Perkenalanku denganmu membawaku kepada tahapan kehidupanku yang berakhir dengan perasaan cinta.
Namamu terus terulang di pikiranku dengan perulangan yang berlangsung selamanya.
Besarnya cinta yang tumbuh divalidasikan harus sama dengan tak terhingga
Karena hati ini tak akan dapat menerima bahwa cintaku padamu dapat dihitung dengan angka2 yang rasional
Dengan pergerakan rasa berlintasan lingkaran yang tak tau dimana titik awal dan titik akhirnya dan akan berputar untuk selamanya
Merangkai rusuk - rusuk asa untuk menjadikannya ruang untuk rasa ini.
Ruang dengan sisi terbuka yang siap menantimu masuk kedalamnya dan menutup sisi tersebut.
Perasaan ini tak akan dapat diturunkan seperti bilangan - bilangan yang di difrensialkan.
Tetapi rasa ini seperti seperti bilangan eksponensial dengan bilangan pangkat tak terhingga
Begitu besar rasa ini membuat hukum gravitasi terabaikan
Membuatku tenggelam dalam teduhnya tatapanmu tanpa memperdulikan hukum archimedes.
Cintamu juga dapat membuatku terbang tanpa harus memiliki tekanan pada sayap - sayapku seperti yang dikatakan oleh bernoulli
Dan hanya hukum relativitas waktulah yang berlaku terhadap kita.Dimana aku merasa waktu begitu lambat berjalannya saat tak bersamamu, tetapi waktu berlalu begitu cepat saat aku bersamamu
Dan perasaan cinta ini merupakan unsur yang tidak terdapat dalam tabel periodik, dan tidak akan pernah ditemukan untuk selamanya.
Rasa cinta ini juga bukanlah unsur yang dapat disatukan dengan menyatukan unsur2 yang ada di alam ini.
Rasa ini hanya dapat terbentuk dengan menyatukan kita berdua.
Memukul dengan keras sehingga terasa begitu kuat di dalam hati ini seperti unsur padat
Mengalir melalui celah - celah terkecil yang ada di hati ini sehingga sampai ke kedalaman hati yang paling dalam seperti unsur cair
Dan seperti unsur gas yang selalu memenuhi ruang yang ditempatinya, rasa cinta ini selalu menyesakkan hati ini.
Aku rela kehilangan semua inderaku demi rasa ini.
Cintamu akan menjadi mata untukku
Dengan kemampuan merefleksikan cahaya dan memunculkan hal - hal indah yang bahkan tidak perlu kupandang sudah dapat membahagiakanku
Cintamu juga akan menjadi pengganti hidungku, cintamulah yang akan mengalirkan oksigen kepadaku. Cintamu akan menjadi indera pengecapku, yang memberikan sensasi rasa yang melebihi rasa manis, asin, asam, dan pahit.
Dan aku juga rela jika rasa ini menggantikan telingaku meski aku harus mendengarkan namamu dibisikkan ke otakku setiap saat.Cintamu juga akan menggantikan indera perasaku, memberikan rasa bedebar - debar yang tak terkendali saat engkau menyentuhku. Perasaan yang aku punya untukmu telah melebihi semua ilmu yang ada.
Satu yang kutahu bahwa cinta kita tak akan pernah dapat dijelaskan oleh ilmu apapun. Cinta kita tak perlu dijelaskan oleh pengetahuan. Rasa ini tak logis namun nyata adanya. Karena untuk mendapatkan rasa ini aku tak perlu otak yang berpikir, hanya hati yang berdebar dengan hebatnya tiap aku mendengar suaramu dan melihat parasmu
Rabu, 19 Maret 2014
aku mencintaimu, jangan lupa itu
Kau bosan bicara cinta?
Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.
Kenapa?
Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.
Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.
Sudah seberapa jauh kaupergi?
Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?
Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?
Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.
Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit.
Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega.
Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu. Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu.
Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?
Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.
Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.
Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.
Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan.
Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.
Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.
Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku.
Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.
Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.
Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.
Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?
Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?
Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.
Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat.
Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.
Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar.
Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.
Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?
Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan.
Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci.
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya.
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu.
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.
Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.
Kenapa?
Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.
Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.
Sudah seberapa jauh kaupergi?
Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?
Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?
Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.
Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit.
Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega.
Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu. Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu.
Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?
Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.
Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.
Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.
Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan.
Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.
Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.
Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku.
Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.
Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.
Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.
Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?
Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?
Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.
Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat.
Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.
Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar.
Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.
Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?
Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan.
Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci.
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya.
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu.
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.
mimpi
Kita, selalu punya mimpi. Aku, kamu, mereka.
Kadang mimpi kita sama, meskipun lebih sering berbeda. Tapi dalam satu hal, kita selalu punya mimpi yang sama. Dalam satu perahu, kita akan memiliki tujuan sama. Dalam satu pesawat, kita akan memiliki tujuan sama. Setidaknya arahnya sama, meski nanti mungkin akan melanjutkan perjalanan lanjutan bagi yang lainnya.
Dan dalam menuju mimpi itu, jangan sampai kita terlalu menginginkan banyak hal, sampai kita lupa tentang moral. Karena memiliki banyak hal, tidak pernah terlalu berarti di hadapan Tuhan, dan akan dianggap rendah bagi orang yang kita rugikan. Kita sering lupa bahwa sebenarnya yang paling kaya bukanlah yang memiliki terbanyak, tetapi yang membutuhkan paling sedikit. Lalu melakukan berbagai hal hanya karena kita menginginkannya.
Jangan sampai kita lupa bahwa dua orang bisa melihat satu hal yang sama tapi dari sudut pandang yang berbeda. Kalau dipertemukan, bisa jadi kesimpulannya akan sama. Tapi kalau lebih sibuk dengan pembenaran masing-masing, tidak akan sampai pada kesimpulan bahwa yang dilihat adalah sama. Untuk berbahagia, kita harus bersabar sebentar. Termasuk dalam memiliki pendapat yang berbeda. Apa pun perbedaannya, kita harus ingat bahwa kita berada dalam arah yang sama.
Dan karena kita punya mimpi yang sama, untuk maju bersama, mari kita selaraskan hati dan pikiran, lalu terus berjalan. Ada kendala, iya. Ada masalah, tentu saja. Tapi kita pasti bisa melaluinya.
Kita adalah buku cerita. Gak ada salah satu babnya, buku itu berkurang maknanya.
Kita adalah rumah lengkap yang masing-masing kita memiliki peran di dalamnya. Pintu, jendela, atap, lantai, dinding, dan lain sebagainya. Tanpa salah satunya, rumah itu tidak akan lagi memiliki keamanan yang sama.
Kita adalah kita yg memiliki mimpi sama, untuk berjalan bersama, untuk ngasih uluran tangan ketika ada yang kelelahan, untuk memberikan senyuman ketika ada yang tidak sabaran, untuk tetep berada di barisan spy gak ketinggalan atau ditinggalkan.
Karena jarak terjauh itu saling meninggalkan, jarak terdekatnya, saling bergandengan tangan.
Aku udh sering blg, kita selalu punya pilihan,
Kadang mimpi kita sama, meskipun lebih sering berbeda. Tapi dalam satu hal, kita selalu punya mimpi yang sama. Dalam satu perahu, kita akan memiliki tujuan sama. Dalam satu pesawat, kita akan memiliki tujuan sama. Setidaknya arahnya sama, meski nanti mungkin akan melanjutkan perjalanan lanjutan bagi yang lainnya.
Dan dalam menuju mimpi itu, jangan sampai kita terlalu menginginkan banyak hal, sampai kita lupa tentang moral. Karena memiliki banyak hal, tidak pernah terlalu berarti di hadapan Tuhan, dan akan dianggap rendah bagi orang yang kita rugikan. Kita sering lupa bahwa sebenarnya yang paling kaya bukanlah yang memiliki terbanyak, tetapi yang membutuhkan paling sedikit. Lalu melakukan berbagai hal hanya karena kita menginginkannya.
Jangan sampai kita lupa bahwa dua orang bisa melihat satu hal yang sama tapi dari sudut pandang yang berbeda. Kalau dipertemukan, bisa jadi kesimpulannya akan sama. Tapi kalau lebih sibuk dengan pembenaran masing-masing, tidak akan sampai pada kesimpulan bahwa yang dilihat adalah sama. Untuk berbahagia, kita harus bersabar sebentar. Termasuk dalam memiliki pendapat yang berbeda. Apa pun perbedaannya, kita harus ingat bahwa kita berada dalam arah yang sama.
Dan karena kita punya mimpi yang sama, untuk maju bersama, mari kita selaraskan hati dan pikiran, lalu terus berjalan. Ada kendala, iya. Ada masalah, tentu saja. Tapi kita pasti bisa melaluinya.
Kita adalah buku cerita. Gak ada salah satu babnya, buku itu berkurang maknanya.
Kita adalah rumah lengkap yang masing-masing kita memiliki peran di dalamnya. Pintu, jendela, atap, lantai, dinding, dan lain sebagainya. Tanpa salah satunya, rumah itu tidak akan lagi memiliki keamanan yang sama.
Kita adalah kita yg memiliki mimpi sama, untuk berjalan bersama, untuk ngasih uluran tangan ketika ada yang kelelahan, untuk memberikan senyuman ketika ada yang tidak sabaran, untuk tetep berada di barisan spy gak ketinggalan atau ditinggalkan.
Karena jarak terjauh itu saling meninggalkan, jarak terdekatnya, saling bergandengan tangan.
Aku udh sering blg, kita selalu punya pilihan,
kamu, sempurna
maaf, karena cinta yang aku punya penuh dengan cacat yang melekat.
maaf, untuk cintaku yang buta. yang tak pernah bisa melihat hal-hal yang tidak indah dari dirimu. yang tak pernah bisa melihat kelemahanmu. yang tak pernah bisa melihat alasan untuk tidak mengagumimu.
maaf, untuk cintaku yang tuli. yang tak pernah mendengar suara-suara buruk tentangmu. semua hal yang menyangkut dirimu, selalu terdengar sebagai alunan nada rindu.
maaf, untuk cintaku yang bisu. yang tak pernah bisa membahasakan apa yang aku rasa. yang tak pernah bisa bertutur manis di hadapanmu. tentang rasa…. tentang cinta.
maaf, untuk cintaku yang lumpuh. yang tak pernah sanggup untuk menggerakkan langkahku menuju kamu.
kamu, terlalu tinggi untuk aku gapai hanya dengan satu sayap yang kumiliki.
maaf, untuk cintaku yang buta. yang tak pernah bisa melihat hal-hal yang tidak indah dari dirimu. yang tak pernah bisa melihat kelemahanmu. yang tak pernah bisa melihat alasan untuk tidak mengagumimu.
maaf, untuk cintaku yang tuli. yang tak pernah mendengar suara-suara buruk tentangmu. semua hal yang menyangkut dirimu, selalu terdengar sebagai alunan nada rindu.
maaf, untuk cintaku yang bisu. yang tak pernah bisa membahasakan apa yang aku rasa. yang tak pernah bisa bertutur manis di hadapanmu. tentang rasa…. tentang cinta.
maaf, untuk cintaku yang lumpuh. yang tak pernah sanggup untuk menggerakkan langkahku menuju kamu.
kamu, terlalu tinggi untuk aku gapai hanya dengan satu sayap yang kumiliki.
untukmu : barangkali
Barangkali memang ada beberapa hal yang sengaja kita biarkan mengendap untuk menjaga perasaan atau hal-hal yang tidak kita persiapkan. Kita, tepatnya aku, sedang dalam pencaharian tentang kita, tentang apa dan bagaimana kita? Mungkin kamu bisa membantuku menjawab apa arti kita bagimu? Sebab aku kehabisan ide mengartikan kita. Kita saling mencari ketika butuh, tapi kita lupa bahwa saling membutuhkan dapat menjadi alasan seseorang untuk berhenti mencari.
Lagi-lagi banyak pertanyaan di kepala, kepalaku ini rumit tapi kamu mampu menerjemahkannya. Cukup semarak cerita yang kita bagi, tentang malam dan bintang-bintang pemalu, tentang keterasingan kita pada masa lalu. Masa yang tak pernah mampu kita tuju tapi pahitnya masih jelas kita kecap. Seluruh isi kepala kita yang bahkan belum sepenuhnya kita jelajahi, kita tak pernah tahu apa yang kita mau.
Kamu haus, mari istirahat sebentar. Sambil kuceritakan satu kisah padamu, tentang seseorang yang lupa merasa, dibunuhnya beberapa mimpi, dijalaninya hari-hari tanpa ambisi. Hanya jalan, tapi dia tahu, setiap mimpi yang dibunuh akan lahir kembali, lebih besar, lebih kuasa –sebab dia percaya pada reinkarnasi. Lalu tiba satu ketika, kala seseorang datang, terluka sama parah hingga membuatnya iba. Baginya yang pernah jatuh, amat sakit ketika jatuh tapi tak ada yang memapah. Untuk itu dia memapah orang itu berdiri, berjalan menelusuri meter, kilo hingga orang tersebut kembali tegak berdiri. Sebagai gantinya, dia yang kembali jatuh, hatinya jatuh.
Tapi dia sadar sekali bahwa jatuh cinta itu tidaklah sakit, sebab hanya tindakan pribadi, keinginan memiliki dan dicintai lah yang berpotensi melukai. Sayangnya, dia merasakan keduanya, tidak ada yang biasa sejak seseorang itu mengisi kepalanya. Kepalanya yang penuh itu diacak-acak, logikanya, akal sehatnya mengambang, kepalanya dibanjiri seseorang. Sekali lagi, ini bahaya bagi orang yang lupa caranya merasa –atau letih merasa.
Sayangnya seseorang itu belum tahu atau barangkali tahu tapi sengaja menutupi. Sedangkan dia pun memilih diam, padahal isi kepalanya sudah berontak ingin keluar. Kamu mungkin mengerti rasanya menahan diri ketika kepalamu amat penuh. Sakitnya pindah ke dada. Tapi lagi-lagi, beberapa hal memang sebaiknya dibiarkan berlalu begitu saja. Kamu mungkin bertanya lalu bagaimana seseorang itu? Seseorang itu ada dihadapannya sekarang. Aku sebagai dia dan kamu sebagai seseorang itu. Barangkali memang cukup seperti ini, cukup untuk kita sama-sama sadar bahwa kita saling membutuhkan. Aku membutuhkanmu lebih dari sekadar tubuh, aku membutuhkanmu yang tabah menyikapiku. Itu saja cukup, bagiku.
Kita memang tak mampu mengulang waktu, tapi karenamu aku semakin bijak memanfaatkan ingatan untuk setidaknya merekamnya dalam-dalam dalam kepala. Aku senang, semoga kamu pun begitu
Lagi-lagi banyak pertanyaan di kepala, kepalaku ini rumit tapi kamu mampu menerjemahkannya. Cukup semarak cerita yang kita bagi, tentang malam dan bintang-bintang pemalu, tentang keterasingan kita pada masa lalu. Masa yang tak pernah mampu kita tuju tapi pahitnya masih jelas kita kecap. Seluruh isi kepala kita yang bahkan belum sepenuhnya kita jelajahi, kita tak pernah tahu apa yang kita mau.
Kamu haus, mari istirahat sebentar. Sambil kuceritakan satu kisah padamu, tentang seseorang yang lupa merasa, dibunuhnya beberapa mimpi, dijalaninya hari-hari tanpa ambisi. Hanya jalan, tapi dia tahu, setiap mimpi yang dibunuh akan lahir kembali, lebih besar, lebih kuasa –sebab dia percaya pada reinkarnasi. Lalu tiba satu ketika, kala seseorang datang, terluka sama parah hingga membuatnya iba. Baginya yang pernah jatuh, amat sakit ketika jatuh tapi tak ada yang memapah. Untuk itu dia memapah orang itu berdiri, berjalan menelusuri meter, kilo hingga orang tersebut kembali tegak berdiri. Sebagai gantinya, dia yang kembali jatuh, hatinya jatuh.
Tapi dia sadar sekali bahwa jatuh cinta itu tidaklah sakit, sebab hanya tindakan pribadi, keinginan memiliki dan dicintai lah yang berpotensi melukai. Sayangnya, dia merasakan keduanya, tidak ada yang biasa sejak seseorang itu mengisi kepalanya. Kepalanya yang penuh itu diacak-acak, logikanya, akal sehatnya mengambang, kepalanya dibanjiri seseorang. Sekali lagi, ini bahaya bagi orang yang lupa caranya merasa –atau letih merasa.
Sayangnya seseorang itu belum tahu atau barangkali tahu tapi sengaja menutupi. Sedangkan dia pun memilih diam, padahal isi kepalanya sudah berontak ingin keluar. Kamu mungkin mengerti rasanya menahan diri ketika kepalamu amat penuh. Sakitnya pindah ke dada. Tapi lagi-lagi, beberapa hal memang sebaiknya dibiarkan berlalu begitu saja. Kamu mungkin bertanya lalu bagaimana seseorang itu? Seseorang itu ada dihadapannya sekarang. Aku sebagai dia dan kamu sebagai seseorang itu. Barangkali memang cukup seperti ini, cukup untuk kita sama-sama sadar bahwa kita saling membutuhkan. Aku membutuhkanmu lebih dari sekadar tubuh, aku membutuhkanmu yang tabah menyikapiku. Itu saja cukup, bagiku.
Kita memang tak mampu mengulang waktu, tapi karenamu aku semakin bijak memanfaatkan ingatan untuk setidaknya merekamnya dalam-dalam dalam kepala. Aku senang, semoga kamu pun begitu
Untuk: Hati
Jangan tanya kenapa aku mengirimkan surat ini untukmu, karena aku juga tidak tahu. Mungkin salah satunya karena kamu sedang tidak baik-baik saja, atau sempat tidak baik-baik saja. Sejatinya, hidup adalah tentang dua hal, mempersiapkan kedatangan dan kepergian. Namun, kita selalu tidak pernah mampu mempersiapkan hal ke dua. Akhirnya, kesedihan datang berbondong untuk menemani. Pada akhirnya, sekarang kamu mulai menemukan kembali bahwa banyak yang lebih berarti ketimbang patah hati. Iya, hatimu jelas penting tapi yang lebih penting kamu tidak kehilangan dirimu sendiri. Dan selamat menemukan kembali. Itu saja surat dariku, sampai jumpa dan selamat berbahagia.
kita dan cinta
Aku tak berdaya
Dihantam kerasnya perasaan ini
Tetapi entah mengapa dunia seakan tak rela
Tak rela jika aku dan kamu disatukan perasaan ini
Cinta seharusnya tak menyerah
Cinta seharusnya bukan putus asa
Saat putaran sang waktu mengalahkan rotasi bumi dan membusukkan setiap kenangan yang ada
Tapi cinta tak akan pernah membusuk oleh kejamnya sang waktu
Waktu memang kejam
Menggerogoti raga ini, hingga tak ada yang bersisa kecuali jiwa ini
Tapi siapa yang tau, jiwa ini kesepian
Jiwa tanpa cinta.
Karena jiwa ini tak memperjuangkan cinta
Dan ia kalah dihadapan keangkuhan sang waktu
Itu kita, bukan cinta
Cinta tak seharusnya berlutut tak berdaya akan kesombongan sang waktu
Cinta seharusnya abadi, melebihi waktu itu sendiri
Aku dan kamu seharusnya seperti cinta
Tak berakhir karena waktu
Aku dan kamu seharusnya abadi
Saling mengerti
Saling menunjukkan jalan menuju keabadian
Dan jiwa kita berdua seharusnya tak kesepian
Karena jiwa kita harusnya saling melengkapi
Tapi inilah kita, kita bukan cinta
Ini kita, itu cinta.
Dihantam kerasnya perasaan ini
Tetapi entah mengapa dunia seakan tak rela
Tak rela jika aku dan kamu disatukan perasaan ini
Cinta seharusnya tak menyerah
Cinta seharusnya bukan putus asa
Saat putaran sang waktu mengalahkan rotasi bumi dan membusukkan setiap kenangan yang ada
Tapi cinta tak akan pernah membusuk oleh kejamnya sang waktu
Waktu memang kejam
Menggerogoti raga ini, hingga tak ada yang bersisa kecuali jiwa ini
Tapi siapa yang tau, jiwa ini kesepian
Jiwa tanpa cinta.
Karena jiwa ini tak memperjuangkan cinta
Dan ia kalah dihadapan keangkuhan sang waktu
Itu kita, bukan cinta
Cinta tak seharusnya berlutut tak berdaya akan kesombongan sang waktu
Cinta seharusnya abadi, melebihi waktu itu sendiri
Aku dan kamu seharusnya seperti cinta
Tak berakhir karena waktu
Aku dan kamu seharusnya abadi
Saling mengerti
Saling menunjukkan jalan menuju keabadian
Dan jiwa kita berdua seharusnya tak kesepian
Karena jiwa kita harusnya saling melengkapi
Tapi inilah kita, kita bukan cinta
Ini kita, itu cinta.
diamnya diriku
Aku akan lebih banyak diam. Lebih banyak menerima. Lebih banyak rela. Lebih banyak kehilangan dan lebih banyak terluka. Aku akan lebih banyak diam, sementara kamu tak perlu tahu apa-apa. Aku akan lebih banyak mengadu pada Penciptaku. Aku akan bicara soalmu sebebas-bebasnya, cukup dengan Dia. Aku akan lebih banyak terlihat baik-baik saja di depanmu. Agar bahagiamu bebas berkeliaran, sementara milikku terpenjara pada kehilangan yang paling sunyi. Aku akan lebih banyak menunduk untuk mengacuhkanmu, meski dengan menatapmu itu nyawa terbesarku. Aku takkan tega membiarkan wajahku terlihat penuh airmata saat melepasmu tanpa aba-aba. Ketidaktahuanmu itu sungguh mericuhkan duniaku yang rasanya ingin bersuara menunjukkan semua. Tapi tak semuanya harus terlihat, tak semuanya harus terungkap, meski harus tahunan atau selamanya dijaga. Tak apa, mungkin begini seharusnya cinta diperankan. Padamu, olehku.
Tidak ada yang tahu sebesar itu perasaanku. Tidak ada yang tahu bahwa sebegitu berharganya satu pertemuan yang menghadirkan kamu. Tidak ada yang tahu bahwa bersebelahan denganmu, itulah yang kutunggu. Kamu asing dengan duniaku dan duniamulah yang membiasakanku dengan keberisikan akan dia. Mungkin ini saatnya menutup telinga dari suara-suara yang menggoreskan luka baru, ini saatnya kepergianku. Ini saatnya aku membawa pergi hati dan seisinya agar terobati. Lebih cepat angkat kaki, lebih baik. Aku tak ingin membiarkan perulangan ini melukaiku berulang-ulang dan aku hanya akan menanggapinya dengan sebuah ‘kembali’. Semoga ini tidak akan terjadi.
Tidak ada yang tahu sebesar itu perasaanku. Tidak ada yang tahu bahwa sebegitu berharganya satu pertemuan yang menghadirkan kamu. Tidak ada yang tahu bahwa bersebelahan denganmu, itulah yang kutunggu. Kamu asing dengan duniaku dan duniamulah yang membiasakanku dengan keberisikan akan dia. Mungkin ini saatnya menutup telinga dari suara-suara yang menggoreskan luka baru, ini saatnya kepergianku. Ini saatnya aku membawa pergi hati dan seisinya agar terobati. Lebih cepat angkat kaki, lebih baik. Aku tak ingin membiarkan perulangan ini melukaiku berulang-ulang dan aku hanya akan menanggapinya dengan sebuah ‘kembali’. Semoga ini tidak akan terjadi.
dengan sederhana
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti embun hinggap di tepian daun dan tanah yang sabar menyambutnya jatuh
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti mata yang berkedip menyambut pagi, dan daun jendela yang mengintip matahari
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti gerimis pada jendela dan uap nafasmu menulis nama: ‘kita’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti waktu yang tak pernah berhenti dan senyummu yang mengabadikannya
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti sebuah peluk yang sebentar dan satu kecup yang perlahan saja
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti kata ‘rindu’ yang kuucap dan kau membalasnya dengan ‘aku juga’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin melupakanmu dengan sederhana. sesederhana airmata yang mengalir. sesederhana genggam tangan yang terlepas
tapi aku ingin mencintaimu.
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti mata yang berkedip menyambut pagi, dan daun jendela yang mengintip matahari
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti gerimis pada jendela dan uap nafasmu menulis nama: ‘kita’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti waktu yang tak pernah berhenti dan senyummu yang mengabadikannya
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti sebuah peluk yang sebentar dan satu kecup yang perlahan saja
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti kata ‘rindu’ yang kuucap dan kau membalasnya dengan ‘aku juga’
tapi aku ingin melupakanmu
aku ingin melupakanmu dengan sederhana. sesederhana airmata yang mengalir. sesederhana genggam tangan yang terlepas
tapi aku ingin mencintaimu.
senja
Terkadang aku seperti senja yang merindukan langit, tapi aku takut, aku takut langit tak akan pernah menerima senja, disaat mendung ada Dan akupun berpikir, mengapa senja selalu hrs mengalah pada mendung? Bukankan langit itu luas? & bukanya langit itu memang tercipta untuku? Ataukah memng aku hrs slalu brbagi? Brbagi langit dgn sang mendung?Aku rasa aku tak ckup rela untk smua ini, aku menginginkan langitku sndri. Tidak, Tuhan menciptakan aku sebagai senja, yg memang ditakdirkan selalu bersama langit dan mendung. Aku akan selalu bersama dengan semua itu, Dan takdirku memang sebagai senja yg selalu merindu pada langit miliknya, yg harus selalu berbagi dengan sang mendung, Akulah senja, yang selalu bermimpi merindukan langitku sendiri, tanpa adanya sang mendung. Tapi semua memang hanya sebuah mimpi. sebatas mimpi sang senja.
mungkin perpisahan
Tiba-tiba saya menjadi haru sebab pertemuan ini telah sampai di ujung waktu. Dasar! Tanpa sadar, saya telah dikadali. Siapa bilang waktu tak dapat menipu. Buktinya, ia baru saja mengibuli saya. Ia datang lebih cepat sementara saya baru akan menikmati perkenalan. Sial. Saya bahkan baru akan memahami sedapnya mempunyai kenalan. Saya bahkan merasa baru akan mengenalkan nama setelah sekian lama saling bersalaman.
Tiba-tiba saya menjadi kesal sendiri. Kenapa saya lupa, pertemuan itu selalu menjanjikan perpisahan. Mengapa saya tak menyediakan payung yang lebih tegap untuk menghindari hujan air mata yang mungkin saja sebentar lagi akan membanjiri hati saya.
Tapi, begitulah. Saya harus memahami diri dan waktu. Sebagai orang besar, saya harus menghargai waktu yang telah dengan bergegas mengingatkan bahwa masa pertemuan saya telah habis. Waktunya berpisah. Waktunya mengakhiri perkenalan. Waktunya beranjak menghadiri pertemuan baru. Bersua dengan orang sama sekali asing, menjalin hubungan, dan bersiap lagi untuk menyelesaikan senyuman. Begitu terus dan seterusnya. Kita tak pernah dibiarkan abadi untuk sebuah perkenalan yang melenakan. Selalu ada masa, selalu disediakan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, dan bila diizinkan, sampai bertemu di lain waktu
Kemudian selesailah.
Saya harus mengucapkan salam. Kau juga. Haruskah kita berpelukan?
Ah, pelukan. Untuk apa kita berpelukan, bila hanya akan menambah keharuan perpisahan. Kau tahu, pelukan itu menyebabkan semakin dekat, sementara kita akan berjauhan. Kau tahu, perpisahan berarti saling menjauh satu sama lain. Saya tak ingin berpelukan –jangan dengarkan saya, karena sesungguhnya saya sangat menginginkan pelukan perpisahan itu-. Saya tak mau merangkulmu jika rangkulan itu dengan berat hati harus saya lepaskan.
Dan semua cerita –kalaupun ada- hendaklah kau simpan, hingga bila suatu hari nanti bertemu lagi, kita dapat mengulang kembali masa-masa berkenalan kita. Tentu saja, dengan situasi saya dan kau yang sudah jauh berbeda. Kita tak lagi menjadi remaja yang selalu kegirangan menghadapi kehidupan. Mungkin kau telah berubah menjadi seseorang yang lebih tua; obsesi membuat kita cepat tua. Satu-dua butir jerawat yang kala itu bersemi indah di wajahmu, mungkin akan berganti keriput yang sudah mulai tampak berbaris di pelipis matamu. Lalu, mata kita sudah saling ditempeli kaca mata. Atau, bila kau masih senang bermata dua, pasti kau menjaga sekali kesehatan matamu. Sedang saya, tentu kau tahu, dari sekarang saya sudah cacat. Mata saya sudah empat. Satu lagi, saya yakin, bila kita bertemu nanti, saya lebih gemuk-padat-berisi. Tak perlu kau heran, anggap saja ini sebagai bentuk balas dendam atas kecekingan saya semasa muda.
Ah, terlalu jauh angan saya rupanya. Bagaimana mungkin saya begitu berani –kalau tidak gila- mendahului rencana Tuhan Maha Agung. Bagaimana mungkin saya berhak menyusun rencana pertemuan saya denganmu suatu waktu nanti. Siapa saya? Tuhan pasti punya rencana yang lebih manis untuk kita. Saya percaya itu.
Saya akhir-akhir ini sering takut. Entah kenapa, saya selalu terjebak pada kemungkinan terburuk. Saya selalu terpuruk pada kemungkinan-kemungkin yang tidak saya harapkan terjadi. Namun, semua itu mesti saya hadapi. Mesti saya siapkan juga hati, perasaan dan batang tubuh saya untuk menerima. Bukankah itu semua merupakan bagian dari rencana Tuhan?
Mungkin, bila nanti, kita tidak bertemu lagi. Sebab kau hilang ingatan, atau merantau ke tempat yang sangat jauh dan dalam waktu yang sangat lama sehingga tidak memungkinkan lagi bagi kita untuk bisa bersua muka. Ingatlah, saya di sini selalu ingat kamu. Walaupun nantinya kita kehilangan nomor telepon, email, skype, atau kau keluar dari jejaring sosial sebab kau terlalu sibuk bekerja dan berkeluarga, saya akan selalu titip pesan kepada Tuhan agar menjagamu, dan supaya kau tak melupakanku. Kau mau kan berjanji untuk –setidaknya- mengingat pertemuan ini, meskipun kau tak mau berangan-angan tentang apa yang akan terjadi di masa depan?
Dan, saya jatuh lagi pada kemungkinan yang maha buruk, kau tidak mau mengingat saya lagi. Apa pasal, tidak jelas. Mungkin ada kejengkelan yang kau sembunyikan selama kita berkenalan yang akhirnya berurat-akar karena selama pertemuan kau tak pernah mencabutnya. Mungkin, ada sesak yang lupa kau luahkan kepada saya saat perpisahan datang. Hingga, ketika saat-saat usai kita merupakan saat yang membahagiakan bagimu. Itu berarti, kau tak lagi bertemu dengan saya, orang yang membuat rasa jengkelmu berurat-akar.
Bila benar begitu, –sial, kenapa saya malah meneruskan kemungkinan maha buruk ini?-. Bila benar begitu, Tuhan berarti telah salah besar mempertemukan kita. Tidak, bukan Tuhan yang salah. Tuhan selalu benar, itu pasal yang harus dipatuhi tanpa komentar. Yang salah itu kita. Kita yang kekanak-kekanakan masa itu. Bukankah perpisahan itu memang datang saat kita remaja-belia? Saat kepentingan diri sendiri selalu benar. Saat darah menang sendiri masih membuncah dengan gelegak yang membakar. Lalu, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?
Tidak ada! Nyaris tidak ada yang bisa kita lakukan. Perpisahan sudah pulang membawa cerita kita yang sudah menjadi kenangan. Tak bisa diminta kembali. Perpisahan bahkan lebih egois daripada masa muda kita. Bahkan tak bisa dibujuk oleh traktiran, seperti yang saling kita lakukan bila kau atau aku merajuk.
Kita hanya bisa belajar. Bila di masa depan kita masih dipercaya untuk bertemu dengan orang lain yang bukan kenalan kita sebelumnya, kita mesti belajar dari kesalahan masa lalu. Kita harus lebih dewasa. Kita harus memanfaatkan sekali pertemuan itu dan tidak menodainya dengan hati yang membengkak. Bila ada yang rasanya kurang enak, kita mungkin bisa membicarakan dan mencarikan solusinya. Saya yakin itu cara yang baik.
Sekarang, ada baiknya kita sudahi saja kenangan ini. Kita simpan ia baik-baik di tempat yang paling kita percaya, yaitu hati kita masing-masing. Kita susun rapih-rapih hingga bila kita saling merindukan, kita tak perlu susah-susah bergundah-gundah. Kita hanya perlu membukanya kembali; lembaran-lembaran kenangan itu. Apa kau setuju? Ah, saya melihatmu mengangguk dengan mantap.
Tiba-tiba saya menjadi begitu sedih. Apa kau juga, Kawan?
Tiba-tiba saya menjadi kesal sendiri. Kenapa saya lupa, pertemuan itu selalu menjanjikan perpisahan. Mengapa saya tak menyediakan payung yang lebih tegap untuk menghindari hujan air mata yang mungkin saja sebentar lagi akan membanjiri hati saya.
Tapi, begitulah. Saya harus memahami diri dan waktu. Sebagai orang besar, saya harus menghargai waktu yang telah dengan bergegas mengingatkan bahwa masa pertemuan saya telah habis. Waktunya berpisah. Waktunya mengakhiri perkenalan. Waktunya beranjak menghadiri pertemuan baru. Bersua dengan orang sama sekali asing, menjalin hubungan, dan bersiap lagi untuk menyelesaikan senyuman. Begitu terus dan seterusnya. Kita tak pernah dibiarkan abadi untuk sebuah perkenalan yang melenakan. Selalu ada masa, selalu disediakan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, dan bila diizinkan, sampai bertemu di lain waktu
Kemudian selesailah.
Saya harus mengucapkan salam. Kau juga. Haruskah kita berpelukan?
Ah, pelukan. Untuk apa kita berpelukan, bila hanya akan menambah keharuan perpisahan. Kau tahu, pelukan itu menyebabkan semakin dekat, sementara kita akan berjauhan. Kau tahu, perpisahan berarti saling menjauh satu sama lain. Saya tak ingin berpelukan –jangan dengarkan saya, karena sesungguhnya saya sangat menginginkan pelukan perpisahan itu-. Saya tak mau merangkulmu jika rangkulan itu dengan berat hati harus saya lepaskan.
Dan semua cerita –kalaupun ada- hendaklah kau simpan, hingga bila suatu hari nanti bertemu lagi, kita dapat mengulang kembali masa-masa berkenalan kita. Tentu saja, dengan situasi saya dan kau yang sudah jauh berbeda. Kita tak lagi menjadi remaja yang selalu kegirangan menghadapi kehidupan. Mungkin kau telah berubah menjadi seseorang yang lebih tua; obsesi membuat kita cepat tua. Satu-dua butir jerawat yang kala itu bersemi indah di wajahmu, mungkin akan berganti keriput yang sudah mulai tampak berbaris di pelipis matamu. Lalu, mata kita sudah saling ditempeli kaca mata. Atau, bila kau masih senang bermata dua, pasti kau menjaga sekali kesehatan matamu. Sedang saya, tentu kau tahu, dari sekarang saya sudah cacat. Mata saya sudah empat. Satu lagi, saya yakin, bila kita bertemu nanti, saya lebih gemuk-padat-berisi. Tak perlu kau heran, anggap saja ini sebagai bentuk balas dendam atas kecekingan saya semasa muda.
Ah, terlalu jauh angan saya rupanya. Bagaimana mungkin saya begitu berani –kalau tidak gila- mendahului rencana Tuhan Maha Agung. Bagaimana mungkin saya berhak menyusun rencana pertemuan saya denganmu suatu waktu nanti. Siapa saya? Tuhan pasti punya rencana yang lebih manis untuk kita. Saya percaya itu.
Saya akhir-akhir ini sering takut. Entah kenapa, saya selalu terjebak pada kemungkinan terburuk. Saya selalu terpuruk pada kemungkinan-kemungkin yang tidak saya harapkan terjadi. Namun, semua itu mesti saya hadapi. Mesti saya siapkan juga hati, perasaan dan batang tubuh saya untuk menerima. Bukankah itu semua merupakan bagian dari rencana Tuhan?
Mungkin, bila nanti, kita tidak bertemu lagi. Sebab kau hilang ingatan, atau merantau ke tempat yang sangat jauh dan dalam waktu yang sangat lama sehingga tidak memungkinkan lagi bagi kita untuk bisa bersua muka. Ingatlah, saya di sini selalu ingat kamu. Walaupun nantinya kita kehilangan nomor telepon, email, skype, atau kau keluar dari jejaring sosial sebab kau terlalu sibuk bekerja dan berkeluarga, saya akan selalu titip pesan kepada Tuhan agar menjagamu, dan supaya kau tak melupakanku. Kau mau kan berjanji untuk –setidaknya- mengingat pertemuan ini, meskipun kau tak mau berangan-angan tentang apa yang akan terjadi di masa depan?
Dan, saya jatuh lagi pada kemungkinan yang maha buruk, kau tidak mau mengingat saya lagi. Apa pasal, tidak jelas. Mungkin ada kejengkelan yang kau sembunyikan selama kita berkenalan yang akhirnya berurat-akar karena selama pertemuan kau tak pernah mencabutnya. Mungkin, ada sesak yang lupa kau luahkan kepada saya saat perpisahan datang. Hingga, ketika saat-saat usai kita merupakan saat yang membahagiakan bagimu. Itu berarti, kau tak lagi bertemu dengan saya, orang yang membuat rasa jengkelmu berurat-akar.
Bila benar begitu, –sial, kenapa saya malah meneruskan kemungkinan maha buruk ini?-. Bila benar begitu, Tuhan berarti telah salah besar mempertemukan kita. Tidak, bukan Tuhan yang salah. Tuhan selalu benar, itu pasal yang harus dipatuhi tanpa komentar. Yang salah itu kita. Kita yang kekanak-kekanakan masa itu. Bukankah perpisahan itu memang datang saat kita remaja-belia? Saat kepentingan diri sendiri selalu benar. Saat darah menang sendiri masih membuncah dengan gelegak yang membakar. Lalu, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?
Tidak ada! Nyaris tidak ada yang bisa kita lakukan. Perpisahan sudah pulang membawa cerita kita yang sudah menjadi kenangan. Tak bisa diminta kembali. Perpisahan bahkan lebih egois daripada masa muda kita. Bahkan tak bisa dibujuk oleh traktiran, seperti yang saling kita lakukan bila kau atau aku merajuk.
Kita hanya bisa belajar. Bila di masa depan kita masih dipercaya untuk bertemu dengan orang lain yang bukan kenalan kita sebelumnya, kita mesti belajar dari kesalahan masa lalu. Kita harus lebih dewasa. Kita harus memanfaatkan sekali pertemuan itu dan tidak menodainya dengan hati yang membengkak. Bila ada yang rasanya kurang enak, kita mungkin bisa membicarakan dan mencarikan solusinya. Saya yakin itu cara yang baik.
Sekarang, ada baiknya kita sudahi saja kenangan ini. Kita simpan ia baik-baik di tempat yang paling kita percaya, yaitu hati kita masing-masing. Kita susun rapih-rapih hingga bila kita saling merindukan, kita tak perlu susah-susah bergundah-gundah. Kita hanya perlu membukanya kembali; lembaran-lembaran kenangan itu. Apa kau setuju? Ah, saya melihatmu mengangguk dengan mantap.
Tiba-tiba saya menjadi begitu sedih. Apa kau juga, Kawan?
mengapa kamu?
Ada jatuh yang tak pernah kuduga-duga, hingga sebuah tanya muncul dalam benak; mengapa kamu? Mengapa pada seseorang yang dapat kuketahui dengan pasti, bahwa akhirnya adalah tidak mungkin? Ada rasa yang datang tanpa diundang, hingga tanpa sadar kuletakkan namamu pada urutan paling pertama dalam segala hal. Ada cinta yang sampai kini masih kusangkal. Sebab, memberi hati kepadamu tak pernah sebelumnya terpikirkan.
Barangkali, begitulah risiko jatuh cinta. Betapapun sudah berhati-hati, selalu saja ada jalannya jika memang harus terjadi. Sementara hati sebetulnya sudah lelah terjatuh sendirian, tapi Tuhan mendatangkan kamu di hadapan. Kali ini entah sebagai jawaban, entah sebagai penambah pertanyaan, entah sebagai pemberi pelajaran.
Jadi, mau dibawa ke mana hatiku yang ada dalam genggammu itu?
Haruskah aku menujumu, perjuangkan kamu lebih jauh? Atau kembali saja pada titik mula—cukup jadi pendamba?
Andai kamu mengerti, ini bukan tanpa alasan. Sebab yang kulihat hanya dia, pada tatap matamu yang paling dalam. Sebab yang kudengar hanya namanya, pada tiap nada kebahagiaan. Sementara aku, tinggal di antara ribuan pertanyaan; tentang mengapa kita kemudian dipertemukan. Sementara aku, berdiam di tengah ratusan perkiraan; tentang mengapa kepadamu, jatuhku tampak diizinkan. Jauh, sebelum cinta tampak nyata, sudah kusadari bahwa semuanya akan berakhir dengan sia-sia.
Dalam hujan perasaan yang jarang sekali melegakan, aku tersadar bahwa cinta tak ma(mp)u dipaksakan. Percuma aku berusaha dekat dengan yang lainnya, jika hatiku cuma kamu yang punya. Inginnya kamu ada dua; satu untukku, satu untuknya. Tapi kutahu, cerita ini tak mungkin tertulis begitu. Cerita ini menawarkan bahagia yang sama untuk kita semua—tapi sayangnya, bukan dari masing-masing kita.
Kamu seperti ada untuk kucintai saja, bukan untuk kumiliki. Seperti dekat yang tak terjangkau, terasa tapi tak tergenggam, ada yang seperti tiada.
Barangkali, begitulah risiko jatuh cinta. Betapapun sudah berhati-hati, selalu saja ada jalannya jika memang harus terjadi. Sementara hati sebetulnya sudah lelah terjatuh sendirian, tapi Tuhan mendatangkan kamu di hadapan. Kali ini entah sebagai jawaban, entah sebagai penambah pertanyaan, entah sebagai pemberi pelajaran.
Jadi, mau dibawa ke mana hatiku yang ada dalam genggammu itu?
Haruskah aku menujumu, perjuangkan kamu lebih jauh? Atau kembali saja pada titik mula—cukup jadi pendamba?
Andai kamu mengerti, ini bukan tanpa alasan. Sebab yang kulihat hanya dia, pada tatap matamu yang paling dalam. Sebab yang kudengar hanya namanya, pada tiap nada kebahagiaan. Sementara aku, tinggal di antara ribuan pertanyaan; tentang mengapa kita kemudian dipertemukan. Sementara aku, berdiam di tengah ratusan perkiraan; tentang mengapa kepadamu, jatuhku tampak diizinkan. Jauh, sebelum cinta tampak nyata, sudah kusadari bahwa semuanya akan berakhir dengan sia-sia.
Dalam hujan perasaan yang jarang sekali melegakan, aku tersadar bahwa cinta tak ma(mp)u dipaksakan. Percuma aku berusaha dekat dengan yang lainnya, jika hatiku cuma kamu yang punya. Inginnya kamu ada dua; satu untukku, satu untuknya. Tapi kutahu, cerita ini tak mungkin tertulis begitu. Cerita ini menawarkan bahagia yang sama untuk kita semua—tapi sayangnya, bukan dari masing-masing kita.
Kamu seperti ada untuk kucintai saja, bukan untuk kumiliki. Seperti dekat yang tak terjangkau, terasa tapi tak tergenggam, ada yang seperti tiada.
damn
Sosoknya yang memiliki perawakan tinggi besar selalu terlihat gagah. Kulitnya kecoklatan, dengan sepasang mata indah dan alis yang tebal. Hidungnya yang mancung dan rambutnya yang bermodel agak spiky menambah pesona dirinya. Senyumnya yang dihiasi oleh deretan gigi putihnya yang rapi mampu melelehkan hati setiap wanita yang melihatnya.
Siswa mana di sekolah ini yang tak kenal Mario Pratama ? Siswa kelas XII IPA 4 yang terkenal akan ketampanannya, juga keahliannya di dalam bidang akademis dan non-akademis. Tak hanya menjadi kapten tim basket di sekolah, ia juga berhasil membawa nama sekolah ini di Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi. Ia juga orang yang pandai bergaul. Tak heran jika banyak orang yang ingin jadi temannya.
Jumlah teman dekat Mario sebanding dengan jumlah wanita-wanita cantik di sekolah yang siap bersaing untuk mencuri hati sang arjuna. Mulai dari Ami, seorang kutu buku yang jadi langganan korban bullying di sekolah. Hingga Stella, ketua ekskul Modern Dance yang menyandang predikat sebagai “Cewek Cantik Terpopuler” di sekolah.
Bagaimana dengan aku ? Apakah aku tertarik untuk merebut hati Mario, sama halnya dengan anak-anak perempuan di sekolahku ? Oh… Hidupku terlalu berharga untuk diisi dengan hal bodoh seperti itu. Hukum alam menyatakan bahwa, seranggalah yang harusnya mendekati bunga. Bukan sebaliknya.
****
Siang itu aku tengah berjalan sendirian di koridor sekolah sambil membawa sebuah map berisi kertas-kertas tugas milikku.
Dari jauh kulihat sosok Mario dan Stella sedang jalan berdua, berlawanan arah denganku. Dengan manja, Stella menggandeng tangan Mario. Namun… Stella justru menguncinya ! Tak rela melepaskan tangan Mario dari gandengannya. Terlihat ekspresi wajah Mario yang mulai tak nyaman dengan tingkah laku Stella yang kekanakan seperti itu.
Sebentar lagi aku akan berpapasan dengan mereka. Aku lebih memilih untuk membuang muka, daripada menonton adegan yang memuakkan tersebut. Toh, Mario pun tak akan mengenalku kan ?
“ Hai Arina “ ucap Mario begitu ia berpapasan denganku.
Aku kaget. Lalu segera mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk. Kutatap wajah Mario dan… ada segaris senyum menawan di bibirnya. Seketika saat itu juga aku jadi salah tingkah. Aku mencoba membalas sapaan Mario dengan sebuah senyuman. Namun karena aku terlalu gugup, yang kutampakkan malah sebuah senyum mengerikan yang membuat Mario tertawa kecil. Tunggu… Darimana ia tahu namaku ?
Aku membalikkan badanku untuk melihat sosok Mario dan Stella yang sudah berlalu. Kuharap saat itu Mario ikut membalikkan badannya dan tersenyum lagi padaku. Namun ternyata yang berbalik badan adalah wanita di sampingnya. Yang kemudian melemparkan tatapan tajam ke arah ku. Tatapan kebencian.
Aku menghela nafas. Stella. Gadis yang selalu mendapatkan segala hal yang ia inginkan.
****
Aku dan Ilana duduk berdua di taman sekolah yang berada dekat dengan lapangan parkir. Ilana tengah menunggu kekasihnya yang sore ini telah berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah, sambil menemaniku menunggu supir yang biasa menjemputku.
“ Nggak biasanya Pak Nunu lama jemput kaya gini… “ keluhku.
“ Sabar Rin. Pasti bentar lagi dia dateng kok “ hibur Ilana.
Empat puluh lima menit lamanya aku dan Ilana menunggu kedatangan Pak Nunu, tapi beliau belum muncul juga. Kedatangan Pak Nunu pun disusul oleh kedatangan kekasih Ilana.
“ Rin, Rico udah jemput nih… Gimana dong ? “ tanya Ilana yang merasa tak enak meninggalkanku sendirian.
“ Iya nggak apa-apa kok, Rin. Udah kamu sana pulang, udah sore. Pasti bentar lagi Pak Nunu dateng. Kalau nggak pun, aku bisa pulang naik taksi “ jawabku yang mencoba untuk meyakinkan Ilana.
“ Beneran nggak apa-apa ? “ tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.
“ Yaudah kalo gitu… Aku pulang duluan ya, Rin. Kamu hati-hati nunggu sendiran. Dadaaah “ ucapnya sambil melambaikan tangan.
“ Daaah “ balasku.
Ilana pun pergi menghampiri kekasihnya yang sedang menunggu di tempat parkir. Beberapa menit kemudian ia dan kekasihnya pulang.
Tak lama setelah Ilana dan kekasihnya pergi, ponselku bergetar tanda sms masuk. Kubuka ponselku dan ternyata ada sms dari Pak Nunu yang menyatakan bahwa hari ini ia tak bisa menjemputku karena anaknya sedang sakit. Oke, tak apa. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.
Begitu aku berdiri dari bangku taman dan baru saja membalikkan badan, sesosok pria tinggi berjaket hitam yang mengenakan helm full face berdiri di hadapanku. Aku kaget dan hampir berteriak. Namun pria itu segera melepas helmnya.
“ Hei Rin ! Udah mau pulang ? “ tanya Mario. Aku menghela nafas lega karena ternyata pria itu adalah Mario.
“ Mmm… Iya kak “ jawabku tanpa bertele-tele.
“ Bareng aku, yuk ? “ ajak Mario.
Mario Pratama ? Pria paling populer di sekolah mengenalku dan mengajakku pulang bersamanya ? Oh Tuhan… Mungkin aku tengah bermimpi sekarang. Aku hanya seorang anggota ekskul KIR yang tak secantik dan sepopuler Stella. Namun mengapa Mario…
Tolong jatuhkan apapun dari langit tepat di atas kepalaku ini, Tuhan. Agar aku bisa yakin bahwa ini bukanlah mimpi. Kalaupun ini hanya mimpi, aku bisa segera bangun agar mimpi indah ini tak berkepanjangan yang justru akan menyakitkan hatiku.
“ Hey ! Malah ngelamun… Ayo pulang bareng aku “ paksa Mario yang kemudian menarik tanganku. Salah tingkah aku dibuatnya.
“ Ng… Eh… Itu pacar kakak gimana ? “ tanyaku yang merasa tak enak pada Stella, mengingat kejadian tadi siang.
“ Pacar yang mana ? “ tanya Mario bingung.
“ Yang tadi siang “
“ Aduh… Si manja itu bukan pacar aku, Rin ! Ayo ah pulang. Nggak baik anak cewek pulang sore sendirian “ paksa Mario sambil terus menarik tanganku.
Akhirnya aku pun pasrah terhadap paksaan Mario. Oke, terima saja kalau Mario benar-benar ingin pulang bersamaku. Ternyata hukum alam yang menyatakan bahwa seranggalah yang mengejar bunga itu berlaku…
****
Aku dan Mario terlibat dalam sebuah percakapan panjang selama perjalanan pulang tadi. Ternyata Mario mengenalku karena ternyata, aku cukup terkenal – katanya. Aku memang sangat aktif dalam ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja. Aku bersama teman-temanku di KIR sering menjuarai beberapa lomba yang berhubungan dengan Sains. Tetapi bukan olimpiade seperti Mario. Menariknya, aku baru sadar bahwa ternyata aku dan Mario tertarik dalam bidang yang sama. Yah… Aku berharap kami bisa menjalin sebuah hubungan dekat karena kesamaan ini.
****
“ Yang roketnya meluncur paling tinggi, yang ditraktir es krim ya ? “ ujar Mario pada suatu siang di halaman belakang sekolah. Kami tengah melakukan sebuah eksperimen peluncuran roket air pada saat itu.
Semenjak Mario mengajakku pulang bersamanya beberapa hari yang lalu, hubungan kami memang makin dekat. Ditambah lagi, kini ia bergabung dengan ekskul KIR. Kami makin sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku pun… Merasa nyaman bila berada di dekatnya.
“ Siap ya… “ ucap Mario.
Aku bersiap menekan pompa sepeda yang akan memacu roket airku untuk meluncur.
“ Satu… Dua… Tiga ! “
Kami berdua menekan pompa sepeda masing-masing. Roket yang kami buat pun sama-sama meluncur. Namun sayang… Luncuran roket Mario tak setinggi luncuran roketku. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum puas.
“ Oke oke deh… Ayooo aku traktir es krim coklat ya “ ucap Mario yang sudah mengaku kalah terlebih dahulu. Aku pun tertawa.
Bersamanya aku pergi ke kantin sekolah yang menjual es krim. Tak segan kami mendatangi tempat yang ramai akan pengunjung itu sambil masih mengenakan jas laboratorium.
Mario duduk berdua bersamaku di bangku kantin sambil melahap es krim. Mulutku belepotan oleh noda es krim.
“ Aduh kamu kaya bocah aja… “ kata Mario sambil meraih sebuah kertas tissue dan mengelapkannya ke bibirku.
Aku pun jadi salah tingkah diperlakukan semanis itu oleh Mario. Setahuku, belum pernah ada perempuan yang diperlakukan seistimewa ini oleh Mario. Karena aku baru saja mendengar kabar angin bahwa Mario belum pernah berpacaran. Dan dugaanku kemarin-kemarin bahwa Stella adalah kekasih Mario ternyata salah.
“ Makasih kak “ ucapku sambil tersipu malu. Kalau sudah malu begini, pasti telinga dan wajahku memerah seperti sekarang.
“ Sama-sama adik manis… “ balasnya sambil mencubit pipiku.
Oh cukup Mario ! Kau telah membuatku sadar bahwa sekarang aku mulai menyukaimu. Menggilaimu layaknya sebagian besar kaum hawa yang selalu berusaha mencuri hatimu. Dan sekarang sebagian besar gadis-gadis manis di sekolah ini tengah bersiap untuk memusuhiku karena adegan “manis” tadi ternyata tertonton oleh mereka. Termasuk sang bintang sekolah, Stella.
****
Sepanjang waktu makan siangku dengan calon ibu tiriku di restoran kuhabiskan dengan melamun. Pikiranku tak bisa lepas dari sosok pria sempurna itu. Semenjak kedekatanku dengannya, aku merasa jadi perempuan paling beruntung di sekolah. Banyak perempuan yang dekat dengan Mario, tapi tak ada yang diperlakukan seistimewa aku.
“ Rina kenapa senyum-senyum sendiri begitu ? “ tanya mommy – panggilan untuk calon ibu tiriku.
“ Ehehehe nggak apa-apa mom, cuma… Ehehehehe Rina nggak apa-apa kok “ jawabku sambil tersipu malu.
Aku memang sangat akur dengan calon ibu tiriku. Mungkin karena sejak batita aku sudah tak punya ibu, jadi aku sangat menginginkan ada sosok ibu dalam hidupku. Untungnya calon ibu tiriku ini sangat baik. Tak seperti yang ada di film-film, yang suka sekali menyiksa anak dari suaminya. Mommy lain, ia sangat baik dan perhatian sekali padaku. Ia sudah menyayangiku layaknya anaknya sendiri.
“ Hmm… Rina lagi jatuh cinta ya ? “ tebak mommy.
Mendengar tebakan mommy, aku salah tingkah. Bingung harus menjawab apa. Haruskah aku berbohong ? Tapi aku selalu terbuka pada mommy. Namun jika aku jujur, aku terlalu malu untuk menceritakannya.
“ Hehehe iya… “ jawabku malu-malu. Mommy tersenyum padaku. “ Tapi jangan bilangin ayah, mom. Please… “ aku memohon pada mommy agar tak menceritakan hal ini pada ayah. Karena aku tahu bahwa ayah belum mengizinkanku untuk berpacaran.
“ Iya iya… Emang Arina lagi suka sama siapa sih ? “ tanya mommy penasaran.
“ Ada mom… Kakak kelasnya Arina “ jawabku yang masih malu-malu.
“ Oh iya ? Duh ngingetin mommy jaman masih SMA tuh. Orangnya gimana ? “ tanyanya lagi.
“ Dia baik, mom. Pinter lagi, jago basket, ganteng juga. Kemaren-kemaren dia sempet anterin Rina ke rumah. Pokoknya Rina nyaman banget kalo deket sama dia. Dia juga care banget sama Rina “ aku menggambarkan sosok Mario pada mommy.
“ Wow… Siapa namanya ? “.
Namun belum sempat aku menyebut nama “Mario”, ponsel mommy berdering. Ada panggilan masuk dari ayahku. Ayah meminta mommy agar segera mengantarku pulang ke rumah.
“ Oke… Lain kali kita lanjut ceritanya ya, sayang. Kita mesti pulang “ kata mommy.
Aku menyayangkan mommy belum tahu nama pria yang kusukai itu. Tapi tak apalah… Masih banyak waktuku untuk bercerita tentang Mario dengan mommy.
****
Dugaanku bahwa sebagian besar gadis-gadis di sekolah akan memusuhiku ternyata benar. Tak hentinya aku menerima tatapan tajam dari setiap gadis yang kutemui di koridor sekolah. Ada pula yang saling berbisik satu sama lain sambil menyebut namaku. Aku mendadak populer di sekolah karena hal ini.
Namun Stella tak kunjung muncul di hadapanku. Kukira ia akan menghabisiku karena kedekatanku dengan pujaan hatinya. Ternyata ia telah mengalah duluan dan mengakui bahwa Mario lebih tertarik denganku dibandingkan dengannya.
“ Mendadak artis kamu, Rin “ ucap Ilana sambil menyantap semangkuk bakso bersamaku di kantin.
“ Ih nggak ah… Biasa aja “ balasku merendah. Tapi apa yang Ilana katakan tadi memang benar. Kini aku sepopuler Mario dan Stella.
“ Ih asli eksis tau ! Semenjak kamu deket sama Kak Mario… Hmm kayanya bentar lagi sahabatku ini bakalan punya pacar nih “ goda Ilana.
“ Lanaaaa apaan sih ? Nggak ih nggak… “ aku mencoba menangkis godaan Ilana, walaupun sebenarnya aku sangat mengamini.
“ Hahahaha salah tingkah dia… Kamu juga suka kan sama Kak Mario ? “ tanya Ilana.
Wajah dan telingaku memerah lagi. Kurasa dengan melihat reaksi tubuhku yang seperti ini, Ilana sudah tau jawabannya tanpa aku harus berkata-kata.
“ Oke deeeh… Kalo udah jadian nanti, traktir aku ya “ goda sahabatku lagi. Aku tersenyum malu dan mengangguk.
“ Seyakin apa kamu bisa jadian sama Mario ? “ tanya Stella yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku sambil melipat kedua tangannya dibawah dada, bersama segerombolan teman-temannya yang suka menggencet adik kelas.
“ Apa sih kamu, La ? Ikut-ikutan aja ! “ Ilana kesal terhadap Stella mulai bikin ulah.
“ Kamu diem deh ! “ bentar Stella pada Ilana.
Ilana hendak memukulnya, namun aku segera memegang tangannya. Menahannya agar ia tak melampiaskan emosinya secara kasar pada Stella yang malah akan memperpanjang masalah.
“ Aku sih nggak berniat untuk gencet kamu atau sakitin kamu ke sini, Rin “ ucap Stella.
“ Cuma mau ngingetin… “ Stella mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai membisikkan sesuatu. “ Jangan terlalu PD, cewek cupu “, ucapnya.
Terbakar rasanya telingaku mendengar ucapan Stella. Emosiku meluap. Ingin rasanya aku mengguyur teman sekelasku itu dengan es jeruk yang bekas kuminum tadi. Namun aku segera sadar bahwa hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Kutarik lengan Ilana, lalu segera membawanya pergi dari kantin saat itu juga.
Jangan sampai nanti kau menangis darah karena mendengar berita bahwa aku telah jadi kekasih Mario, Stella. Ancamku dalam hati.
****
“ Arinaaaa !!! “ panggil seseorang dari belakangku. Aku yang sedang berjalan sendirian menuju tempat parkir sekolah, berhenti melangkah dan membalikkan badan. Mario.
“ Udah dijemput ? “ tanya Mario.
“ Iya udah, kak. Ada apa ? “ aku berbalik tanya. Mario menggaruk-garuk kepalanya pertanda bingung. Namun ia segera angkat bicara.
“ Mmm… Kamu mau nggak besok malem dinner sama aku ? “ ajak Mario.
Apa ? Dinner ? Dengan Mario ? Berikan aku alasan logis mengapa aku harus menolak kesempatan emas seperti ini.
“ Hmm gimana ya… Dalam rangka apa dulu nih ? “ tanyaku yang pura-pura jual mahal pada Mario.
“ Aku mau kasih kamu kejutan, Rin “ jawabnya. Kejutan ? Apa jangan-jangan… Mario mau…
“ Dinnernya dimana kak ? “
“ Di Deutch Cafe. Tau kan ? “
“ Iya tau, kak. Jam berapa ? “
“ Jam tujuh malem. Aku tunggu kamu di sana ya… Ada kejutan yang mau aku kasih buat kamu “.
Mario berhasil membuat perasaanku campur aduk pada saat itu. Antara senang, cemas, salah tingkah, penasaran, pokoknya semuanya bercampur jadi satu. Tak sabar rasanya menantikan esok malam. Karena aku yakin, besok akan jadi hari yang bersejarah bagiku. Bagi kami berdua.
“ Aku tunggu ya adik manis “ ucapnya sambil mencubit pipiku.
****
Keesokkan harinya, di waktu sore.
Ilana berkunjung ke rumahku demi membantuku memilihkan pakaian untuk malam ini. Mommy tidak bisa membantu karena kebetulan hari ini ia sedang menemani ayah mengunjungi pesta pernikahan kliennya.
Butuh waktu berjam-jam bagiku dan Ilana untuk memilih pakaian yang pas. Setelah ada satu pakaian yang cocok aku pakai pada saat itu, Ilana segera mendandaniku. Bagaikan seorang penata rias handal, Ilana berhasil menyulapku dari seekor itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik.
“ How beautiful you are… “ puji Ilana sambil memperhatikan sosok diriku yang tak seperti biasanya di kaca.
Aku tertegun melihat diriku sendiri dengan pakaian indah dan polesan make up di wajahku. Aku benar-benar terlihat menawan pada saat itu, tak kalah dengan Stella. Mungkinkan malah ini Mario akan terpesona melihatku ?
“ Good luck… My best friend… “ ucap Ilana sambil memelukku. Aku memberikan pelukan terhangatku untuk sahabatku yang satu ini.
“ Aku janji… Kalo malem ini aku jadian sama Kak Mario, besok kamu aku traktir di kantin sepuasnya “ ucapku.
“ Beneran ya, Rin ? “
“ Iya “
Setelah memberikan beberapa kata penyemangat, Ilana mengantarku ke depan rumah untuk segera pergi. Pak Nunu sudah siap di depan rumah untuk mengantarku ke Deustch Cafe. Aku melambaikan tanganku pada Ilana, ia pun membalasnya.
God… Wish tonight gonna be my night.
****
Tak sampai sepuluh menit aku menunggu di Deutch Cafe, pria yang kutunggu akhirnya datang. Ia mengenakan setelan casual namun tetap trendy dan tetap menawan di mataku. Tak tampak di wajahnya sedikitpun tanda-tanda ia terpesona padaku. Apa dandananku terlalu sederhana ?
“ Udah lama nunggu, Rin ? “ tanya Mario sambil mengambil tempat duduk berhadapan denganku. Aku tersenyum dan menggeleng.
“ Syukurlah… Oh iya… Mau makan dulu apa kejutan dulu nih ? “ Mario menawarkan pilihan.
Oke, jujur. Aku tak akan mungkin bisa makan dengan nyaman apabila terus dirundung rasa penasaran. Jadi sepertinya, aku harus mengetahui kejutannya terlebih dahulu. Bukankah lebih nyaman apabila aku dan Mario makan berdua dan status kami sudah menjadi sepasang kekasih ?
“ Oke deh adik manis… Tutup matanya ya “ suruh Mario.
Bagaikan seekor anjing kecil yang setia pada majikannya, aku menurut pada suruhan Mario. Kupejamkan mataku rapat-rapat, lalu kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Berharap begitu aku membuka mata nanti, sudah ada setangkai bunga mawar di hadapanku lengkap dengan pernyataan cinta dari Mario. Atau justru kejutan yang lebih romantis.
“ Aku hitung mundur ya… Tiga… Dua… Satu… “
Kuturunkan kedua tanganku dan perlahan aku mulai membuka mata. Aku pun heran terhadap kejutan yang Mario buat.
“ Ayah ? Mommy ? “ kedua orang tuaku berdiri tepat di hadapanku bersama dengan Mario. Apa maksudnya ini ? Mario sudah menyukaiku sejak lama dan justru mendekati orang tuaku terlebih dahulu sebelum aku atau bagaimana ? Aku bingung.
“ Surprise ! “ seru mereka bertiga.
“ Surprise ? “ tanyaku heran.
“ Mario ini anak mommy, sayang… Ternyata kalian akur sekali ya “ ucap mommy.
“ Dan sebentar lagi kalian akan jadi saudara, karena ayah sama dan mommy mau menikah bulan depan “ tambah ayah.
Rasanya bagaikan dibawa terbang tinggi ke angkasa ratusan kilometer, namun pada akhirnya dihempaskan ke tanah dengan keras. Dan hempasannya itu tepat pada wajahku. Wajahku yang sekarang harus menanggung malu terhadap Ilana, Stella, teman-teman satu sekolahku, juga mommy. Aku tak yakin mommy tahu bahwa pria yang kusukai itu ternyata anaknya sendiri, karena aku sama sekali tak menyebut-nyebut namanya.
Dan mengapa mommy tega tak menceritakan dengan detail mengenai kehidupannya ? Mengenai anaknya yang ternyata jadi kakak kelasku di sekolah ? Mengenai anaknya yang ternyata adalah pria tampan paling populer di sekolah ? Yang kemarin-kemarin begitu dekat denganku dan kami berdua dikabarkan akan segera jadi sepasang kekasih ?
Tiba-tiba ucapan Ilana terngiang di telingaku. “Jangan terlalu PD”. Ya, gadis cantik yang otaknya sedikit dungu itu memang ternyata ada benarnya. Kepercayaandiriku terlalu tinggi sehingga kini aku sendiri yang harus merasakan akibatnya. Dan kini mereka bertiga – ayah, mommy, Mario – berhasil membuatku mati kutu.
“ Hehehehe ini kejutannya adik manis… Kamu seneng kan ? Bentar lagi kita sodaraan deh “ ucap Mario sambil merangkulku lalu mencubit pipiku. Adik manis. Oh. Ternyata aku memang benar-benar akan jadi adikmu.
“ Pasti Arina seneng kan ? Sudah, ayo kita makan kalau begitu. Kita rayakan calon keluarga baru ini “ ucap ayah yang begitu antusias.
Aku kembali ke tempat dudukku semula, dengan Mario yang kini duduk di sampingku. Nafsu makanku sudah pudar semenjak mommy berkata, “Mario ini anak mommy”.
Mual aku rasanya apabila mengingat perlakuan-perlakuan manis yang Mario berikan padaku kemarin-kemarin. Ternyata ia sudah mengenalku terlebih dahulu dari mommy, bukan karena keaktifanku dalam ekskul KIR. Ia pun bersikap manis padaku karena aku ini calon adik tirinya. Pantas saja, kata “adik manis” begitu sering terdengar di telingaku. Ingin rasanya kuulang waktu agar aku bisa mencabut kembali perasaanku yang sudah kutanam di hati Mario.
Di saat ayah, mommy, dan Mario sudah mulai menyantap hidangan dinner mereka. Aku masih saja diam karena benar-benar tak bernafsu untuk makan. Tak terbayang rasanya apabila harus tinggal serumah dengan pria di sampingku ini.
“ Arina kenapa diam saja ? Ayo makan “ suruh ayah.
“ Sebenernya dia lagi jatuh cinta tuh mas, sama kakak kelasnya. Siapa namanya Rin ? “ tanya mommy.
Damn.
THE END
Siswa mana di sekolah ini yang tak kenal Mario Pratama ? Siswa kelas XII IPA 4 yang terkenal akan ketampanannya, juga keahliannya di dalam bidang akademis dan non-akademis. Tak hanya menjadi kapten tim basket di sekolah, ia juga berhasil membawa nama sekolah ini di Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi. Ia juga orang yang pandai bergaul. Tak heran jika banyak orang yang ingin jadi temannya.
Jumlah teman dekat Mario sebanding dengan jumlah wanita-wanita cantik di sekolah yang siap bersaing untuk mencuri hati sang arjuna. Mulai dari Ami, seorang kutu buku yang jadi langganan korban bullying di sekolah. Hingga Stella, ketua ekskul Modern Dance yang menyandang predikat sebagai “Cewek Cantik Terpopuler” di sekolah.
Bagaimana dengan aku ? Apakah aku tertarik untuk merebut hati Mario, sama halnya dengan anak-anak perempuan di sekolahku ? Oh… Hidupku terlalu berharga untuk diisi dengan hal bodoh seperti itu. Hukum alam menyatakan bahwa, seranggalah yang harusnya mendekati bunga. Bukan sebaliknya.
****
Siang itu aku tengah berjalan sendirian di koridor sekolah sambil membawa sebuah map berisi kertas-kertas tugas milikku.
Dari jauh kulihat sosok Mario dan Stella sedang jalan berdua, berlawanan arah denganku. Dengan manja, Stella menggandeng tangan Mario. Namun… Stella justru menguncinya ! Tak rela melepaskan tangan Mario dari gandengannya. Terlihat ekspresi wajah Mario yang mulai tak nyaman dengan tingkah laku Stella yang kekanakan seperti itu.
Sebentar lagi aku akan berpapasan dengan mereka. Aku lebih memilih untuk membuang muka, daripada menonton adegan yang memuakkan tersebut. Toh, Mario pun tak akan mengenalku kan ?
“ Hai Arina “ ucap Mario begitu ia berpapasan denganku.
Aku kaget. Lalu segera mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk. Kutatap wajah Mario dan… ada segaris senyum menawan di bibirnya. Seketika saat itu juga aku jadi salah tingkah. Aku mencoba membalas sapaan Mario dengan sebuah senyuman. Namun karena aku terlalu gugup, yang kutampakkan malah sebuah senyum mengerikan yang membuat Mario tertawa kecil. Tunggu… Darimana ia tahu namaku ?
Aku membalikkan badanku untuk melihat sosok Mario dan Stella yang sudah berlalu. Kuharap saat itu Mario ikut membalikkan badannya dan tersenyum lagi padaku. Namun ternyata yang berbalik badan adalah wanita di sampingnya. Yang kemudian melemparkan tatapan tajam ke arah ku. Tatapan kebencian.
Aku menghela nafas. Stella. Gadis yang selalu mendapatkan segala hal yang ia inginkan.
****
Aku dan Ilana duduk berdua di taman sekolah yang berada dekat dengan lapangan parkir. Ilana tengah menunggu kekasihnya yang sore ini telah berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah, sambil menemaniku menunggu supir yang biasa menjemputku.
“ Nggak biasanya Pak Nunu lama jemput kaya gini… “ keluhku.
“ Sabar Rin. Pasti bentar lagi dia dateng kok “ hibur Ilana.
Empat puluh lima menit lamanya aku dan Ilana menunggu kedatangan Pak Nunu, tapi beliau belum muncul juga. Kedatangan Pak Nunu pun disusul oleh kedatangan kekasih Ilana.
“ Rin, Rico udah jemput nih… Gimana dong ? “ tanya Ilana yang merasa tak enak meninggalkanku sendirian.
“ Iya nggak apa-apa kok, Rin. Udah kamu sana pulang, udah sore. Pasti bentar lagi Pak Nunu dateng. Kalau nggak pun, aku bisa pulang naik taksi “ jawabku yang mencoba untuk meyakinkan Ilana.
“ Beneran nggak apa-apa ? “ tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.
“ Yaudah kalo gitu… Aku pulang duluan ya, Rin. Kamu hati-hati nunggu sendiran. Dadaaah “ ucapnya sambil melambaikan tangan.
“ Daaah “ balasku.
Ilana pun pergi menghampiri kekasihnya yang sedang menunggu di tempat parkir. Beberapa menit kemudian ia dan kekasihnya pulang.
Tak lama setelah Ilana dan kekasihnya pergi, ponselku bergetar tanda sms masuk. Kubuka ponselku dan ternyata ada sms dari Pak Nunu yang menyatakan bahwa hari ini ia tak bisa menjemputku karena anaknya sedang sakit. Oke, tak apa. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.
Begitu aku berdiri dari bangku taman dan baru saja membalikkan badan, sesosok pria tinggi berjaket hitam yang mengenakan helm full face berdiri di hadapanku. Aku kaget dan hampir berteriak. Namun pria itu segera melepas helmnya.
“ Hei Rin ! Udah mau pulang ? “ tanya Mario. Aku menghela nafas lega karena ternyata pria itu adalah Mario.
“ Mmm… Iya kak “ jawabku tanpa bertele-tele.
“ Bareng aku, yuk ? “ ajak Mario.
Mario Pratama ? Pria paling populer di sekolah mengenalku dan mengajakku pulang bersamanya ? Oh Tuhan… Mungkin aku tengah bermimpi sekarang. Aku hanya seorang anggota ekskul KIR yang tak secantik dan sepopuler Stella. Namun mengapa Mario…
Tolong jatuhkan apapun dari langit tepat di atas kepalaku ini, Tuhan. Agar aku bisa yakin bahwa ini bukanlah mimpi. Kalaupun ini hanya mimpi, aku bisa segera bangun agar mimpi indah ini tak berkepanjangan yang justru akan menyakitkan hatiku.
“ Hey ! Malah ngelamun… Ayo pulang bareng aku “ paksa Mario yang kemudian menarik tanganku. Salah tingkah aku dibuatnya.
“ Ng… Eh… Itu pacar kakak gimana ? “ tanyaku yang merasa tak enak pada Stella, mengingat kejadian tadi siang.
“ Pacar yang mana ? “ tanya Mario bingung.
“ Yang tadi siang “
“ Aduh… Si manja itu bukan pacar aku, Rin ! Ayo ah pulang. Nggak baik anak cewek pulang sore sendirian “ paksa Mario sambil terus menarik tanganku.
Akhirnya aku pun pasrah terhadap paksaan Mario. Oke, terima saja kalau Mario benar-benar ingin pulang bersamaku. Ternyata hukum alam yang menyatakan bahwa seranggalah yang mengejar bunga itu berlaku…
****
Aku dan Mario terlibat dalam sebuah percakapan panjang selama perjalanan pulang tadi. Ternyata Mario mengenalku karena ternyata, aku cukup terkenal – katanya. Aku memang sangat aktif dalam ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja. Aku bersama teman-temanku di KIR sering menjuarai beberapa lomba yang berhubungan dengan Sains. Tetapi bukan olimpiade seperti Mario. Menariknya, aku baru sadar bahwa ternyata aku dan Mario tertarik dalam bidang yang sama. Yah… Aku berharap kami bisa menjalin sebuah hubungan dekat karena kesamaan ini.
****
“ Yang roketnya meluncur paling tinggi, yang ditraktir es krim ya ? “ ujar Mario pada suatu siang di halaman belakang sekolah. Kami tengah melakukan sebuah eksperimen peluncuran roket air pada saat itu.
Semenjak Mario mengajakku pulang bersamanya beberapa hari yang lalu, hubungan kami memang makin dekat. Ditambah lagi, kini ia bergabung dengan ekskul KIR. Kami makin sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku pun… Merasa nyaman bila berada di dekatnya.
“ Siap ya… “ ucap Mario.
Aku bersiap menekan pompa sepeda yang akan memacu roket airku untuk meluncur.
“ Satu… Dua… Tiga ! “
Kami berdua menekan pompa sepeda masing-masing. Roket yang kami buat pun sama-sama meluncur. Namun sayang… Luncuran roket Mario tak setinggi luncuran roketku. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum puas.
“ Oke oke deh… Ayooo aku traktir es krim coklat ya “ ucap Mario yang sudah mengaku kalah terlebih dahulu. Aku pun tertawa.
Bersamanya aku pergi ke kantin sekolah yang menjual es krim. Tak segan kami mendatangi tempat yang ramai akan pengunjung itu sambil masih mengenakan jas laboratorium.
Mario duduk berdua bersamaku di bangku kantin sambil melahap es krim. Mulutku belepotan oleh noda es krim.
“ Aduh kamu kaya bocah aja… “ kata Mario sambil meraih sebuah kertas tissue dan mengelapkannya ke bibirku.
Aku pun jadi salah tingkah diperlakukan semanis itu oleh Mario. Setahuku, belum pernah ada perempuan yang diperlakukan seistimewa ini oleh Mario. Karena aku baru saja mendengar kabar angin bahwa Mario belum pernah berpacaran. Dan dugaanku kemarin-kemarin bahwa Stella adalah kekasih Mario ternyata salah.
“ Makasih kak “ ucapku sambil tersipu malu. Kalau sudah malu begini, pasti telinga dan wajahku memerah seperti sekarang.
“ Sama-sama adik manis… “ balasnya sambil mencubit pipiku.
Oh cukup Mario ! Kau telah membuatku sadar bahwa sekarang aku mulai menyukaimu. Menggilaimu layaknya sebagian besar kaum hawa yang selalu berusaha mencuri hatimu. Dan sekarang sebagian besar gadis-gadis manis di sekolah ini tengah bersiap untuk memusuhiku karena adegan “manis” tadi ternyata tertonton oleh mereka. Termasuk sang bintang sekolah, Stella.
****
Sepanjang waktu makan siangku dengan calon ibu tiriku di restoran kuhabiskan dengan melamun. Pikiranku tak bisa lepas dari sosok pria sempurna itu. Semenjak kedekatanku dengannya, aku merasa jadi perempuan paling beruntung di sekolah. Banyak perempuan yang dekat dengan Mario, tapi tak ada yang diperlakukan seistimewa aku.
“ Rina kenapa senyum-senyum sendiri begitu ? “ tanya mommy – panggilan untuk calon ibu tiriku.
“ Ehehehe nggak apa-apa mom, cuma… Ehehehehe Rina nggak apa-apa kok “ jawabku sambil tersipu malu.
Aku memang sangat akur dengan calon ibu tiriku. Mungkin karena sejak batita aku sudah tak punya ibu, jadi aku sangat menginginkan ada sosok ibu dalam hidupku. Untungnya calon ibu tiriku ini sangat baik. Tak seperti yang ada di film-film, yang suka sekali menyiksa anak dari suaminya. Mommy lain, ia sangat baik dan perhatian sekali padaku. Ia sudah menyayangiku layaknya anaknya sendiri.
“ Hmm… Rina lagi jatuh cinta ya ? “ tebak mommy.
Mendengar tebakan mommy, aku salah tingkah. Bingung harus menjawab apa. Haruskah aku berbohong ? Tapi aku selalu terbuka pada mommy. Namun jika aku jujur, aku terlalu malu untuk menceritakannya.
“ Hehehe iya… “ jawabku malu-malu. Mommy tersenyum padaku. “ Tapi jangan bilangin ayah, mom. Please… “ aku memohon pada mommy agar tak menceritakan hal ini pada ayah. Karena aku tahu bahwa ayah belum mengizinkanku untuk berpacaran.
“ Iya iya… Emang Arina lagi suka sama siapa sih ? “ tanya mommy penasaran.
“ Ada mom… Kakak kelasnya Arina “ jawabku yang masih malu-malu.
“ Oh iya ? Duh ngingetin mommy jaman masih SMA tuh. Orangnya gimana ? “ tanyanya lagi.
“ Dia baik, mom. Pinter lagi, jago basket, ganteng juga. Kemaren-kemaren dia sempet anterin Rina ke rumah. Pokoknya Rina nyaman banget kalo deket sama dia. Dia juga care banget sama Rina “ aku menggambarkan sosok Mario pada mommy.
“ Wow… Siapa namanya ? “.
Namun belum sempat aku menyebut nama “Mario”, ponsel mommy berdering. Ada panggilan masuk dari ayahku. Ayah meminta mommy agar segera mengantarku pulang ke rumah.
“ Oke… Lain kali kita lanjut ceritanya ya, sayang. Kita mesti pulang “ kata mommy.
Aku menyayangkan mommy belum tahu nama pria yang kusukai itu. Tapi tak apalah… Masih banyak waktuku untuk bercerita tentang Mario dengan mommy.
****
Dugaanku bahwa sebagian besar gadis-gadis di sekolah akan memusuhiku ternyata benar. Tak hentinya aku menerima tatapan tajam dari setiap gadis yang kutemui di koridor sekolah. Ada pula yang saling berbisik satu sama lain sambil menyebut namaku. Aku mendadak populer di sekolah karena hal ini.
Namun Stella tak kunjung muncul di hadapanku. Kukira ia akan menghabisiku karena kedekatanku dengan pujaan hatinya. Ternyata ia telah mengalah duluan dan mengakui bahwa Mario lebih tertarik denganku dibandingkan dengannya.
“ Mendadak artis kamu, Rin “ ucap Ilana sambil menyantap semangkuk bakso bersamaku di kantin.
“ Ih nggak ah… Biasa aja “ balasku merendah. Tapi apa yang Ilana katakan tadi memang benar. Kini aku sepopuler Mario dan Stella.
“ Ih asli eksis tau ! Semenjak kamu deket sama Kak Mario… Hmm kayanya bentar lagi sahabatku ini bakalan punya pacar nih “ goda Ilana.
“ Lanaaaa apaan sih ? Nggak ih nggak… “ aku mencoba menangkis godaan Ilana, walaupun sebenarnya aku sangat mengamini.
“ Hahahaha salah tingkah dia… Kamu juga suka kan sama Kak Mario ? “ tanya Ilana.
Wajah dan telingaku memerah lagi. Kurasa dengan melihat reaksi tubuhku yang seperti ini, Ilana sudah tau jawabannya tanpa aku harus berkata-kata.
“ Oke deeeh… Kalo udah jadian nanti, traktir aku ya “ goda sahabatku lagi. Aku tersenyum malu dan mengangguk.
“ Seyakin apa kamu bisa jadian sama Mario ? “ tanya Stella yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku sambil melipat kedua tangannya dibawah dada, bersama segerombolan teman-temannya yang suka menggencet adik kelas.
“ Apa sih kamu, La ? Ikut-ikutan aja ! “ Ilana kesal terhadap Stella mulai bikin ulah.
“ Kamu diem deh ! “ bentar Stella pada Ilana.
Ilana hendak memukulnya, namun aku segera memegang tangannya. Menahannya agar ia tak melampiaskan emosinya secara kasar pada Stella yang malah akan memperpanjang masalah.
“ Aku sih nggak berniat untuk gencet kamu atau sakitin kamu ke sini, Rin “ ucap Stella.
“ Cuma mau ngingetin… “ Stella mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai membisikkan sesuatu. “ Jangan terlalu PD, cewek cupu “, ucapnya.
Terbakar rasanya telingaku mendengar ucapan Stella. Emosiku meluap. Ingin rasanya aku mengguyur teman sekelasku itu dengan es jeruk yang bekas kuminum tadi. Namun aku segera sadar bahwa hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Kutarik lengan Ilana, lalu segera membawanya pergi dari kantin saat itu juga.
Jangan sampai nanti kau menangis darah karena mendengar berita bahwa aku telah jadi kekasih Mario, Stella. Ancamku dalam hati.
****
“ Arinaaaa !!! “ panggil seseorang dari belakangku. Aku yang sedang berjalan sendirian menuju tempat parkir sekolah, berhenti melangkah dan membalikkan badan. Mario.
“ Udah dijemput ? “ tanya Mario.
“ Iya udah, kak. Ada apa ? “ aku berbalik tanya. Mario menggaruk-garuk kepalanya pertanda bingung. Namun ia segera angkat bicara.
“ Mmm… Kamu mau nggak besok malem dinner sama aku ? “ ajak Mario.
Apa ? Dinner ? Dengan Mario ? Berikan aku alasan logis mengapa aku harus menolak kesempatan emas seperti ini.
“ Hmm gimana ya… Dalam rangka apa dulu nih ? “ tanyaku yang pura-pura jual mahal pada Mario.
“ Aku mau kasih kamu kejutan, Rin “ jawabnya. Kejutan ? Apa jangan-jangan… Mario mau…
“ Dinnernya dimana kak ? “
“ Di Deutch Cafe. Tau kan ? “
“ Iya tau, kak. Jam berapa ? “
“ Jam tujuh malem. Aku tunggu kamu di sana ya… Ada kejutan yang mau aku kasih buat kamu “.
Mario berhasil membuat perasaanku campur aduk pada saat itu. Antara senang, cemas, salah tingkah, penasaran, pokoknya semuanya bercampur jadi satu. Tak sabar rasanya menantikan esok malam. Karena aku yakin, besok akan jadi hari yang bersejarah bagiku. Bagi kami berdua.
“ Aku tunggu ya adik manis “ ucapnya sambil mencubit pipiku.
****
Keesokkan harinya, di waktu sore.
Ilana berkunjung ke rumahku demi membantuku memilihkan pakaian untuk malam ini. Mommy tidak bisa membantu karena kebetulan hari ini ia sedang menemani ayah mengunjungi pesta pernikahan kliennya.
Butuh waktu berjam-jam bagiku dan Ilana untuk memilih pakaian yang pas. Setelah ada satu pakaian yang cocok aku pakai pada saat itu, Ilana segera mendandaniku. Bagaikan seorang penata rias handal, Ilana berhasil menyulapku dari seekor itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik.
“ How beautiful you are… “ puji Ilana sambil memperhatikan sosok diriku yang tak seperti biasanya di kaca.
Aku tertegun melihat diriku sendiri dengan pakaian indah dan polesan make up di wajahku. Aku benar-benar terlihat menawan pada saat itu, tak kalah dengan Stella. Mungkinkan malah ini Mario akan terpesona melihatku ?
“ Good luck… My best friend… “ ucap Ilana sambil memelukku. Aku memberikan pelukan terhangatku untuk sahabatku yang satu ini.
“ Aku janji… Kalo malem ini aku jadian sama Kak Mario, besok kamu aku traktir di kantin sepuasnya “ ucapku.
“ Beneran ya, Rin ? “
“ Iya “
Setelah memberikan beberapa kata penyemangat, Ilana mengantarku ke depan rumah untuk segera pergi. Pak Nunu sudah siap di depan rumah untuk mengantarku ke Deustch Cafe. Aku melambaikan tanganku pada Ilana, ia pun membalasnya.
God… Wish tonight gonna be my night.
****
Tak sampai sepuluh menit aku menunggu di Deutch Cafe, pria yang kutunggu akhirnya datang. Ia mengenakan setelan casual namun tetap trendy dan tetap menawan di mataku. Tak tampak di wajahnya sedikitpun tanda-tanda ia terpesona padaku. Apa dandananku terlalu sederhana ?
“ Udah lama nunggu, Rin ? “ tanya Mario sambil mengambil tempat duduk berhadapan denganku. Aku tersenyum dan menggeleng.
“ Syukurlah… Oh iya… Mau makan dulu apa kejutan dulu nih ? “ Mario menawarkan pilihan.
Oke, jujur. Aku tak akan mungkin bisa makan dengan nyaman apabila terus dirundung rasa penasaran. Jadi sepertinya, aku harus mengetahui kejutannya terlebih dahulu. Bukankah lebih nyaman apabila aku dan Mario makan berdua dan status kami sudah menjadi sepasang kekasih ?
“ Oke deh adik manis… Tutup matanya ya “ suruh Mario.
Bagaikan seekor anjing kecil yang setia pada majikannya, aku menurut pada suruhan Mario. Kupejamkan mataku rapat-rapat, lalu kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Berharap begitu aku membuka mata nanti, sudah ada setangkai bunga mawar di hadapanku lengkap dengan pernyataan cinta dari Mario. Atau justru kejutan yang lebih romantis.
“ Aku hitung mundur ya… Tiga… Dua… Satu… “
Kuturunkan kedua tanganku dan perlahan aku mulai membuka mata. Aku pun heran terhadap kejutan yang Mario buat.
“ Ayah ? Mommy ? “ kedua orang tuaku berdiri tepat di hadapanku bersama dengan Mario. Apa maksudnya ini ? Mario sudah menyukaiku sejak lama dan justru mendekati orang tuaku terlebih dahulu sebelum aku atau bagaimana ? Aku bingung.
“ Surprise ! “ seru mereka bertiga.
“ Surprise ? “ tanyaku heran.
“ Mario ini anak mommy, sayang… Ternyata kalian akur sekali ya “ ucap mommy.
“ Dan sebentar lagi kalian akan jadi saudara, karena ayah sama dan mommy mau menikah bulan depan “ tambah ayah.
Rasanya bagaikan dibawa terbang tinggi ke angkasa ratusan kilometer, namun pada akhirnya dihempaskan ke tanah dengan keras. Dan hempasannya itu tepat pada wajahku. Wajahku yang sekarang harus menanggung malu terhadap Ilana, Stella, teman-teman satu sekolahku, juga mommy. Aku tak yakin mommy tahu bahwa pria yang kusukai itu ternyata anaknya sendiri, karena aku sama sekali tak menyebut-nyebut namanya.
Dan mengapa mommy tega tak menceritakan dengan detail mengenai kehidupannya ? Mengenai anaknya yang ternyata jadi kakak kelasku di sekolah ? Mengenai anaknya yang ternyata adalah pria tampan paling populer di sekolah ? Yang kemarin-kemarin begitu dekat denganku dan kami berdua dikabarkan akan segera jadi sepasang kekasih ?
Tiba-tiba ucapan Ilana terngiang di telingaku. “Jangan terlalu PD”. Ya, gadis cantik yang otaknya sedikit dungu itu memang ternyata ada benarnya. Kepercayaandiriku terlalu tinggi sehingga kini aku sendiri yang harus merasakan akibatnya. Dan kini mereka bertiga – ayah, mommy, Mario – berhasil membuatku mati kutu.
“ Hehehehe ini kejutannya adik manis… Kamu seneng kan ? Bentar lagi kita sodaraan deh “ ucap Mario sambil merangkulku lalu mencubit pipiku. Adik manis. Oh. Ternyata aku memang benar-benar akan jadi adikmu.
“ Pasti Arina seneng kan ? Sudah, ayo kita makan kalau begitu. Kita rayakan calon keluarga baru ini “ ucap ayah yang begitu antusias.
Aku kembali ke tempat dudukku semula, dengan Mario yang kini duduk di sampingku. Nafsu makanku sudah pudar semenjak mommy berkata, “Mario ini anak mommy”.
Mual aku rasanya apabila mengingat perlakuan-perlakuan manis yang Mario berikan padaku kemarin-kemarin. Ternyata ia sudah mengenalku terlebih dahulu dari mommy, bukan karena keaktifanku dalam ekskul KIR. Ia pun bersikap manis padaku karena aku ini calon adik tirinya. Pantas saja, kata “adik manis” begitu sering terdengar di telingaku. Ingin rasanya kuulang waktu agar aku bisa mencabut kembali perasaanku yang sudah kutanam di hati Mario.
Di saat ayah, mommy, dan Mario sudah mulai menyantap hidangan dinner mereka. Aku masih saja diam karena benar-benar tak bernafsu untuk makan. Tak terbayang rasanya apabila harus tinggal serumah dengan pria di sampingku ini.
“ Arina kenapa diam saja ? Ayo makan “ suruh ayah.
“ Sebenernya dia lagi jatuh cinta tuh mas, sama kakak kelasnya. Siapa namanya Rin ? “ tanya mommy.
Damn.
THE END
Sabtu, 08 Maret 2014
mungkin dunia ini tidak adil, mungkin?
Kamu sedang apa? Kok merenung lama sekali begitu?
Aku sedang berpikir. Memikirkan dunia. Memikirkan takdir. Memikirkan takdir dalam dunia. Memikirkan bahwa dunia tidak pernah adil. Menyedihkan bukan? Hey, bukan cuma aku yang menganggap dunia itu tidak adil kok. Banyak penyair dan tokoh terkemuka lainnya berpendapat begitu. Berarti aku benar.
Benarkah? Kamu yakin?
Ya, tentu saja. Orang jahat, tukang korupsi, orang serakah, penjudi, pembohong, penipu, bahkan sampai pengemis bohongan bisa hidup senang dan glamour. Lah kalau orang baik? Orang jujur dan soleh? Tidak pernah hidup sejahtera. Selalu dijadikan kambing hitam. Tidak adil.
Menurutku tidak seperti itu. Semua akan ada balasan pada akhirnya kan? Tidak ada yang tidak adil.
Oh jadi kamu yang belum nyambung ya. Aku tadi berkata dunia ini tidak adil. Kalau di akhirat sih, ya mungkin akan ada balasannya. Tapi dunia ini, dunia ini kacau. Iyakan? Tidak adil. Orang jahat sudah menyebar kemana mana. Menjamur dan menggeser orang orang baik ke tingkat yang lebih rendah. Hah!
Bahkan rakyat lebih pro kepada pemimpin yang mengumbar uang dan bukannya yang benar benar pemimpin. Mengerti kan? Kamu salah tanggap tadi.
Aku mengerti. Maksudku ya memang dunia ini adil kok. Kamu saja yang selalu berprasangka buruk.
Bagaimana kamu kok bisa bilang seperti itu?
Lihat sekelilingmu, orang jahat, tukang korupsi, penjudi, penjahat dan siapalah itu yang tadi banyak sekali kamu sebutkan itu, mereka tidak seberuntung orang baik dan soleh dalam hal apapun.
bersambung ya aku rada unmood ngelanjutin sekarang hehe..
Aku sedang berpikir. Memikirkan dunia. Memikirkan takdir. Memikirkan takdir dalam dunia. Memikirkan bahwa dunia tidak pernah adil. Menyedihkan bukan? Hey, bukan cuma aku yang menganggap dunia itu tidak adil kok. Banyak penyair dan tokoh terkemuka lainnya berpendapat begitu. Berarti aku benar.
Benarkah? Kamu yakin?
Ya, tentu saja. Orang jahat, tukang korupsi, orang serakah, penjudi, pembohong, penipu, bahkan sampai pengemis bohongan bisa hidup senang dan glamour. Lah kalau orang baik? Orang jujur dan soleh? Tidak pernah hidup sejahtera. Selalu dijadikan kambing hitam. Tidak adil.
Menurutku tidak seperti itu. Semua akan ada balasan pada akhirnya kan? Tidak ada yang tidak adil.
Oh jadi kamu yang belum nyambung ya. Aku tadi berkata dunia ini tidak adil. Kalau di akhirat sih, ya mungkin akan ada balasannya. Tapi dunia ini, dunia ini kacau. Iyakan? Tidak adil. Orang jahat sudah menyebar kemana mana. Menjamur dan menggeser orang orang baik ke tingkat yang lebih rendah. Hah!
Bahkan rakyat lebih pro kepada pemimpin yang mengumbar uang dan bukannya yang benar benar pemimpin. Mengerti kan? Kamu salah tanggap tadi.
Aku mengerti. Maksudku ya memang dunia ini adil kok. Kamu saja yang selalu berprasangka buruk.
Bagaimana kamu kok bisa bilang seperti itu?
Lihat sekelilingmu, orang jahat, tukang korupsi, penjudi, penjahat dan siapalah itu yang tadi banyak sekali kamu sebutkan itu, mereka tidak seberuntung orang baik dan soleh dalam hal apapun.
bersambung ya aku rada unmood ngelanjutin sekarang hehe..
Kamis, 06 Maret 2014
cause and effect
Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil. Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung. Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita. Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita. Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu kita jatuh, kita baru tahu siapa sesungguhnya teman kita. Waktu kita sakit, kita juga baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA. Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan, dan setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA, saling menghargai, saling membantu dan memberi, juga saling mendukung. Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat. Believe in "Cause and Effect" Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai
Si perfeksionis.
Saya akui sifat perfeksionis saya amat besar. Tapi keperfeksionisan saya tidak condong dalam hal hal yang mengejar kesempurnaan, tidak idealis, saya lebih cendrung sensitif dan peduli pada siapa saja yang juga peduli terhadap saya. Ya saya memang lebih dominan untuk peduli dan terikat secara emosional dengan manusia lainnya. Tapi saya benci ketika orang lain tidak peduli terhadap saya. Saya selalu memperhatikan orang lain, dan bila orang itu tidak menaruh perhatian dengan intensitas yang sama, saya sering merasa tersinggung. Kemarahanku terkadang muncul begitu saja, bila ego saya dilanggar orang lain, tapi inilah yang menjadikan saya terus belajar menjadi dewasa, dengan segala kekurangan sifat saya. Dan dalam hidup bagi saya yang terpenting adalah kepercayaan. Saya sadar saya seorang perfeksionis, jika saya menyayangi saya rela memberikan seluruh hidup saya, tapi sekali saya dikhianati seumur hidup saya tak akan percaya lagi. Dan dalam kehidupan sosial saya lebih cendrung bergaul dengan orang yang memiliki sifat yang sama seperti saya, minimal mereka mengerti seperti apa sifat saya, inilah yang membuat saya lebih suka menyendiri dan antisociactiv terhadap lingkungan sekitar.
Senin, 03 Maret 2014
Yang datang kembali
Kamukah itu, yang datang kembali?
Kamukah itu, yang datang ketika hujan mulai mereda?
Raut wajahmu sudah mulai terlupakan,
seperempat abad lebih bukanlah waktu yang singkat untuk mengingatmu kembali
tapi ketika berhadapan denganmu
jantung ini bergejolak
kegelisahan yang sama saat pertemuan terakhir kita
Kamukah itu, yang datang membangkitkan amarah?
Hidupku penuh warna-warni saat kau tak ada lagi
Membangun kebahagiaan ternyata tak sesulit yang kukira
Kamukah itu, yang datang dengan mudahnya membawa maaf
Sepuluh tahun lalu mungkin akan kuterima
Tapi sekarang,
Aku sudah mengambil keputusan untuk melupakanmu
Jangan lagi, kau datang kacaukan aku.
Tapi,
Lihat sekarang?
Tetap seperti aku yang lama, selalu saja bisa maafkan kamu, kamu memang tak dapat lagi aku lupakan.
Kamukah itu, yang datang ketika hujan mulai mereda?
Raut wajahmu sudah mulai terlupakan,
seperempat abad lebih bukanlah waktu yang singkat untuk mengingatmu kembali
tapi ketika berhadapan denganmu
jantung ini bergejolak
kegelisahan yang sama saat pertemuan terakhir kita
Kamukah itu, yang datang membangkitkan amarah?
Hidupku penuh warna-warni saat kau tak ada lagi
Membangun kebahagiaan ternyata tak sesulit yang kukira
Kamukah itu, yang datang dengan mudahnya membawa maaf
Sepuluh tahun lalu mungkin akan kuterima
Tapi sekarang,
Aku sudah mengambil keputusan untuk melupakanmu
Jangan lagi, kau datang kacaukan aku.
Tapi,
Lihat sekarang?
Tetap seperti aku yang lama, selalu saja bisa maafkan kamu, kamu memang tak dapat lagi aku lupakan.
inginku, kamu.
Hari-hari ini, beberapa daripadaku telah tampak tak kasat mata di kepunyaanmu. Di saat aku ingin menjadi satu-satunya titik yang kaupandang lekat-lekat, kenyataan menjawabnya dengan pahit yang teramat pekat. Sebab, yang ada padaku memang tidak untuk menjadi sesuatu yang menarik perhatianmu. Teriakan yang tak terdengar, atau kamu memang enggan menoleh lalu sadar. Keberadaan yang tak terlihat, atau kamu memang enggan untuk kita menjadi terlalu dekat.
Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Kukira mencintai lewat mimpi tak akan pernah senyata ini, kecuali padamu.
Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.
Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau kedekatan memang tak pernah kauinginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati.
Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku. Bisa jadi, di suatu saat yang kelak, kamu menemui nyaman di hangat pelukku. Tetapi, bisa juga tidak.
Meski yang mereka lihat ialah bahwa aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha. Barangkali di suatu waktu yang entah, kamu akan mendengar. Barangkali di suatu titik yang entah, aku akan terlihat. Atau barangkali sebelum semuanya itu terjadi, rasa yang ada justru telanjur pergi.
Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan. Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat. Semoga pada saat itu, segala sesuatunya belumlah terlambat.
Rasanya aku tak begitu berbeda dengan yang lainnya, namun mengapa tak kamu berikan aku tatapan yang sama? Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, agar setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku? Kukira mencintai lewat mimpi tak akan pernah senyata ini, kecuali padamu.
Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya.
Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau kedekatan memang tak pernah kauinginkan? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, namun tak sekali pun kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila aku tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati.
Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku. Bisa jadi, di suatu saat yang kelak, kamu menemui nyaman di hangat pelukku. Tetapi, bisa juga tidak.
Meski yang mereka lihat ialah bahwa aku selalu menerima, ingatlah, tak berarti aku tidak berusaha. Barangkali di suatu waktu yang entah, kamu akan mendengar. Barangkali di suatu titik yang entah, aku akan terlihat. Atau barangkali sebelum semuanya itu terjadi, rasa yang ada justru telanjur pergi.
Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan. Semoga di suatu hari yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk terlihat. Semoga pada saat itu, segala sesuatunya belumlah terlambat.
Sabtu, 01 Maret 2014
(Skin Talk): Zat-zat berbahaya dalam skincare bila digunakan jangka panjang!
Maraknya kosmetik dalam maupun luar negeri membuat kita sebagai perempuan tertarik untuk membelinya. Karena klaim kosmetik natural atau alami, kemasan yang menarik, serta keunggulan produk.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
(Skin Talk): Zat-zat berbahaya dalam skincare bila digunakan jangka panjang!
Maraknya kosmetik dalam maupun luar negeri membuat kita sebagai perempuan tertarik untuk membelinya. Karena klaim kosmetik natural atau alami, kemasan yang menarik, serta keunggulan produk.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
Tetapi sebagai customer, pembeli, atau pengguna produk kosmetik (make-up maupun skin care) sebaiknya bersikap kritis. Jangan mudah tergiur "rayuan" keunggulan produk. Sebaiknya teliti sebelum membeli, khususnya komposisi atau ingredients yang biasanya tercantum di belakang produk atau tertulis di kertas penjelasan yang terdapat di kardus kosmetik.
Banyak sekali bahan yang harus dihindari pada produk kosmetik. Bahkan terkadang kita tak dapat menghapalnya satu per satu. Tetapi paling tidak bahan-bahan di bawah ini dapat dijadikan panduan dalam memilih produk kosmetik.
"Banyak bahan yang harus dihindari, sekarang ini masih banyak cleanser yang menggunakan SLS, even merek familiar pun msh mengandung SLS," ujar dr. Srie Prihianti, SpKK.
Bahan berbahaya yang terdapat di produk kosmetik antara lain:
* Sodium lauryl sulfate (SLS) atau sulfactan
Bahan ini masih banyak ditemukan di cleanser atau facial wash. SLS mempunyai indeks iritasi cukup tinggi. Produk yang menggunakan SLS terasa kesat di kulit dan bersih. Di sisi lain hal itu telah mengangkat lemak kulit yang berfungsi untuk proteksi. Akibatnya proteksi kulit berkurang, sehingga kulit mudah meradang, iritasi, alergi, dan lainnya.
* Pewarna
Pewarna di kosmetik, contohnya blush on, dapat menimbulkan flek di pipi (kecoklatan) jika sering menggunakannya. Begitu pula dengan parfum yang mengandung bergamot(salah satu jenis pewarna) akan meninggalkan bercak coklat di kulit. Namun produk untuk bayi sebaiknya tidak berwarna atau colorless.
* Paraben
Paraben memiliki banyak jenis, seperti
Propylparaben, Isobutylparaben, Methylparaben, Buthylparaben, dan masih banyak lainnya. Paraben merupakan bahan pengawet yang berfungsi memertahankan produk agar self live-nya lebih lama.
"Bahan-bahan pengawet ini kalau dioleskan terlalu sering di kulit akan bereaksi dan efek jangka panjangnya bisa menimbulkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Paraben itu sebetulnya sudah lama, sebetulnya tidak boleh dipakai," papar Srie.
* Mineral Oil
Mineral oil atau petroleum banyak digunkan untuk pelembab. Produk kosmetik yang mengunakan bahan ini akan membahayakan kulit, seperti kulit cenderung berminyak atau kusam. Meski demikian banyak kontroversi penggunaan mineral oil di kosmetik.
"Sebenarnya kita harus kritis menilai sebuah produk. Kadang-kadang produsen hanya memasukkan beberapa bahan organik, lalu mereka meng-klaim produknya natural, alami, atau organik, padahal di dalamnya masih banyak mengandung bahan kimia lain," lanjut Srie.
Jika produk yang ditawarkan benar-benar natural, harusnya tidak ada kandungan pengawet atau pewangi kimiawi. Menurut Srie, pemerintah harus melindungi customer dengan cara sertifikasi produk yang benar-benar natural dan tidak, seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat.
"Customer nggak bisa menghapal semua bahan berbahaya. Sebaiknya pilih skincare yg alami, aman, dan bikin kulit nyaman," tandasnya.
Pelajari bermacam-maca bentuk zat kimia yang biasa ada dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa produk kosmetik yang biasa ada dalam produk kosmetik:
1. PARABEN
Paraben bukanlah nama satu zat kimia melainkan nama kelompok suatu zat kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet. Paraben ini sangat murah, sehingga membuat beberapa produsen kosmetik tetap menggunakannya. Paraben biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan-bahan alami dalam produk kosmetik.
Bentuk-bentuk paraben yang biasa kita temui dalam produk kosmetik antara lain:
- Methylparaben
-Propylparaben
-Ethylparaben
-Butylparaben
Methylparaben dalam bentuk naturalnya bisa ditemui di dalam buah blueberry, di mana paraben berguna sebagai antimicrobial.
Meski begitu, paraben menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah:
-Alergi. Bagi banyak orang, paraben tidaklah menimbulkan alergi. Tetapi untuk sebagian orang, paraben menimbulkan masalah pada kulit. Kulit menjadi iritasi dan bisa timbul dermatitis.
-Kanker payudara. Dalam kasus kanker payudara, sering ditemukan zat paraben dalam jumlah besar di jaringan kanker. Ini mengindikasikan bahwa paraben mungkin saja juga salah penyebab dari kanker payudara.
-Mengganggu hormon, terutama hormon estrogen. Dalam penilitian yang menggunakan hewan, hormon estrogen menurun drastis ketika hewan yang bersangkutan terpapar paraben setelah beberapa lama.
2. ALKOHOL
Alkohol biasa digunakan untuk mencampur atau mengencerkan senyawa kimia. Alkohol pun berguna sebagai pengawet, menggantikan paraben yang berbahaya bagi kesehatan. Alkohol atau alkanon memiliki beberapa bentuk, sehingga dalam penulisan komposisi suatu produk mungkin saja kita tidak menemukan alkohol di dalamnya tetapi bentuk lain dari alkohol. Dalam bahasa kimia, senyawa alkohol ditulis dengan akhiran -nol. Jadi, jika kamu menemukan suatu zat kimia berakhiran -nol sudah dapat dipastika itu adalah alkohol.
Bentuk alkohol yang biasa ditemukan dalam produk kosmetik adalah:
-Cetyl alcohol (emollient)
-Panthenol (emollient)
-Benzyl alcohol (emollient)
-Etanol
Bentuk alkohol yang dilabeli emollient adalah bentuk alkohol yang "ramah", dalam arti, ia tidak bertindak sebagai pengencer melainkan sebagai moisturizer. Sedangkan etanol, ia adalah jenis alkohol untuk mengencerkan, bagi beberapa orang ketika kulitnya terpapar etanol akan terasa panas. Ini salah satu masalah yang bisa ditimbulkan dari alkohol pengencer. Tidak heran, karena zat-zat ini bisa juga jadi bahan bakar kendaraan ramah lingkungan lho...
3. ACID
Acid, atau asam dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu zat yang paling sering ditemukan dalam produk kosmetik. Berikut ini adalah beberapa bentuk acid yang sering kita temui:
- Stearic acid
Gunanya adalah untuk membersihkan dan menciptakan tekstur yang greasy.
- Sorbic acid
Ini adalah antimicrobial agent.
- Citric acid
Untuk mengontrol pH dalam produk yang berbentuk krim atau gel.
4. SILICONE
Silikon adalah salah satu zat yang berguna untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Ia juga membantu kulit atau rambut kita terasa tetap lembut. Zat silikon biasanya berakhiran -siloxane. Ada beberapa jenis silikon yang biasa kita temui dalam produk kosmetik.
- Cyclopentasiloxane
The best one. Banyak produk kecantikan dan perawatan rambut yang menggunkan silikon jenis ini)
*sumber:TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA.
Langganan:
Postingan (Atom)