Aku lebih suka berbicara pada embun embun setelah hujan reda, meski hanya perbincangan yang tak berarah. Walau terkadang aku lupa diri, lupa akan rahasiaku, tapi aku tak takut, karna aku tau, embun bisu.
Dalam kebisuannya, kusimpan rangkaian cerita, satu, atau dua rahasia,
Yakin, hanya satu atau dua?
Mungkin satu atau dua hanya perumpamaan, mungkin lebih tepatnya, semua rahasiaku.
Setelah hujan, mungkin aku lebih sering terlihat.
Baru saja keluar dari tempat persembunyian,
Tempat persembunyian?
Memangnya kau kenapa? Kenapa harus bersembunyi?
Apa kau orang jahat?
Oh, tentu saja aku bukan orang semacam itu, aku hanya saja terlampau muak dengan peradabanku ini.
Apa kau membenci dunia? Apa kau membenci Tuhan yang telah menciptakan dunia?
Aduh, tidak tidak, aku bukan membenci dunia ini, aku hanya membenci diriku dan peradabanku.
Lantas apa yang membuat mu membenci dirimu sendiri dan peradabanmu itu?
Hey, sudah jangan banyak bertanya padaku, aku bukan orang yang ramah dan senang bersosialisasi.
Aku membenci diriku yang selalu merasa sendiri, dalam peradabanku, mungkin aku memiliki orang orang yang kenal bahkan dekat dengan aku, tapi mereka bukan seperti yang ku inginkan, mereka tidak sejalan denganku. Mengerti aku saja mereka tak bisa, jangankan mengerti, mendengarkan aku saja tidak. Lalu gunanya apa aku berkomunikasi dengan mereka? Mereka tidak bisu, mereka memiliki akal, mereka berpikir, tidak seperti embun yang bisu. Tapi mereka tidak mendengar lebih baik daripada embun.
Hey, sudah sana kau pergi, kenapa aku bercerita padamu? Kau orang asing. Bahkan kau bukan embun, dasar kau, memang pengungkit rahasia yang pandai.
Ohahaha, tenang saja, aku mungkin bukan embun, aku mungkin bisa berpikir, dan memiliki akal, tapi aku pendengar yang baik bukan? Dan yang terpenting aku adalah bagian darimu.
Apa? Bagian dariku? Maksudmu bagaimana?
Akulah anugrah yang Tuhan ciptakan . Aku ini akal dan pikiranmu sendiri, sudah lama kau tidak mengajak aku berbincang bincang, aku rindu. Dan kau tidak perlu takut, karena tak diciptakan dengan kemampuan membongkar rahasia orang lain hahaha..
Tidak. Sama saja kau asing. Aku lebih suka bercerita pada embun.
Ohya? Lalu bagaimana ketika musim kemarau panjang, tak ada hujan? Apakah embun ada?
Oh, aku tak terpikirkan sampai sejauh itu.
Jangan takut. Ada aku yang selalu ada, ada atau tidak adanya hujan, aku tetap hadir untukmu.
Aku tidak yakin itu. Aku bosan berasionalis denganmu.
Tenanglah, aku memang tercipta dengan sikap yang sangat rasionalis. Tapi kali ini aku sudah dewasa dan sadar, akupun memiliki satu bagian kecil, bahkan kecil sekali, yang dinamakan hati.
Hati? Bukankah otak dan hati sudah tercipta masing masing?
Memang. Tapi otakpun hidup. Dan memiliki hati. Tak berwujud. Dan disebut "kata hati"
Kata hati?
Iya kata hati. Ketika logika dari sistem otak bersatu dengan perasaan dari sistem hati. Maka terciptalah kata hati, dimana mereka hadir saat kau berpikir dan berperasaan dalam porsi yang seimbang.
Jadi? Kita bisa berteman?
Tentu bisa, aku memang diciptakan untuk menemani kau,
Baiklah aku percaya, kau penjaga rahasia yang baik.
Bahkan mungkin lebih baik dari embunku.
Minggu, 13 April 2014
Sabtu, 12 April 2014
Atas nama Hati, maafkan aku.
Aku: Rindu ini untuk siapa?
Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Ah. Mengapa?
Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
Aku: Bodoh?
Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
Aku: Bagaimana bisa?
Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
Aku: Jadi aku harus bagaimana?
Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
Aku: Kau marah?
Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
Aku: Hubungan yang sulit...
Kepala: Aku tahu, aku tahu.
Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
Aku: Kita teman kan?
Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
Aku: Ah.
Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
Aku: Ah.
Kepala: Maafkan aku.
Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.
Aku: Apa?
Kepala: Kerasionalitasanku.
Aku: Itu hal yang buruk?
Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?
Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
Aku: Ah. Mengapa?
Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
Aku: Bodoh?
Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
Aku: Bagaimana bisa?
Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
Aku: Jadi aku harus bagaimana?
Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
Aku: Kau marah?
Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
Aku: Hubungan yang sulit...
Kepala: Aku tahu, aku tahu.
Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
Aku: Kita teman kan?
Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
Aku: Ah.
Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
Aku: Ah.
Kepala: Maafkan aku.
Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.
Aku: Apa?
Kepala: Kerasionalitasanku.
Aku: Itu hal yang buruk?
Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?
Langganan:
Postingan (Atom)