"Aku hanya ingin tertawa, sehingga hati aku mati rasa akan luka"
Kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu
Memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan
Terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja
Seakan-akan sosokmu nyata
Menjelma menjadi pahlawan kesiangan
Yang merusak kebahagiaan
Dalam kenangan
kau seret aku perlahan
Menuju masa yang harusnya aku lupakan
Hingga aku kelelahan
Hingga aku sadar
bahwa aku sedang dipermainkan
Inikah caramu menyakitiku?
zikha room's
Senin, 25 Agustus 2014
Kamis, 21 Agustus 2014
setengah malam.
Andai waktu dapat diputar balikan
Ingin rasanya kembali ke masa terbodohku, setidaknya aku bisa memperbaiki, walau pada nyatanya semuanya hanya angan klise hari hariku.
Sejatinya waktu terus berjalan kedepan, menerjang dan menginjak apa yang ada pada kemarin itu.
Lalu kini aku terus dibuntuti oleh penyesalan terbrengsek ku...
Ingin rasanya kembali ke masa terbodohku, setidaknya aku bisa memperbaiki, walau pada nyatanya semuanya hanya angan klise hari hariku.
Sejatinya waktu terus berjalan kedepan, menerjang dan menginjak apa yang ada pada kemarin itu.
Lalu kini aku terus dibuntuti oleh penyesalan terbrengsek ku...
Selasa, 13 Mei 2014
Membunuh Rasa
Semula, aku tahu kita tak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Ketika cinta terlampau besar untuk kutinggalkan, namun terlampau kecil untuk terlihat di antara tingginya egomu. Entah siapa yang salah, aku ataukah kamu? Atau kita hanya bosan bermain-main di hati yang itu-itu saja?
Jangan paksa aku memutarbalikkan cinta menjadi benci hanya karena sikapmu itu. Kamu tahu, tak selamanya cinta menang melawan luka. Mungkin akan datang saatnya aku meninggalkanmu begitu saja, tanpa mau menengok lagi untuk menjawab semua tanya.
Tak akan bisa bertahan jika kamu terus-menerus memaksakan kehendak dan aku menjadi yang tak mampu berkata tidak. Tak akan bisa sejalan jika melulu kita berbeda pandangan, diakhiri dengan hati yang enggan mengalah. Tak akan bisa sejajar jika yang tinggi tak mau merendah, sedang yang rendah enggan menyocokkan. Entah kita yang tak perlu lebih keras untuk mempertahankan, atau ini hanyalah sebatas ujian.
Sudah puas mengatasnamakan perasaan diantara semua peraturan yang kau paksakan? Kasihan hati, dialah pihak yang paling tersakiti. Setelah temboknya kau buat runtuh, lalu ingin kau buat kekuatannya terbunuh?
Katamu terserah, tapi mencegatku memilih arah. Katamu ini itu bebas, tapi saatku mulai melangkah segala hakku kau rampas. Kamu melenggang tanpa memberiku ruang, hingga tiap bagian dari diriku perlahan hilang. Setiap detik selalu kau tawarkan pilihan, tapi telingamu enggan mendengarku memberikan jawaban. Bolehkah jika kali ini aku yang menyugguhkanmu sebuah pilihan? Pertahankan egomu, atau lepaskan aku?
Bisa kupahami jika kamu ingin merasa sangat dicintai. Namun, apakah kamu lupa aku juga punya hati? Tak bisakah kamu memberi cinta yang sama besarnya? Mengapa hanya kamu yang boleh bilang kecewa, sementara aku yang harus terus berusaha?
Aku lupa rasanya bahagia ketika kamu sulit dibahagiakan. Sebab kunci bahagiaku terlanjur kutitipkan padamu; jika kamu tidak bahagia, bagaimana bisa aku bahagia?
Rupanya mencintamu sebesar ini masihlah belum cukup untuk mempertahankan kita. Lalu aku bisa apa?
Beberapa hal kusimpan dalam diam, hingga kamu bahkan tidak mendengar betapa sakitnya semakin menjalar. Beberapa kesalahan entah memang terampuni atau justru sudah tak mampu kuingat lagi. Beberapa usaha mencapai titik lelahnya, dan membuatku sedikit demi sedikit ingin menyerah. Tanpa kuduga, cinta yang begitu besar pada akhirnya membunuh diriku sendiri.
Yang kuingin kita bisa kembali ke hari lalu, ketika tak ada perselisihan dua ego. Yang kuingin kita saling hentikan keras kepala masing-masing yang membuat kita menjadi asing. Yang kuingin kita yang saling mengisi, bukan saling lupa posisi. Silakan kamu putuskan; perbaiki dan tetap tinggal, atau biarkan saja kita tinggal?
Jangan paksa aku memutarbalikkan cinta menjadi benci hanya karena sikapmu itu. Kamu tahu, tak selamanya cinta menang melawan luka. Mungkin akan datang saatnya aku meninggalkanmu begitu saja, tanpa mau menengok lagi untuk menjawab semua tanya.
Tak akan bisa bertahan jika kamu terus-menerus memaksakan kehendak dan aku menjadi yang tak mampu berkata tidak. Tak akan bisa sejalan jika melulu kita berbeda pandangan, diakhiri dengan hati yang enggan mengalah. Tak akan bisa sejajar jika yang tinggi tak mau merendah, sedang yang rendah enggan menyocokkan. Entah kita yang tak perlu lebih keras untuk mempertahankan, atau ini hanyalah sebatas ujian.
Sudah puas mengatasnamakan perasaan diantara semua peraturan yang kau paksakan? Kasihan hati, dialah pihak yang paling tersakiti. Setelah temboknya kau buat runtuh, lalu ingin kau buat kekuatannya terbunuh?
Katamu terserah, tapi mencegatku memilih arah. Katamu ini itu bebas, tapi saatku mulai melangkah segala hakku kau rampas. Kamu melenggang tanpa memberiku ruang, hingga tiap bagian dari diriku perlahan hilang. Setiap detik selalu kau tawarkan pilihan, tapi telingamu enggan mendengarku memberikan jawaban. Bolehkah jika kali ini aku yang menyugguhkanmu sebuah pilihan? Pertahankan egomu, atau lepaskan aku?
Bisa kupahami jika kamu ingin merasa sangat dicintai. Namun, apakah kamu lupa aku juga punya hati? Tak bisakah kamu memberi cinta yang sama besarnya? Mengapa hanya kamu yang boleh bilang kecewa, sementara aku yang harus terus berusaha?
Aku lupa rasanya bahagia ketika kamu sulit dibahagiakan. Sebab kunci bahagiaku terlanjur kutitipkan padamu; jika kamu tidak bahagia, bagaimana bisa aku bahagia?
Rupanya mencintamu sebesar ini masihlah belum cukup untuk mempertahankan kita. Lalu aku bisa apa?
Beberapa hal kusimpan dalam diam, hingga kamu bahkan tidak mendengar betapa sakitnya semakin menjalar. Beberapa kesalahan entah memang terampuni atau justru sudah tak mampu kuingat lagi. Beberapa usaha mencapai titik lelahnya, dan membuatku sedikit demi sedikit ingin menyerah. Tanpa kuduga, cinta yang begitu besar pada akhirnya membunuh diriku sendiri.
Yang kuingin kita bisa kembali ke hari lalu, ketika tak ada perselisihan dua ego. Yang kuingin kita saling hentikan keras kepala masing-masing yang membuat kita menjadi asing. Yang kuingin kita yang saling mengisi, bukan saling lupa posisi. Silakan kamu putuskan; perbaiki dan tetap tinggal, atau biarkan saja kita tinggal?
Minggu, 13 April 2014
kata hati
Aku lebih suka berbicara pada embun embun setelah hujan reda, meski hanya perbincangan yang tak berarah. Walau terkadang aku lupa diri, lupa akan rahasiaku, tapi aku tak takut, karna aku tau, embun bisu.
Dalam kebisuannya, kusimpan rangkaian cerita, satu, atau dua rahasia,
Yakin, hanya satu atau dua?
Mungkin satu atau dua hanya perumpamaan, mungkin lebih tepatnya, semua rahasiaku.
Setelah hujan, mungkin aku lebih sering terlihat.
Baru saja keluar dari tempat persembunyian,
Tempat persembunyian?
Memangnya kau kenapa? Kenapa harus bersembunyi?
Apa kau orang jahat?
Oh, tentu saja aku bukan orang semacam itu, aku hanya saja terlampau muak dengan peradabanku ini.
Apa kau membenci dunia? Apa kau membenci Tuhan yang telah menciptakan dunia?
Aduh, tidak tidak, aku bukan membenci dunia ini, aku hanya membenci diriku dan peradabanku.
Lantas apa yang membuat mu membenci dirimu sendiri dan peradabanmu itu?
Hey, sudah jangan banyak bertanya padaku, aku bukan orang yang ramah dan senang bersosialisasi.
Aku membenci diriku yang selalu merasa sendiri, dalam peradabanku, mungkin aku memiliki orang orang yang kenal bahkan dekat dengan aku, tapi mereka bukan seperti yang ku inginkan, mereka tidak sejalan denganku. Mengerti aku saja mereka tak bisa, jangankan mengerti, mendengarkan aku saja tidak. Lalu gunanya apa aku berkomunikasi dengan mereka? Mereka tidak bisu, mereka memiliki akal, mereka berpikir, tidak seperti embun yang bisu. Tapi mereka tidak mendengar lebih baik daripada embun.
Hey, sudah sana kau pergi, kenapa aku bercerita padamu? Kau orang asing. Bahkan kau bukan embun, dasar kau, memang pengungkit rahasia yang pandai.
Ohahaha, tenang saja, aku mungkin bukan embun, aku mungkin bisa berpikir, dan memiliki akal, tapi aku pendengar yang baik bukan? Dan yang terpenting aku adalah bagian darimu.
Apa? Bagian dariku? Maksudmu bagaimana?
Akulah anugrah yang Tuhan ciptakan . Aku ini akal dan pikiranmu sendiri, sudah lama kau tidak mengajak aku berbincang bincang, aku rindu. Dan kau tidak perlu takut, karena tak diciptakan dengan kemampuan membongkar rahasia orang lain hahaha..
Tidak. Sama saja kau asing. Aku lebih suka bercerita pada embun.
Ohya? Lalu bagaimana ketika musim kemarau panjang, tak ada hujan? Apakah embun ada?
Oh, aku tak terpikirkan sampai sejauh itu.
Jangan takut. Ada aku yang selalu ada, ada atau tidak adanya hujan, aku tetap hadir untukmu.
Aku tidak yakin itu. Aku bosan berasionalis denganmu.
Tenanglah, aku memang tercipta dengan sikap yang sangat rasionalis. Tapi kali ini aku sudah dewasa dan sadar, akupun memiliki satu bagian kecil, bahkan kecil sekali, yang dinamakan hati.
Hati? Bukankah otak dan hati sudah tercipta masing masing?
Memang. Tapi otakpun hidup. Dan memiliki hati. Tak berwujud. Dan disebut "kata hati"
Kata hati?
Iya kata hati. Ketika logika dari sistem otak bersatu dengan perasaan dari sistem hati. Maka terciptalah kata hati, dimana mereka hadir saat kau berpikir dan berperasaan dalam porsi yang seimbang.
Jadi? Kita bisa berteman?
Tentu bisa, aku memang diciptakan untuk menemani kau,
Baiklah aku percaya, kau penjaga rahasia yang baik.
Bahkan mungkin lebih baik dari embunku.
Dalam kebisuannya, kusimpan rangkaian cerita, satu, atau dua rahasia,
Yakin, hanya satu atau dua?
Mungkin satu atau dua hanya perumpamaan, mungkin lebih tepatnya, semua rahasiaku.
Setelah hujan, mungkin aku lebih sering terlihat.
Baru saja keluar dari tempat persembunyian,
Tempat persembunyian?
Memangnya kau kenapa? Kenapa harus bersembunyi?
Apa kau orang jahat?
Oh, tentu saja aku bukan orang semacam itu, aku hanya saja terlampau muak dengan peradabanku ini.
Apa kau membenci dunia? Apa kau membenci Tuhan yang telah menciptakan dunia?
Aduh, tidak tidak, aku bukan membenci dunia ini, aku hanya membenci diriku dan peradabanku.
Lantas apa yang membuat mu membenci dirimu sendiri dan peradabanmu itu?
Hey, sudah jangan banyak bertanya padaku, aku bukan orang yang ramah dan senang bersosialisasi.
Aku membenci diriku yang selalu merasa sendiri, dalam peradabanku, mungkin aku memiliki orang orang yang kenal bahkan dekat dengan aku, tapi mereka bukan seperti yang ku inginkan, mereka tidak sejalan denganku. Mengerti aku saja mereka tak bisa, jangankan mengerti, mendengarkan aku saja tidak. Lalu gunanya apa aku berkomunikasi dengan mereka? Mereka tidak bisu, mereka memiliki akal, mereka berpikir, tidak seperti embun yang bisu. Tapi mereka tidak mendengar lebih baik daripada embun.
Hey, sudah sana kau pergi, kenapa aku bercerita padamu? Kau orang asing. Bahkan kau bukan embun, dasar kau, memang pengungkit rahasia yang pandai.
Ohahaha, tenang saja, aku mungkin bukan embun, aku mungkin bisa berpikir, dan memiliki akal, tapi aku pendengar yang baik bukan? Dan yang terpenting aku adalah bagian darimu.
Apa? Bagian dariku? Maksudmu bagaimana?
Akulah anugrah yang Tuhan ciptakan . Aku ini akal dan pikiranmu sendiri, sudah lama kau tidak mengajak aku berbincang bincang, aku rindu. Dan kau tidak perlu takut, karena tak diciptakan dengan kemampuan membongkar rahasia orang lain hahaha..
Tidak. Sama saja kau asing. Aku lebih suka bercerita pada embun.
Ohya? Lalu bagaimana ketika musim kemarau panjang, tak ada hujan? Apakah embun ada?
Oh, aku tak terpikirkan sampai sejauh itu.
Jangan takut. Ada aku yang selalu ada, ada atau tidak adanya hujan, aku tetap hadir untukmu.
Aku tidak yakin itu. Aku bosan berasionalis denganmu.
Tenanglah, aku memang tercipta dengan sikap yang sangat rasionalis. Tapi kali ini aku sudah dewasa dan sadar, akupun memiliki satu bagian kecil, bahkan kecil sekali, yang dinamakan hati.
Hati? Bukankah otak dan hati sudah tercipta masing masing?
Memang. Tapi otakpun hidup. Dan memiliki hati. Tak berwujud. Dan disebut "kata hati"
Kata hati?
Iya kata hati. Ketika logika dari sistem otak bersatu dengan perasaan dari sistem hati. Maka terciptalah kata hati, dimana mereka hadir saat kau berpikir dan berperasaan dalam porsi yang seimbang.
Jadi? Kita bisa berteman?
Tentu bisa, aku memang diciptakan untuk menemani kau,
Baiklah aku percaya, kau penjaga rahasia yang baik.
Bahkan mungkin lebih baik dari embunku.
Sabtu, 12 April 2014
Atas nama Hati, maafkan aku.
Aku: Rindu ini untuk siapa?
Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Ah. Mengapa?
Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
Aku: Bodoh?
Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
Aku: Bagaimana bisa?
Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
Aku: Jadi aku harus bagaimana?
Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
Aku: Kau marah?
Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
Aku: Hubungan yang sulit...
Kepala: Aku tahu, aku tahu.
Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
Aku: Kita teman kan?
Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
Aku: Ah.
Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
Aku: Ah.
Kepala: Maafkan aku.
Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.
Aku: Apa?
Kepala: Kerasionalitasanku.
Aku: Itu hal yang buruk?
Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?
Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Ah. Mengapa?
Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
Aku: Bodoh?
Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
Aku: Bagaimana bisa?
Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
Aku: Jadi aku harus bagaimana?
Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
Aku: Kau marah?
Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
Aku: Hubungan yang sulit...
Kepala: Aku tahu, aku tahu.
Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
Aku: Kita teman kan?
Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
Aku: Ah.
Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
Aku: Ah.
Kepala: Maafkan aku.
Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.
Aku: Apa?
Kepala: Kerasionalitasanku.
Aku: Itu hal yang buruk?
Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?
Rabu, 19 Maret 2014
dia!
Perkenalanku denganmu membawaku kepada tahapan kehidupanku yang berakhir dengan perasaan cinta.
Namamu terus terulang di pikiranku dengan perulangan yang berlangsung selamanya.
Besarnya cinta yang tumbuh divalidasikan harus sama dengan tak terhingga
Karena hati ini tak akan dapat menerima bahwa cintaku padamu dapat dihitung dengan angka2 yang rasional
Dengan pergerakan rasa berlintasan lingkaran yang tak tau dimana titik awal dan titik akhirnya dan akan berputar untuk selamanya
Merangkai rusuk - rusuk asa untuk menjadikannya ruang untuk rasa ini.
Ruang dengan sisi terbuka yang siap menantimu masuk kedalamnya dan menutup sisi tersebut.
Perasaan ini tak akan dapat diturunkan seperti bilangan - bilangan yang di difrensialkan.
Tetapi rasa ini seperti seperti bilangan eksponensial dengan bilangan pangkat tak terhingga
Begitu besar rasa ini membuat hukum gravitasi terabaikan
Membuatku tenggelam dalam teduhnya tatapanmu tanpa memperdulikan hukum archimedes.
Cintamu juga dapat membuatku terbang tanpa harus memiliki tekanan pada sayap - sayapku seperti yang dikatakan oleh bernoulli
Dan hanya hukum relativitas waktulah yang berlaku terhadap kita.Dimana aku merasa waktu begitu lambat berjalannya saat tak bersamamu, tetapi waktu berlalu begitu cepat saat aku bersamamu
Dan perasaan cinta ini merupakan unsur yang tidak terdapat dalam tabel periodik, dan tidak akan pernah ditemukan untuk selamanya.
Rasa cinta ini juga bukanlah unsur yang dapat disatukan dengan menyatukan unsur2 yang ada di alam ini.
Rasa ini hanya dapat terbentuk dengan menyatukan kita berdua.
Memukul dengan keras sehingga terasa begitu kuat di dalam hati ini seperti unsur padat
Mengalir melalui celah - celah terkecil yang ada di hati ini sehingga sampai ke kedalaman hati yang paling dalam seperti unsur cair
Dan seperti unsur gas yang selalu memenuhi ruang yang ditempatinya, rasa cinta ini selalu menyesakkan hati ini.
Aku rela kehilangan semua inderaku demi rasa ini.
Cintamu akan menjadi mata untukku
Dengan kemampuan merefleksikan cahaya dan memunculkan hal - hal indah yang bahkan tidak perlu kupandang sudah dapat membahagiakanku
Cintamu juga akan menjadi pengganti hidungku, cintamulah yang akan mengalirkan oksigen kepadaku. Cintamu akan menjadi indera pengecapku, yang memberikan sensasi rasa yang melebihi rasa manis, asin, asam, dan pahit.
Dan aku juga rela jika rasa ini menggantikan telingaku meski aku harus mendengarkan namamu dibisikkan ke otakku setiap saat.Cintamu juga akan menggantikan indera perasaku, memberikan rasa bedebar - debar yang tak terkendali saat engkau menyentuhku. Perasaan yang aku punya untukmu telah melebihi semua ilmu yang ada.
Satu yang kutahu bahwa cinta kita tak akan pernah dapat dijelaskan oleh ilmu apapun. Cinta kita tak perlu dijelaskan oleh pengetahuan. Rasa ini tak logis namun nyata adanya. Karena untuk mendapatkan rasa ini aku tak perlu otak yang berpikir, hanya hati yang berdebar dengan hebatnya tiap aku mendengar suaramu dan melihat parasmu
Namamu terus terulang di pikiranku dengan perulangan yang berlangsung selamanya.
Besarnya cinta yang tumbuh divalidasikan harus sama dengan tak terhingga
Karena hati ini tak akan dapat menerima bahwa cintaku padamu dapat dihitung dengan angka2 yang rasional
Dengan pergerakan rasa berlintasan lingkaran yang tak tau dimana titik awal dan titik akhirnya dan akan berputar untuk selamanya
Merangkai rusuk - rusuk asa untuk menjadikannya ruang untuk rasa ini.
Ruang dengan sisi terbuka yang siap menantimu masuk kedalamnya dan menutup sisi tersebut.
Perasaan ini tak akan dapat diturunkan seperti bilangan - bilangan yang di difrensialkan.
Tetapi rasa ini seperti seperti bilangan eksponensial dengan bilangan pangkat tak terhingga
Begitu besar rasa ini membuat hukum gravitasi terabaikan
Membuatku tenggelam dalam teduhnya tatapanmu tanpa memperdulikan hukum archimedes.
Cintamu juga dapat membuatku terbang tanpa harus memiliki tekanan pada sayap - sayapku seperti yang dikatakan oleh bernoulli
Dan hanya hukum relativitas waktulah yang berlaku terhadap kita.Dimana aku merasa waktu begitu lambat berjalannya saat tak bersamamu, tetapi waktu berlalu begitu cepat saat aku bersamamu
Dan perasaan cinta ini merupakan unsur yang tidak terdapat dalam tabel periodik, dan tidak akan pernah ditemukan untuk selamanya.
Rasa cinta ini juga bukanlah unsur yang dapat disatukan dengan menyatukan unsur2 yang ada di alam ini.
Rasa ini hanya dapat terbentuk dengan menyatukan kita berdua.
Memukul dengan keras sehingga terasa begitu kuat di dalam hati ini seperti unsur padat
Mengalir melalui celah - celah terkecil yang ada di hati ini sehingga sampai ke kedalaman hati yang paling dalam seperti unsur cair
Dan seperti unsur gas yang selalu memenuhi ruang yang ditempatinya, rasa cinta ini selalu menyesakkan hati ini.
Aku rela kehilangan semua inderaku demi rasa ini.
Cintamu akan menjadi mata untukku
Dengan kemampuan merefleksikan cahaya dan memunculkan hal - hal indah yang bahkan tidak perlu kupandang sudah dapat membahagiakanku
Cintamu juga akan menjadi pengganti hidungku, cintamulah yang akan mengalirkan oksigen kepadaku. Cintamu akan menjadi indera pengecapku, yang memberikan sensasi rasa yang melebihi rasa manis, asin, asam, dan pahit.
Dan aku juga rela jika rasa ini menggantikan telingaku meski aku harus mendengarkan namamu dibisikkan ke otakku setiap saat.Cintamu juga akan menggantikan indera perasaku, memberikan rasa bedebar - debar yang tak terkendali saat engkau menyentuhku. Perasaan yang aku punya untukmu telah melebihi semua ilmu yang ada.
Satu yang kutahu bahwa cinta kita tak akan pernah dapat dijelaskan oleh ilmu apapun. Cinta kita tak perlu dijelaskan oleh pengetahuan. Rasa ini tak logis namun nyata adanya. Karena untuk mendapatkan rasa ini aku tak perlu otak yang berpikir, hanya hati yang berdebar dengan hebatnya tiap aku mendengar suaramu dan melihat parasmu
aku mencintaimu, jangan lupa itu
Kau bosan bicara cinta?
Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.
Kenapa?
Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.
Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.
Sudah seberapa jauh kaupergi?
Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?
Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?
Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.
Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit.
Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega.
Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu. Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu.
Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?
Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.
Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.
Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.
Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan.
Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.
Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.
Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku.
Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.
Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.
Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.
Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?
Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?
Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.
Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat.
Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.
Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar.
Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.
Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?
Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan.
Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci.
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya.
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu.
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.
Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.
Kenapa?
Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.
Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.
Sudah seberapa jauh kaupergi?
Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?
Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?
Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.
Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit.
Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega.
Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu. Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu.
Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?
Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.
Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.
Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.
Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan.
Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.
Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.
Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku.
Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.
Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.
Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.
Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?
Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?
Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.
Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat.
Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.
Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar.
Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.
Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?
Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan.
Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci.
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya.
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu.
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.
Langganan:
Postingan (Atom)