ilana tengah menunggu kekasihnya yang sore ini telah berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah, sambil menemaniku menunggu supir yang biasa menjemputku.
“ Nggak biasanya Pak Nunu lama jemput kaya gini… “ keluhku.
“ Sabar Rin. Pasti bentar lagi dia dateng kok “ hibur Ilana.
Empat puluh lima menit lamanya aku dan Ilana menunggu kedatangan Pak Nunu, tapi beliau belum muncul juga. Kedatangan Pak Nunu pun disusul oleh kedatangan kekasih Ilana.
“ Rin, Rico udah jemput nih… Gimana dong ? “ tanya Ilana yang merasa tak enak meninggalkanku sendirian.
“ Iya nggak apa-apa kok, Rin. Udah kamu sana pulang, udah sore. Pasti bentar lagi Pak Nunu dateng. Kalau nggak pun, aku bisa pulang naik taksi “ jawabku yang mencoba untuk meyakinkan Ilana.
“ Beneran nggak apa-apa ? “ tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.
“ Yaudah kalo gitu… Aku pulang duluan ya, Rin. Kamu hati-hati nunggu sendiran. Dadaaah “ ucapnya sambil melambaikan tangan.
“ Daaah “ balasku.
Ilana pun pergi menghampiri kekasihnya yang sedang menunggu di tempat parkir. Beberapa menit kemudian ia dan kekasihnya pulang.
Tak lama setelah Ilana dan kekasihnya pergi, ponselku bergetar tanda sms masuk. Kubuka ponselku dan ternyata ada sms dari Pak Nunu yang menyatakan bahwa hari ini ia tak bisa menjemputku karena anaknya sedang sakit. Oke, tak apa. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.
Begitu aku berdiri dari bangku taman dan baru saja membalikkan badan, sesosok pria tinggi berjaket hitam yang mengenakan helm full face berdiri di hadapanku. Aku kaget dan hampir berteriak. Namun pria itu segera melepas helmnya.
“ Hei Rin ! Udah mau pulang ? “ tanya Mario. Aku menghela nafas lega karena ternyata pria itu adalah Mario.
“ Mmm… Iya kak “ jawabku tanpa bertele-tele.
“ Bareng aku, yuk ? “ ajak Mario.
Mario Pratama ? Pria paling populer di sekolah mengenalku dan mengajakku pulang bersamanya ? Oh Tuhan… Mungkin aku tengah bermimpi sekarang. Aku hanya seorang anggota ekskul KIR yang tak secantik dan sepopuler Stella. Namun mengapa Mario…
Tolong jatuhkan apapun dari langit tepat di atas kepalaku ini, Tuhan. Agar aku bisa yakin bahwa ini bukanlah mimpi. Kalaupun ini hanya mimpi, aku bisa segera bangun agar mimpi indah ini tak berkepanjangan yang justru akan menyakitkan hatiku.
“ Hey ! Malah ngelamun… Ayo pulang bareng aku “ paksa Mario yang kemudian menarik tanganku. Salah tingkah aku dibuatnya.
“ Ng… Eh… Itu pacar kakak gimana ? “ tanyaku yang merasa tak enak pada Stella, mengingat kejadian tadi siang.
“ Pacar yang mana ? “ tanya Mario bingung.
“ Yang tadi siang “
“ Aduh… Si manja itu bukan pacar aku, Rin ! Ayo ah pulang. Nggak baik anak cewek pulang sore sendirian “ paksa Mario sambil terus menarik tanganku.
Akhirnya aku pun pasrah terhadap paksaan Mario. Oke, terima saja kalau Mario benar-benar ingin pulang bersamaku. Ternyata hukum alam yang menyatakan bahwa seranggalah yang mengejar bunga itu berlaku…
****
Aku dan Mario terlibat dalam sebuah percakapan panjang selama perjalanan pulang tadi. Ternyata Mario mengenalku karena ternyata, aku cukup terkenal – katanya. Aku memang sangat aktif dalam ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja. Aku bersama teman-temanku di KIR sering menjuarai beberapa lomba yang berhubungan dengan Sains. Tetapi bukan olimpiade seperti Mario. Menariknya, aku baru sadar bahwa ternyata aku dan Mario tertarik dalam bidang yang sama. Yah… Aku berharap kami bisa menjalin sebuah hubungan dekat karena kesamaan ini.
****
“ Yang roketnya meluncur paling tinggi, yang ditraktir es krim ya ? “ ujar Mario pada suatu siang di halaman belakang sekolah. Kami tengah melakukan sebuah eksperimen peluncuran roket air pada saat itu.
Semenjak Mario mengajakku pulang bersamanya beberapa hari yang lalu, hubungan kami memang makin dekat. Ditambah lagi, kini ia bergabung dengan ekskul KIR. Kami makin sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku pun… Merasa nyaman bila berada di dekatnya.
“ Siap ya… “ ucap Mario.
Aku bersiap menekan pompa sepeda yang akan memacu roket airku untuk meluncur.
“ Satu… Dua… Tiga ! “
Kami berdua menekan pompa sepeda masing-masing. Roket yang kami buat pun sama-sama meluncur. Namun sayang… Luncuran roket Mario tak setinggi luncuran roketku. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum puas.
“ Oke oke deh… Ayooo aku traktir es krim coklat ya “ ucap Mario yang sudah mengaku kalah terlebih dahulu. Aku pun tertawa.
Bersamanya aku pergi ke kantin sekolah yang menjual es krim. Tak segan kami mendatangi tempat yang ramai akan pengunjung itu sambil masih mengenakan jas laboratorium.
Mario duduk berdua bersamaku di bangku kantin sambil melahap es krim. Mulutku belepotan oleh noda es krim.
“ Aduh kamu kaya bocah aja… “ kata Mario sambil meraih sebuah kertas tissue dan mengelapkannya ke bibirku.
Aku pun jadi salah tingkah diperlakukan semanis itu oleh Mario. Setahuku, belum pernah ada perempuan yang diperlakukan seistimewa ini oleh Mario. Karena aku baru saja mendengar kabar angin bahwa Mario belum pernah berpacaran. Dan dugaanku kemarin-kemarin bahwa Stella adalah kekasih Mario ternyata salah.
“ Makasih kak “ ucapku sambil tersipu malu. Kalau sudah malu begini, pasti telinga dan wajahku memerah seperti sekarang.
“ Sama-sama adik manis… “ balasnya sambil mencubit pipiku.
Oh cukup Mario ! Kau telah membuatku sadar bahwa sekarang aku mulai menyukaimu. Menggilaimu layaknya sebagian besar kaum hawa yang selalu berusaha mencuri hatimu. Dan sekarang sebagian besar gadis-gadis manis di sekolah ini tengah bersiap untuk memusuhiku karena adegan “manis” tadi ternyata tertonton oleh mereka. Termasuk sang bintang sekolah, Stella.
****
Sepanjang waktu makan siangku dengan calon ibu tiriku di restoran kuhabiskan dengan melamun. Pikiranku tak bisa lepas dari sosok pria sempurna itu. Semenjak kedekatanku dengannya, aku merasa jadi perempuan paling beruntung di sekolah. Banyak perempuan yang dekat dengan Mario, tapi tak ada yang diperlakukan seistimewa aku.
“ Rina kenapa senyum-senyum sendiri begitu ? “ tanya mommy – panggilan untuk calon ibu tiriku.
“ Ehehehe nggak apa-apa mom, cuma… Ehehehehe Rina nggak apa-apa kok “ jawabku sambil tersipu malu.
Aku memang sangat akur dengan calon ibu tiriku. Mungkin karena sejak batita aku sudah tak punya ibu, jadi aku sangat menginginkan ada sosok ibu dalam hidupku. Untungnya calon ibu tiriku ini sangat baik. Tak seperti yang ada di film-film, yang suka sekali menyiksa anak dari suaminya. Mommy lain, ia sangat baik dan perhatian sekali padaku. Ia sudah menyayangiku layaknya anaknya sendiri.
“ Hmm… Rina lagi jatuh cinta ya ? “ tebak mommy.
Mendengar tebakan mommy, aku salah tingkah. Bingung harus menjawab apa. Haruskah aku berbohong ? Tapi aku selalu terbuka pada mommy. Namun jika aku jujur, aku terlalu malu untuk menceritakannya.
“ Hehehe iya… “ jawabku malu-malu. Mommy tersenyum padaku. “ Tapi jangan bilangin ayah, mom. Please… “ aku memohon pada mommy agar tak menceritakan hal ini pada ayah. Karena aku tahu bahwa ayah belum mengizinkanku untuk berpacaran.
“ Iya iya… Emang Arina lagi suka sama siapa sih ? “ tanya mommy penasaran.
“ Ada mom… Kakak kelasnya Arina “ jawabku yang masih malu-malu.
“ Oh iya ? Duh ngingetin mommy jaman masih SMA tuh. Orangnya gimana ? “ tanyanya lagi.
“ Dia baik, mom. Pinter lagi, jago basket, ganteng juga. Kemaren-kemaren dia sempet anterin Rina ke rumah. Pokoknya Rina nyaman banget kalo deket sama dia. Dia juga care banget sama Rina “ aku menggambarkan sosok Mario pada mommy.
“ Wow… Siapa namanya ? “.
Namun belum sempat aku menyebut nama “Mario”, ponsel mommy berdering. Ada panggilan masuk dari ayahku. Ayah meminta mommy agar segera mengantarku pulang ke rumah.
“ Oke… Lain kali kita lanjut ceritanya ya, sayang. Kita mesti pulang “ kata mommy.
Aku menyayangkan mommy belum tahu nama pria yang kusukai itu. Tapi tak apalah… Masih banyak waktuku untuk bercerita tentang Mario dengan mommy.
****
Dugaanku bahwa sebagian besar gadis-gadis di sekolah akan memusuhiku ternyata benar. Tak hentinya aku menerima tatapan tajam dari setiap gadis yang kutemui di koridor sekolah. Ada pula yang saling berbisik satu sama lain sambil menyebut namaku. Aku mendadak populer di sekolah karena hal ini.
Namun Stella tak kunjung muncul di hadapanku. Kukira ia akan menghabisiku karena kedekatanku dengan pujaan hatinya. Ternyata ia telah mengalah duluan dan mengakui bahwa Mario lebih tertarik denganku dibandingkan dengannya.
“ Mendadak artis kamu, Rin “ ucap Ilana sambil menyantap semangkuk bakso bersamaku di kantin.
“ Ih nggak ah… Biasa aja “ balasku merendah. Tapi apa yang Ilana katakan tadi memang benar. Kini aku sepopuler Mario dan Stella.
“ Ih asli eksis tau ! Semenjak kamu deket sama Kak Mario… Hmm kayanya bentar lagi sahabatku ini bakalan punya pacar nih “ goda Ilana.
“ Lanaaaa apaan sih ? Nggak ih nggak… “ aku mencoba menangkis godaan Ilana, walaupun sebenarnya aku sangat mengamini.
“ Hahahaha salah tingkah dia… Kamu juga suka kan sama Kak Mario ? “ tanya Ilana.
Wajah dan telingaku memerah lagi. Kurasa dengan melihat reaksi tubuhku yang seperti ini, Ilana sudah tau jawabannya tanpa aku harus berkata-kata.
“ Oke deeeh… Kalo udah jadian nanti, traktir aku ya “ goda sahabatku lagi. Aku tersenyum malu dan mengangguk.
“ Seyakin apa kamu bisa jadian sama Mario ? “ tanya Stella yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku sambil melipat kedua tangannya dibawah dada, bersama segerombolan teman-temannya yang suka menggencet adik kelas.
“ Apa sih kamu, La ? Ikut-ikutan aja ! “ Ilana kesal terhadap Stella mulai bikin ulah.
“ Kamu diem deh ! “ bentar Stella pada Ilana.
Ilana hendak memukulnya, namun aku segera memegang tangannya. Menahannya agar ia tak melampiaskan emosinya secara kasar pada Stella yang malah akan memperpanjang masalah.
“ Aku sih nggak berniat untuk gencet kamu atau sakitin kamu ke sini, Rin “ ucap Stella.
“ Cuma mau ngingetin… “ Stella mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai membisikkan sesuatu. “ Jangan terlalu PD, cewek cupu “, ucapnya.
Terbakar rasanya telingaku mendengar ucapan Stella. Emosiku meluap. Ingin rasanya aku mengguyur teman sekelasku itu dengan es jeruk yang bekas kuminum tadi. Namun aku segera sadar bahwa hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Kutarik lengan Ilana, lalu segera membawanya pergi dari kantin saat itu juga.
Jangan sampai nanti kau menangis darah karena mendengar berita bahwa aku telah jadi kekasih Mario, Stella. Ancamku dalam hati.
****
“ Arinaaaa !!! “ panggil seseorang dari belakangku. Aku yang sedang berjalan sendirian menuju tempat parkir sekolah, berhenti melangkah dan membalikkan badan. Mario.
“ Udah dijemput ? “ tanya Mario.
“ Iya udah, kak. Ada apa ? “ aku berbalik tanya. Mario menggaruk-garuk kepalanya pertanda bingung. Namun ia segera angkat bicara.
“ Mmm… Kamu mau nggak besok malem dinner sama aku ? “ ajak Mario.
Apa ? Dinner ? Dengan Mario ? Berikan aku alasan logis mengapa aku harus menolak kesempatan emas seperti ini.
“ Hmm gimana ya… Dalam rangka apa dulu nih ? “ tanyaku yang pura-pura jual mahal pada Mario.
“ Aku mau kasih kamu kejutan, Rin “ jawabnya. Kejutan ? Apa jangan-jangan… Mario mau…
“ Dinnernya dimana kak ? “
“ Di Deutch Cafe. Tau kan ? “
“ Iya tau, kak. Jam berapa ? “
“ Jam tujuh malem. Aku tunggu kamu di sana ya… Ada kejutan yang mau aku kasih buat kamu “.
Mario berhasil membuat perasaanku campur aduk pada saat itu. Antara senang, cemas, salah tingkah, penasaran, pokoknya semuanya bercampur jadi satu. Tak sabar rasanya menantikan esok malam. Karena aku yakin, besok akan jadi hari yang bersejarah bagiku. Bagi kami berdua.
“ Aku tunggu ya adik manis “ ucapnya sambil mencubit pipiku.
****
Keesokkan harinya, di waktu sore.
Ilana berkunjung ke rumahku demi membantuku memilihkan pakaian untuk malam ini. Mommy tidak bisa membantu karena kebetulan hari ini ia sedang menemani ayah mengunjungi pesta pernikahan kliennya.
Butuh waktu berjam-jam bagiku dan Ilana untuk memilih pakaian yang pas. Setelah ada satu pakaian yang cocok aku pakai pada saat itu, Ilana segera mendandaniku. Bagaikan seorang penata rias handal, Ilana berhasil menyulapku dari seekor itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik.
“ How beautiful you are… “ puji Ilana sambil memperhatikan sosok diriku yang tak seperti biasanya di kaca.
Aku tertegun melihat diriku sendiri dengan pakaian indah dan polesan make up di wajahku. Aku benar-benar terlihat menawan pada saat itu, tak kalah dengan Stella. Mungkinkan malah ini Mario akan terpesona melihatku ?
“ Good luck… My best friend… “ ucap Ilana sambil memelukku. Aku memberikan pelukan terhangatku untuk sahabatku yang satu ini.
“ Aku janji… Kalo malem ini aku jadian sama Kak Mario, besok kamu aku traktir di kantin sepuasnya “ ucapku.
“ Beneran ya, Rin ? “
“ Iya “
Setelah memberikan beberapa kata penyemangat, Ilana mengantarku ke depan rumah untuk segera pergi. Pak Nunu sudah siap di depan rumah untuk mengantarku ke Deustch Cafe. Aku melambaikan tanganku pada Ilana, ia pun membalasnya.
God… Wish tonight gonna be my night.
****
Tak sampai sepuluh menit aku menunggu di Deutch Cafe, pria yang kutunggu akhirnya datang. Ia mengenakan setelan casual namun tetap trendy dan tetap menawan di mataku. Tak tampak di wajahnya sedikitpun tanda-tanda ia terpesona padaku. Apa dandananku terlalu sederhana ?
“ Udah lama nunggu, Rin ? “ tanya Mario sambil mengambil tempat duduk berhadapan denganku. Aku tersenyum dan menggeleng.
“ Syukurlah… Oh iya… Mau makan dulu apa kejutan dulu nih ? “ Mario menawarkan pilihan.
Oke, jujur. Aku tak akan mungkin bisa makan dengan nyaman apabila terus dirundung rasa penasaran. Jadi sepertinya, aku harus mengetahui kejutannya terlebih dahulu. Bukankah lebih nyaman apabila aku dan Mario makan berdua dan status kami sudah menjadi sepasang kekasih ?
“ Oke deh adik manis… Tutup matanya ya “ suruh Mario.
Bagaikan seekor anjing kecil yang setia pada majikannya, aku menurut pada suruhan Mario. Kupejamkan mataku rapat-rapat, lalu kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Berharap begitu aku membuka mata nanti, sudah ada setangkai bunga mawar di hadapanku lengkap dengan pernyataan cinta dari Mario. Atau justru kejutan yang lebih romantis.
“ Aku hitung mundur ya… Tiga… Dua… Satu… “
Kuturunkan kedua tanganku dan perlahan aku mulai membuka mata. Aku pun heran terhadap kejutan yang Mario buat.
“ Ayah ? Mommy ? “ kedua orang tuaku berdiri tepat di hadapanku bersama dengan Mario. Apa maksudnya ini ? Mario sudah menyukaiku sejak lama dan justru mendekati orang tuaku terlebih dahulu sebelum aku atau bagaimana ? Aku bingung.
“ Surprise ! “ seru mereka bertiga.
“ Surprise ? “ tanyaku heran.
“ Mario ini anak mommy, sayang… Ternyata kalian akur sekali ya “ ucap mommy.
“ Dan sebentar lagi kalian akan jadi saudara, karena ayah sama dan mommy mau menikah bulan depan “ tambah ayah.
Rasanya bagaikan dibawa terbang tinggi ke angkasa ratusan kilometer, namun pada akhirnya dihempaskan ke tanah dengan keras. Dan hempasannya itu tepat pada wajahku. Wajahku yang sekarang harus menanggung malu terhadap Ilana, Stella, teman-teman satu sekolahku, juga mommy. Aku tak yakin mommy tahu bahwa pria yang kusukai itu ternyata anaknya sendiri, karena aku sama sekali tak menyebut-nyebut namanya.
Dan mengapa mommy tega tak menceritakan dengan detail mengenai kehidupannya ? Mengenai anaknya yang ternyata jadi kakak kelasku di sekolah ? Mengenai anaknya yang ternyata adalah pria tampan paling populer di sekolah ? Yang kemarin-kemarin begitu dekat denganku dan kami berdua dikabarkan akan segera jadi sepasang kekasih ?
Tiba-tiba ucapan Ilana terngiang di telingaku. “Jangan terlalu PD”. Ya, gadis cantik yang otaknya sedikit dungu itu memang ternyata ada benarnya. Kepercayaandiriku terlalu tinggi sehingga kini aku sendiri yang harus merasakan akibatnya. Dan kini mereka bertiga – ayah, mommy, Mario – berhasil membuatku mati kutu.
“ Hehehehe ini kejutannya adik manis… Kamu seneng kan ? Bentar lagi kita sodaraan deh “ ucap Mario sambil merangkulku lalu mencubit pipiku. Adik manis. Oh. Ternyata aku memang benar-benar akan jadi adikmu.
“ Pasti Arina seneng kan ? Sudah, ayo kita makan kalau begitu. Kita rayakan calon keluarga baru ini “ ucap ayah yang begitu antusias.
Aku kembali ke tempat dudukku semula, dengan Mario yang kini duduk di sampingku. Nafsu makanku sudah pudar semenjak mommy berkata, “Mario ini anak mommy”.
Mual aku rasanya apabila mengingat perlakuan-perlakuan manis yang Mario berikan padaku kemarin-kemarin. Ternyata ia sudah mengenalku terlebih dahulu dari mommy, bukan karena keaktifanku dalam ekskul KIR. Ia pun bersikap manis padaku karena aku ini calon adik tirinya. Pantas saja, kata “adik manis” begitu sering terdengar di telingaku. Ingin rasanya kuulang waktu agar aku bisa mencabut kembali perasaanku yang sudah kutanam di hati Mario.
Di saat ayah, mommy, dan Mario sudah mulai menyantap hidangan dinner mereka. Aku masih saja diam karena benar-benar tak bernafsu untuk makan. Tak terbayang rasanya apabila harus tinggal serumah dengan pria di sampingku ini.
“ Arina kenapa diam saja ? Ayo makan “ suruh ayah.
“ Sebenernya dia lagi jatuh cinta tuh mas, sama kakak kelasnya. Siapa namanya Rin ? “ tanya mommy.
Damn.
THE END
Sabtu, 08 Maret 2014
mungkin dunia ini tidak adil, mungkin?
Kamu sedang apa? Kok merenung lama sekali begitu?
Aku sedang berpikir. Memikirkan dunia. Memikirkan takdir. Memikirkan takdir dalam dunia. Memikirkan bahwa dunia tidak pernah adil. Menyedihkan bukan? Hey, bukan cuma aku yang menganggap dunia itu tidak adil kok. Banyak penyair dan tokoh terkemuka lainnya berpendapat begitu. Berarti aku benar.
Benarkah? Kamu yakin?
Ya, tentu saja. Orang jahat, tukang korupsi, orang serakah, penjudi, pembohong, penipu, bahkan sampai pengemis bohongan bisa hidup senang dan glamour. Lah kalau orang baik? Orang jujur dan soleh? Tidak pernah hidup sejahtera. Selalu dijadikan kambing hitam. Tidak adil.
Menurutku tidak seperti itu. Semua akan ada balasan pada akhirnya kan? Tidak ada yang tidak adil.
Oh jadi kamu yang belum nyambung ya. Aku tadi berkata dunia ini tidak adil. Kalau di akhirat sih, ya mungkin akan ada balasannya. Tapi dunia ini, dunia ini kacau. Iyakan? Tidak adil. Orang jahat sudah menyebar kemana mana. Menjamur dan menggeser orang orang baik ke tingkat yang lebih rendah. Hah!
Bahkan rakyat lebih pro kepada pemimpin yang mengumbar uang dan bukannya yang benar benar pemimpin. Mengerti kan? Kamu salah tanggap tadi.
Aku mengerti. Maksudku ya memang dunia ini adil kok. Kamu saja yang selalu berprasangka buruk.
Bagaimana kamu kok bisa bilang seperti itu?
Lihat sekelilingmu, orang jahat, tukang korupsi, penjudi, penjahat dan siapalah itu yang tadi banyak sekali kamu sebutkan itu, mereka tidak seberuntung orang baik dan soleh dalam hal apapun.
bersambung ya aku rada unmood ngelanjutin sekarang hehe..
Aku sedang berpikir. Memikirkan dunia. Memikirkan takdir. Memikirkan takdir dalam dunia. Memikirkan bahwa dunia tidak pernah adil. Menyedihkan bukan? Hey, bukan cuma aku yang menganggap dunia itu tidak adil kok. Banyak penyair dan tokoh terkemuka lainnya berpendapat begitu. Berarti aku benar.
Benarkah? Kamu yakin?
Ya, tentu saja. Orang jahat, tukang korupsi, orang serakah, penjudi, pembohong, penipu, bahkan sampai pengemis bohongan bisa hidup senang dan glamour. Lah kalau orang baik? Orang jujur dan soleh? Tidak pernah hidup sejahtera. Selalu dijadikan kambing hitam. Tidak adil.
Menurutku tidak seperti itu. Semua akan ada balasan pada akhirnya kan? Tidak ada yang tidak adil.
Oh jadi kamu yang belum nyambung ya. Aku tadi berkata dunia ini tidak adil. Kalau di akhirat sih, ya mungkin akan ada balasannya. Tapi dunia ini, dunia ini kacau. Iyakan? Tidak adil. Orang jahat sudah menyebar kemana mana. Menjamur dan menggeser orang orang baik ke tingkat yang lebih rendah. Hah!
Bahkan rakyat lebih pro kepada pemimpin yang mengumbar uang dan bukannya yang benar benar pemimpin. Mengerti kan? Kamu salah tanggap tadi.
Aku mengerti. Maksudku ya memang dunia ini adil kok. Kamu saja yang selalu berprasangka buruk.
Bagaimana kamu kok bisa bilang seperti itu?
Lihat sekelilingmu, orang jahat, tukang korupsi, penjudi, penjahat dan siapalah itu yang tadi banyak sekali kamu sebutkan itu, mereka tidak seberuntung orang baik dan soleh dalam hal apapun.
bersambung ya aku rada unmood ngelanjutin sekarang hehe..
Kamis, 06 Maret 2014
cause and effect
Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil. Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung. Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita. Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita. Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu kita jatuh, kita baru tahu siapa sesungguhnya teman kita. Waktu kita sakit, kita juga baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA. Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan, dan setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA, saling menghargai, saling membantu dan memberi, juga saling mendukung. Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat. Believe in "Cause and Effect" Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai
Si perfeksionis.
Saya akui sifat perfeksionis saya amat besar. Tapi keperfeksionisan saya tidak condong dalam hal hal yang mengejar kesempurnaan, tidak idealis, saya lebih cendrung sensitif dan peduli pada siapa saja yang juga peduli terhadap saya. Ya saya memang lebih dominan untuk peduli dan terikat secara emosional dengan manusia lainnya. Tapi saya benci ketika orang lain tidak peduli terhadap saya. Saya selalu memperhatikan orang lain, dan bila orang itu tidak menaruh perhatian dengan intensitas yang sama, saya sering merasa tersinggung. Kemarahanku terkadang muncul begitu saja, bila ego saya dilanggar orang lain, tapi inilah yang menjadikan saya terus belajar menjadi dewasa, dengan segala kekurangan sifat saya. Dan dalam hidup bagi saya yang terpenting adalah kepercayaan. Saya sadar saya seorang perfeksionis, jika saya menyayangi saya rela memberikan seluruh hidup saya, tapi sekali saya dikhianati seumur hidup saya tak akan percaya lagi. Dan dalam kehidupan sosial saya lebih cendrung bergaul dengan orang yang memiliki sifat yang sama seperti saya, minimal mereka mengerti seperti apa sifat saya, inilah yang membuat saya lebih suka menyendiri dan antisociactiv terhadap lingkungan sekitar.
Senin, 03 Maret 2014
Yang datang kembali
Kamukah itu, yang datang kembali?
Kamukah itu, yang datang ketika hujan mulai mereda?
Raut wajahmu sudah mulai terlupakan,
seperempat abad lebih bukanlah waktu yang singkat untuk mengingatmu kembali
tapi ketika berhadapan denganmu
jantung ini bergejolak
kegelisahan yang sama saat pertemuan terakhir kita
Kamukah itu, yang datang membangkitkan amarah?
Hidupku penuh warna-warni saat kau tak ada lagi
Membangun kebahagiaan ternyata tak sesulit yang kukira
Kamukah itu, yang datang dengan mudahnya membawa maaf
Sepuluh tahun lalu mungkin akan kuterima
Tapi sekarang,
Aku sudah mengambil keputusan untuk melupakanmu
Jangan lagi, kau datang kacaukan aku.
Tapi,
Lihat sekarang?
Tetap seperti aku yang lama, selalu saja bisa maafkan kamu, kamu memang tak dapat lagi aku lupakan.
Kamukah itu, yang datang ketika hujan mulai mereda?
Raut wajahmu sudah mulai terlupakan,
seperempat abad lebih bukanlah waktu yang singkat untuk mengingatmu kembali
tapi ketika berhadapan denganmu
jantung ini bergejolak
kegelisahan yang sama saat pertemuan terakhir kita
Kamukah itu, yang datang membangkitkan amarah?
Hidupku penuh warna-warni saat kau tak ada lagi
Membangun kebahagiaan ternyata tak sesulit yang kukira
Kamukah itu, yang datang dengan mudahnya membawa maaf
Sepuluh tahun lalu mungkin akan kuterima
Tapi sekarang,
Aku sudah mengambil keputusan untuk melupakanmu
Jangan lagi, kau datang kacaukan aku.
Tapi,
Lihat sekarang?
Tetap seperti aku yang lama, selalu saja bisa maafkan kamu, kamu memang tak dapat lagi aku lupakan.
inginku, kamu.
Hari-hari ini, beberapa daripadaku telah tampak tak kasat mata di kepunyaanmu. Di saat aku ingin menjadi satu-satunya titik yang kaupandang lekat-lekat, kenyataan menjawabnya dengan pahit yang teramat pekat. Sebab, yang ada padaku memang tidak untuk menjadi sesuatu yang menarik perhatianmu. Teriakan yang tak terdengar, atau kamu memang enggan menoleh lalu sadar. Keberadaan yang tak terlihat, atau kamu memang enggan untuk kita menjadi terlalu dekat.
Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Kukira mencintai lewat mimpi tak akan pernah senyata ini, kecuali padamu.
Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.
Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau kedekatan memang tak pernah kauinginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati.
Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku. Bisa jadi, di suatu saat yang kelak, kamu menemui nyaman di hangat pelukku. Tetapi, bisa juga tidak.
Meski yang mereka lihat ialah bahwa aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha. Barangkali di suatu waktu yang entah, kamu akan mendengar. Barangkali di suatu titik yang entah, aku akan terlihat. Atau barangkali sebelum semuanya itu terjadi, rasa yang ada justru telanjur pergi.
Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan. Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat. Semoga pada saat itu, segala sesuatunya belumlah terlambat.
Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Kukira mencintai lewat mimpi tak akan pernah senyata ini, kecuali padamu.
Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.
Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau kedekatan memang tak pernah kauinginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati.
Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku. Bisa jadi, di suatu saat yang kelak, kamu menemui nyaman di hangat pelukku. Tetapi, bisa juga tidak.
Meski yang mereka lihat ialah bahwa aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha. Barangkali di suatu waktu yang entah, kamu akan mendengar. Barangkali di suatu titik yang entah, aku akan terlihat. Atau barangkali sebelum semuanya itu terjadi, rasa yang ada justru telanjur pergi.
Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan. Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat. Semoga pada saat itu, segala sesuatunya belumlah terlambat.
Sabtu, 01 Maret 2014
(Skin Talk): Zat-zat berbahaya dalam skincare bila digunakan jangka panjang!
Maraknya kosmetik dalam maupun luar negeri membuat kita sebagai perempuan tertarik untuk membelinya. Karena klaim kosmetik natural atau alami, kemasan yang menarik, serta keunggulan produk.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
(Skin Talk): Zat-zat berbahaya dalam skincare bila digunakan jangka panjang!
Maraknya kosmetik dalam maupun luar negeri membuat kita sebagai perempuan tertarik untuk membelinya. Karena klaim kosmetik natural atau alami, kemasan yang menarik, serta keunggulan produk.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
Jumat, 28 Februari 2014
kembali mu hanya untuk sementara
Aku bosan terus-terusan terjerumus dalam rasa kehilangan. Apalagi jika kamulah penggerak di balik setiap alasan. Aku pun bosan harus memakan kata-kata manismu, hasil pelarian dari pahit yang mampir dalam hidupmu.
Jika ada dia, aku harus sukarela menyingkir. Jika tidak ada dia, aku diharuskan hadir. Pelampiasan atau sebuah permainan? Atau aku yang terlalu bodoh tak bisa melihat batas harapan dan kenyataan?
Kakiku berlari menjauhi titik-titik pencipta luka. Tapi saat aku nyaris mantap untuk pergi dari arenamu, ada saja tarikan-tarikan penggoda untuk tetap disana.
Pada langkah yang hampir terhenti, kamu ada. Pada harap yang perlahan memudar, kamu hadir. Tersisalah aku dengan sebuah keadaan, di mana arah yang semestinya kutuju masih samar. Entah harus terus berjuang atau memang tak perlu keluar sebagai pemenang. Kebahagiaanku masih terombang-ambing, aku terpaksa mengikuti ke manapun ia ditempatkan.
Pada kepulanganmu yang berulang, ada kata selamat tinggal yang siap-siap kembali kujelang. Kata selamat tinggal yang kuharap tak pernah lagi kudengar. Aku ingin kamu tetap di sini, mencipta bahagia dari dua sisi—bukan mencari bahagia kita sendiri-sendiri.
Akankah semua inginku hanya sanggup menjadi angan? Tak bisakah segalanya jadi kenyataan? Sebab rasa ini nyata, namun kedekatan kita hanya sebatas ini saja.
Setelah berperang dengan dirimu yang dirasuki perubahan, akhirnya kamupun pulang. Satu sapa pun bisa merapikan keretakan yang sempat tercipta. Satu senyum yang tulus darimu pun meluluhkan kaki yang nyaris melangkah dengan tekad serius. Angan terus berlanjut, tanpa ada kepastian yang bergelayut.
Seandainya tidak ada dia, apakah kamu akan memperjuangkan kita?Ketidakpastian semakin terlihat jelas, terutama saat percakapanmu dengannya belum berhenti. Aku takut jika nanti tumbuh cinta yang lebih besar lagi. Lalu kapan waktuku untuk menyediakan cinta? Lalu kapan seutuhnya kamu ada buatku?
Mengapa kamu pulang hanya untuk singgah, kemudian justru pergi lagi?
Mengapa kamu ke sini, namun sangat terlihat jelas bahwa dengannya kamu masih jatuh hati?
Sepasang mata ini mengharap temu, kedua tangan ini mendambamu. Sebab kebahagiaan terasa utuh dan sederhana kala kita bersama. Sebab senyuman tak sanggup terkata di saat kita berjumpa. Tidak bisa kamu di sisi untuk selamanya? Lalu tetapkan pilihanmu sehingga tak perlu ada angan yang merasa dimainkan.
Titik akhirnya, memang aku yang harus selalu rela. Datang dan pergimu hanya repitisi percuma yang entah mengapa tetap saja mampu membuat bahagia. Sederhananya, bahagiaku tertitip di kamu. Jika kamu menuju arah yang bukan aku, begitupun bahagiaku menjauh. Izinkan aku membuktikan bahwa hati ini pun berhak disuguhi kesempatan.Dengan ramuan rasa sederhana, aku akan membangunkanmu dari hibernasi lelahnya kepercayaan hati. Aku akan melahapmu separuh, biar kamu tahu ke mana ruang itu kau berikan dengan utuh. Aku menunggu sampai kamu mengandalkanku bukan hanya saat butuh, tapi karena akulah prioritas bahagiamu terisi penuh. Itu bukan keinginan yang muluk-muluk, kan?
Kebahagiaanku kini masih bertumpu pada ketidakpastian. Entah kapan, tapi pasti kita akan bahagia dengan pelengkap pilihan Tuhan. Tapi untuk sekarang, doaku masih menyelipkan namamu sebagai penghantar kebahagiaan.
Jika ada dia, aku harus sukarela menyingkir. Jika tidak ada dia, aku diharuskan hadir. Pelampiasan atau sebuah permainan? Atau aku yang terlalu bodoh tak bisa melihat batas harapan dan kenyataan?
Kakiku berlari menjauhi titik-titik pencipta luka. Tapi saat aku nyaris mantap untuk pergi dari arenamu, ada saja tarikan-tarikan penggoda untuk tetap disana.
Pada langkah yang hampir terhenti, kamu ada. Pada harap yang perlahan memudar, kamu hadir. Tersisalah aku dengan sebuah keadaan, di mana arah yang semestinya kutuju masih samar. Entah harus terus berjuang atau memang tak perlu keluar sebagai pemenang. Kebahagiaanku masih terombang-ambing, aku terpaksa mengikuti ke manapun ia ditempatkan.
Pada kepulanganmu yang berulang, ada kata selamat tinggal yang siap-siap kembali kujelang. Kata selamat tinggal yang kuharap tak pernah lagi kudengar. Aku ingin kamu tetap di sini, mencipta bahagia dari dua sisi—bukan mencari bahagia kita sendiri-sendiri.
Akankah semua inginku hanya sanggup menjadi angan? Tak bisakah segalanya jadi kenyataan? Sebab rasa ini nyata, namun kedekatan kita hanya sebatas ini saja.
Setelah berperang dengan dirimu yang dirasuki perubahan, akhirnya kamupun pulang. Satu sapa pun bisa merapikan keretakan yang sempat tercipta. Satu senyum yang tulus darimu pun meluluhkan kaki yang nyaris melangkah dengan tekad serius. Angan terus berlanjut, tanpa ada kepastian yang bergelayut.
Seandainya tidak ada dia, apakah kamu akan memperjuangkan kita?Ketidakpastian semakin terlihat jelas, terutama saat percakapanmu dengannya belum berhenti. Aku takut jika nanti tumbuh cinta yang lebih besar lagi. Lalu kapan waktuku untuk menyediakan cinta? Lalu kapan seutuhnya kamu ada buatku?
Mengapa kamu pulang hanya untuk singgah, kemudian justru pergi lagi?
Mengapa kamu ke sini, namun sangat terlihat jelas bahwa dengannya kamu masih jatuh hati?
Sepasang mata ini mengharap temu, kedua tangan ini mendambamu. Sebab kebahagiaan terasa utuh dan sederhana kala kita bersama. Sebab senyuman tak sanggup terkata di saat kita berjumpa. Tidak bisa kamu di sisi untuk selamanya? Lalu tetapkan pilihanmu sehingga tak perlu ada angan yang merasa dimainkan.
Titik akhirnya, memang aku yang harus selalu rela. Datang dan pergimu hanya repitisi percuma yang entah mengapa tetap saja mampu membuat bahagia. Sederhananya, bahagiaku tertitip di kamu. Jika kamu menuju arah yang bukan aku, begitupun bahagiaku menjauh. Izinkan aku membuktikan bahwa hati ini pun berhak disuguhi kesempatan.Dengan ramuan rasa sederhana, aku akan membangunkanmu dari hibernasi lelahnya kepercayaan hati. Aku akan melahapmu separuh, biar kamu tahu ke mana ruang itu kau berikan dengan utuh. Aku menunggu sampai kamu mengandalkanku bukan hanya saat butuh, tapi karena akulah prioritas bahagiamu terisi penuh. Itu bukan keinginan yang muluk-muluk, kan?
Kebahagiaanku kini masih bertumpu pada ketidakpastian. Entah kapan, tapi pasti kita akan bahagia dengan pelengkap pilihan Tuhan. Tapi untuk sekarang, doaku masih menyelipkan namamu sebagai penghantar kebahagiaan.
Daur ulang kehidupan.
BAB SATU.
Alam semesta adalah suatu sistem daur ulang. Oksigen yang dibutuhkan setiap makhluk hidup untuk tetap hidup, membentuk sistem yang memungkinkan mereka berubah bentuk menjadi karbondioksida untuk kemudian didaur ulang menjadi oksigen kembali. Karena sistem itulah mereka akan tetap ada dan tak akan habis. Air, sebagai kebutuhan kedua setelah bernapas, juga membentuk sistem daur ulang. Demikian pula tumbuhan, hidup kembali setelah layu dan mati. Juga segala macam hewan.
Dan hewan yang paling tinggi tingkatannya adalah manusia. Aku percaya bahwa roh yang menghuni tubuh manusia juga mengalami daur ulang, dalam proses reinkarnasi.
Namaku maiya. Pada kedatanganku yang pertama didunia ini, aku adalah seekor anjing. Buluku berwarna hitam dan kakiku belang putih. Ada yang bilang anjing hitam membawa sial, ada juga yang bilang bahwa anjing hitam bisa menolak hawa jahat. Maka, saat pemilikku yang pertama tidak menginginkanku dan menaruhku didepan sebuah rumah, pemilikku yang baru langsung mengambilku tanpa pikir pikir. Ia menghadiahkan aku pada arya, anak laki-lakinya yang berusia sepuluh tahun.
"Mau kau namakan apa dia, arya?"
"Dia betina, bagaimana kalau ku namakan maiya saja?"
"Baiklah, namanya maiya. Kau harus bertanggung jawab pada hidupnya, kau beri dia makan setiap hari, dan jangan lupa, beri kasih sayang padanya"
"Kenapa? Dia cuma seekor anjing."
Pria besar itu berjongkok dan menjajarkan matanya dengan mata arya anaknya.
"Arya, anjing juga makhluk hidup. Siapa tau dia reinkarnasi dari roh manusia yang menjadi seekor anjing?"
Ia memegang dagu anaknya dan mengarahkannya padaku.
"Lihat, dia bisa memandangmu balik. Kelihatannya dia mengerti apa yang kita bicarakan. Jadi...sayangi dia ya?"
Arya mengangguk, dan mengambilku dengan sepasang tangannya yang mungil. Ia memelukku dengan kasih sayang, seolah aku manusia. Aku menyadandarkan kepalaku ke tangannya, seolah membalas pelukannya. Kami telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sejak saat itu, arya yang merawatku. Ia memberiku susu dan makanan setiap hari, dan aku tumbuh menjadi seekor anjing yang besar. Ia juga memberiku kalung cantik berbandul boneka bidadari. Bidadari bersayap biru, dengan lonceng kecil yang berbunyi ketika aku berlari. Aku sangat senang.
Arya mengajakku bermain setiap hari. Suatu hari datanglah seorang anak kecil yang manis. Ia tinggal disebelah rumah kami. Namanya Cia, ia sangat cantik, rambutnya ikal dan panjang. Matanya bulat seperti boneka dan pipinya putih seperti salju. Ia suka pada arya, jadi ia main setiap hari. Tapi ia tidak menyukaiku, karena aku selalu mengganggu permainannya dengan arya.
"Hei jangan jatuhkan cangkir itu, anjing nakal. Lihat basah semuanya!" Teriaknya kesal, ketika aku melewati susunan cangkir dan piring-piring kecil yang terbuat dari keramik.
"Namanya Maiya, dan ia tidak nakal. Mungkin kalau kau mengelus-elusnya ia akan mengerti bahwa kau sayang padanya." Kata Arya dingin.
"Aku sama sekali tidak menyukainya, dan aku tidak ingin mengelusnya. Hiiihh jijik!"
Aku berlari kejalanan, ke luar rumah kami. Arya mengejarku, tapi lariku lebih kencang. Di perempatan, seorang pria besar dan berkumis melihatku. Ia mengambil sebatang balok kayu yang besar, lalu memukuliku hingga tewas. Aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya, mungkin aku dimakannya karena katanya daging anjing itu enak sekali, atau mungkin ia cuma ingin membunuhku. Tapi aku tidak sedih. Ia akan mendapat ganjarannya sendiri, nanti. Pada detik berikutnya, aku bereinkarnasi menjadi manusia...
Bersambung.......
Alam semesta adalah suatu sistem daur ulang. Oksigen yang dibutuhkan setiap makhluk hidup untuk tetap hidup, membentuk sistem yang memungkinkan mereka berubah bentuk menjadi karbondioksida untuk kemudian didaur ulang menjadi oksigen kembali. Karena sistem itulah mereka akan tetap ada dan tak akan habis. Air, sebagai kebutuhan kedua setelah bernapas, juga membentuk sistem daur ulang. Demikian pula tumbuhan, hidup kembali setelah layu dan mati. Juga segala macam hewan.
Dan hewan yang paling tinggi tingkatannya adalah manusia. Aku percaya bahwa roh yang menghuni tubuh manusia juga mengalami daur ulang, dalam proses reinkarnasi.
Namaku maiya. Pada kedatanganku yang pertama didunia ini, aku adalah seekor anjing. Buluku berwarna hitam dan kakiku belang putih. Ada yang bilang anjing hitam membawa sial, ada juga yang bilang bahwa anjing hitam bisa menolak hawa jahat. Maka, saat pemilikku yang pertama tidak menginginkanku dan menaruhku didepan sebuah rumah, pemilikku yang baru langsung mengambilku tanpa pikir pikir. Ia menghadiahkan aku pada arya, anak laki-lakinya yang berusia sepuluh tahun.
"Mau kau namakan apa dia, arya?"
"Dia betina, bagaimana kalau ku namakan maiya saja?"
"Baiklah, namanya maiya. Kau harus bertanggung jawab pada hidupnya, kau beri dia makan setiap hari, dan jangan lupa, beri kasih sayang padanya"
"Kenapa? Dia cuma seekor anjing."
Pria besar itu berjongkok dan menjajarkan matanya dengan mata arya anaknya.
"Arya, anjing juga makhluk hidup. Siapa tau dia reinkarnasi dari roh manusia yang menjadi seekor anjing?"
Ia memegang dagu anaknya dan mengarahkannya padaku.
"Lihat, dia bisa memandangmu balik. Kelihatannya dia mengerti apa yang kita bicarakan. Jadi...sayangi dia ya?"
Arya mengangguk, dan mengambilku dengan sepasang tangannya yang mungil. Ia memelukku dengan kasih sayang, seolah aku manusia. Aku menyadandarkan kepalaku ke tangannya, seolah membalas pelukannya. Kami telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sejak saat itu, arya yang merawatku. Ia memberiku susu dan makanan setiap hari, dan aku tumbuh menjadi seekor anjing yang besar. Ia juga memberiku kalung cantik berbandul boneka bidadari. Bidadari bersayap biru, dengan lonceng kecil yang berbunyi ketika aku berlari. Aku sangat senang.
Arya mengajakku bermain setiap hari. Suatu hari datanglah seorang anak kecil yang manis. Ia tinggal disebelah rumah kami. Namanya Cia, ia sangat cantik, rambutnya ikal dan panjang. Matanya bulat seperti boneka dan pipinya putih seperti salju. Ia suka pada arya, jadi ia main setiap hari. Tapi ia tidak menyukaiku, karena aku selalu mengganggu permainannya dengan arya.
"Hei jangan jatuhkan cangkir itu, anjing nakal. Lihat basah semuanya!" Teriaknya kesal, ketika aku melewati susunan cangkir dan piring-piring kecil yang terbuat dari keramik.
"Namanya Maiya, dan ia tidak nakal. Mungkin kalau kau mengelus-elusnya ia akan mengerti bahwa kau sayang padanya." Kata Arya dingin.
"Aku sama sekali tidak menyukainya, dan aku tidak ingin mengelusnya. Hiiihh jijik!"
Aku berlari kejalanan, ke luar rumah kami. Arya mengejarku, tapi lariku lebih kencang. Di perempatan, seorang pria besar dan berkumis melihatku. Ia mengambil sebatang balok kayu yang besar, lalu memukuliku hingga tewas. Aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya, mungkin aku dimakannya karena katanya daging anjing itu enak sekali, atau mungkin ia cuma ingin membunuhku. Tapi aku tidak sedih. Ia akan mendapat ganjarannya sendiri, nanti. Pada detik berikutnya, aku bereinkarnasi menjadi manusia...
Bersambung.......
Jumat, 31 Januari 2014
PUPUS
Jakarta,18 Maret 2013.
Denting piano mengiringi nada nada yang terlantun merdu, menuliskan sebuah cerita lalu, masih tergambar jelas peristiwa itu, hatinya masih tergores, luka masih meradang, tapi tak pernah memadamkan seluruh rasa yang pernah ada, sampai kini mungkin hatinya masih tertutup untuk lelaki manapun. Hanya penyesalan yang mengisi setiap detik yang terlewati.
Radit, dia merindukanmu...
***
sudah berhari hari Bella tak bisa tidur karena memikirkan hari ini. apa temanya, dimana tempatnya, bagaimana dengan gaunnya, dan terlebih lagi, dengan siapa dia kesana.
sejak hari itu, prom night menjadi night mare untuknya. ya... sejak kecelakaan tragis yang merenggut kekasihnya yang sangat dia sayangi, Radit. kini Bella harus hidup sendiri. melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan dengan Radit, sendiri. tak ada yang menggantikan dan tidak akan tergantikan oleh apa pun dan siapa pun. karena begitu Bella mencoba menggantikannya, banyangannya selalu terlihat jelas, mengorek luka dalam kembali sehingga Bella tak berani lagi menggantikannya lagi dengan siapa pun. lagi pula Bella yakin, bahwa Radit masih mencintainya di surga sana.
kembali lagi ke masalah prom night, Bella tak henti hentinya membayangkan Radit masih ada di sampingnya dan nanti saat prom night tiba, Radit berdiri menggandeng tanggannya, dan mereka menjadi pasangan paling serasih diantara pasangan yang lain. tapi impian itu musnah seketika Radit pergi, dan prom night pun serasa seperti kiamat bagi Bella. ia menangis sendiri. menangis membayangkan Radit masih ada dan menjemputnya dengan jas yang membuat dia semakin tampan dan gagah dihadapannya. "oh Tuhan, sampai kapan aku begini?" tanyanya dalam hati. hampir gila ia mengingat kenangan manis bersama Radit. mengingat dia lah yang menyebabkan kematiannya.
***
"aku belum bisa yang... aku belum siap ketemu sama orangtua kamu... kamu tau aku engga mau putus sama kamu, tapi aku belum berani buat ngomong tantang agama sama orang tua kamu, lagian aku juga engga tau mau ngomong apa, please... yang, kasih waktu sedikit lagi untukku, secepatnya aku bakal ngomong kok sama orangtua kamu, tapi aku mohon jangan sekarang.."
"ya udahlah, terserah kamu, aku cape ngomong sama kamu. aku turun disini aja!"
Bella pun keluar membanting pintu mobil itu, berjalan penuh kemarahan. memikirkan kebodohan Radit, kecupuan dan ketakutannya.
"kalau engga berani, yaudah putus aja!!" katanya dalam hati. Bella berjalan entah mau kemana, Bella hanya berjalan sampai bosan, seperti kebiasaannya. dia berjalan sepanjang jalan untuk meredahkan emosinya. Bella perhatikan orang orang berjalan, mobil mobil lewat, tak terasa, kemarahannya terhadap Radit sudah hilang, ia sadar bahwa semuanya bukan seutuhnya kesalahan Radit, tapi dia juga yang kurang mengerti keadaan Radit, dan Bella pun berjalan dengan penuh damai tanpa amarah atau pikiran.
setelah 4 jam berjalan, tiba tiba ia mendapat telepon dari orang yang tak dikenal.
"halo, apa ini dengan mba Bella?"
"iya, ini Bella."
"maaf mba, saya Tri. saya menemukan nomer mba di dompet masss...."
"Radit? kenapa dengan Radit? kenapa??"
"emmh.. mas Radit meninggal, ditabrak trek dan mobilnya hancur. sekarang jasadnya sudah dievakuasi ke Rumah sakit setempat..."
karena kaget, handphone-nya pun terlepas dari genggaman dan pandangannya buram seketika.
***
Bella pun membuka matanya. Tersorot berkas cahaya yang menyilaukan, ruangan yang serba putih, jelas bukan kamarnya.. "lalu dimana aku?" hatinya bertanya. orang orang yang ia cintai mengelilinginya, wajahnya menggambarkan kekhawatiran...
"sayang... sayang... kamu udah bangun? kamu gapapa kan? ada yang sakit engga?" kata ibuku menangis sambil menggenggam tanganku dengan erat.
"aku gapapa kok, aku dimana???"
"ini dirumah sakit sayang, waktu itu kamu ditemukan seorang bapak tergeletak di tepi jalan, maafin ibu ya sayang, maafin ayah juga."
"iya engga apa-apa, kok aku bisa tergeletak di tepi jalan???... ohhhhhh....."
ingatannya telah kembali, jantung Bella berdetak dengan kencang seketika... dan menangis meminta harapan...
Bella pun langsung bangun dari tempat tidur mencari Radit.
"MANA RADIT?? DIMANA DIA? MANAAAAAA..... MANAAAAAA???"
cepat cepat ia melepaskan infus yang menempel di pergelangan tanggannya, lalu keluar kamar melihat siapa tau Radit ada disana, dimana.... dimana?? ia terus berlari mencari, ayahnya meraih tangannya dan Bella pun didekapnya...
"tenang dulu sayang, tenang.....kamu engga boleh lari larian kaya gini, Radit udah engga disini... dia udah ada di surga...."
"HHHHaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh??"
karena tak percaya Bella pun berkata...
"ENGGA MUNGKIN.... ENGGA MUNGKIN... AYAH PASTI SEMBUNYIIN DIA, AKU TAU AYAH GAK SUKA SAMA RADIT MAKANYA AYAH BILANG RADIT UDAH DI SURGA, AKU ENGGA BODOH YAH, RADIT ENGGA MUNGKIN MENINGGAL!!! BIARPUN AKU BARU SADARKAN DIRI, AKU MASIH BISA BERPIKIR!!!!!"
Bella pun diangkat oleh ayahnya yang juga menangis, memeluknya dan berkata...
"maafkan ayah ya sayang, maafkan ayah..."
Bella yang dipeluk hanya terdiam, wajahnya basah oleh air mata, pandangan matanya kosong, dan pikirannya melayang memikirkan bahwa dirinya yang membunuh Radit. Bella yang membuatnya sampai begini, "jika aku tak memaksanya, jika aku bisa bersabar, jika aku tak keluar dan membanting pintunya... hal ini tidak mungkin terjadi." pikirnya. Bella pun menangis dan berteriak penuh penyesalan, tiba-tiba Bella teringat dengan kata kata Radit saat dulu mamanya meninggal...
"kok kamu engga nangis yang?"
"aku engga mau nangis, soalnya aku tau mama diatas sana pasti tenang dan bahagia. kalau aku nangis di sini, mamaku akan ngeliatnya, dan dia pasti sedih..."
begitu Bella mengingatnya, langsung ia mengusap air matanya, mencoba untuk bertahan dan terus resapi kata-kata itu...
"ya, dia pasti bahagia di atas sana, kalau dia bahagia, kenapa aku harus sedih? aku senang kalau orang yang aku cintai bahagia..."
maka ia lepaskan pelukan ayahnya. berbicara dengan tenang...
"engga apa-apa yah, sekarang dia dimana?"
"udah dimakamkan di tanah kusir."
"aku sekarang udah baikan, anterin aku kesana ya yah."
setibanya disana, Bella menaburkan bunga di atas makam Radit. tangis yang siap mengalir ia sembunyikan, dan Bella mencoba untuk tegar walaupun hatinya tengah tergores dalam dalam... goresan yang tak akan pernah sembuh.
"maafin aku dit, maafin aku yang kayanya mencintai kamu tapi waktu terakhir kamu menghembuskan napas pun aku engga ada... maaf dit, karena aku hanya bisa menerima semua tanpa perlawanan... maaf karena membuat kamu mencintai aku yang engga pantes buat kamu."
tangisnya pun tak dapat terbendung lagi, dan Bella berlari keluar pemakamannya, takut Radit melihatnya menangis.
Orangtuanya mengejar dan menenangkan...
"aku udah siap yah, pas aku minta anterin kesini, aku udah siap pas aku turun dan berjalan kepemakamannya, tapi aku engga sanggup melihat namanya terukir di batu nisan, aku engga sanggup membayangkan tubuh seseorang yang aku sayangi terletak dibawah sana... sakit yah.." kataku sambil memeluk ibu.
"kamu tau engga bell? Radit engga ada dibawah tanah itu, Radit ada disini, ada disisi kamu, menemani kamu setiap saat. kamu yakin kan dia sayang banget sama kamu? kalo dia sayang banget sama kamu percaya deh, dia engga akan ninggalin kamu sendiri..."
itulah akhirnya yang membuat Bella memberanikan diri datang ke prom night ini sendiri. ia memakai gaun yang amat indah dan berdandan dengan cantik. semua ini Bella lakukan untuk Radit, yang setia menemani di sebelahnya. jasadnya memang tak ia lihat, tapi kehadiran Radit di sampingnya selalu ia rasa.
***
akhirnya, Bella menaiki mobilnya yang siap menuju sebuah hotel tempat acara prom night SMA-nya di selenggarakan. di dalam perjalanan, Bella merasakan keraguan. Bella membayangkan ia berdiri sendiri ditengah dan melihat berapa ratus pasangan yang berdansa dengan mesra di sekelilingnya.
sekian lama berpikir, Bella takut dengan semua itu, dan spontan ia mengambil sen kanan ingin berputar dan pulang kembali kerumah. tapi saat ia ingin memutar setir, ada yang menahan tangannya untuk tidak memutar setir tersebut, ya, pikirannya yang menahan tangannya dan mengingatkan..
"Bella kamu engga sendirian, ada Radit di sebelah kamu..." kata kata itu meyakinkannya untuk tetap pergi..."oke, gue buktiin gue bisa.." langsung Bella melaju ke hotel dengan pasti.
setibanya Bella disana, ia melihat ruangan yang sangat indah, dinding dinding dihias dengan bunga yang harum, tataan interiornya pun sangatlah menawan. ruangan itu telah dipenuhi oleh teman teman SMAnya yang begitu berbeda.... cantik dan tampan.
memang hari ini yang spesial untuk mereka nampaknya, mereka semua berpasangan dan kelihatan sangat serasih. tapi walaupun begitu, Bella tak kesepian disana, teman temanya mengajaknya mengobrol dan tertawa bersama. dan Bella mengerti, mereka ingin menghiburnya dan berusaha agar Bella senang dan tak mengingat Radit lagi.
ketika Bella berada di tengah canda, ia melihat sosok yang berbeda, dari yang lainnya. entah apa yang berbeda, tapi ia tak merasakannya saat ia melihat lelaki lain. "siapa ini?" tak pernah ia lihat disekolahnya. ketika Bella memperhatikannya, tiba tiba orang itu juga memandang Bella dan mata mereka pun bertemu... dan Bella pun langsung memalingkan mukanya berpura pura tak melihat. ia rasakan tatapan itu, tatapan yang sangat ia kenal, tatapan yang sudah lama tak ia lihat... tatatapan Radit. tapi segera Bella menghilangkan rasa itu dan ia lanjutkan lagi obrolan dengan teman temannya dan mengikuti acara yang berlangsung.
acara berlangsung dengan meriah. ada canda tawa ada tangis. tangis mengingat sebentar lagi mereka akan berpisah. dan tibalah pengumuman siapa yang ter- dari angkatan Bella, dan tau?? Bella mendapatkan kategori terfavorit... hiahhahahaa... senangnya... dan begitulah...Bella pun mengerti kata kata yang ia dengarkan di mobil tadi, ya, suara itu juga memberitahunya bahwa ia menang, jadi jangan pulang dulu...Bella pun gembira menerima itu. dan penghargaan itu tentu saja ia persembahkan untuk Radit, kekasihnya yang selalu ada dimana pun ia berada.
waktu pun berjalan dengan cepat, kini waktu menunjukan pukul 00.40 WIB...ruang yang tadinya penuh dengan para manusia yang berpesta, kini dengan cepat berubah menjadi sangat sepi. hanya beberapa panitia yang sibuk menyelesaikan pekerjaannya, pelayan pelayan yang sibuk membereskan piring piring dan gelas gelas yang berserakan, dan para kru kru pesta serta Satria dan Ari (MC prom night) kini bersiap siap untuk pulang dan orang itu... yah orang yang sama yang ia perhatikan tadi, tapi sekarang Bella belum pulang?... Ari jawabannya...
Yah memang Bella sangat suka dengannya... dan ia menunggunya pulang untuk meminta tanda tangannya, foto, sekaligus berkenalan dengan Ari.
Saat ia melihatnya berjalan menuju pintu keluar, Bella pun segera menghampirinya.
"Ari.. sorry ganggu, boleh kenalan gak?"
"wahhh... gak boleh tuh.. hihi... bercanda... lo yang terfavorit kan?"
"iyaaa.. Bella.." kayanya sambil mengulurkan tangan mengajaknya berkenalan.
"Ari Hendryansyah..." tersenyum dan menyambut tangan Bella
Orang "berbeda" yang tadi Bella perhatikan, berdiri dibelakangnya... dan Bella pun bertanya...
"Ri, itu siapa dibelakang lo?"
"Oh, ini kenalin..."
"Jason..."
"Bella..."
Sejenak ia perhatikan mukanya dari dekat... mirip dengan Radit...
Dia pun terdiam seperti melihat Radit hidup kembali...
"Ini manejer gue"
"Oh pantesan"
Ari dan Jason memang orang yang sangat menyenangkan saat mengobrol, mereka tidak henti-hentinya membuat Bella tertawa dan tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat...
"Wah, udah malem nih, pulang gih, ntar dicariin loh"
"Hihi tau aja lo"
"Iyalah gue tau, Ari gitu... gue kan tau kalo lo pergi pasti bawa mobil ortu lo, jadinya lo dicariin, takut mobilnya kenapa-napa"
"yeeeh, kirain lo beneran tau, ternyata...ah yaudahlah, kapan kapan ketemuan yuk, sambil ngobrol-ngobrol kaya gini lagi, kan enak..."
"iya gampang...ngomong-ngomong nomor hp lo berapa?"
Bella memberikan nomor hp-nya kepada jason yang membawa handphone Ari.
"okedeh, sampai jumpa yaah, dadahhh..."
"bye..."
Dan Bella pun masuk ke mobilnya dan cepat ia mengendarainya, di dalam perjalanan Bella memikirkan saat saat tadi, bukan Ari lagi yang terpikir, tapi Jason
Begitu mirip cara memandangnya, caranya tersenyum dan apa pun itu. Semua sama seperti Radit, tak ada habisnya Bella mengingat saat ia dan jason berpandangan dan tak disadari, ia telah memarkirkan mobilnya di garasi rumah.
***
Terbangun Bella dari tidurnya yang nyenyak dan dilihatnya jam yang menunjukan pukul 10 siang, akhirnya dengan berat hati ia memaksa tubuhnya untuk bangun dan melihat agendanya untuk hari ini.
Hari ini... "hmmm, jam 8 gue harus test di UI.." ia terdiam sejenak.
"HAAAAHHH??? JAM 8 PAGI???!! SEKARANG JAM 10!!! GUE TELAT 2JAM...MATI GUE!!!"
Ia pun langsung lari dari tempat tidur, tanpa cuci muka dan sikat gigi, ia berganti baju dan langsung melajukan mobilnya ke kampus UI, Depok.
Sesampainya disana... "waduh, mati gue, harus kemana ini, banyak banget orangnya"
Langsung Bella mencari hp-nya untuk mencari dimana teman temannya, Rini dan Eno
---Kringggg---Kringgggg.....
"Heh, dimana lo?.. APA?? Masih dirumah? Ujiannya udah selesai bodoh.. geblek banget aihh, jadi masuk sini gak sih????" umpatnya pada rini.
"Eh yang geblek itu lo apa gue? orang testnya besok, hari gini udah disono, mau ngapain mba? mau ngepel ngepel dulu mba??" sahut Rini
"Ya jelaslah lo yang geblek, orang disini udah pada rame, lo kira testnya besok, cepet dong sini, gak ada temen nih!"
"Aduh Bella yang biasanya pinter, tapi kali ini kayanya lo deh yang goblok, coba lo bawa jadwal testnya engga, liat jadwal test fakultas psikologi UI, dilaksanakan pada hari Senin, 28 Juni 2008 pukul 8 pagi, bukan tanggal 27 Juni 2008 gimana mba? masih belum percaya juga?"
"Bukannya hari ini tanggal 28 ya?"
"Tajir tajir gak punya tanggalan mba?"
"yahh, yaudah deh, pokoknya besok gue tunggu lo jam 6 disini, jangan sampe telat!"
"Sipdeh, yaudah ya, gue mau makan."
"yaudah gih sono...dahhhh."
"dahh..."
Bella pun langsung menutup telpon itu, dan mengechek jadwal tadi pagi di papan pengumuman...
"yah, bener ternyata gue salah jadwal, sekarang ngapain dong disini rame rame gitu"
Bella perhatikan tempat yang agak jauh dari tempatnya berdiri, disana ia melihat tempat yang sangat ramai dikerumuni orang, apa itu kantin yaaa? Bella mau ke kantin, tapi ia bingung kantinnya ada dimana, mau tanya, engga enak, mau cari sendiri takut salah masuk.
Akhirnya, Bella mendekatkan diri ke tempat yang banyak orang itu dan ia mendengar suara suara orang yang sedang berkelahi dan para penontonnya yang mensupport masing masing jagoannya.
"Wah seru nih kayanya.."
Tanpa berpikir panjang lagi, Bella pun langsung masuk ke kerumunan itu, dan ternyata...
"cut... ulang lagi sekali lagi, aduh jangan gitu dong, yang natural!!" teriak orang yang berdiri dipojok.
"oh syuting toh ternyata, siapa pemainnya? gak ada yang gue kenal" katanya dalam hati...
"yaaaa, siap, action!!!"
Bella memperhatikan lagi para pemain itu berkelahi, tiba tiba ia pun terkejut melihat orang yang duduk memperhatikan perkelahian itu, bajunya sama persis, rambutnya mirip, hanya mukanya saja yang membedakan...
"oh stand man toh yang lagi berantem, pantesan pada engga gue kenal"
Ia perhatikan lagi orang orang yang sedang duduk-duduk itu. Ada dua, tentu yang sedang berkelahi ini menggantikan dua orang tersebut.
"Lah itu kan si Doni, terus itu Ariiiiiiii!! oh my God, Ari!!!"
Bella hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, ia tak berani memanggilnya, Bella pun terus memandanginya.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 1 siang, sudah satu jam Bella disini, melihat idolanya itu.
"Okey bagus, hari ini sampai disini saja yaa, besok kita lanjutin di lokasi lain," kata sutradara itu
***
Para kru langsung membereskan alat-alatnya dan para pemain pun bersiap-siap untuk pulang. Orang-orang yang melihat syuting itu pun satu persatu meninggalkan tempat, tinggal Bella yang disana, menunggu Ari
"Hai Ari..." katanya sambil mencolek punggungnya dari belakang.
"Eh Bella, ngapain lo disini? segitunya, sampe lo ngikutin gue gini, kalo ngefans, bilang aja..."
"Hah, siapa yang ngikutin lo?? huuuuuuuu Ge er"
"Terus ngapain lo disini? mau liat gue kan? udah ngaku aja kali"
"Duhhduhhh, gue kesini mau test kali, kan gue mau masuk UI, doain dong biar masuk!"
"Iya, iya hmmm kita jodoh juga yaa?"
"Siapa yang mau jadi jodoh lo? huaahahahaaha"
"Yeh, norak lo!! Ngomong-ngomong udah makan belum? makan yuk, gue laper"
"Hmmmm gimana yaaa?" kata Bella pura pura bingung.
Belum selesai Bella berbicara, Ari sudah menarik tangannya, mengajak Bella ke kantin untuk menemaninya makan.
"Eh lo kan belum makan, yang ada nanti lo sakit terus gak konsen buat ujiannya, jadi mending kita makan dulu, okeh!"
Bella hanya mengangguk dan duduk ditempat yang disediakan Ari.
"Mau makan apa? sini gue beliin"
"Apa ya? gue nasi goreng aja deh, "
"Minumnya?"
"Es teh..."
"Oke, tunggu sebentar ya,"
Bella sangat merasa senang sekarang, bayangkan Ari, idolanya dari dulu yang ia rasa begitu jauh, sebentar lagi akan duduk di depannya, makan bersama. Hati Bella pun terbang melayang.
Diam-diam Bella pun bangga duduk bersama Ari, wanita-wanita lain melihat dengan muka penuh tanya, bisik-bisik dan iri. Huaahahaha senangnya...
Setelah Ari kembali, membawa nampan-nampan yang berisi makanan dan minuman, ia pun duduk dan mereka mulai asyik dengan pembicaraan mereka. Kadang membicarakan hobi, kadang tentang keluarga, sampai tentang hal yang tidak penting-penting. Tiba-tiba Bella pun teringat dengan Jason.
"Ri, jason mana? kok engga ikut,"
Muka Ari langsung berubah menjadi murung.
"Dia abis tabrakan tadi malem..."
"HAAAHHHHH?????!!!"
Bella pun terkejut, sendok yang ia pegang terlepas. Tak terbayang perasaannya saat ini. Bella begitu takut mendengar kecelakaan, sejak meninggalnya Radit karena kecelakaan. Kenapa Jason? kenapa dia mengalami kecelakaan setelah ia mengenalku? mungkin orang awam tidak pernah berpikir bahwa tabrakan yang dialami Jason ada hubungannya dengan Bella. Tapi dirinya... segala kebetulan terpikir hal-hal tak masuk akal pun penuh dikepalanya.
Seketika Bella menangis sejadi-jadinya, Ari pun bingung, kenapa Bella tiba-tiba menangis.
"Lo kenapa Bell? ko nangis sih, ada apa?"
"Ini salah gue Ri, salah gue, semua gara-gara gue!!!"
"hey maksud lo apa sih bell, ko jadi aneh gini?"
"Jason kecelakaan itu karena gue, gue pembawa sial, semua gara-gara gue ri!!"
"Bell, dengerin gue, ini semua musibah, gak ada hubungannya sama lo!"
"Lo gak tau apa yang gue rasain, semua orang yang dekat sama gue pasti mereka celaka, lo gak ngerti pikiran gue!!"
"Iya gue emang gak ngerti sama jalan pikiran lo yang terlalu jauh dan engga berlogika!"
Kini Bella hanya terdiam, dan terus menangis, entah apa yang terjadi sebenarnya, sehingga membuat Bella berpikiran sejauh itu, tanpa disadari pembicaraan Bella dan Ari sejak tadi mengundang banyak mata penuh tanda tanya tertuju pada mereka berdua.
"Ikut gue yuk," ajak Ari
"kemana?" tanya Bella yang masih menangis
"Ke taman kampus, gak enak disini, lo gak liat dari tadi lo nangis diliatin banyak orang?"
Bella mengangguk.
***
Mereka pun menuju ke sebuah taman yang tak jauh dari kampus, taman yang tidak terlalu besar, namun suasananya tenang dan damai, dengan banyak pepohonan rindang ditambah satu kolam ikan yang terawat, memberika suasana yang nyaman dan damai.
"Nah sekarang lo boleh nangis lagi, sepuasnya"
"Maksud lo apa?"
"Ya, sekarang lo boleh nangis sepuasanya, lo keluarin semua unek-unek lo, lo cerita sama gue apa yang membebani lo saat ini"
"percuma ri, pasti lo juga gak akan ngerti, lo pasti nganggep gue gila."
"Ih sok tau amat lo, gue ini pendendengar yang baik loh."
"Iya gue cerita, tapi janji ya jangan anggep gue itu gila!"
"Iya engga lah, ngaco aja lo Bell,"
Bella pun akhirnya menceritakan semuanya, bagaimana dia mengenal Radit sampai bagaimana juga ia dipisahkan, oleh kematian. Kematian Radit yang ia anggap semua karenanya.
Air mata pun terus bercucuran, menggambarkan seberapa dalam kerinduan Bella terhadap Radit, betapa ia ingin merasakan setiap hari bersama Radit, tapi memang sepertinya takdir berkata lain, semua tak sama seperti apa yang diinginkan, Bella hanya bisa menangis dan menangis.
Ari dengan antusias mendengarkan segala keluh dan kesahnya, tak ia sangka, dibalik pribadi Bella yang ceria, ia menyimpan sejuta rasa sakit dan penderitaan, dari senyumnya masih menyimpan air mata. Tanpa di sadari ada rasa kagum datang dalam diam untuk Bella.
"terus, apa yang buat lo berpikir kalo Jason kecelakaan itu gara-gara lo?"
"Jason kecelakaan setelah kenal sama gue ri..."
"Tolong pake logika lo Bell, kenapa lo begitu takut kehilangan Jason? apa ada alasan tersendiri?
"Gue takut kehilangan Radit untuk ke-dua kalinya..."
"maksud lo Bell?"
"Iya, Jason seperti Radit gue yang dulu, matanya, senyumnya, tatapannya, Radit seperti hidup kembali. Didalam Jason..."
"Apa lo jatuh cinta dengan Jason?"
"Lebih tepatnya gue jatuh cinta lagi dengan Radit..."
Rasa cinta Bella teramat besar untuk Radit, sampai saat ini pun Bella masih belum bisa melupakanya.
Perasaan aneh itu terus meracuni Ari. Entah perasaan cemburu terhadap Radit, atau cumburu Terhadap Jason. Cemburu? jujur saja memang Ari memiliki rasa itu. pribadi Bella yang ceria mampu menariknya, menumbuhkan butir-butiran cinta. meski terlalu cepat, tapi perasaan itu tak bisa dihindari.
***
Hari ini Bella memutuskan untuk menjenguk jason di rumahnya, Bella sudah memiliki tekad untuk memberikan seluruh rasa sayangnya untuk jason, sebagai pengganti Radit, namun sampai kapan pun Radit tetap ada dihati Bella, sampai kapanpun...
"ayo dong, satu suap lagi nih, abis ini kamu minum obatnya, supaya cepat sembuh Jas!"
"aduh Bell, kamu aja deh yang abisin, aku lagi gak mau makan"
"ihh, kamu kan gitu tuh, ayo sedikit lagi ko,"
Jason menggelengkan kepala...
"hmm gini deh, kalo kamu abisin makannya terus minum obat, kamu boleh deh nyuruh-nyuruh aku sesuka kamu, gimana?"
"hmmm gimana ya? yakin nih mau aku suruh apa aja?"
"iya janji, tapi kamu abisin dong makannya!"
"okey, aku abisin nih"
Bella memang pribadi yang ceria dan mudah bergaul, tidak heran kalau hanya dengan waktu yang sangat singkat Bella bisa akrab dengan orang lain, seperti saat ini, Bella jauh lebih akrab dengan jason seperti sudah kenal lama.
"yes! aku udah abisin nih makanannya, udah minum obat juga, jadi sekarang giliran aku tagih janjimu Bell"
"okeh, kamu mau apa?"
"hmmm yakin pasti mau lakuin apa aja demi aku?"
"iyadong, Bella kan gak pernah ingkar janji"
"kalo aku maunya kamu jadi pacar aku gimana?"
"hah? serius?"
Bella tidak tuli, hanya saja terkejut mendengar permintaan Jason, tanpa disangka secepat ini, sebelum Bella menyatakan perasaannya, Jason sudah lebih dahulu mewujudkannya.
"iya serius, buat apa aku bercanda, kamu gak mau ya?"
"engga, bukan gitu, tapi kan kita baru kenal, bisa bisanya kamu suka sama aku?"
"aku suka kamu yang ceria, aku suka kamu yang unik, beda dari wanita lain,"
"terus, aku harus gimana?"
"ya kamu jawab, kamu mau atau engga jadi pacar aku?"
"kalo aku jawab mau, kamu mau apa?"
"aku mau peluk kamu!!!"
***
Kini Bella merasa kebahagiaan itu benar benar nyata, Radit telah mengirimkan cintanya yang dulu, meskipun ini terasa terlalu cepat, tapi Bella menyukainya, rindu teruntuk Radit yang tak sempat Bella sampaikan, kini nyata sudah ia curahkan kepada Jason.
Ari yang kini mengetahui hubungan antara Bella dan Jason sahabatnya, merasa ikut senang, entah itu hanya sebuah pencitraan atau memang benar benar Ari sudah merelakan cintanya, dicintai oleh orang lain.
Setahun berlalu, Ari pun masih belum bisa menghapus perasaannya untuk Bella, walau ia sadar, kini Bella tak mungkin ia dapatkan, karena Bella sudah dimiliki oleh sahabatnya sendiri, sejauh ini hunbungan mereka terlihat baik-baik saja, masih sama seperti dulu, mereka bahkan lebih sering terlihat jalan bersama, berkat kehebatan Ari dalam berakting dan mampu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, ya perasaan yang sebenarnya telah hancur.
Setiap kali melihat kemesraan kedua Sahabatnya itu, Ari lebih memilih untuk tidak melihatnya terlalu lama, bukan karena tidak menyukainya, tapi hatinya sudah terlalu rapuh untuk menyaksikan cintanya sedang berada pada cinta yang lain.
"woy Ri!" Suara Shella membuyarkan lamunannya
"eh, apaan sih Shell, ngagetin gue aja lo" sahutnya
"ngapain lo bengong aja sendirian, mending lo makan siang sana, sebentar lagi take ke 23, keburu abis jam makan siangnya!"
"gue gak makan, lagi gak berselera nih"
"yeh dasar, kenapa sih? lagi galau? hahaha"
"sok tau jadi manusia, gak kenapa-kenapa ko"
"eh iya, btw tumben tuh manager lu awet banget sama ceweknya, biasanya kan buaya darat"
"ya mungkin udah tobat Shell sirik aja lo hahaa"
"yeh kan heran aja gitu bisa tiba-tiba setia kaya gitu"
"ya bagus dong, biar ga buaya lagi, iya gak?"
"iya sih, ya terserah lo deh, yaudah gue mau cabut dulu ya,"
"eh mau kemana lo?"
"biasa, bisnis. Yaudah duluan ya bye"
"bye"
Memang benar perkataan Shella, dari dulu sahabatnya itu memang terkenal tidak tahan lama dalam hal percintaan, ya Jason memang tipikal pemain wanita, ada saja stok wanita yang ia pacari. Tapi tidak dengan kali ini, ia merasa Jason benar-benar mencintai Bella, buktinya sudah setahun terlewati dan mereka terlihat baik-baik saja, dan kalau memang sahabatnya itu melukai hati Bella ia tidak akan tinggal diam, jangankan untuk melukai, membuat Bella menangis pun dia bertekat memberikan pelajaran kepada sahabatnya itu, karena ia tidak akan membiarkan cintanya disakiti oleh orang lain termasuk sahabatnya sendiri.
***
Waktu terus berjalan, terasa ada yang beda, mungkin karena kesibukan masing-masing, Bella merasa akhir akhir ini ada yang berubah dari sikap Jason. Setiap jalan berdua, perhatian Jason terbagi dengan handphone yang selalu bergetar, entah pesan singkat dari siapa, tapi sepertinya Jason sangat antusias membalasnya, dan yang lebih membuat Bella kesal, setiap Bella ingin meminjam ponselnya, Jason seolah-olah marah dan seperti ada yang sedang disembunyikan dari Bella.
Hubungan mereka semakin merenggang, pertengkaran kerap kali terjadi, beberapa hari yang lalu pertengkaran hebatb itu pun terjadi lagi, sampai saat ini Bella tidak berkomunikasi dengan Jason, dan Jason pun tidak memberi kabar sama sekali kepada Bella.
Pikiran Bella melayang jauh, tiba-tiba rasa takut itu muncul kembali, ya rasa takut akan kehilangan itu.
***
Radit, muncul kembali, membayang-bayangi Bella lagi, peristiwa itu terus terulang dalam pikiran Bella, semuanya menjadi serba kacau, pikiran Bella semakin kalut, hingga saat ini Jason belum memberi kabar, bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali, Bella pun sudah mencari ke rumahnya tapi, hasilnya nihil. Sudah seminggu Jason menghilang darinya, entah harus Bella cari kemana lagi, jalan satu-satunya adalah meminta informasi kepada Ari, sahabat jason yang tak lain adalah sahabatnya juga. Tanpa basa-basi Bella pun langsung mencari salah satu nama di buku telponnya dan langsung menelponnya.
Tutttttt... Tuuuuttttttt....Tuuttttt....
"hallo, Ri..."
"hai Bell, apa kabar, ada apa nih?"
"Ri, lo tau Jason dimana? gue gak bisa temuin dia, dan handphonenya pun gak bisa dihubungi"
Tangis Bella pun pecah, mendengar semua itu hatinya terasa teriris,
"gue juga gak ketemu sama Jason belakangan ini Bell, ada apa sebenarnya Bell?"
"gue takut Ri, gue takut peristiwa itu terjadi lagi, gue takut"
Tangis Bella semakin menjadi
"gue butuh lo banget Ri, lo dimana?"
"gue lagi di rumah sakit Bell, iya gue pasti temuin lo kok, lo ceritain ya semuanya sama gue"
"lo kenapa Ri? lo sakit? oke gue sekarang on the way rumah sakit ya?"
"engga ko Bell, cuma checkup, okey kita ketemu di taman biasa ya?"
"okey bye"
Setibanya mereka di taman, Bella langsung menceritakan semuanya yang terjadi belakangan ini, tanpa di sadari air mata itu terus meluncur membasahi wajah wanita yang ia cintai. Rasanya miris melihat Bella menangis seperti itu, rasa akan takut kehilangan itu begitu nampak, tak habis pikir kenapa Jason bisa berbuat demikian, rasa marah dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Ri, gue takut kehilangan Jason, gue gak mau kehilangan lagi sosok Radit"
"Bell, sadar dong Jason itu bukan Radit, mereka berbeda. jangan selalu samakan mereka, berarti selama ini lo hanya mencintai bayang-bayang Radit, bukan seutuhnya mencintai Jason. ayo dong lo harus bisa lepas dari bayang-bayang Radit, buang semua rasa penyesalan lo, because life must go on Bell."
"Ri" Bella memeluk Ari dengan erat.
Walau pelukan itu hanyalah sekedar untuk menenangkan Bella, Ari rela dan Ari akan melakukan apa saja demi membuat Bella nyaman. Walau ia tau, hatinya bukan untuknya.
***
Hujan membasahi Ibu Kota Jakarta, petir menggelegar dan kilat kian menyambar membuat suasana berubah menjadi dingin dan mencekam. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kerumah masing-masing.
"hatcih!" Bella membersihkan cairan bening yang ikut keluar seiring dengan bersin yang disemburkan.
"tuh kan, kamu harus jaga kesehatan, Bell" ucap Tia sambil memberikan secangkir teh hangat untuk Bella.
Tia adalah sepupu Bella, untuk sementara waktu Tia diberikan tanggung jawab oleh orang tua Bella, untuk menjaganya, selama mereka tugas di luar Kota.
Bella hanya tersenyum tipis, dan menggeleng pelan.
"aku gak apa-apa ko ka, aku ke kamar dulu ya"
Bella akhirnya menuju ke kamar, setelah melepas semua beban pikirannya. Masih tersimpan sejuta pertanyaan yang terus berkeliling dipikirannya, kemana, dimana, kenapa, dan bagaimana kabar Jason, kekasihnya itu. Bella menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya hampir saja menetes kembali, tak lama kemudian, pintu kamar pun terbuka, melihat Bella sedang menangis, Tia pun duduk disebelahnya, kemudian mengelus punggung Bella.
"bell kamu kenapa sih?"
"aku gak kenapa-kenapa ko ka"
"pasti ada masalah sama Jason ya?"
Bella mengangguk lemas, dan akhirnya menceritakan semuanya. belum selesai bella bercerita, terdengar ketukan pintu.
"maaf non, ada yang mencari non Bella di depan"
"bilang aja mba, aku lagi gak mau digangggu"
"tapi.. non katanya penting"
"yasudah biar aku saja mba yang temuin" sahut Tia.
"baik non"
Terlihat sosok pria bertubuh tegap tinggi mengenakan kaus putih dan celana jeans panjang, ditambah dengan switer hitam, rambut yang tertata rapih membuat penampilannya terlihat gagah dan tampan. siapa dia? teman atau pacarnya Bella yang bernama jason?
"maaf cari Bella ya?"
"iya, Bella nya ada? oh iya saya Ari temannya Bella"
"saya Tia, kakanya Bella, maaf ada apa ya? Bella sedang tidak ingin diganggu"
"tapi ini penting banget, menyangkut Jason pacarnya Bella, bisa tolong panggilkan Bella?"
"hmmm, oke tunggu sebentar ya, saya panggilkan Bella."
"oke terimakasih Tia."
***
"lo harus percaya Bell sama gue, gue kenal gimana Jason, gak mungkin gue salah liat, dan gue pun udah lama kenal dia, gue paham dengan sifat-sifat dia."
"apa-apaan sih lo, dateng dateng cuma buat jelek-jelekin Jason doang, gue gak percaya dengan semua kebohongan lo, gue kira ini penting, sepenting dimana keberadaan jason, tapi ternyata cuma berita palsu kaya gini"
"ini serius Bell gue gak bohong!"
"mana buktinya? baru gue percaya!"
Bella berlalu meninggalkan Ari di ruang tamu.
Bella kembali mengunci diri dikamarnya, ia terus bertanya-tanya dalam dirinya, apakah yang dikatakan Ari memang benar adanya? tapi ia tetap percaya pada Jason, kekasihnya tidak akan setega itu, sekian lama bersama, tak mungkin Jason mengkhianati dirinya, apa yang kurang darinya selama ini? sepertinya semuanya sempurna dan baik-baik saja, hingga terpejamkan mata, Bella tetap memikirkannya.
Seminggu terlah berlalu, Jason masih tetap bersembunyi entah dimana, kali ini Bella hampir menyerah, entah dimana kesalahannya dan apa yang dipersalahkan atas hubungan ini, mungkin memang Radit tak bisa tergantikan oleh siapapun di dunia ini.
Melupakan dan merelakan mungkin lebih baik, dan mungkin akan lebih baik lagi bila cepat-cepat menata hati kembali.
Hari ini Bella hanya ingin berkeliling dan terlepas dari segala masalahnya, mungkin berjalan-jalan keMall bisa membuatnya lebih baik.
"ka temenin aku window shopping yuk?"
"iyaa iya aku temenin,aku siap-siap dulu ya."
"oke, aku tunggu dimobil ya"
"oke"
Mobil mereka melaju, menuju salah satu mall di jakarta, sesampainya disana, Bella merasa lebih tenang, ternyata sudah lama ia tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan dunianya sendiri, seakan-akan waktunya telah tersita dengan semua masalahnya.
Setelah beberapa jam berkeliling Bella dan Tia memilih untuk menikmati secangkir kopi di salah satu kafe, mereka berbincang-bincang, jauh dari topik tentang Jason, sepertinya kali ini Bella benar-benar bisa sejenak lepas dari Jason, rasanya seperti dulu, sebelum mengenal Jason.
***
Lelaki itu tidak asing lagi bagi Bella, rasanya sangat bahagia bisa melihat kembali sosok lelaki itu, tapi.... siapa wanita itu? seketika terasa ada yang mengganjal dipikirannya, dadanya terasa sesak.
Tidak! ini tidak mungkin, ini pasti mimpi, batinnya. tapi ini nyata, entah harus bagaimana, seketika kakinya melangkah membawanya menuju dua orang tersebut.
"lohh Bell, Bell kamu mau kemana?" tanya Tia heran.
Plaakkkkkkkk!!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu.
"Bella??" lelaki itu terkejut.
"jahat ya kamu, selama ini aku cari-cari kamu, tapi kamu sekarang kaya gini? apa salah aku? apa kurangnya aku Jas!!!!"
"maaf, aku udah gak ada perasaan apapun sama kamu!"
"ya kenapa?! kamu kenapa kaya gini?"
"aku kaya gini, karena aku udah bosen! bosen kamu anggap aku seperti mantan kesayangan kamu itu! aku ya aku,gak sama dengan siapapun! selama ini kamu cuma cintai aku karena sosok Raditmu itu kan! dan kamu..."
"cukuuuppppppppppppp!!!!!!!!! jangan pernah kamu ungkit-ungkit Radit lagi!!!!!"
Plaaaakkkkkkkk!!!!
Tamparan itu mendarat untuk yang kedua kalinya di pipi Jason, Bella pun berlari meninggalkan tempat itu, ia berlari tanpa tujuan, yang ia pikirkan hanya, bagaimana ia menjauh dari hadapan lelaki tersebut, ia pun terus teringat kata-kata lelaki itu.
Apakah benar selama ini ia hanya mencintai bayang-bayang Radit semata? apakah selama ini ia sebenarnya masih terperangkap cinta lamanya? ya benar. Bella baru menyadari semuanya.
"Radit, kanapa aku gak bisa mencintai orang lain selain kamu?"
Tia terus menelusuri jalan jalan disekitar mall itu, mencari Bella yang berlari entah kemana, ia khawatir dengan keadaan adik sepupunya itu, apa yang harus ia katakan kepada orang tua Bella jika terjadi sesuatu kepada Bella, hari sudah semakin sore tapi ia belum menemukan sosok Bella.
Setelah sekian lama mencari-cari akhirnya Tia menemukan sosok Bella di pinggir jalan. Saat Tia menghampiri Bella ia melihat sebuah mobil melaju kencang tepat dibelakang Bella. Tia panik seketika.
"Bell awassssssssssss!!!!!!!!!!!!!!!!!"
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!"
Terasa dentuman keras dan ia merasakan sakit pada tubuhnya dan nyeri yang amat hebat. ia lalu kehilangan kesadarannya.
***
Tempat itu berwarna putih, putih semuanya. disini ia mengenakan gaun berwarna putih yang sangat indah, ia juga tak mengerti tempat apa ini, dan dimana, lalu terlihat sosok lelaki yang tak asing lagi, ya lelaki itu Radit, benar-benar Radit, dengan pakaian serba putih, tapi kenapa wajah Radit pucat dan tampak tidak manusiawi. tempat apa ini, batin Bella.
"Bella, kamu belum waktunya untuk disini"
"maksud kamu?"
"kamu belum waktunya satu alam dengan aku sayang"
"kenapa? aku mau sama-sama kamu disini dit"
"belum waktunya Bell, kamu harus tetap berjuang"
"tapi, aku sayang kamu dit"
"kamu kamu sayang aku, kamu harus berjuang untuk tinggalin tempat ini, aku juga sayang kamu, dan tolong lupakan aku sejenak Bell supaya aku bisa melangkah ke alam selanjutnya, aku mohon."
"maksud kamu apa sih dit, aku engga ngerti"
"suatu saat kamu akan mengerti Bell, dan aku mohon kamu harus tetap berjuang"
Kini sosok Radit semakin menghilang bersama kabut-kabut putih itu.
"dittt tunggu.... tungguu dit....."
Aku gak boleh mati, aku belum boleh disini, aku harus berjuang demi Radit, demi cintaku pada Radit. Radit aku janji akan terus berjuang apapun yang terjadi.
***
"dok bagaimana keadaan adik saya?"
"syukurlah dia bisa melewati masa-masa kritisnya, tapi ada satu hal yang sangat saya sayangkan, kemungkinan besar dia akan mengalami kebutaan, karena salah satu syaraf dan kornea matanya mengalami kerusakan yang fatal"
"yaTuhan, bagaimana dok, apakah bisa kembali normal kembali?"
"bisa saja, jika ada pendonor yang bisa mendonorkan kornea matanya"
Yaampun, apa yang harus aku katakan pada Bella, jika saja Bella tau keadaannya yang sekarang, ia pasti tertekan.
"Ti, gimana kondisi Bella?" suara Ari membuyarkan lamunannya.
"Ri, Bella kemungkinan besar buta, karena kornea matanya mengalami kerusakan yang fatal, aku harus bagaimana, kemana harus aku cari donor mata untuk Bella"
"biar gue yang cari, lo tolong jagain Bella ya?"
"oke, makasih banyak ya Ri"
"iya secepatnya gue usahain, yaudah gue cabut dulu ya, jagain Bella ya"
"oke"
"bye"
***
"dok, saya mohon, saya mau mendonorkan mata saya untuk Bella, toh umur saya udah tidak lama lagi, saya mohon dok"
"tapi ini beresiko, pendonoran mata itu harusnya hanya bisa dilakukan pada orang yang sudah meninggal, jika dilakukan pada orang yang masih hidup akan beresiko tinggi, bisa menyebabkan kematian ataupun kebutaan permanen"
"apapun resikonya saya tanggung, asalkan Bella bisa melihat lagi dok"
"baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan anda, silahkan anda tanda tanggan disurat perjanjian ini, dan operasi akan dilakukan besok"
"baik dok, terimakasih."
Niat Ari sudah bulat, ia sadar sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa mendapatkan cintanya itu, karena Bella masih sangat mencintai Radit, dan mungkin hidupnya tinggal sebentar lagi, jadi lebih baik kedua mata ini hidup bersama Bella, agar ia masih bisa melihat senyum manis gadis tercintanya dari tempat abadinya nanti.
Tuuutttt....tttuuuutttttttt....
"hallo?"
"hai ti, ini gue Ari, gue udah dapet pendonor buat Bella nih, dan gue udah atur semuanya, jadi besok Bella bisa langsung dioperasi."
"hah? yaampun syukurlah, makasih banyak Ri, pendonornya itu siapa? baik banget, gue boleh ketemu dia?"
"iya sama-sama, nanti juga kalian tau, yang penting Bella udah dapet pendonor kan hehhehe"
"iyaiyaa, eh iya besok lo kesinin kan? nungguin operasi Bella?"
"aduuhh kayanya gue gak bisa kesana deh ti, soalnya nanti malem gue ke luar kota ada urusan penting, maaf ya?"
"yaah sayang banget lo gak bisa kesini, iya gak apa-apa ko"
"yaudah salam ya buat Bella, semoga cepet sembuh"
"okedeh ri"
"bye"
Dalam ruangan ini, mungkin terakhir kali kita bertemu Bell, karena setelah ini kamu yang akan melanjutkan hidupku, semoga kamu bahagia dan tetaplah tersenyum untukku Bell.
"Dok, sebentar saya titip surat ini untuk Bella, setelah dia siuman tolong berikan suratnya"
"baik, cinta anda kepada dia sangat besar, saya salut"
"terimakasih dok, saya sudah siap"
Setelah 6 jam diruang operasi akhirnya Bella dipindahkan ke ruang inap kembali operasi pun berjalan dengan lancar. Tia merasa lega karena kondisi Bella semakin membaik, Bella yang sempat terpukul karena kondisinya yang dinyatakan buta merasa amat bersyukur bisa mendapatkan donor mata secepat ini.
"ko Ari gak bisa dihubungin sih" gerutu Tia
"coba sms aja deh"
Merasa aneh dengan tingkah laku Ari belakangan ini, seperinya ada yang disembunyikan, dan seperti selalu menghindar, ada apa ya sebenarnya.
"permisi, ada surat untuk saudari Bella" kini lamunan Tia buyar oleh suara itu
"oh iya dok, terimakasih, ini dari siapa ya?"
"itu dari pendonor mata untuk saudari Bella, mohon di berikan kepada saudari Bella ketika keadaannya sudah pulih"
"oh gitu, baik dok akan saya sampaikan"
seminggu kemudian....
Kondisi Bella sudah seperti semula, kini ia lebih menghargai hidupnya, dan sudah melupakan apa yang terjadi sebelumnya, lebih tepatnya ia telah melupakan Jason. meski terkadang merasa sedih dan kehilangan, Bella lebih sering berdiam diri ditaman belakang, menikmati indahnya dunia dari matanya, meski ia tau mata itu bukan lah mata miliknya yang dulu.
"Bell"
"iya ka, ada apa?"
"ada yang mau aku sampaikan"
"apa sih, bikin aku penasaran aja deh?"
"hmmm gimana hubungan kamu dengan Ari?"
"Ari? ko Ari sih? aku juga gak tau ka, aku udh lost contact semenjak dia datang kerumah malam itu, emangnya kenapa?"
"jadi gini, sewaktu kamu di rumah sakit, dia jengukin kamu, dan sempat titip surat ini buat kamu."
"surat?"
"iya, ini suratnya, tapi maaf baru aku kasih sekarang, aku takut kamu semakin terpukul."
"maksud kamu apa ka?"
"kamu baca surat itu, dan kamu pasti tau yang sebenarnya Bell"
Perlahan Bella membuka amplop dan membaca surat di dalamnya.
Bell,
mungkin setelah kamu baca surat ini, aku udah pergi.
maafin aku Bell, karena selama ini aku hanya menjadi
seorang pecundang, perkenalan kita yang begitu unik
membuat aku merasakan hal yang tak bisa aku ungkapkan
selama ini, sosokmu yang ceria seolah-olah meruntuhkan
pertahananku, aku tau kamu milik sahabatku, tapi apa salah
aku mencintaimu Bell? aku cuma ingin yang terbaik untukmu
dengan sisa usiaku yang tak lama lagi, aku ingin menjadi
berarti dihidupmu, aku sadar aku gak akan dapatkan cintamu
karena seluruh cintamu hanya untuk Radit, tapi aku harap
dengan adanya kedua bola mataku, hidupmu jadi lebih indah
dan berarti, teruslah berjuang dan lanjutkan hidupku Bell.
semoga dengan pengorbananku, aku bisa menjadi Radit Radit
yang lain dihatimu...
i love you Bella...
Pengagum mu,
Ari.
Air mata Bella tak terbendung lagi, sejuta tanya berdesakan didalam pikirannya, entah apa maksud surat ini, dan kedua bola mata ini? oh Tuhan....
"Maksudnya apa ka? mata ini? Ari? jelasin ke aku ka!!!"
"Ari pendonor itu Bell, dia selama ini mengidap kanker darah, dan usianya tidak lama lagi, karena itu dia memutuskan untuk mendonorkan matanya untukmu, sebelumnya aku gak tau pendonor itu dia, dia cuma bilang kalo udah menemukan pendonor itu, dan saat aku minta untuk datang pada saat kamu dioperasi, dia bilang dia ada urusan diluar kota akhirnya dia gak bisa datang, sejak saat itu dia gak ada kabar, dan pada saat dokter kasih surat ini, aku baca dan aku tanya ke dokter, kenapa dia ngelakuin ini, dan disitulah akhirnya aku tau semua ini Bell"
"aku mau ketemu dia ka...."
***
Sesampainya di pemakaman, udara dingin menyambutnya, rasanya tak percaya dengan semua takdir yang ia alami, Bella dengan tangis dipipinya, menabur bunga diatas makam Ari. seketika ia ingat kata-kata ayahnya, bahwa dibawah sana bukan Radit ataupun Ari, disana hanyalah jasad yang tak bernyawa, Radit dan Ari sebenarnya ada disini, dihatinya. dengan cepat ia menghapus air mata itu, ia tak ingin Ari kecewa melihatnya menangis, ia berjanji akan selalu tersenyum untuknya. Karena esok ia akan terus berjuang untuk mereka yang ada dihatinya.....
Jakarta,31 Juli 2015
Dear diary,
kenapa arti hadirnya seseorang akan terasa saat seseorang itu telah pergi? kenapa tidak kita coba untuk mengartikannya lebih awal? sebelum dia pergi? takdir memang begini adanya, penyesalan selalu menjadi akhir cerita, dan aku merasakannya untuk yang kedua kalinya. Kehilangan seseorang yang mencintaiku dengan tulus, yang rela berkorban untukku, dan aku selalu menyia-nyiakannya. Maafkan aku Ri... aku mencintaimu, lebih dari aku mencintai Raditku, karena kamu berbeda dan aku belum sempat memilikimu...
Love you,
Karena waktu terus berputar, Aku pun tak ingin kalah dengan keadaan, aku tetap berjuang meneruskan kehidupan, karena aku percaya kalian selalu ada disini, dihatiku selama-lamanya...
bersambung....
***
Langganan:
Postingan (Atom)