Rabu, 19 Maret 2014

damn

Sosoknya yang memiliki perawakan tinggi besar selalu terlihat gagah. Kulitnya kecoklatan, dengan sepasang mata indah dan alis yang tebal. Hidungnya yang mancung dan rambutnya yang bermodel agak spiky menambah pesona dirinya. Senyumnya yang dihiasi oleh deretan gigi putihnya yang rapi mampu melelehkan hati setiap wanita yang melihatnya.

            Siswa mana di sekolah ini yang tak kenal Mario Pratama ? Siswa kelas XII IPA 4 yang terkenal akan ketampanannya, juga keahliannya di dalam bidang akademis dan non-akademis. Tak hanya menjadi kapten tim basket di sekolah, ia juga berhasil membawa nama sekolah ini di Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi. Ia juga orang yang pandai bergaul. Tak heran jika banyak orang yang ingin jadi temannya.

Jumlah teman dekat Mario sebanding dengan jumlah wanita-wanita cantik di sekolah yang siap bersaing untuk mencuri hati sang arjuna. Mulai dari Ami, seorang kutu buku yang jadi langganan korban bullying di sekolah. Hingga Stella, ketua ekskul Modern Dance yang menyandang predikat sebagai “Cewek Cantik Terpopuler” di sekolah.

Bagaimana dengan aku ? Apakah aku tertarik untuk merebut hati Mario, sama halnya dengan anak-anak perempuan di sekolahku ? Oh… Hidupku terlalu berharga untuk diisi dengan hal bodoh seperti itu. Hukum alam menyatakan bahwa, seranggalah yang harusnya mendekati bunga. Bukan sebaliknya.

****

Siang itu aku tengah berjalan sendirian di koridor sekolah sambil membawa sebuah map berisi kertas-kertas tugas milikku.

Dari jauh kulihat sosok Mario dan Stella sedang jalan berdua, berlawanan arah denganku. Dengan manja, Stella menggandeng tangan Mario. Namun… Stella justru menguncinya ! Tak rela melepaskan tangan Mario dari gandengannya. Terlihat ekspresi wajah Mario yang mulai tak nyaman dengan tingkah laku Stella yang kekanakan seperti itu.

Sebentar lagi aku akan berpapasan dengan mereka. Aku lebih memilih untuk membuang muka, daripada menonton adegan yang memuakkan tersebut. Toh, Mario pun tak akan mengenalku kan ?

“ Hai Arina “ ucap Mario begitu ia berpapasan denganku.

Aku kaget. Lalu segera mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk. Kutatap wajah Mario dan… ada segaris senyum menawan di bibirnya. Seketika saat itu juga aku jadi salah tingkah. Aku mencoba membalas sapaan Mario dengan sebuah senyuman. Namun karena aku terlalu gugup, yang kutampakkan malah sebuah senyum mengerikan yang membuat Mario tertawa kecil. Tunggu… Darimana ia tahu namaku ?

Aku membalikkan badanku untuk melihat sosok Mario dan Stella yang sudah berlalu. Kuharap saat itu Mario ikut membalikkan badannya dan tersenyum lagi padaku. Namun ternyata yang berbalik badan adalah wanita di sampingnya. Yang kemudian melemparkan tatapan tajam ke arah ku. Tatapan kebencian.

Aku menghela nafas. Stella. Gadis yang selalu mendapatkan segala hal yang ia inginkan.

****

Aku dan Ilana duduk berdua di taman sekolah yang berada dekat dengan lapangan parkir. Ilana tengah menunggu kekasihnya yang sore ini telah berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah, sambil menemaniku menunggu supir yang biasa menjemputku.

“ Nggak biasanya Pak Nunu lama jemput kaya gini… “ keluhku.

“ Sabar Rin. Pasti bentar lagi dia dateng kok “ hibur Ilana.

Empat puluh lima menit lamanya aku dan Ilana menunggu kedatangan Pak Nunu, tapi beliau belum muncul juga. Kedatangan Pak Nunu pun disusul oleh kedatangan kekasih Ilana.

“ Rin, Rico udah jemput nih… Gimana dong ? “ tanya Ilana yang merasa tak enak meninggalkanku sendirian.

“ Iya nggak apa-apa kok, Rin. Udah kamu sana pulang, udah sore. Pasti bentar lagi Pak Nunu dateng. Kalau nggak pun, aku bisa pulang naik taksi “ jawabku yang mencoba untuk meyakinkan Ilana.

“ Beneran nggak apa-apa ? “ tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.

“ Yaudah kalo gitu… Aku pulang duluan ya, Rin. Kamu hati-hati nunggu sendiran. Dadaaah “ ucapnya sambil melambaikan tangan.

“ Daaah “ balasku.

Ilana pun pergi menghampiri kekasihnya yang sedang menunggu di tempat parkir. Beberapa menit kemudian ia dan kekasihnya pulang.

Tak lama setelah Ilana dan kekasihnya pergi, ponselku bergetar tanda sms masuk. Kubuka ponselku dan ternyata ada sms dari Pak Nunu yang menyatakan bahwa hari ini ia tak bisa menjemputku karena anaknya sedang sakit. Oke, tak apa. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.

Begitu aku berdiri dari bangku taman dan baru saja membalikkan badan, sesosok pria tinggi berjaket hitam yang mengenakan helm full face berdiri di hadapanku. Aku kaget dan hampir berteriak. Namun pria itu segera melepas helmnya.

“ Hei Rin ! Udah mau pulang ? “ tanya Mario. Aku menghela nafas lega karena ternyata pria itu adalah Mario.

“ Mmm… Iya kak “ jawabku tanpa bertele-tele.

“ Bareng aku, yuk ? “ ajak Mario.

Mario Pratama ? Pria paling populer di sekolah mengenalku dan mengajakku pulang bersamanya ? Oh Tuhan… Mungkin aku tengah bermimpi sekarang. Aku hanya seorang anggota ekskul KIR yang tak secantik dan sepopuler Stella. Namun mengapa Mario…

Tolong jatuhkan apapun dari langit tepat di atas kepalaku ini, Tuhan. Agar aku bisa yakin bahwa ini bukanlah mimpi. Kalaupun ini hanya mimpi, aku bisa segera bangun agar mimpi indah ini tak berkepanjangan yang justru akan menyakitkan hatiku.

“ Hey ! Malah ngelamun… Ayo pulang bareng aku “ paksa Mario yang kemudian menarik tanganku. Salah tingkah aku dibuatnya.

“ Ng… Eh… Itu pacar kakak gimana ? “ tanyaku yang merasa tak enak pada Stella, mengingat kejadian tadi siang.

“ Pacar yang mana ? “ tanya Mario bingung.

“ Yang tadi siang “

“ Aduh… Si manja itu bukan pacar aku, Rin ! Ayo ah pulang. Nggak baik anak cewek pulang sore sendirian “ paksa Mario sambil terus menarik tanganku.

Akhirnya aku pun pasrah terhadap paksaan Mario. Oke, terima saja kalau Mario benar-benar ingin pulang bersamaku. Ternyata hukum alam yang menyatakan bahwa seranggalah yang mengejar bunga itu berlaku…

****

Aku dan Mario terlibat dalam sebuah percakapan panjang selama perjalanan pulang tadi. Ternyata Mario mengenalku karena ternyata, aku cukup terkenal – katanya. Aku memang sangat aktif dalam ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja. Aku bersama teman-temanku di KIR sering menjuarai beberapa lomba yang berhubungan dengan Sains. Tetapi bukan olimpiade seperti Mario. Menariknya, aku baru sadar bahwa ternyata aku dan Mario tertarik dalam bidang yang sama. Yah… Aku berharap kami bisa menjalin sebuah hubungan dekat karena kesamaan ini.

****

“ Yang roketnya meluncur paling tinggi, yang ditraktir es krim ya ? “ ujar Mario pada suatu siang di halaman belakang sekolah. Kami tengah melakukan sebuah eksperimen peluncuran roket air pada saat itu.

Semenjak Mario mengajakku pulang bersamanya beberapa hari yang lalu, hubungan kami memang makin dekat. Ditambah lagi, kini ia bergabung dengan ekskul KIR. Kami makin sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku pun… Merasa nyaman bila berada di dekatnya.

“ Siap ya… “ ucap Mario.

Aku bersiap menekan pompa sepeda yang akan memacu roket airku untuk meluncur.

“ Satu… Dua… Tiga ! “

Kami berdua menekan pompa sepeda masing-masing. Roket yang kami buat pun sama-sama meluncur. Namun sayang… Luncuran roket Mario tak setinggi luncuran roketku. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum puas.

“ Oke oke deh… Ayooo aku traktir es krim coklat ya “ ucap Mario yang sudah mengaku kalah terlebih dahulu. Aku pun tertawa.

Bersamanya aku pergi ke kantin sekolah yang menjual es krim. Tak segan kami mendatangi tempat yang ramai akan pengunjung itu sambil masih mengenakan jas laboratorium.

Mario duduk berdua bersamaku di bangku kantin sambil melahap es krim. Mulutku belepotan oleh noda es krim.

“ Aduh kamu kaya bocah aja… “ kata Mario sambil meraih sebuah kertas tissue dan mengelapkannya ke bibirku.

Aku pun jadi salah tingkah diperlakukan semanis itu oleh Mario. Setahuku, belum pernah ada perempuan yang diperlakukan seistimewa ini oleh Mario. Karena aku baru saja mendengar kabar angin bahwa Mario belum pernah berpacaran. Dan dugaanku kemarin-kemarin bahwa Stella adalah kekasih Mario ternyata salah.

“ Makasih kak “ ucapku sambil tersipu malu. Kalau sudah malu begini, pasti telinga dan wajahku memerah seperti sekarang.

“ Sama-sama adik manis… “ balasnya sambil mencubit pipiku.

Oh cukup Mario ! Kau telah membuatku sadar bahwa sekarang aku mulai menyukaimu. Menggilaimu layaknya sebagian besar kaum hawa yang selalu berusaha mencuri hatimu. Dan sekarang sebagian besar gadis-gadis manis di sekolah ini tengah bersiap untuk memusuhiku karena adegan “manis” tadi ternyata tertonton oleh mereka. Termasuk sang bintang sekolah, Stella.

****

Sepanjang waktu makan siangku dengan calon ibu tiriku di restoran kuhabiskan dengan melamun. Pikiranku tak bisa lepas dari sosok pria sempurna itu. Semenjak kedekatanku dengannya, aku merasa jadi perempuan paling beruntung di sekolah. Banyak perempuan yang dekat dengan Mario, tapi tak ada yang diperlakukan seistimewa aku.

“ Rina kenapa senyum-senyum sendiri begitu ? “ tanya mommy – panggilan untuk calon ibu tiriku.

“ Ehehehe nggak apa-apa mom, cuma… Ehehehehe Rina nggak apa-apa kok “ jawabku sambil tersipu malu.

Aku memang sangat akur dengan calon ibu tiriku. Mungkin karena sejak batita aku sudah tak punya ibu, jadi aku sangat menginginkan ada sosok ibu dalam hidupku. Untungnya calon ibu tiriku ini sangat baik. Tak seperti yang ada di film-film, yang suka sekali menyiksa anak dari suaminya. Mommy lain, ia sangat baik dan perhatian sekali padaku. Ia sudah menyayangiku layaknya anaknya sendiri.

“ Hmm… Rina lagi jatuh cinta ya ? “ tebak mommy.

Mendengar tebakan mommy, aku salah tingkah. Bingung harus menjawab apa. Haruskah aku berbohong ? Tapi aku selalu terbuka pada mommy. Namun jika aku jujur, aku terlalu malu untuk menceritakannya.

“ Hehehe iya… “ jawabku malu-malu. Mommy tersenyum padaku. “ Tapi jangan bilangin ayah, mom. Please… “ aku memohon pada mommy agar tak menceritakan hal ini pada ayah. Karena aku tahu bahwa ayah belum mengizinkanku untuk berpacaran.

“ Iya iya… Emang Arina lagi suka sama siapa sih ? “ tanya mommy penasaran.

“ Ada mom… Kakak kelasnya Arina “ jawabku yang masih malu-malu.

“ Oh iya ? Duh ngingetin mommy jaman masih SMA tuh. Orangnya gimana ? “ tanyanya lagi.

“ Dia baik, mom. Pinter lagi, jago basket, ganteng juga. Kemaren-kemaren dia sempet anterin Rina ke rumah. Pokoknya Rina nyaman banget kalo deket sama dia. Dia juga care banget sama Rina “ aku menggambarkan sosok Mario pada mommy.

“ Wow… Siapa namanya ? “.

Namun belum sempat aku menyebut nama “Mario”, ponsel mommy berdering. Ada panggilan masuk dari ayahku. Ayah meminta mommy agar segera mengantarku pulang ke rumah.

“ Oke… Lain kali kita lanjut ceritanya ya, sayang. Kita mesti pulang “  kata mommy.

Aku menyayangkan mommy belum tahu nama pria yang kusukai itu. Tapi tak apalah… Masih banyak waktuku untuk bercerita tentang Mario dengan mommy.

****

Dugaanku bahwa sebagian besar gadis-gadis di sekolah akan memusuhiku ternyata benar. Tak hentinya aku menerima tatapan tajam dari setiap gadis yang kutemui di koridor sekolah. Ada pula yang saling berbisik satu sama lain sambil menyebut namaku. Aku mendadak populer di sekolah karena hal ini.

Namun Stella tak kunjung muncul di hadapanku. Kukira ia akan menghabisiku karena kedekatanku dengan pujaan hatinya. Ternyata ia telah mengalah duluan dan mengakui bahwa Mario lebih tertarik denganku dibandingkan dengannya.

“ Mendadak artis kamu, Rin “ ucap Ilana sambil menyantap semangkuk bakso bersamaku di kantin.

“ Ih nggak ah… Biasa aja “ balasku merendah. Tapi apa yang Ilana katakan tadi memang benar. Kini aku sepopuler Mario dan Stella.

“ Ih asli eksis tau ! Semenjak kamu deket sama Kak Mario… Hmm kayanya bentar lagi sahabatku ini bakalan punya pacar nih “ goda Ilana.

“ Lanaaaa apaan sih ? Nggak ih nggak… “ aku mencoba menangkis godaan Ilana, walaupun sebenarnya aku sangat mengamini.

“ Hahahaha salah tingkah dia… Kamu juga suka kan sama Kak Mario ? “ tanya Ilana.

Wajah dan telingaku memerah lagi. Kurasa dengan melihat reaksi tubuhku yang seperti ini, Ilana sudah tau jawabannya tanpa aku harus berkata-kata.

“ Oke deeeh… Kalo udah jadian nanti, traktir aku ya “ goda sahabatku lagi. Aku tersenyum malu dan mengangguk.

“ Seyakin apa kamu bisa jadian sama Mario ? “ tanya Stella yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku sambil melipat kedua tangannya dibawah dada, bersama segerombolan teman-temannya yang suka menggencet adik kelas.

“ Apa sih kamu, La ? Ikut-ikutan aja ! “ Ilana kesal terhadap Stella mulai bikin ulah.

“ Kamu diem deh ! “ bentar Stella pada Ilana.

Ilana hendak memukulnya, namun aku segera memegang tangannya. Menahannya agar ia tak melampiaskan emosinya secara kasar pada Stella yang malah akan memperpanjang masalah.

“ Aku sih nggak berniat untuk gencet kamu atau sakitin kamu ke sini, Rin “ ucap Stella.

“ Cuma mau ngingetin… “ Stella mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai membisikkan sesuatu. “ Jangan terlalu PD, cewek cupu “, ucapnya.

Terbakar rasanya telingaku mendengar ucapan Stella. Emosiku meluap. Ingin rasanya aku mengguyur teman sekelasku itu dengan es jeruk yang bekas kuminum tadi. Namun aku segera sadar bahwa hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Kutarik lengan Ilana, lalu segera membawanya pergi dari kantin saat itu juga.

Jangan sampai nanti kau menangis darah karena mendengar berita bahwa aku telah jadi kekasih Mario, Stella. Ancamku dalam hati.

****

“ Arinaaaa !!! “ panggil seseorang dari belakangku. Aku yang sedang berjalan sendirian menuju tempat parkir sekolah, berhenti melangkah dan membalikkan badan. Mario.

“ Udah dijemput ? “ tanya Mario.

“ Iya udah, kak. Ada apa ? “ aku berbalik tanya. Mario menggaruk-garuk kepalanya pertanda bingung. Namun ia segera angkat bicara.

“ Mmm… Kamu mau nggak besok malem dinner sama aku ? “ ajak Mario.

Apa ? Dinner ? Dengan Mario ? Berikan aku alasan logis mengapa aku harus menolak kesempatan emas seperti ini.

“ Hmm gimana ya… Dalam rangka apa dulu nih ? “ tanyaku yang pura-pura jual mahal pada Mario.

“ Aku mau kasih kamu kejutan, Rin “ jawabnya. Kejutan ? Apa jangan-jangan… Mario mau…

“ Dinnernya dimana kak ? “

“ Di Deutch Cafe. Tau kan ? “

“ Iya tau, kak. Jam berapa ? “

“ Jam tujuh malem. Aku tunggu kamu di sana ya… Ada kejutan yang mau aku kasih buat kamu “.

Mario berhasil membuat perasaanku campur aduk pada saat itu. Antara senang, cemas, salah tingkah, penasaran, pokoknya semuanya bercampur jadi satu. Tak sabar rasanya menantikan esok malam. Karena aku yakin, besok akan jadi hari yang bersejarah bagiku. Bagi kami berdua.

“ Aku tunggu ya adik manis “ ucapnya sambil mencubit pipiku.

****

Keesokkan harinya, di waktu sore.

Ilana berkunjung ke rumahku demi membantuku memilihkan pakaian untuk malam ini. Mommy tidak bisa membantu karena kebetulan hari ini ia sedang menemani ayah mengunjungi pesta pernikahan kliennya.

Butuh waktu berjam-jam bagiku dan Ilana untuk memilih pakaian yang pas. Setelah ada satu pakaian yang cocok aku pakai pada saat itu, Ilana segera mendandaniku. Bagaikan seorang penata rias handal, Ilana berhasil menyulapku dari seekor itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik.

“ How beautiful you are… “ puji Ilana sambil memperhatikan sosok diriku yang tak seperti biasanya di kaca.

Aku tertegun melihat diriku sendiri dengan pakaian indah dan polesan make up di wajahku. Aku benar-benar terlihat menawan pada saat itu, tak kalah dengan Stella. Mungkinkan malah ini Mario akan terpesona melihatku ?

“ Good luck… My best friend… “ ucap Ilana sambil memelukku. Aku memberikan pelukan terhangatku untuk sahabatku yang satu ini.

“ Aku janji… Kalo malem ini aku jadian sama Kak Mario, besok kamu aku traktir di kantin sepuasnya “ ucapku.

“ Beneran ya, Rin ? “

“ Iya “

Setelah memberikan beberapa kata penyemangat, Ilana mengantarku ke depan rumah untuk segera pergi. Pak Nunu sudah siap di depan rumah untuk mengantarku ke Deustch Cafe. Aku melambaikan tanganku pada Ilana, ia pun membalasnya.

God… Wish tonight gonna be my night.

****

Tak sampai sepuluh menit aku menunggu di Deutch Cafe, pria yang kutunggu akhirnya datang. Ia mengenakan setelan casual namun tetap trendy dan tetap menawan di mataku. Tak tampak di wajahnya sedikitpun tanda-tanda ia terpesona padaku. Apa dandananku terlalu sederhana ?

“ Udah lama nunggu, Rin ? “ tanya Mario sambil mengambil tempat duduk berhadapan denganku. Aku tersenyum dan menggeleng.

“ Syukurlah… Oh iya… Mau makan dulu apa kejutan dulu nih ? “ Mario menawarkan pilihan.

Oke, jujur. Aku tak akan mungkin bisa makan dengan nyaman apabila terus dirundung rasa penasaran. Jadi sepertinya, aku harus mengetahui kejutannya terlebih dahulu. Bukankah lebih nyaman apabila aku dan Mario makan berdua dan status kami sudah menjadi sepasang kekasih ?

“ Oke deh adik manis… Tutup matanya ya “ suruh Mario.

Bagaikan seekor anjing kecil yang setia pada majikannya, aku menurut pada suruhan Mario. Kupejamkan mataku rapat-rapat, lalu kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Berharap begitu aku membuka mata nanti, sudah ada setangkai bunga mawar di hadapanku lengkap dengan pernyataan cinta dari Mario. Atau justru kejutan yang lebih romantis.

“ Aku hitung mundur ya… Tiga… Dua… Satu… “

Kuturunkan kedua tanganku dan perlahan aku mulai membuka mata. Aku pun heran terhadap kejutan yang Mario buat.

“ Ayah ? Mommy ? “ kedua orang tuaku berdiri tepat di hadapanku bersama dengan Mario. Apa maksudnya ini ? Mario sudah menyukaiku sejak lama dan justru mendekati orang tuaku terlebih dahulu sebelum aku atau bagaimana ? Aku bingung.

“ Surprise ! “ seru mereka bertiga.

“ Surprise ? “ tanyaku heran.

“ Mario ini anak mommy, sayang… Ternyata kalian akur sekali ya “ ucap mommy.

“ Dan sebentar lagi kalian akan jadi saudara, karena ayah sama dan mommy mau menikah bulan depan “ tambah ayah.

Rasanya bagaikan dibawa terbang tinggi ke angkasa ratusan kilometer, namun pada akhirnya dihempaskan ke tanah dengan keras. Dan hempasannya itu tepat pada wajahku. Wajahku yang sekarang harus menanggung malu terhadap Ilana, Stella, teman-teman satu sekolahku, juga mommy. Aku tak yakin mommy tahu bahwa pria yang kusukai itu ternyata anaknya sendiri, karena aku sama sekali tak menyebut-nyebut namanya.

Dan mengapa mommy tega tak menceritakan dengan detail mengenai kehidupannya ? Mengenai anaknya yang ternyata jadi kakak kelasku di sekolah ? Mengenai anaknya yang ternyata adalah pria tampan paling populer di sekolah ? Yang kemarin-kemarin begitu dekat denganku dan kami berdua dikabarkan akan segera jadi sepasang kekasih ?

Tiba-tiba ucapan Ilana terngiang di telingaku. “Jangan terlalu PD”. Ya, gadis cantik yang otaknya sedikit dungu itu memang ternyata ada benarnya. Kepercayaandiriku terlalu tinggi sehingga kini aku sendiri yang harus merasakan akibatnya. Dan kini mereka bertiga – ayah, mommy, Mario – berhasil membuatku mati kutu.

“ Hehehehe ini kejutannya adik manis… Kamu seneng kan ? Bentar lagi kita sodaraan deh “ ucap Mario sambil merangkulku lalu mencubit pipiku. Adik manis. Oh. Ternyata aku memang benar-benar akan jadi adikmu.

“ Pasti Arina seneng kan ? Sudah, ayo kita makan kalau begitu. Kita rayakan calon keluarga baru ini “ ucap ayah yang begitu antusias.

Aku kembali ke tempat dudukku semula, dengan Mario yang kini duduk di sampingku. Nafsu makanku sudah pudar semenjak mommy berkata, “Mario ini anak mommy”.

Mual aku rasanya apabila mengingat perlakuan-perlakuan manis yang Mario berikan padaku kemarin-kemarin. Ternyata ia sudah mengenalku terlebih dahulu dari mommy, bukan karena keaktifanku dalam ekskul KIR. Ia pun bersikap manis padaku karena aku ini calon adik tirinya. Pantas saja, kata “adik manis” begitu sering terdengar di telingaku. Ingin rasanya kuulang waktu agar aku bisa mencabut kembali perasaanku yang sudah kutanam di hati Mario.

Di saat ayah, mommy, dan Mario sudah mulai menyantap hidangan dinner mereka. Aku masih saja diam karena benar-benar tak bernafsu untuk makan. Tak terbayang rasanya apabila harus tinggal serumah dengan pria di sampingku ini.

“ Arina kenapa diam saja ? Ayo makan “ suruh ayah.

“ Sebenernya dia lagi jatuh cinta tuh mas, sama kakak kelasnya. Siapa namanya Rin ? “ tanya mommy.

Damn.

 

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar