Jumat, 31 Januari 2014

PUPUS


Jakarta,18 Maret 2013.

Denting piano mengiringi nada nada yang terlantun merdu, menuliskan sebuah cerita lalu, masih tergambar jelas peristiwa itu, hatinya masih tergores, luka masih meradang, tapi tak pernah memadamkan seluruh rasa yang pernah ada, sampai kini mungkin hatinya masih tertutup untuk lelaki manapun. Hanya penyesalan yang mengisi setiap detik yang terlewati.
Radit, dia merindukanmu...

***

sudah berhari hari Bella tak bisa tidur karena memikirkan hari ini. apa temanya, dimana tempatnya, bagaimana dengan gaunnya, dan terlebih lagi, dengan siapa dia kesana.
sejak hari itu, prom night menjadi night mare untuknya. ya... sejak kecelakaan tragis yang merenggut kekasihnya yang sangat dia sayangi, Radit. kini Bella harus hidup sendiri. melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan dengan Radit, sendiri. tak ada yang menggantikan dan tidak akan tergantikan oleh apa pun dan siapa pun. karena begitu Bella mencoba menggantikannya, banyangannya selalu terlihat jelas, mengorek luka dalam kembali sehingga Bella tak berani lagi menggantikannya lagi dengan siapa pun. lagi pula Bella yakin, bahwa Radit masih mencintainya di surga sana.
kembali lagi ke masalah prom night, Bella tak henti hentinya membayangkan Radit masih ada di sampingnya dan nanti saat prom night tiba, Radit berdiri menggandeng tanggannya, dan mereka menjadi pasangan paling serasih diantara pasangan yang lain. tapi impian itu musnah seketika Radit pergi, dan prom night pun serasa seperti kiamat bagi Bella. ia menangis sendiri. menangis membayangkan Radit masih ada dan menjemputnya dengan jas yang membuat dia semakin tampan dan gagah dihadapannya. "oh Tuhan, sampai kapan aku begini?" tanyanya dalam hati. hampir gila ia mengingat kenangan manis bersama Radit. mengingat dia lah yang menyebabkan kematiannya.
***

"aku belum bisa yang... aku belum siap ketemu sama orangtua kamu... kamu tau aku engga mau putus sama kamu, tapi aku belum berani buat ngomong tantang agama sama orang tua kamu, lagian aku juga engga tau mau ngomong apa, please... yang, kasih waktu sedikit lagi untukku, secepatnya aku bakal ngomong kok sama orangtua kamu, tapi aku mohon jangan sekarang.."

"ya udahlah, terserah kamu, aku cape ngomong sama kamu. aku turun disini aja!"

Bella pun keluar membanting pintu mobil itu, berjalan penuh kemarahan. memikirkan kebodohan Radit, kecupuan dan ketakutannya.

"kalau engga berani, yaudah putus aja!!" katanya dalam hati. Bella berjalan entah mau kemana, Bella hanya berjalan sampai bosan, seperti kebiasaannya. dia berjalan sepanjang jalan untuk meredahkan emosinya. Bella perhatikan orang orang berjalan, mobil mobil lewat, tak terasa, kemarahannya terhadap Radit sudah hilang, ia sadar bahwa semuanya bukan seutuhnya kesalahan Radit, tapi dia juga yang kurang mengerti keadaan Radit, dan Bella pun berjalan dengan penuh damai tanpa amarah atau pikiran.

setelah 4 jam berjalan, tiba tiba ia mendapat telepon dari orang yang tak dikenal.

"halo, apa ini dengan mba Bella?"

"iya, ini Bella."

"maaf mba, saya Tri. saya menemukan nomer mba di dompet masss...."

"Radit? kenapa dengan Radit? kenapa??"

"emmh.. mas Radit meninggal, ditabrak trek dan mobilnya hancur. sekarang jasadnya sudah dievakuasi ke Rumah sakit setempat..."

karena kaget, handphone-nya pun terlepas dari genggaman dan pandangannya buram seketika.
                           
***
                                                           
Bella pun membuka matanya. Tersorot berkas cahaya yang menyilaukan, ruangan yang serba putih, jelas bukan kamarnya.. "lalu dimana aku?" hatinya bertanya. orang orang yang ia cintai mengelilinginya, wajahnya menggambarkan kekhawatiran...

"sayang... sayang... kamu udah bangun? kamu gapapa kan? ada yang sakit engga?" kata ibuku menangis sambil menggenggam tanganku dengan erat.

"aku gapapa kok, aku dimana???"

"ini dirumah sakit sayang, waktu itu kamu ditemukan seorang bapak tergeletak di tepi jalan, maafin ibu ya sayang, maafin ayah juga."

"iya engga apa-apa, kok aku bisa tergeletak di tepi jalan???... ohhhhhh....."

ingatannya telah kembali, jantung Bella berdetak dengan kencang seketika... dan menangis meminta harapan...

Bella pun langsung bangun dari tempat tidur mencari Radit.

"MANA RADIT?? DIMANA DIA? MANAAAAAA..... MANAAAAAA???"

cepat cepat ia melepaskan infus yang menempel di pergelangan tanggannya, lalu keluar kamar melihat siapa tau Radit ada disana, dimana.... dimana?? ia terus berlari mencari, ayahnya meraih tangannya dan Bella pun didekapnya...

"tenang dulu sayang, tenang.....kamu engga boleh lari larian kaya gini, Radit udah engga disini... dia udah ada di surga...."

"HHHHaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh??"

karena tak percaya Bella pun berkata...

"ENGGA MUNGKIN.... ENGGA MUNGKIN... AYAH PASTI SEMBUNYIIN DIA, AKU TAU AYAH GAK SUKA SAMA RADIT MAKANYA AYAH BILANG RADIT UDAH DI SURGA, AKU ENGGA BODOH YAH, RADIT ENGGA MUNGKIN MENINGGAL!!! BIARPUN AKU BARU SADARKAN DIRI, AKU MASIH BISA BERPIKIR!!!!!"

Bella pun diangkat oleh ayahnya yang juga menangis, memeluknya dan berkata...

"maafkan ayah ya sayang, maafkan ayah..."

Bella yang dipeluk hanya terdiam, wajahnya basah oleh air mata, pandangan matanya kosong, dan pikirannya melayang memikirkan bahwa dirinya yang membunuh Radit. Bella yang membuatnya sampai begini, "jika aku tak memaksanya, jika aku bisa bersabar, jika aku tak keluar dan membanting pintunya... hal ini tidak mungkin terjadi." pikirnya. Bella pun menangis dan berteriak penuh penyesalan, tiba-tiba Bella teringat dengan kata kata Radit saat dulu mamanya meninggal...

"kok kamu engga nangis yang?"

"aku engga mau nangis, soalnya aku tau mama diatas sana pasti tenang dan bahagia. kalau aku nangis di sini, mamaku akan ngeliatnya, dan dia pasti sedih..."

begitu Bella mengingatnya, langsung ia mengusap air matanya, mencoba untuk bertahan dan terus resapi kata-kata itu...

"ya, dia pasti bahagia di atas sana, kalau dia bahagia, kenapa aku harus sedih? aku senang kalau orang yang aku cintai bahagia..."

maka ia lepaskan pelukan ayahnya. berbicara dengan tenang...

"engga apa-apa yah, sekarang dia dimana?"

"udah dimakamkan di tanah kusir."

"aku sekarang udah baikan, anterin aku kesana ya yah."

setibanya disana, Bella menaburkan bunga di atas makam Radit. tangis yang siap mengalir ia sembunyikan, dan Bella mencoba untuk tegar walaupun hatinya tengah tergores dalam dalam... goresan yang tak akan pernah sembuh.

"maafin aku dit, maafin aku yang kayanya mencintai kamu tapi waktu terakhir kamu menghembuskan napas pun aku engga ada... maaf dit, karena aku hanya bisa menerima semua tanpa perlawanan... maaf karena membuat kamu mencintai aku yang engga pantes buat kamu."

tangisnya pun tak dapat terbendung lagi, dan Bella berlari keluar pemakamannya, takut Radit melihatnya menangis.

Orangtuanya mengejar dan menenangkan...

"aku udah siap yah, pas aku minta anterin kesini, aku udah siap pas aku turun dan berjalan kepemakamannya, tapi aku engga sanggup melihat namanya terukir di batu nisan, aku engga sanggup membayangkan tubuh seseorang yang aku sayangi terletak dibawah sana... sakit yah.." kataku sambil memeluk ibu.

"kamu tau engga bell? Radit engga ada dibawah tanah itu, Radit ada disini, ada disisi kamu, menemani kamu setiap saat. kamu yakin kan dia sayang banget sama kamu? kalo dia sayang banget sama kamu percaya deh, dia engga akan ninggalin kamu sendiri..."

itulah akhirnya yang membuat Bella memberanikan diri datang ke prom night ini sendiri. ia memakai gaun yang amat indah dan berdandan dengan cantik. semua ini Bella lakukan untuk Radit, yang setia menemani di sebelahnya. jasadnya memang tak ia lihat, tapi kehadiran Radit di sampingnya selalu ia rasa.

***

akhirnya, Bella menaiki mobilnya yang siap menuju sebuah hotel tempat acara prom night SMA-nya di selenggarakan. di dalam perjalanan, Bella merasakan keraguan. Bella membayangkan ia berdiri sendiri ditengah dan melihat berapa ratus pasangan yang berdansa dengan mesra di sekelilingnya.

sekian lama berpikir, Bella takut dengan semua itu, dan spontan ia mengambil sen kanan ingin berputar dan pulang kembali kerumah. tapi saat ia ingin memutar setir, ada yang menahan tangannya untuk tidak memutar setir tersebut, ya, pikirannya yang menahan tangannya dan mengingatkan..

"Bella kamu engga sendirian, ada Radit di sebelah kamu..." kata kata itu meyakinkannya untuk tetap pergi..."oke, gue buktiin gue bisa.." langsung Bella melaju ke hotel dengan pasti.

setibanya Bella disana, ia melihat ruangan yang sangat indah, dinding dinding dihias dengan bunga yang harum, tataan interiornya pun sangatlah menawan. ruangan itu telah dipenuhi oleh teman teman SMAnya yang begitu berbeda.... cantik dan tampan.

memang hari ini yang spesial untuk mereka nampaknya, mereka semua berpasangan dan kelihatan sangat serasih. tapi walaupun begitu, Bella tak kesepian disana, teman temanya mengajaknya mengobrol dan tertawa bersama. dan Bella mengerti, mereka ingin menghiburnya dan berusaha agar Bella senang dan tak mengingat Radit lagi.

ketika Bella berada di tengah canda, ia melihat sosok yang berbeda, dari yang lainnya. entah apa yang berbeda, tapi ia tak merasakannya saat ia melihat lelaki lain. "siapa ini?" tak pernah ia lihat disekolahnya. ketika Bella memperhatikannya, tiba tiba orang itu juga memandang Bella dan mata mereka pun bertemu... dan Bella pun langsung memalingkan mukanya berpura pura tak melihat. ia rasakan tatapan itu, tatapan yang sangat ia kenal, tatapan yang sudah lama tak ia lihat... tatatapan Radit. tapi segera Bella menghilangkan rasa itu dan ia lanjutkan lagi obrolan dengan teman temannya dan mengikuti acara yang berlangsung.

acara berlangsung dengan meriah. ada canda tawa ada tangis. tangis mengingat sebentar lagi mereka akan berpisah. dan tibalah pengumuman siapa yang ter- dari angkatan Bella, dan tau?? Bella mendapatkan kategori terfavorit... hiahhahahaa... senangnya... dan begitulah...Bella pun mengerti kata kata yang ia dengarkan di mobil tadi, ya, suara itu juga memberitahunya bahwa ia menang, jadi jangan pulang dulu...Bella pun gembira menerima itu. dan penghargaan itu tentu saja ia persembahkan untuk Radit, kekasihnya yang selalu ada dimana pun ia berada.

waktu pun berjalan dengan cepat, kini waktu menunjukan pukul 00.40 WIB...ruang yang tadinya penuh dengan para manusia yang berpesta, kini dengan cepat berubah menjadi sangat sepi. hanya beberapa panitia yang sibuk menyelesaikan pekerjaannya, pelayan pelayan yang sibuk membereskan piring piring dan gelas gelas yang berserakan, dan para kru kru pesta serta Satria dan Ari (MC prom night) kini bersiap siap untuk pulang dan orang itu... yah orang yang sama yang ia perhatikan tadi, tapi sekarang Bella belum pulang?... Ari jawabannya...

Yah memang Bella sangat suka dengannya... dan ia menunggunya pulang untuk meminta tanda tangannya, foto, sekaligus berkenalan dengan Ari.

Saat ia melihatnya berjalan menuju pintu keluar, Bella pun segera menghampirinya.

"Ari.. sorry ganggu, boleh kenalan gak?"

"wahhh... gak boleh tuh.. hihi... bercanda... lo yang terfavorit kan?"

"iyaaa.. Bella.." kayanya sambil mengulurkan tangan mengajaknya berkenalan.

"Ari Hendryansyah..." tersenyum dan menyambut tangan Bella

Orang "berbeda" yang tadi Bella perhatikan, berdiri dibelakangnya... dan Bella pun bertanya...

"Ri, itu siapa dibelakang lo?"

"Oh, ini kenalin..."

"Jason..."

"Bella..."

Sejenak ia perhatikan mukanya dari dekat... mirip dengan Radit...

Dia pun terdiam seperti melihat Radit hidup kembali...

"Ini manejer gue"

"Oh pantesan"

Ari dan Jason memang orang yang sangat menyenangkan saat mengobrol, mereka tidak henti-hentinya membuat Bella tertawa dan tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat...

"Wah, udah malem nih, pulang gih, ntar dicariin loh"

"Hihi tau aja lo"

"Iyalah gue tau, Ari gitu... gue kan tau kalo lo pergi pasti bawa mobil ortu lo, jadinya lo dicariin, takut mobilnya kenapa-napa"

"yeeeh, kirain lo beneran tau, ternyata...ah yaudahlah, kapan kapan ketemuan yuk, sambil ngobrol-ngobrol kaya gini lagi, kan enak..."

"iya gampang...ngomong-ngomong nomor hp lo berapa?"

Bella memberikan nomor hp-nya kepada jason yang membawa handphone Ari.

"okedeh, sampai jumpa yaah, dadahhh..."

"bye..."

Dan Bella pun masuk ke mobilnya dan cepat ia mengendarainya, di dalam perjalanan Bella memikirkan saat saat tadi, bukan Ari lagi yang terpikir, tapi Jason

Begitu mirip cara memandangnya, caranya tersenyum dan apa pun itu. Semua sama seperti Radit, tak ada habisnya Bella mengingat saat ia dan jason berpandangan dan tak disadari, ia telah memarkirkan mobilnya di garasi rumah.

***

Terbangun Bella dari tidurnya yang nyenyak dan dilihatnya jam yang menunjukan pukul 10 siang, akhirnya dengan berat hati ia memaksa tubuhnya untuk bangun dan melihat agendanya untuk hari ini.

Hari ini... "hmmm, jam 8 gue harus test di UI.." ia terdiam sejenak.

"HAAAAHHH??? JAM 8 PAGI???!! SEKARANG JAM 10!!! GUE TELAT 2JAM...MATI GUE!!!"

Ia pun langsung lari dari tempat tidur, tanpa cuci muka dan sikat gigi, ia berganti baju dan langsung melajukan mobilnya ke kampus UI, Depok.

Sesampainya disana... "waduh, mati gue, harus kemana ini, banyak banget orangnya"

Langsung Bella mencari hp-nya untuk mencari dimana teman temannya, Rini dan Eno

---Kringggg---Kringgggg.....

"Heh, dimana lo?.. APA?? Masih dirumah? Ujiannya udah selesai bodoh.. geblek banget aihh, jadi masuk sini gak sih????" umpatnya pada rini.

"Eh yang geblek itu lo apa gue? orang testnya besok, hari gini udah disono, mau ngapain mba? mau ngepel ngepel dulu mba??" sahut Rini

"Ya jelaslah lo yang geblek, orang disini udah pada rame, lo kira testnya besok, cepet dong sini, gak ada temen nih!"

"Aduh Bella yang biasanya pinter, tapi kali ini kayanya lo deh yang goblok, coba lo bawa jadwal testnya engga, liat jadwal test fakultas psikologi UI, dilaksanakan pada hari Senin, 28 Juni 2008 pukul 8 pagi, bukan tanggal 27 Juni 2008 gimana mba? masih belum percaya juga?"

"Bukannya hari ini tanggal 28 ya?"

"Tajir tajir gak punya tanggalan mba?"

"yahh, yaudah deh, pokoknya besok gue tunggu lo jam 6 disini, jangan sampe telat!"

"Sipdeh, yaudah ya, gue mau makan."

"yaudah gih sono...dahhhh."

"dahh..."

Bella pun langsung menutup telpon itu, dan mengechek jadwal tadi pagi di papan pengumuman...

"yah, bener ternyata gue salah jadwal, sekarang ngapain dong disini rame rame gitu"

Bella perhatikan tempat yang agak jauh dari tempatnya berdiri, disana ia melihat tempat yang sangat ramai dikerumuni orang, apa itu kantin yaaa? Bella mau ke kantin, tapi ia bingung kantinnya ada dimana, mau tanya, engga enak, mau cari sendiri takut salah masuk.

Akhirnya, Bella mendekatkan diri ke tempat yang banyak orang itu dan ia mendengar suara suara orang yang sedang berkelahi dan para penontonnya yang mensupport masing masing jagoannya.

"Wah seru nih kayanya.."

Tanpa berpikir panjang lagi, Bella pun langsung masuk ke kerumunan itu, dan ternyata...

"cut... ulang lagi sekali lagi, aduh jangan gitu dong, yang natural!!" teriak orang yang berdiri dipojok.

"oh syuting toh ternyata, siapa pemainnya? gak ada yang gue kenal" katanya dalam hati...

"yaaaa, siap, action!!!"

Bella memperhatikan lagi para pemain itu berkelahi, tiba tiba ia pun terkejut melihat orang yang duduk memperhatikan perkelahian itu, bajunya sama persis, rambutnya mirip, hanya mukanya saja yang membedakan...

"oh stand man toh yang lagi berantem, pantesan pada engga gue kenal"

Ia perhatikan lagi orang orang yang sedang duduk-duduk itu. Ada dua, tentu yang sedang berkelahi ini menggantikan dua orang tersebut.

"Lah itu kan si Doni, terus itu Ariiiiiiii!! oh my God, Ari!!!"

Bella hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, ia tak berani memanggilnya, Bella pun terus memandanginya.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 1 siang, sudah satu jam Bella disini, melihat idolanya itu.

"Okey bagus, hari ini sampai disini saja yaa, besok kita lanjutin di lokasi lain," kata sutradara itu

***

Para kru langsung membereskan alat-alatnya dan para pemain pun bersiap-siap untuk pulang. Orang-orang yang melihat syuting itu pun satu persatu meninggalkan tempat, tinggal Bella yang disana, menunggu Ari

"Hai Ari..." katanya sambil mencolek punggungnya dari belakang.

"Eh Bella, ngapain lo disini? segitunya, sampe lo ngikutin gue gini, kalo ngefans, bilang aja..."

"Hah, siapa yang ngikutin lo?? huuuuuuuu Ge er"

"Terus ngapain lo disini? mau liat gue kan? udah ngaku aja kali"

"Duhhduhhh, gue kesini mau test kali, kan gue mau masuk UI, doain dong biar masuk!"

"Iya, iya hmmm kita jodoh juga yaa?"

"Siapa yang mau jadi jodoh lo? huaahahahaaha"

"Yeh, norak lo!! Ngomong-ngomong udah makan belum? makan yuk, gue laper"

"Hmmmm gimana yaaa?" kata Bella pura pura bingung.

Belum selesai Bella berbicara, Ari sudah menarik tangannya, mengajak Bella ke kantin untuk menemaninya makan.

"Eh lo kan belum makan, yang ada nanti lo sakit terus gak konsen buat ujiannya, jadi mending kita makan dulu, okeh!"

Bella hanya mengangguk dan duduk ditempat yang disediakan Ari.

"Mau makan apa? sini gue beliin"

"Apa ya? gue nasi goreng aja deh, "

"Minumnya?"

"Es teh..."

"Oke, tunggu sebentar ya,"

Bella sangat merasa senang sekarang, bayangkan Ari, idolanya dari dulu yang ia rasa begitu jauh, sebentar lagi akan duduk di depannya, makan bersama. Hati Bella pun terbang melayang.

Diam-diam Bella pun bangga duduk bersama Ari, wanita-wanita lain melihat dengan muka penuh tanya, bisik-bisik dan iri. Huaahahaha senangnya...

Setelah Ari kembali, membawa nampan-nampan yang berisi makanan dan minuman, ia pun duduk dan mereka mulai asyik dengan pembicaraan mereka. Kadang membicarakan hobi, kadang tentang keluarga, sampai tentang hal yang tidak penting-penting. Tiba-tiba Bella pun teringat dengan Jason.

"Ri, jason mana? kok engga ikut,"

Muka Ari langsung berubah menjadi murung.

"Dia abis tabrakan tadi malem..."

"HAAAHHHHH?????!!!"

Bella pun terkejut, sendok yang ia pegang terlepas. Tak terbayang perasaannya saat ini. Bella begitu takut mendengar kecelakaan, sejak meninggalnya Radit karena kecelakaan. Kenapa Jason? kenapa dia mengalami kecelakaan setelah ia mengenalku? mungkin orang awam tidak pernah berpikir bahwa tabrakan yang dialami Jason ada hubungannya dengan Bella. Tapi dirinya... segala kebetulan terpikir hal-hal tak masuk akal pun penuh dikepalanya.

Seketika Bella menangis sejadi-jadinya, Ari pun bingung, kenapa Bella tiba-tiba menangis.

"Lo kenapa Bell? ko nangis sih, ada apa?"

"Ini salah gue Ri, salah gue, semua gara-gara gue!!!"

"hey maksud lo apa sih bell, ko jadi aneh gini?"

"Jason kecelakaan itu karena gue, gue pembawa sial, semua gara-gara gue ri!!"

"Bell, dengerin gue, ini semua musibah, gak ada hubungannya sama lo!"

"Lo gak tau apa yang gue rasain, semua orang yang dekat sama gue pasti mereka celaka, lo gak ngerti pikiran gue!!"

"Iya gue emang gak ngerti sama jalan pikiran lo yang terlalu jauh dan engga berlogika!"

Kini Bella hanya terdiam, dan terus menangis, entah apa yang terjadi sebenarnya, sehingga membuat Bella berpikiran sejauh itu, tanpa disadari pembicaraan Bella dan Ari sejak tadi mengundang banyak mata penuh tanda tanya tertuju pada mereka berdua.

"Ikut gue yuk," ajak Ari

"kemana?" tanya Bella yang masih menangis

"Ke taman kampus, gak enak disini, lo gak liat dari tadi lo nangis diliatin banyak orang?"

Bella mengangguk.

***


Mereka pun menuju ke sebuah taman yang tak jauh dari kampus, taman yang tidak terlalu besar, namun suasananya tenang dan damai, dengan banyak pepohonan rindang ditambah satu kolam ikan yang terawat, memberika suasana yang nyaman dan damai.

"Nah sekarang lo boleh nangis lagi, sepuasnya"

"Maksud lo apa?"

"Ya, sekarang lo boleh nangis sepuasanya, lo keluarin semua unek-unek lo, lo cerita sama gue apa yang membebani lo saat ini"

"percuma ri, pasti lo juga gak akan ngerti, lo pasti nganggep gue gila."

"Ih sok tau amat lo, gue ini pendendengar yang baik loh."

"Iya gue cerita, tapi janji ya jangan anggep gue itu gila!"

"Iya engga lah, ngaco aja lo Bell,"

Bella pun akhirnya menceritakan semuanya, bagaimana dia mengenal Radit sampai bagaimana juga ia dipisahkan, oleh kematian. Kematian Radit yang ia anggap semua karenanya.

Air mata pun terus bercucuran, menggambarkan seberapa dalam kerinduan Bella terhadap Radit, betapa ia ingin merasakan setiap hari bersama Radit, tapi memang sepertinya takdir berkata lain, semua tak sama seperti apa yang diinginkan, Bella hanya bisa menangis dan menangis.

Ari dengan antusias mendengarkan segala keluh dan kesahnya, tak ia sangka, dibalik pribadi Bella yang ceria, ia menyimpan sejuta rasa sakit dan penderitaan, dari senyumnya masih menyimpan air mata. Tanpa di sadari ada rasa kagum datang dalam diam untuk Bella.

"terus, apa yang buat lo berpikir kalo Jason kecelakaan itu gara-gara lo?"

"Jason kecelakaan setelah kenal sama gue ri..."

"Tolong pake logika lo Bell, kenapa lo begitu takut kehilangan Jason? apa ada alasan tersendiri?

"Gue takut kehilangan Radit untuk ke-dua kalinya..."

"maksud lo Bell?"

"Iya, Jason seperti Radit gue yang dulu, matanya, senyumnya, tatapannya, Radit seperti hidup kembali. Didalam Jason..."

"Apa lo jatuh cinta dengan Jason?"

"Lebih tepatnya gue jatuh cinta lagi dengan Radit..."

Rasa cinta Bella teramat besar untuk Radit, sampai saat ini pun Bella masih belum bisa melupakanya.

Perasaan aneh itu terus meracuni Ari. Entah perasaan cemburu terhadap Radit, atau cumburu Terhadap Jason. Cemburu? jujur saja memang Ari memiliki rasa itu. pribadi Bella yang ceria mampu menariknya, menumbuhkan butir-butiran cinta. meski terlalu cepat, tapi perasaan itu tak bisa dihindari.

***


Hari ini Bella memutuskan untuk menjenguk jason di rumahnya, Bella sudah memiliki tekad untuk memberikan seluruh rasa sayangnya untuk jason, sebagai pengganti Radit, namun sampai kapan pun Radit tetap ada dihati Bella, sampai kapanpun...

"ayo dong, satu suap lagi nih, abis ini kamu minum obatnya, supaya cepat sembuh Jas!"

"aduh Bell, kamu aja deh yang abisin, aku lagi gak mau makan"

"ihh, kamu kan gitu tuh, ayo sedikit lagi ko,"

Jason menggelengkan kepala...

"hmm gini deh, kalo kamu abisin makannya terus minum obat, kamu boleh deh nyuruh-nyuruh aku sesuka kamu, gimana?"

"hmmm gimana ya? yakin nih mau aku suruh apa aja?"

"iya janji, tapi kamu abisin dong makannya!"

"okey, aku abisin nih"

Bella memang pribadi yang ceria dan mudah bergaul, tidak heran kalau hanya dengan waktu yang sangat singkat Bella bisa akrab dengan orang lain, seperti saat ini, Bella jauh lebih akrab dengan jason seperti sudah kenal lama.

"yes! aku udah abisin nih makanannya, udah minum obat juga, jadi sekarang giliran aku tagih janjimu Bell"

"okeh, kamu mau apa?"

"hmmm yakin pasti mau lakuin apa aja demi aku?"

"iyadong, Bella kan gak pernah ingkar janji"

"kalo aku maunya kamu jadi pacar aku gimana?"

"hah? serius?"

Bella tidak tuli, hanya saja terkejut mendengar permintaan Jason, tanpa disangka secepat ini, sebelum Bella menyatakan perasaannya, Jason sudah lebih dahulu mewujudkannya.

"iya serius, buat apa aku bercanda, kamu gak mau ya?"

"engga, bukan gitu, tapi kan kita baru kenal, bisa bisanya kamu suka sama aku?"

"aku suka kamu yang ceria, aku suka kamu yang unik, beda dari wanita lain,"

"terus, aku harus gimana?"

"ya kamu jawab, kamu mau atau engga jadi pacar aku?"

"kalo aku jawab mau, kamu mau apa?"

"aku mau peluk kamu!!!"


***


Kini Bella merasa kebahagiaan itu benar benar nyata, Radit telah mengirimkan cintanya yang dulu, meskipun ini terasa terlalu cepat, tapi Bella menyukainya, rindu teruntuk Radit yang tak sempat Bella sampaikan, kini nyata sudah ia curahkan kepada Jason.

Ari yang kini mengetahui hubungan antara Bella dan Jason sahabatnya, merasa ikut senang, entah itu hanya sebuah pencitraan atau memang benar benar Ari sudah merelakan cintanya, dicintai oleh orang lain.

Setahun berlalu, Ari pun masih belum bisa menghapus perasaannya untuk Bella, walau ia sadar, kini Bella tak mungkin ia dapatkan, karena Bella sudah dimiliki oleh sahabatnya sendiri, sejauh ini hunbungan mereka terlihat baik-baik saja, masih sama seperti dulu, mereka bahkan lebih sering terlihat jalan bersama, berkat kehebatan Ari dalam berakting dan mampu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, ya perasaan yang sebenarnya telah hancur.

Setiap kali melihat kemesraan kedua Sahabatnya itu, Ari lebih memilih untuk tidak melihatnya terlalu lama, bukan karena tidak menyukainya, tapi hatinya sudah terlalu rapuh untuk menyaksikan cintanya sedang berada pada cinta yang lain.

"woy Ri!" Suara Shella membuyarkan lamunannya

"eh, apaan sih Shell, ngagetin gue aja lo" sahutnya

"ngapain lo bengong aja sendirian, mending lo makan siang sana, sebentar lagi take ke 23, keburu abis jam makan siangnya!"

"gue gak makan, lagi gak berselera nih"

"yeh dasar, kenapa sih? lagi galau? hahaha"

"sok tau jadi manusia, gak kenapa-kenapa ko"

"eh iya, btw tumben tuh manager lu awet banget sama ceweknya, biasanya kan buaya darat"

"ya mungkin udah tobat Shell sirik aja lo hahaa"

"yeh kan heran aja gitu bisa tiba-tiba setia kaya gitu"

"ya bagus dong, biar ga buaya lagi, iya gak?"

"iya sih, ya terserah lo deh, yaudah gue mau cabut dulu ya,"

"eh mau kemana lo?"

"biasa, bisnis. Yaudah duluan ya bye"

"bye"

Memang benar perkataan Shella, dari dulu sahabatnya itu memang terkenal tidak tahan lama dalam hal percintaan, ya Jason memang tipikal pemain wanita, ada saja stok wanita yang ia pacari. Tapi tidak dengan kali ini, ia merasa Jason benar-benar mencintai Bella, buktinya sudah setahun terlewati dan mereka terlihat baik-baik saja, dan kalau memang sahabatnya itu melukai hati Bella ia tidak akan tinggal diam, jangankan untuk melukai, membuat Bella menangis pun dia bertekat memberikan pelajaran kepada sahabatnya itu, karena ia tidak akan membiarkan cintanya disakiti oleh orang lain termasuk sahabatnya sendiri.

***


Waktu terus berjalan, terasa ada yang beda, mungkin karena kesibukan masing-masing, Bella merasa akhir akhir ini ada yang berubah dari sikap Jason. Setiap jalan berdua, perhatian Jason terbagi dengan handphone yang selalu bergetar, entah pesan singkat dari siapa, tapi sepertinya Jason sangat antusias membalasnya, dan yang lebih membuat Bella kesal, setiap Bella ingin meminjam ponselnya, Jason seolah-olah marah dan seperti ada yang sedang disembunyikan dari Bella.

Hubungan mereka semakin merenggang, pertengkaran kerap kali terjadi, beberapa hari yang lalu pertengkaran hebatb itu pun terjadi lagi, sampai saat ini Bella tidak berkomunikasi dengan Jason, dan Jason pun tidak memberi kabar sama sekali kepada Bella.

Pikiran Bella melayang jauh, tiba-tiba rasa takut itu muncul kembali, ya rasa takut akan kehilangan itu.

***

Radit, muncul kembali, membayang-bayangi Bella lagi, peristiwa itu terus terulang dalam pikiran Bella, semuanya menjadi serba kacau, pikiran Bella semakin kalut, hingga saat ini Jason belum memberi kabar, bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali, Bella pun sudah mencari ke rumahnya tapi, hasilnya nihil. Sudah seminggu Jason menghilang darinya, entah harus Bella cari kemana lagi, jalan satu-satunya adalah meminta informasi kepada Ari, sahabat jason yang tak lain adalah sahabatnya juga. Tanpa basa-basi Bella pun langsung mencari salah satu nama di buku telponnya dan langsung menelponnya.

Tutttttt... Tuuuuttttttt....Tuuttttt....


"hallo, Ri..."

"hai Bell, apa kabar, ada apa nih?"

"Ri, lo tau Jason dimana? gue gak bisa temuin dia, dan handphonenya pun gak bisa dihubungi"

Tangis Bella pun pecah, mendengar semua itu hatinya terasa teriris,

"gue juga gak ketemu sama Jason belakangan ini Bell, ada apa sebenarnya Bell?"

"gue takut Ri, gue takut peristiwa itu terjadi lagi, gue takut"

Tangis Bella semakin menjadi

"gue butuh lo banget Ri, lo dimana?"

"gue lagi di rumah sakit Bell, iya gue pasti temuin lo kok, lo ceritain ya semuanya sama gue"

"lo kenapa Ri? lo sakit? oke gue sekarang on the way rumah sakit ya?"

"engga ko Bell, cuma checkup, okey kita ketemu di taman biasa ya?"

"okey bye"

Setibanya mereka di taman, Bella langsung menceritakan semuanya yang terjadi belakangan ini, tanpa di sadari air mata itu terus meluncur membasahi wajah wanita yang ia cintai. Rasanya miris melihat Bella menangis seperti itu, rasa akan takut kehilangan itu begitu nampak, tak habis pikir kenapa Jason bisa berbuat demikian, rasa marah dan kecewa bercampur menjadi satu.

"Ri, gue takut kehilangan Jason, gue gak mau kehilangan lagi sosok Radit"

"Bell, sadar dong Jason itu bukan Radit, mereka berbeda. jangan selalu samakan mereka, berarti selama ini lo hanya mencintai bayang-bayang Radit, bukan seutuhnya mencintai Jason. ayo dong lo harus bisa lepas dari bayang-bayang Radit, buang semua rasa penyesalan lo, because life must go on Bell."

"Ri" Bella memeluk Ari dengan erat.

Walau pelukan itu hanyalah sekedar untuk menenangkan Bella, Ari rela dan Ari akan melakukan apa saja demi membuat Bella nyaman. Walau ia tau, hatinya bukan untuknya.


***

Hujan membasahi Ibu Kota Jakarta, petir menggelegar dan kilat kian menyambar membuat suasana berubah menjadi dingin dan mencekam. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kerumah masing-masing.

"hatcih!" Bella membersihkan cairan bening yang ikut keluar seiring dengan bersin yang disemburkan.

"tuh kan, kamu harus jaga kesehatan, Bell" ucap Tia sambil memberikan secangkir teh hangat untuk Bella.

Tia adalah sepupu Bella, untuk sementara waktu Tia diberikan tanggung jawab oleh orang tua Bella, untuk menjaganya, selama mereka tugas di luar Kota.

Bella hanya tersenyum tipis, dan menggeleng pelan.

"aku gak apa-apa ko ka, aku ke kamar dulu ya"

Bella akhirnya menuju ke kamar, setelah melepas semua beban pikirannya. Masih tersimpan sejuta pertanyaan yang terus berkeliling dipikirannya, kemana, dimana, kenapa, dan bagaimana kabar Jason, kekasihnya itu. Bella menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya hampir saja menetes kembali, tak lama kemudian, pintu kamar pun terbuka, melihat Bella sedang menangis, Tia pun duduk disebelahnya, kemudian mengelus punggung Bella.

"bell kamu kenapa sih?"

"aku gak kenapa-kenapa ko ka"

"pasti ada masalah sama Jason ya?"

Bella mengangguk lemas, dan akhirnya menceritakan semuanya. belum selesai bella bercerita, terdengar ketukan pintu.

"maaf non, ada yang mencari non Bella di depan"

"bilang aja mba, aku lagi gak mau digangggu"

"tapi.. non katanya penting"

"yasudah biar aku saja mba yang temuin" sahut Tia.

"baik non"

Terlihat sosok pria bertubuh tegap tinggi mengenakan kaus putih dan celana jeans panjang, ditambah dengan switer hitam, rambut yang tertata rapih membuat penampilannya terlihat gagah dan tampan. siapa dia? teman atau pacarnya Bella yang bernama jason?

"maaf cari Bella ya?"

"iya, Bella nya ada? oh iya saya Ari temannya Bella"

"saya Tia, kakanya Bella, maaf ada apa ya? Bella sedang tidak ingin diganggu"

"tapi ini penting banget, menyangkut Jason pacarnya Bella, bisa tolong panggilkan Bella?"

"hmmm, oke tunggu sebentar ya, saya panggilkan Bella."

"oke terimakasih Tia."
***

"lo harus percaya Bell sama gue, gue kenal gimana Jason, gak mungkin gue salah liat, dan gue pun udah lama kenal dia, gue paham dengan sifat-sifat dia."

"apa-apaan sih lo, dateng dateng cuma buat jelek-jelekin Jason doang, gue gak percaya dengan semua kebohongan lo, gue kira ini penting, sepenting dimana keberadaan jason, tapi ternyata cuma berita palsu kaya gini"

"ini serius Bell gue gak bohong!"

"mana buktinya? baru gue percaya!"

Bella berlalu meninggalkan Ari di ruang tamu.


Bella kembali mengunci diri dikamarnya, ia terus bertanya-tanya dalam dirinya, apakah yang dikatakan Ari memang benar adanya? tapi ia tetap percaya pada Jason, kekasihnya tidak akan setega itu, sekian lama bersama, tak mungkin Jason mengkhianati dirinya, apa yang kurang darinya selama ini? sepertinya semuanya sempurna dan baik-baik saja, hingga terpejamkan mata, Bella tetap memikirkannya.

Seminggu terlah berlalu, Jason masih tetap bersembunyi entah dimana, kali ini Bella hampir menyerah, entah dimana kesalahannya dan apa yang dipersalahkan atas hubungan ini, mungkin memang Radit tak bisa tergantikan oleh siapapun di dunia ini.
Melupakan dan merelakan mungkin lebih baik, dan mungkin akan lebih baik lagi bila cepat-cepat menata hati kembali.

Hari ini Bella hanya ingin berkeliling dan terlepas dari segala masalahnya, mungkin berjalan-jalan keMall bisa membuatnya lebih baik.

"ka temenin aku window shopping yuk?"

"iyaa iya aku temenin,aku siap-siap dulu ya."

"oke, aku tunggu dimobil ya"

"oke"

Mobil mereka melaju, menuju salah satu mall di jakarta, sesampainya disana, Bella merasa lebih tenang, ternyata sudah lama ia tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan dunianya sendiri, seakan-akan waktunya telah tersita dengan semua masalahnya.
Setelah beberapa jam berkeliling Bella dan Tia memilih untuk menikmati secangkir kopi di salah satu kafe, mereka berbincang-bincang, jauh dari topik tentang Jason, sepertinya kali ini Bella benar-benar bisa sejenak lepas dari Jason, rasanya seperti dulu, sebelum mengenal Jason.

***

Lelaki itu tidak asing lagi bagi Bella, rasanya sangat bahagia bisa melihat kembali sosok lelaki itu, tapi.... siapa wanita itu? seketika terasa ada yang mengganjal dipikirannya, dadanya terasa sesak.
Tidak! ini tidak mungkin, ini pasti mimpi, batinnya. tapi ini nyata, entah harus bagaimana, seketika kakinya melangkah membawanya menuju dua orang tersebut.

"lohh Bell, Bell kamu mau kemana?" tanya Tia heran.

Plaakkkkkkkk!!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu.

"Bella??" lelaki itu terkejut.

"jahat ya kamu, selama ini aku cari-cari kamu, tapi kamu sekarang kaya gini? apa salah aku? apa kurangnya aku Jas!!!!"

"maaf, aku udah gak ada perasaan apapun sama kamu!"

"ya kenapa?! kamu kenapa kaya gini?"

"aku kaya gini, karena aku udah bosen! bosen kamu anggap aku seperti mantan kesayangan kamu itu! aku ya aku,gak sama dengan siapapun! selama ini kamu cuma cintai aku karena sosok Raditmu itu kan! dan kamu..."

"cukuuuppppppppppppp!!!!!!!!! jangan pernah kamu ungkit-ungkit Radit lagi!!!!!"

Plaaaakkkkkkkk!!!!

Tamparan itu mendarat untuk yang kedua kalinya di pipi Jason, Bella pun berlari meninggalkan tempat itu, ia berlari tanpa tujuan, yang ia pikirkan hanya, bagaimana ia menjauh dari hadapan lelaki tersebut, ia pun terus teringat kata-kata lelaki itu.
Apakah benar selama ini ia hanya mencintai bayang-bayang Radit semata? apakah selama ini ia sebenarnya masih terperangkap cinta lamanya? ya benar. Bella baru menyadari semuanya.
"Radit, kanapa aku gak bisa mencintai orang lain selain kamu?"
Tia terus menelusuri jalan jalan disekitar mall itu, mencari Bella yang berlari entah kemana, ia khawatir dengan keadaan adik sepupunya itu, apa yang harus ia katakan kepada orang tua Bella jika terjadi sesuatu kepada Bella, hari sudah semakin sore tapi ia belum menemukan sosok Bella.
Setelah sekian lama mencari-cari akhirnya Tia menemukan sosok Bella di pinggir jalan. Saat Tia menghampiri Bella ia melihat sebuah mobil melaju kencang tepat dibelakang Bella. Tia panik seketika.

"Bell awassssssssssss!!!!!!!!!!!!!!!!!"

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!"

Terasa dentuman keras dan ia merasakan sakit pada tubuhnya dan nyeri yang amat hebat. ia lalu kehilangan kesadarannya.

***

Tempat itu berwarna putih, putih semuanya. disini ia mengenakan gaun berwarna putih yang sangat indah, ia juga tak mengerti tempat apa ini, dan dimana, lalu terlihat sosok lelaki yang tak asing lagi, ya lelaki itu Radit, benar-benar Radit, dengan pakaian serba putih, tapi kenapa wajah Radit pucat dan tampak tidak manusiawi. tempat apa ini, batin Bella.

"Bella, kamu belum waktunya untuk disini"

"maksud kamu?"

"kamu belum waktunya satu alam dengan aku sayang"

"kenapa? aku mau sama-sama kamu disini dit"

"belum waktunya Bell, kamu harus tetap berjuang"

"tapi, aku sayang kamu dit"

"kamu kamu sayang aku, kamu harus berjuang untuk tinggalin tempat ini, aku juga sayang kamu, dan tolong lupakan aku sejenak Bell supaya aku bisa melangkah ke alam selanjutnya, aku mohon."

"maksud kamu apa sih dit, aku engga ngerti"

"suatu saat kamu akan mengerti Bell, dan aku mohon kamu harus tetap berjuang"

Kini sosok Radit semakin menghilang bersama kabut-kabut putih itu.

"dittt tunggu.... tungguu dit....."

Aku gak boleh mati, aku belum boleh disini, aku harus berjuang demi Radit, demi cintaku pada Radit. Radit aku janji akan terus berjuang apapun yang terjadi.


***

"dok bagaimana keadaan adik saya?"

"syukurlah dia bisa melewati masa-masa kritisnya, tapi ada satu hal yang sangat saya sayangkan, kemungkinan besar dia akan mengalami kebutaan, karena salah satu syaraf dan kornea matanya mengalami kerusakan yang fatal"

"yaTuhan, bagaimana dok, apakah bisa kembali normal kembali?"

"bisa saja, jika ada pendonor yang bisa mendonorkan kornea matanya"

Yaampun, apa yang harus aku katakan pada Bella, jika saja Bella tau keadaannya yang sekarang, ia pasti tertekan.

"Ti, gimana kondisi Bella?" suara Ari membuyarkan lamunannya.

"Ri, Bella kemungkinan besar buta, karena kornea matanya mengalami kerusakan yang fatal, aku harus bagaimana, kemana harus aku cari donor mata untuk Bella"

"biar gue yang cari, lo tolong jagain Bella ya?"

"oke, makasih banyak ya Ri"

"iya secepatnya gue usahain, yaudah gue cabut dulu ya, jagain Bella ya"

"oke"

"bye"

***


"dok, saya mohon, saya mau mendonorkan mata saya untuk Bella, toh umur saya udah tidak lama lagi, saya mohon dok"

"tapi ini beresiko, pendonoran mata itu harusnya hanya bisa dilakukan pada orang yang sudah meninggal, jika dilakukan pada orang yang masih hidup akan beresiko tinggi, bisa menyebabkan kematian ataupun kebutaan permanen"

"apapun resikonya saya tanggung, asalkan Bella bisa melihat lagi dok"

"baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan anda, silahkan anda tanda tanggan disurat perjanjian ini, dan operasi akan dilakukan besok"

"baik dok, terimakasih."


Niat Ari sudah bulat, ia sadar sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa mendapatkan cintanya itu, karena Bella masih sangat mencintai Radit, dan mungkin hidupnya tinggal sebentar lagi, jadi lebih baik kedua mata ini hidup bersama Bella, agar ia masih bisa melihat senyum manis gadis tercintanya dari tempat abadinya nanti.

Tuuutttt....tttuuuutttttttt....

"hallo?"

"hai ti, ini gue Ari, gue udah dapet pendonor buat Bella nih, dan gue udah atur semuanya, jadi besok Bella bisa langsung dioperasi."

"hah? yaampun syukurlah, makasih banyak Ri, pendonornya itu siapa? baik banget, gue boleh ketemu dia?"

"iya sama-sama, nanti juga kalian tau, yang penting Bella udah dapet pendonor kan hehhehe"

"iyaiyaa, eh iya besok lo kesinin kan? nungguin operasi Bella?"

"aduuhh kayanya gue gak bisa kesana deh ti, soalnya nanti malem gue ke luar kota ada urusan penting, maaf ya?"

"yaah sayang banget lo gak bisa kesini, iya gak apa-apa ko"

"yaudah salam ya buat Bella, semoga cepet sembuh"

"okedeh ri"

"bye"


Dalam ruangan ini, mungkin terakhir kali kita bertemu Bell, karena setelah ini kamu yang akan melanjutkan hidupku, semoga kamu bahagia dan tetaplah tersenyum untukku Bell.

"Dok, sebentar saya titip surat ini untuk Bella, setelah dia siuman tolong berikan suratnya"

"baik, cinta anda kepada dia sangat besar, saya salut"

"terimakasih dok, saya sudah siap"


Setelah 6 jam diruang operasi akhirnya Bella dipindahkan ke ruang inap kembali operasi pun berjalan dengan lancar. Tia merasa lega karena kondisi Bella semakin membaik, Bella yang sempat terpukul karena kondisinya yang dinyatakan buta merasa amat bersyukur bisa mendapatkan donor mata secepat ini.

"ko Ari gak bisa dihubungin sih" gerutu Tia
"coba sms aja deh"

Merasa aneh dengan tingkah laku Ari belakangan ini, seperinya ada yang disembunyikan, dan seperti selalu menghindar, ada apa ya sebenarnya.

"permisi, ada surat untuk saudari Bella" kini lamunan Tia buyar oleh suara itu

"oh iya dok, terimakasih, ini dari siapa ya?"

"itu dari pendonor mata untuk saudari Bella, mohon di berikan kepada saudari Bella ketika keadaannya sudah pulih"

"oh gitu, baik dok akan saya sampaikan"

seminggu kemudian....

Kondisi Bella sudah seperti semula, kini ia lebih menghargai hidupnya, dan sudah melupakan apa yang terjadi sebelumnya, lebih tepatnya ia telah melupakan Jason. meski terkadang merasa sedih dan kehilangan, Bella lebih sering berdiam diri ditaman belakang, menikmati indahnya dunia dari matanya, meski ia tau mata itu bukan lah mata miliknya yang dulu.

"Bell"

"iya ka, ada apa?"

"ada yang mau aku sampaikan"

"apa sih, bikin aku penasaran aja deh?"

"hmmm gimana hubungan kamu dengan Ari?"

"Ari? ko Ari sih? aku juga gak tau ka, aku udh lost contact semenjak dia datang kerumah malam itu, emangnya kenapa?"

"jadi gini, sewaktu kamu di rumah sakit, dia jengukin kamu, dan sempat titip surat ini buat kamu."

"surat?"

"iya, ini suratnya, tapi maaf baru aku kasih sekarang, aku takut kamu semakin terpukul."

"maksud kamu apa ka?"

"kamu baca surat itu, dan kamu pasti tau yang sebenarnya Bell"

Perlahan Bella membuka amplop dan membaca surat di dalamnya.



Bell,
mungkin setelah kamu baca surat ini, aku udah pergi.
maafin aku Bell, karena selama ini aku hanya menjadi
seorang pecundang, perkenalan kita yang begitu unik
membuat aku merasakan hal yang tak bisa aku ungkapkan
selama ini, sosokmu yang ceria seolah-olah meruntuhkan
pertahananku, aku tau kamu milik sahabatku, tapi apa salah
aku mencintaimu Bell? aku cuma ingin yang terbaik untukmu
dengan sisa usiaku yang tak lama lagi, aku ingin menjadi
berarti dihidupmu, aku sadar aku gak akan dapatkan cintamu
karena seluruh cintamu hanya untuk Radit, tapi aku harap
dengan adanya kedua bola mataku, hidupmu jadi lebih indah
dan berarti, teruslah berjuang dan lanjutkan hidupku Bell.
semoga dengan pengorbananku, aku bisa menjadi Radit Radit
yang lain dihatimu...
i love you Bella...

Pengagum mu,
Ari.


Air mata Bella tak terbendung lagi, sejuta tanya berdesakan didalam pikirannya, entah apa maksud surat ini, dan kedua bola mata ini? oh Tuhan....

"Maksudnya apa ka? mata ini? Ari? jelasin ke aku ka!!!"

"Ari pendonor itu Bell, dia selama ini mengidap kanker darah, dan usianya tidak lama lagi, karena itu dia memutuskan untuk mendonorkan matanya untukmu, sebelumnya aku gak tau pendonor itu dia, dia cuma bilang kalo udah menemukan pendonor itu, dan saat aku minta untuk datang pada saat kamu dioperasi, dia bilang dia ada urusan diluar kota akhirnya dia gak bisa datang, sejak saat itu dia gak ada kabar, dan pada saat dokter kasih surat ini, aku baca dan aku tanya ke dokter, kenapa dia ngelakuin ini, dan disitulah akhirnya aku tau semua ini Bell"

"aku mau ketemu dia ka...."


***

Sesampainya di pemakaman, udara dingin menyambutnya, rasanya tak percaya dengan semua takdir yang ia alami, Bella dengan tangis dipipinya, menabur bunga diatas makam Ari. seketika ia ingat kata-kata ayahnya, bahwa dibawah sana bukan Radit ataupun Ari, disana hanyalah jasad yang tak bernyawa, Radit dan Ari sebenarnya ada disini, dihatinya. dengan cepat ia menghapus air mata itu, ia tak ingin Ari kecewa melihatnya menangis, ia berjanji akan selalu tersenyum untuknya. Karena esok ia akan terus berjuang untuk mereka yang ada dihatinya.....


Jakarta,31 Juli 2015

Dear diary,

kenapa arti hadirnya seseorang akan terasa saat seseorang itu telah pergi? kenapa tidak kita coba untuk mengartikannya lebih awal? sebelum dia pergi? takdir memang begini adanya, penyesalan selalu menjadi akhir cerita, dan aku merasakannya untuk yang kedua kalinya. Kehilangan seseorang yang mencintaiku dengan tulus, yang rela berkorban untukku, dan aku selalu menyia-nyiakannya. Maafkan aku Ri... aku mencintaimu, lebih dari aku mencintai Raditku, karena kamu berbeda dan aku belum sempat memilikimu...
Love you,


Karena waktu terus berputar, Aku pun tak ingin kalah dengan keadaan, aku tetap berjuang meneruskan kehidupan, karena aku percaya kalian selalu ada disini, dihatiku selama-lamanya...

bersambung....


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar