Minggu, 13 April 2014

kata hati

Aku lebih suka berbicara pada embun embun setelah hujan reda, meski hanya perbincangan yang tak berarah. Walau terkadang aku lupa diri, lupa akan rahasiaku, tapi aku tak takut, karna aku tau, embun bisu.
Dalam kebisuannya, kusimpan rangkaian cerita, satu, atau dua rahasia,
Yakin, hanya satu atau dua?
Mungkin satu atau dua hanya perumpamaan, mungkin lebih tepatnya, semua rahasiaku.
Setelah hujan, mungkin aku lebih sering terlihat.
Baru saja keluar dari tempat persembunyian,

Tempat persembunyian?
Memangnya kau kenapa? Kenapa harus bersembunyi?
Apa kau orang jahat?

Oh, tentu saja aku bukan orang semacam itu, aku hanya saja terlampau muak dengan peradabanku ini.

Apa kau membenci dunia? Apa kau membenci Tuhan yang telah menciptakan dunia?

Aduh, tidak tidak, aku bukan membenci dunia ini, aku hanya membenci diriku dan peradabanku.

Lantas apa yang membuat mu membenci dirimu sendiri dan peradabanmu itu?

Hey, sudah jangan banyak bertanya padaku, aku bukan orang yang ramah dan senang bersosialisasi.
Aku membenci diriku yang selalu merasa sendiri, dalam peradabanku, mungkin aku memiliki orang orang yang kenal bahkan dekat dengan aku, tapi mereka bukan seperti yang ku inginkan, mereka tidak sejalan denganku. Mengerti aku saja mereka tak bisa, jangankan mengerti, mendengarkan aku saja tidak. Lalu gunanya apa aku berkomunikasi dengan mereka? Mereka tidak bisu, mereka memiliki akal, mereka berpikir, tidak seperti embun yang bisu. Tapi mereka tidak mendengar lebih baik daripada embun.
Hey, sudah sana kau pergi, kenapa aku bercerita padamu? Kau orang asing. Bahkan kau bukan embun, dasar kau, memang pengungkit rahasia yang pandai.

Ohahaha, tenang saja, aku mungkin bukan embun, aku mungkin bisa berpikir, dan memiliki akal, tapi aku pendengar yang baik bukan? Dan yang terpenting aku adalah bagian darimu.

Apa? Bagian dariku? Maksudmu bagaimana?

Akulah anugrah yang Tuhan ciptakan . Aku ini akal dan pikiranmu sendiri, sudah lama kau tidak mengajak aku berbincang bincang, aku rindu. Dan kau tidak perlu takut, karena tak diciptakan dengan kemampuan membongkar rahasia orang lain hahaha..

Tidak. Sama saja kau asing. Aku lebih suka bercerita pada embun.

Ohya? Lalu bagaimana ketika musim kemarau panjang, tak ada hujan? Apakah embun ada?

Oh, aku tak terpikirkan sampai sejauh itu.

Jangan takut. Ada aku yang selalu ada, ada atau tidak adanya hujan, aku tetap hadir untukmu.

Aku tidak yakin itu. Aku bosan berasionalis denganmu.

Tenanglah, aku memang tercipta dengan sikap yang sangat rasionalis. Tapi kali ini aku sudah dewasa dan sadar, akupun memiliki satu bagian kecil, bahkan kecil sekali, yang dinamakan hati.

Hati? Bukankah otak dan hati sudah tercipta masing masing?

Memang. Tapi otakpun hidup. Dan memiliki hati. Tak berwujud. Dan disebut "kata hati"

Kata hati?

Iya kata hati. Ketika logika dari sistem otak bersatu dengan perasaan dari sistem hati. Maka terciptalah kata hati, dimana mereka hadir saat kau berpikir dan berperasaan dalam porsi yang seimbang.

Jadi? Kita bisa berteman?

Tentu bisa, aku memang diciptakan untuk menemani kau,

Baiklah aku percaya, kau penjaga rahasia yang baik.
Bahkan mungkin lebih baik dari embunku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar