Sabtu, 12 April 2014

Atas nama Hati, maafkan aku.

Aku: Rindu ini untuk siapa?

Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.

Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?

Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.

Aku: Ah. Mengapa?

Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.

Aku: Bodoh?

Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.

Aku: Bagaimana bisa?

Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?

Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?

Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!

Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?

Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.

Aku: Atas nama hati, maafkan aku.

Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!

Aku: Jadi aku harus bagaimana?

Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.

Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?

Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...

Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?

Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.

Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?

Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!

Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!

Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.

Aku: Kau marah?

Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.

Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?

Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...

Aku: Hubungan yang sulit...

Kepala: Aku tahu, aku tahu.

Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.

Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.

Aku: Kita teman kan?

Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.

Aku: Ah.

Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.

Aku: Ah.

Kepala: Maafkan aku.

Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.

Aku: Apa?

Kepala: Kerasionalitasanku.

Aku: Itu hal yang buruk?

Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar