Tiba-tiba saya menjadi haru sebab pertemuan ini telah sampai di ujung waktu. Dasar! Tanpa sadar, saya telah dikadali. Siapa bilang waktu tak dapat menipu. Buktinya, ia baru saja mengibuli saya. Ia datang lebih cepat sementara saya baru akan menikmati perkenalan. Sial. Saya bahkan baru akan memahami sedapnya mempunyai kenalan. Saya bahkan merasa baru akan mengenalkan nama setelah sekian lama saling bersalaman.
Tiba-tiba saya menjadi kesal sendiri. Kenapa saya lupa, pertemuan itu selalu menjanjikan perpisahan. Mengapa saya tak menyediakan payung yang lebih tegap untuk menghindari hujan air mata yang mungkin saja sebentar lagi akan membanjiri hati saya.
Tapi, begitulah. Saya harus memahami diri dan waktu. Sebagai orang besar, saya harus menghargai waktu yang telah dengan bergegas mengingatkan bahwa masa pertemuan saya telah habis. Waktunya berpisah. Waktunya mengakhiri perkenalan. Waktunya beranjak menghadiri pertemuan baru. Bersua dengan orang sama sekali asing, menjalin hubungan, dan bersiap lagi untuk menyelesaikan senyuman. Begitu terus dan seterusnya. Kita tak pernah dibiarkan abadi untuk sebuah perkenalan yang melenakan. Selalu ada masa, selalu disediakan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, dan bila diizinkan, sampai bertemu di lain waktu
Kemudian selesailah.
Saya harus mengucapkan salam. Kau juga. Haruskah kita berpelukan?
Ah, pelukan. Untuk apa kita berpelukan, bila hanya akan menambah keharuan perpisahan. Kau tahu, pelukan itu menyebabkan semakin dekat, sementara kita akan berjauhan. Kau tahu, perpisahan berarti saling menjauh satu sama lain. Saya tak ingin berpelukan –jangan dengarkan saya, karena sesungguhnya saya sangat menginginkan pelukan perpisahan itu-. Saya tak mau merangkulmu jika rangkulan itu dengan berat hati harus saya lepaskan.
Dan semua cerita –kalaupun ada- hendaklah kau simpan, hingga bila suatu hari nanti bertemu lagi, kita dapat mengulang kembali masa-masa berkenalan kita. Tentu saja, dengan situasi saya dan kau yang sudah jauh berbeda. Kita tak lagi menjadi remaja yang selalu kegirangan menghadapi kehidupan. Mungkin kau telah berubah menjadi seseorang yang lebih tua; obsesi membuat kita cepat tua. Satu-dua butir jerawat yang kala itu bersemi indah di wajahmu, mungkin akan berganti keriput yang sudah mulai tampak berbaris di pelipis matamu. Lalu, mata kita sudah saling ditempeli kaca mata. Atau, bila kau masih senang bermata dua, pasti kau menjaga sekali kesehatan matamu. Sedang saya, tentu kau tahu, dari sekarang saya sudah cacat. Mata saya sudah empat. Satu lagi, saya yakin, bila kita bertemu nanti, saya lebih gemuk-padat-berisi. Tak perlu kau heran, anggap saja ini sebagai bentuk balas dendam atas kecekingan saya semasa muda.
Ah, terlalu jauh angan saya rupanya. Bagaimana mungkin saya begitu berani –kalau tidak gila- mendahului rencana Tuhan Maha Agung. Bagaimana mungkin saya berhak menyusun rencana pertemuan saya denganmu suatu waktu nanti. Siapa saya? Tuhan pasti punya rencana yang lebih manis untuk kita. Saya percaya itu.
Saya akhir-akhir ini sering takut. Entah kenapa, saya selalu terjebak pada kemungkinan terburuk. Saya selalu terpuruk pada kemungkinan-kemungkin yang tidak saya harapkan terjadi. Namun, semua itu mesti saya hadapi. Mesti saya siapkan juga hati, perasaan dan batang tubuh saya untuk menerima. Bukankah itu semua merupakan bagian dari rencana Tuhan?
Mungkin, bila nanti, kita tidak bertemu lagi. Sebab kau hilang ingatan, atau merantau ke tempat yang sangat jauh dan dalam waktu yang sangat lama sehingga tidak memungkinkan lagi bagi kita untuk bisa bersua muka. Ingatlah, saya di sini selalu ingat kamu. Walaupun nantinya kita kehilangan nomor telepon, email, skype, atau kau keluar dari jejaring sosial sebab kau terlalu sibuk bekerja dan berkeluarga, saya akan selalu titip pesan kepada Tuhan agar menjagamu, dan supaya kau tak melupakanku. Kau mau kan berjanji untuk –setidaknya- mengingat pertemuan ini, meskipun kau tak mau berangan-angan tentang apa yang akan terjadi di masa depan?
Dan, saya jatuh lagi pada kemungkinan yang maha buruk, kau tidak mau mengingat saya lagi. Apa pasal, tidak jelas. Mungkin ada kejengkelan yang kau sembunyikan selama kita berkenalan yang akhirnya berurat-akar karena selama pertemuan kau tak pernah mencabutnya. Mungkin, ada sesak yang lupa kau luahkan kepada saya saat perpisahan datang. Hingga, ketika saat-saat usai kita merupakan saat yang membahagiakan bagimu. Itu berarti, kau tak lagi bertemu dengan saya, orang yang membuat rasa jengkelmu berurat-akar.
Bila benar begitu, –sial, kenapa saya malah meneruskan kemungkinan maha buruk ini?-. Bila benar begitu, Tuhan berarti telah salah besar mempertemukan kita. Tidak, bukan Tuhan yang salah. Tuhan selalu benar, itu pasal yang harus dipatuhi tanpa komentar. Yang salah itu kita. Kita yang kekanak-kekanakan masa itu. Bukankah perpisahan itu memang datang saat kita remaja-belia? Saat kepentingan diri sendiri selalu benar. Saat darah menang sendiri masih membuncah dengan gelegak yang membakar. Lalu, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?
Tidak ada! Nyaris tidak ada yang bisa kita lakukan. Perpisahan sudah pulang membawa cerita kita yang sudah menjadi kenangan. Tak bisa diminta kembali. Perpisahan bahkan lebih egois daripada masa muda kita. Bahkan tak bisa dibujuk oleh traktiran, seperti yang saling kita lakukan bila kau atau aku merajuk.
Kita hanya bisa belajar. Bila di masa depan kita masih dipercaya untuk bertemu dengan orang lain yang bukan kenalan kita sebelumnya, kita mesti belajar dari kesalahan masa lalu. Kita harus lebih dewasa. Kita harus memanfaatkan sekali pertemuan itu dan tidak menodainya dengan hati yang membengkak. Bila ada yang rasanya kurang enak, kita mungkin bisa membicarakan dan mencarikan solusinya. Saya yakin itu cara yang baik.
Sekarang, ada baiknya kita sudahi saja kenangan ini. Kita simpan ia baik-baik di tempat yang paling kita percaya, yaitu hati kita masing-masing. Kita susun rapih-rapih hingga bila kita saling merindukan, kita tak perlu susah-susah bergundah-gundah. Kita hanya perlu membukanya kembali; lembaran-lembaran kenangan itu. Apa kau setuju? Ah, saya melihatmu mengangguk dengan mantap.
Tiba-tiba saya menjadi begitu sedih. Apa kau juga, Kawan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar