Senin, 23 Desember 2013

haruskah aku memilih?

hai^^ kali ini aku mau post tentang karya aku nih, sebenernya udah lama di draft belum siap buat di post tapi karena banyak temen temen di blog, minta buat di post jadi yasudah aku post sekarang deh. selamat membaca^^

little words...
cerita ini kupersembahkan untuk kamu yang membuat hidupku seperti hot latte klasik diiringi musik jazz di waktu hujan. hangat, nikmat, tepat dengan campuran pahit dan manis yang pas. karena akhirnya kehidupan hanyalah sepenggal cerita...

"lo berdua denger ya! sampe mati gue gak akan maafin Gio," sumpah ku sambil menghembuskan napas kesal. mungkin ini klimaks dari segala masalahku akhir akhir ini, entah apa yang ada dipikiranku saat ini, yang ada hanyalah sekelebat bayang bayang masa lalu yang begitu menyakitkan, yang mungkin akan memberhentikan sejenak detak jantungku, menyumbat aliran darahku dan akhirnya membawaku pergi untuk selamanya.

akhir dari segala permulaan.
ini adalah cerita pencarian cinta, sakitnya merasakan cinta sepihak lalu berakhir dengan menemukan pasangan jiwa yang sebenarnya. semestinya, mencintai adalah memberikan hati kita seutuhnya tanpa mengharap balasan, seperti hujan yang tulus, menjatuhkan airnya ke bumi,
percayalah, Tuhan menciptakan setiap makhluknya berpasang pasangan dan mempertemukannya dalam kisa dan waktu yang berbeda.
matahari mulai meredupkan sinarnya dan siap tergantikan oleh sang bulan, langit pun  tak seindah biasanya, yang hanya terlihat hitam dan terhampar luas tanpa ada bintang disisinya.
"Je, jangan ngelamun dong, kenapa sih kayanya lagi melow banget? " kini suara Nara membuyarkan segala lamunan ku.
"gue bingung Nar, dari pagi Gio gak ada kabar sama sekali, gue takut dia kenapa kenapa" sahutku tak bersemangat, ya memang hubungan ku dengan Gio seperti sudah di akhir jalan, tak ada yang bisa untuk dipertahankan, hanya saja aku masih menyimpan sebuah harapan bersamanya.
"udah coba lo hubungi dia?" tanya Nara.
"udah, bekali kali malah tapi nothing, gak ada respon sama sekali nar" sahutku.
kini mulai sebuah perasaan kecewa menyusup ke dalam seluruh ruang hatiku, membuahkan rasa rapuh dihidupku.
"hey, yaudahlah jangan terlalu dipikirin dong, kan masih ada Andi" goda Nara
"ih, apa sih Nar, gue cuma sekedar temen ko sama Andi, lagi pula dia juga kan temennya Gio kali, sok tau banget sih" sahutku sedikit merajuk
"Nah, kalo dia temennya Gio kenapa gak lo coba aja tanya sama dia tentang Gio, siapa tau dia tau sesuatu" 
aku pikir ada benarnya juga kata Nara, kenapa aku gak coba tanya aja sama Andi, siapa tau memang dia ada kaitanya dengan semua ini.
"ide bagus beb, makasih ya sarannya, lo emang sahabat paling paling baik sedunia" rayuku. Nara memang sahabatku sejak SMP dia bener bener bisa mengerti perasaanku. 
"yaudah ayo jadi engga nih kita hang out?" seru Nara setengah merajuk, 
"iya iya nanti gue siap siap dulu ya" sahutku
Ya Tuhan, aku rindu Gio, aku rindu cara cowok itu merangkulku, memelukku,  menggandengku, menciumku. Aku rindu setiap garis diwajahnya, senyumnya, hidungnya, matanya. semuanya Tuhan... mengapa ini harus terjadi padaku? mengapa kau karuniakan cinta ini padaku?
aku terduduk dia di kafe favorit aku dan Nara, kalau saja aku bisa menangis, mungkin aku bisa sedikit lega. tapi air mata ini tak kunjung keluar. benarkah aku sekuat ini? atau aku hanya berusaha kuat? atau aku hanya berusaha untuk terlihat baik baik saja? benarkah aku serapuh ini? atau memang aku hanya sedang mengasihani diriku sendiri?
satu tahun lima bulan aku bertahan sejauh ini. dua bulan belakangan ini aku jarang bertemu Gio, sekalinya bertemu dia semakin menyebalkan. aku begitu naif, begitu bodoh, tujuh belas bulan. aku memutar kenangan bersamanya di dalam kepalaku, dalam hati aku bertanya akan kah dia menahanku pergi? dalam hati aku berharap dia  mau berubah untukku. tapi sepertinya aku harus mulai menghapus harapan itu, aku harus menghadapi kenyataan, aku akan membuat keputusan. aku harus siap, harus kuat. sejak awal aku tau hari ini akan datang, aku tau hal ini akan terjadi. hanya saja, aku belum siap. aku tak akan pernah siap, tapi ini harus ku lalui, bisakah aku benar benar kehilangan dia? oh Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?
"hey, kenapa lagi sih, udah gak usah terlalu dipikirin dong je, itu tuh handphone lo bergetar" serunya, membawaku kembali kealam nyata,
"hah? eh iya sorry sorry engga konsen nih hehe.."
tiba tiba aku menyadari sesuatu, ternyata sebuah pesan tertuliskan dari Andi, mengajakku untuk bertemu, akhirnya aku benar benar yakin aku tak salah mengeja tulisan di dalam pesan itu, ya andi benar benar memintaku untuk bertemu dengannya, harus apa aku? bertemu dengan andi dengan suasana hati yang seperti ini?
"Nar, andi ngajak ketemuan nih, gimana dong?"
"ya bagus dong, yaudah ketemuan aja, toh rumah andi engga jauh ko dari rumah gue" 
"tapi,"
"tapi, apa udah gak usah ke banyakan mikir, udah yuk gue temenin tenang aja" potong Narah, tanpa memperdulikan raut wajahku yang sejak tadi mulai memerah.

setidaknya aku bisa sedikit melupakan semua masalahku malam ini, salahkah aku jika perasaan ini mulai terbagi Tuhan? atau mungkin aku sudah terlalu lelah dengan semua ini? atau kah hati ini sudah tak ingin terluka lagi? entahlah yang aku tau hanyalah aku mulai memiliki perasaan yang lain untuk Andi.
"eh kata Andi kita ketemuan di jembatan deket rumah dia itu loh, gimana?" tanyaku
"oh yaudah bagus, engga terlalu jauh ko dari sini" sahut Nara
"mau jalan sekarang?"
"yaudah iya iya, 
"semangat amat mau ketemu gebetan" goda Nara
"yeh sirik aja" sahutku seraya mencubit tangan Nara, lalu kami pun tertawa sepanjang perjalanan.
Dan saat ini aku melihat sosok Andi, tak bisakah detak jantung ini untuk sedikit bersembunyi, membuat seluruh kepercayaan diriku hilang, ini pertama kali aku bertemu Andi, selama ini aku hanya berhubungan dengan dia melalui handphone, dan sekarang benar benar nyata adanya Andi, sifatnya yang ceria membuat aku nyaman dan entah ada apa dengan semua ini, aku tak bisa menyembunyikan perasaanku, aku memang menyukai Andi, tapi sayangku masih sepenuhnya milik Gio.
aku masih teringat sebuah percakapan hangat antara aku dan Andi beberapa menit yang lalu, entah apa yang ada dipikiran Andi saat itu, seolah olah dia sedang berbicara dengan makhluk yang sangat mengerikan, sampai sampai dia tidak melihat wajahku sama sekali, dan kali ini aku merasa sangat dekat dengan Andi, apakah mungkin Andi memiliki perasaan yang sama seperti ku? apakah hanya aku yang berharap terlalu jauh? dan salahkah aku bila aku memiliki rasa ini?
malam sudah semakin larut, Andi belum juga datang, malam ini Andi berjanji untuk mengantarku pulang, Nara pun menyarankan agar aku diantar oleh Andi karena sudah larut malam, dan karna ada sesuatu hal yang ini aku tanyakan dengannya, jelas saja ini tentang Gio, Gio ku yang entah menghilang kemana.
Andi pun muncul  dari kejauhan, selama perjalanan aku hanya membicarakan Gio, banyak hal yang aku tanyakan tentang Gio kepada Andi, berharap aku bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Gio saat ini.
"Andi," panggilku
"iya, kenapa je?" sahutnya
"Gio pernah gak sih cerita sesuatu tentang gue?"
"kayanya engga deh je, Gio kalo curhat itu seringnya sama si Doni" jelasnya
"oh gitu ya," sahutku lesu
udara malam ini terasa terlalu dingin, laju motor andi melewati jalan yang biasa ku lalui bersama Gio, membuat aku semakin Rindu dengannya, berharap aku bisa menemukan Gio disini, tapi itu tidak mungkin terjadi, hanya hayalan wajahnya yang bisa sedikit membendung seluruh kerinduan ini.
"je.." sapa andi, menyadarkan aku dari semua lamunan lamunanku.
"eh iya kenapa ndi?" sahutku
"sebenernya, Gio... sebenernya Gio udah punya cewek lain je, dia baru jadian seminggu yang lalu, maaf gue baru bilang, gue mohon lo jangan bilang sama siapa siapa ya kalo gue yang kasih tau, maafin gue je" jelasnya
seperti ada petir yang menggelegar tepat di telingaku saat ini, membuatku mendadak menjadi tuli, menggosongkan hatiku, menghancurkan semua indraku, dan membuatku menjadi batu yang mulai retak untuk hancur berkeping keping. Pikiranku serasa tersumbat, tidak mampu berpikir, dan tidak mampu berkata kata untuk saat ini. Rasa sakit di dada ini seakan mampu membuatku mati berdiri, begitu nyeri yang aku rasakan hingga mampu merontokan seluruh tulang yang ada di dalam tubuhku.
"udah gue duga ko ndi," jawabku dengan suara parau
"je, lo gapapa kan?" tanya andi, seperti mengkhawatirkan aku
"it's okey ndi, " sahutku
setiap detik dalam hidupku diwarnai penghianatan, terlalu kejam untuk jadi kenyataan, terlalu buruk untuk jadi mimpi buruk, dan tangis pun tak sanggup menggambarkan apapun, lagu lagu mengalunkan nada empati, seolah tau perasaan apa ini, seandainya semudah itu menerima kenyataan, seandainya dia tak merampas seluruh napasku, seandainya dia menyisahkan sedikit untukku, agar setidaknya aku bisa berdiri lagi. napasku direnggutnya, nyawaku dicurinya, dia mengambil semuanya, setiap detik dalam hidupku.
"je, jangan nangis dong, udah diem ya" andi berusaha untuk menghibur aku, tapi rasa kecewa ini terlalu dalam, entah mana yang akan aku pilih, diam bertahan di masa lalu, atau melangkah dan melupakan untuk masa depan, seandainya semudah itu melupakan, tapi kenyataan sangat berbeda dengan angan anganku, merasakan seolah olah dunia ini mentertawakan aku atas kebodohan ku selama ini, hati terlalu lelah atau aku yang terlalu cinta? kini aku harus bisa menerima kenyataan ini, kenyataan bahwa perasaanku harus terabaikan sampai disini. demi Gio aku rela...
"lo tau ga sih gimana rasanya? sakit banget ndi" sahutku, aku tak mampu menahan air mata ini, air mata yang selama ini membuat aku terlihat kuat dan tegar akhirnya meluncur dari kedua mataku, mebasahi seluruh permukaan wajahku, 
setidaknya aku sudah bisa melepasnya setelah sekian lama dia menggantungkan hubungan ini, mungkin ini akhir yang harus aku terima, "Gio, tak bisakah sejenak kau jangan pergi, cobalah untuk bertahan, dan pahami hatiku, atau haruskah aku meminta kau jangan pergi" batinku.

cinta itu tumbuh kembali...
"belok kiri, terus belok kanan ya ndi, udah gue turun disini aja ndi" kataku
"iyaudah, emang udah deket?" tanyanya
"iya itu lurus terus belok udah sampe ko, makasih ya ndi"
"iya sama sama, udah jangan nangis" hibur andi
"iya engga ko, gue udah lega sekarang, tapi mata gue bengkak banget, liat deh" kulihat mataku yang sembab di spion motor andi
"lagi sih nangis terus, jadi sembab kan" sahut andi
"gapapa yang penting lega" jawabku tersenyum tipis
"yaudah sana pulang"
"nanti dulu, ini masih sembab matanya, besok males sekolah deh, lagi engga mood"
"iyaudah nanti kabarin gue aja ya, gue pulang dulu ya je" katanya
"iya, makasih ya ndi, hati hati ya" sahutku.
terasa sangat melelahkan hari ini, sedikit berbaring dan ditemani alunan musik yang setidaknya bisa me-refresh semua pikiranku, semua kenangan itu masih lekat dipikiranku, membuatku enggan untuk melupakan semuanya, terlalu manis untuk ku lupakan, namun ini sudah jalannya, dan harus apa aku sekarang ? aku pun tak tau. cinta dan kehilangan begitu dekat ternyata, aku sudah menduga, hanya saja mungkin aku tidak mempersiapkannya, aku hanya mempersiapkan hati untuk jatuh cinta, tanpa mempersiapkannya untuk mengucap selamat tinggal.
apa kabarmu disana? malam malam terasa begitu panjang disini, tanpamu. aku tak akan pernah lagi menemukanmu, yang kutemukan hanyalah rindu yang semakin mendalam di setiap detik demi detik yang aku lalui. hidup harus terus berjalan... ya aku tau itu, tapi mampukah aku membuka hati ini untuk yang lain selain untukmu?
seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar dan mengerti, kenapa sekarang aku harus benar benar terjatuh untuk orang seperti Gio? aku masih bisa bahagia tanpa dia, masih banyak orang yang peduli terhadap ku. perlahan aku mulai membuka hatiku untuk Andi walau aku tak tau seperti apa perasaan Andi terhadapku selama ini, akhir akhir ini hubungan antara aku dan Andi semakin jelas, entah dia akan membawa perasaan ini untuk bahagia bersama atau dibiarkannya berlalu dan terjatuh lagi.
prolog...
  "je, aku sayang kamu, gimana kalo kita jalani semua ini bersama sama, aku mau bersama kamu je" harus ku akui, aku tak bisa menahan perasaan bahagia ini, meskipun perkenalan kita tak cukup lama tapi Andi berhasil meyakinkan perasaanku untuk bisa jatuh cinta kembali, sentuhan tangan yang lembut membuatku tersentak dari lamunanku. ya Tuhan akhirnya kata kata itu terucapkan dari bibir Andi,seperti itu,iya seperti itu yang aku inginkan tapi aku terlalu naif untuk saat ini, aku masih mencintai Gio tetapi akupun menyimpan sebuah hati untuk Andi, harus apa sekarang? berjuang bersama andi ataukah bertahan dan terus mengikuti bayang bayang Gio di setiap hari hariku?
entahlah, this is just a story..
"iya, aku mau, tapi aku takut semuanya akan seperti masa laluku" ujarku,
"kita jalani saja dulu, aku buktikan aku engga seperti masa lalu mu itu je, percayalah" jawab Andi, genggaman tangan andi membuat aku nyaman, menyatukan semua perasaan dan membangun sebuah kepercayaan, setidaknya bisa membuat aku bangun dan bertahan untuk saat ini.
"iya, aku percaya Ndi, aku sayang kamu" sepertinya malam ini adalah malam yang sangat indah, tak pernah aku duga, andi akan mengungkapkannya secepat ini, hanya bulan, bintang, dan jalanan itu yang menjadi saksi kebahagiaanku malam ini, terimakasih Tuhan atas semua kebaikanMu, dan terimakasih Andiku, sudah hadir dalam kehidupanku dan mengobati lukaku.
"aku juga sayang kamu je" Andi tersenyum dan melingkarkan tanganku di pinggangnya seolah tak mau kehilangan aku, tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, sudah dua jam aku bersama Andi, tetapi serasa baru beberapa menit yang lalu. dengan enggan, aku pun kembali kerumah.
"ndi, maaf ya aku gak bisa lama lama sama kamu, makasih juga ya buat malam ini" jawabku malu malu, mungkin dia akan menganggapku sebagai anak kecil, karena masih terikat jam malam yang diatur oleh kedua orangtuaku. namun, begitulah keluargaku, mereka sangat ketat.
"engga masalah kok, tapi jangan lupa hubungi aku ya kalau sudah sampai rumah" sahutnya
aku mengangguk pelan.
Andi tersenyum begitu manis untukku, mengembuskan bius yang memabukan untukku, aku segera berlalu dari hadapannya.
aku merenung sejenak, membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu, aku berharap apa yang diucapkan Andi adalah perasaan yang sesungguhnya kepadaku adalah benar. hanya aku yang dia sukai bukan orang lain yang ada diluar sana, aku berharap Andi menjadikan aku kekasihnya, dan menyayangiku sepenuh hatinya.

dua minggu kemudian...,
sabtu sore, aku berdiam diri dikamarku sendiri. memasang earphone dan mendengarkan musik kencang-kencang dan mengikuti irama lagu dengan seenaknya tanpa peduli protes ibu agar aku tidak ribut. Andi tidak menghubungiku seperti biasanya. ponsel ini sengaja aku matikan karena aku tidak ingin setan yang ada pada diriku menang atas kehendaknya untuk menghubungi Andi untuk yang kesekian kalinya. kami bertengkar beberapa saat lalu, aku tak menyangka semua perasaan ini berubah begitu cepat, dan yang lebih membuat aku bingung, kenapa Gio harus hadir kembali di kehidupanku, "Gio, kenapa dengan mudahnya kamu mempermainkan perasaan ku" batinku.
semua cerita tentang Andi, membuatku ragu, siapa yang harus aku percaya saat ini? gio atau andi, ya Tuhan mereka saling memutar balikan cerita.
I really don't like this, aliran darahku tehenti seketika. aku sedikit gemetar menaruh ponselku diatas tempat tidur, dan menutup wajahku dengan bantal. air mataku mengalir pelan, mengeluarkan rasa marah yang sejak beberapa hari terakhir tidak dapat terlampiaskan. entah mengapa, aku menangis, entak untuk siapa aku menangis, menangis karena kehilangan Andi ataukah menangis karena Gio hadir kembali? iya, andi memutuskan untuh menyudahi hubungan ini, perihal pertengkaran beberapa saat lalu dan hadirnya gio pun menambah kekeruhan suasana hati. setelah puas meratapi diri, aku mengambil kembali ponselku, membuka kontak nama di dalamnya dan menghapus satu nama dari daftar kontakku. aku sudah tidak punya urusan pribadi lagi dengannya.
kebanyakan orang akan terlihat semakin kurus jika dia sedang dilanda stres yang berkepanjangan. namun tidak dengan diriku. aku akan semakin gemuk jika berada di bawah tekanan karena melampisakannya pada makanan, terutama cokelat dan es krim banana split. bagiku mereka adalah obat penenang yang sangat ampuh. tidak ada obat yang terasa manis di lidah kan? jadi, tidak ada obat yang lain akan aku gunakan untuk mengurangi ataupun menghilangkan rasa jenuh akibat aktivitas yang padat selama ini selain es krim. mengenai akibat yang harus aku tanggung setelah makan es krim? batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau apa pun itu, aku tidak peduli untuk saat ini.
bayangan sosok Andi selalu menjelma di mataku, bahkan saat ini. aku memang tidak mengenal Andi dengan tepat. siapa dia dan bagaimana dia sesungguhnya. namun, entah mengapa, hati ini berkata lain, sejak kali pertama mengenalnya, aku tidak bisa mengurangi kadar rasa ketertarikanku kepadanya, bahkan hingga sekarang, setelah dia sudah tak menjadi milikku, aku masih memiliki rasa itu kepadanya. hanya saja kini ditambah dengan rasa cemburu, kecewa, sedih dan sakit hati. great!
minggu malam, aku memutuskan untuk bertemu dengan Andi, hanya sekedar mencari kejelasan atas semua ini, apakah dia masih mencintaiku atau sudah melupakan tentang rasanya kepadaku.
  "jangan sakiti aku lagi ndi," pintaku pada akhirnya.
"aku engga akan nyakitin kamu, aku janji, asalkan aku bisa balik lagi sama kamu, bisakah je?" tanya Andi kepadaku
aku mengangguk penuh pertimbangan.
"aku merasa sangat bersalah sama kamu karena aku engga bisa ngertiin perasaan kamu saat itu, aku minta maaf je, aku berusaha untuk merubah semuanya aku buktiin itu" ucapnya
"aku terima alasanmu, aku juga minta maaf ndi, mungkin aku masih terlalu egois sama kamu" jawabku
"it's okey je, will you love me from the start?"
"yes,i"ll loved you again ndi" aku mengangguk pelan, tidak dapat menjabarkan bagaimana perasaanku kini, seperti mengadakan perjanjian dengan setan. aku merasa ketakutan yang aneh. antara takut dan senang.

Cinta yang lain...
aku memandang selembaran yang diberikan Rival kepadaku saat aku berada di kelas. sebuah kompetisi band yang diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun sebuah komunitas vespa di jakarta barat yang ke-1.
aku memandang Rival, teman satu angkatanku dengan tanda tanya besar. "maksudmu?" tanyaku langsung kepadanya
"aku dan teman teman di band lagi nyari vokalis cewek untuk kompetisi itu. kamu mau ikut audisi yang kami adakan besok di studio?" jelas rival dengan penuh harapan kepadaku.

audisi vokalis untuk kompetisi band? aku memandang selembaran tersebut sekali lagi. sebuah godaan yang menggiurkan karena hadiah bagi pemenang pertama selain uang tunai yang tidak seberapa besar, adalah kesempatan tampil satu panggung dengan grup band still virgin, salah satu band favoritku.

"kenapa aku?" tanyaku sekali lagi. kenapa rivai tiba tiba mengajakku yang notabene tidak pernah terlibat dalam sebuah band ataupun vocal grup atau apapun itu yang berhubungan dengan musik? aku hanya suka musik. sebagai penikmat musik saja.

"aku pernah lihat kamu nyanyi di acara malam keakraban saat pertama masuk kelas Ips beberapa bulan lalu. menurutku suaramu cocok dengan bandku," jelas rival.
aku mengangkat sebelah alisku. lalu aku teringat acara malam itu, aku dan teman temanku mempersembahkan sebuah pertunjukan drama musikal singkat. aku dan beberapa teman lainnya berakting dan menyanyikan beberapa lagu yang sesuai dengan tema drama tersebut.
 "please datang, dan coba jika kamu mau. aku tunggu ya. di belakang kertas itu ada alamat studio kami, juga nomor telepon aku, hubungi aku jika kamu jadi datang." rival berlalu dari hadapanku. aku masih terdiam diposisiku sepeninggalan rival. mengerutkan kedua alisku. menjadi vokalis band, apakah mungkin?
dua bulan berlalu, hubungan aku dan Andi berjalan seperti biasa, hanya saja akhir akhir ini aku merasakan banyak perbedaan diantara kami, sering kali jalan pikiran kami bertolak belakang dan itu juga yang membuat aku merasa kurang nyaman dengan Andi. sifat andi yang menurutku masih terlalu kekanak kanakan, aku sadar bahwa akupun masih bersifat demikian, tapi setidaknya aku berharap andi sedikit lebih dewasa daripada aku, aku tidak menuntut andi supaya menjadi tipikal cowok idamanku, yang dewasa, bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, bijaksana dan berfikir sebelum berbicara ataupun bertindak atau tipikal cowok cowok idamanku yang lainnya, yang aku mau andi itu paham dan mengerti apa yang aku inginkan dan aku butuhkan itu sudah lebih dari cukup bagiku.
entahlah hati ini akan mengarahkan kemana perasaan itu, akupun mulai mati rasa terhadap Andi, mencoba tetap menjaga hati dan perasaan ini agar tetap utuh untuknya, disetiap pertengkaran dan pembicaraan kami aku tidak merasakan sedikit kedewasaan andi,  tidak dapat dipungkiri aku pun mulai beranjak ke lain hati, tapi yang perlu andi tau, aku sudah berusaha sekuat apapun agar tetap menjaga perasaanku, hanya saja andi tidak mengerti apa maksudku selama ini. salah aku? yang tetap gagal untuk menjaga perasaan ini, atau salah andi? yang tidak mengerti aku...
dan sejak kompetisi itu aku menjadi dekat dengan rival, hanya sebatas sahabat, karena dia benar benar mengerti perasaanku, seiring berjalannya waktu hubungan aku dan rival semakin dekat, bahkan aku tak tau rival menganggap aku hanya sekedar sahabat atau lebih dari itu, aku tak berfikir untuk menjalin hubungan lebih dari itu, karena ada Andi dihatiku, bagaimana pun dia, aku menyayanginya.
aku merasa disetiap pertemuan aku dengan rival, pandangan dia terarah kepadaku. apakah mungkin cinta yang dulu kini tumbuh dan berkembang kembali "apa yang kamu harapkan dariku rival," batinku.
jujur aku akui, rasa sayangku untuk andi seolah olah hilang entah kemana? hanya kehampaan yang aku rasakan, hubungan aku dengan andi semakin merenggang tetapi aku masih bertahan.
17 november 2012, hari ini aku memutuskan untuk pergi ke puncak, untuk sekedar melepaskan semua kepenatan di jakarta, aku pergi bersama rival, tanpa sepengetahuan Andi tentunya, entah setan apa yang merasukiku hingga aku bisa berbuat hal seperti ini, andi maafkan aku, aku terlalu jahat untukmu.
oh Tuhan itu Andi, sumpah, aku bukan pura pura terkejut kali ini. aku SANGAT terkejut melihat Andi, dan Andi pun melihat aku bersama rival. entah andi mengetahui kebodohannya atau tidak, aku masih tidak dapat mempercayai penglihatanku. aku menundukan kepala, merasa putus asa, dan akhirnya air mataku pun terjatuh membasahi wajah yang sejak tadi kering tersengat panasnya sinar matahari. 
"je, kamu kenapa?" tanya rival, yang mulai menyadari bahwa sejak tadi aku menangis.
"tadi itu andi, aku gak tau harus gimana lagi aku merasa bersalah banget riv" jawabku penuh rasa takut.
"udah jangan nangis, percaya sama aku, semuanya akan baik baik saja," rival, mengusap air mataku, menyeka sedikit rasa takutku, dan kini aku merasa nyaman.
"je handphone kamu mana?" tanya rival
"ada di tas, kenapa?" aku balik menanyakan maksud rival
"aku mau sms andi, udah tenang aja, setidaknya aku bisa menjelaskan semua ini kepadanya," jelas rival, aku masih belum benar benar paham apa yang di maksud dia, akupun pasrah menyerahkan handphone ku kepada rival.
oh, my God, dia benar benar menghubungi andi, tapi dia berpura pura menjadi aku, untuk menjelaskan semua ini, sekarang aku baru mengerti apa yang dimaksud rival tadi.
semakin lama aku semakin paham perbedaan antara andi dan rival, jujur saja mereka adalah orang yang sama sama aku sayangi, sifat andi yang lucu dan prilaku rival yang dewasa, semuanya bisa membuat hidupku berwarna, ya Tuhan inikah dilema cinta yang Engkau anugrahkan untukku, aku tak sanggup untuk lebih lama lagi di posisi seperti ini, dan akan lebih berat lagi jika aku diharuskan untuk memilih salah satu diantara mereka, karena mereka begitu berharga.
perjalanan mesih cukup jauh, dan cuaca pun sudah tidak mendukung untuk berkendara lebih lama lagi, rintik hujan mulai jatuh dan membasahi setiap senti meter jalan aspal. kami pun memutuskan untuk mencari tempat meneduh, dan menemukan sebuah, warung untuk berteduh, akhirnya kami berhenti sejenak untuk sekedar minum teh atau kopi hangat seiring menunggu rintik hujan berhenti.
"je, mau kopi atau teh," tanya rival. mata kami pun bertemu. entah ini sudah yang keberapa kalinya terjadi. dan, setiap hal itu terjadi, aku merasa bahwa pria ini memiliki pusaran angin yang mampu menyedotku ke dalam arusnya yang deras. dan, entah sudah berapa kali aku melihat senyum itu, tetap saja selalu membuatku susah untuk bernapas dengan normal karenanya. senyum dan pandangannya mampu membuat duniaku menjadi gelap seketika, dan hanya dia yang bersinar di mataku.
"eh, e..teh aja deh," aku membalas pertanyaan rival dengan kilat.
"oke deh, jangan bengong nanti imutnya ilang tau," goda rival, seraya mengusap usap kepalaku dengan lembut.
"makasih, yeeeh udah imut mutlak tau," balasku, mencubit lengan kanan rival.
Hujan pun sudah tidak terlalu deras, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan, udara sejuk sudah mulai terasa, kabut pun sudah terlihat sampai sejauh ini, mungkin sudah memasuki wilayah puncak, tapi sepertinya perjalanan kami masih cukup lama untuk bisa sampai tempat tujuan. dua jam berlalu, rasa lelah sudah sangat terasa, mungkin saatnya untuk beristirahatkan sejenak, kami pun berhenti di sebuah masjid, untuk sekedar mencuci muka dan memberi makan perutku.
pukul enam sore, kami sampai di villa, akupun segera membersihkan tubuhku yang penuh dengan debu dan keringat, setelah selesai aku merebahkan diri sejenak untuk menghilangkan semua rasa lelahku.
pikiranku pun melayang, tanpa sadar aku teringat andi, oh yaampun sudah seharian aku tak memberi kabar, seharian ini aku melupakannya. segera aku ambil handphone ku berniat untuk menghubungi andi, tapi sayangnya tidak ada sinyal satu pun yang singgah di handphone ku, "sial," batinku.
aku pun pasrah, tak ada yang bisa aku lakukan lagi, mungkin andi akan marah dan berpikiran yang macam macam terhadapku, andi maafkan aku...
suasana puncak malam ini sangat indah, setelah hampir seharian diguyur hujan, tapi para bintang bintang dan makhluk malam lainnya tak enggan untuk mengiasi malam ini.
"Je,aku boleh ngomong sesuatu engga?" tanya rival. saat itu kami sedang berdua di teras villa. sejenak aku memalingkan pandanganku ke arah rival.
"iya boleh, mau ngomong apa emang,? aku melanjutkan memandang pemandangan indah yang ada di depanku.
seketika tangan rival menggenggam tanganku, aku terkejut mendapatkan reaksi ini, aku tak tau harus bagaimana, aku pun berusaha melepaskan genggaman itu, tapi aku tak sanggup, aku tak sanggup menahan semua debaran yang muncul di jantungku.
"aku mau jujur, aku gak mau terlalu menyimpan semua rasa ini, aku suka dan aku sayang je sama kamu, sejak awal kita ketemu, aku udah suka sama kamu, tapi aku tau kamu udah ada yang punya, tapi aku gak bisa lebih lama lagi menyimpan semua ini." jelas Rival. 
aku hanya bisa terdiam mendengar semua cerita tersebut, aliran darahku mengalir dua kali lebih cepat dari biasanya dan detakan jantungku semakin membabi buta, melumpuhkan semua akal dan fikiran sehatku.
"kamu sama sekali engga punya perasaan apa apa terhadapku,?" tanya rival, tetap dengan nada lembut.
"aku milik andi," jawabku sedingin mungkin, aku tak memberi dia jalan untuk terus masuk dan meracuni hati dan pikiranku.
"lantas bagaimana dengan perasaanmu sendiri? kamu engga pernah merasa kecewa dengan dirimu sendiri? tanya rival.
"memangnya kenapa dengan aku," jawabku.
"kamu selalu memperhatikan andi, apa kamu engga pernah memperhatikan bagaimana perasaan aku dan perasaan kamu sendiri? apa yang kamu rasakah saat ini? apakah kamu engga pernah sekalipun merasakan kecemburuanku, apa engga ada sedikitpun ruang di hatimu untuk aku?"
aku tidak tau apakah rivai memang tidak peka terhadap perasaanku selama ini atau memang dia sengaja membuatku semakin merana dengan semua perasaan ini.
aku masih terdiam, tidak mampu menjawab semua pertanyaan rival.
"kenapa kamu diam, apa kamu tidak memiliki rasa yang sama terhadapku je,?" tanya rival sekali lagi.
"kamu ingin tau bagaimana perasaanku, rival? aku memendam dan mengubur semua perasaanku kepadamu selama aku masih menjadi milik andi, aku tidak peduli dengan perasaanku sendiri terhadap kamu, asalkan aku bisa melihat keberadaanmu di dekatku, dan melihat kamu tersenyum untukku. hanya itu saja yang berani aku inginkan untuk diriku sendiri untuk saat ini, aku tidak berani rival. untuk saat ini, aku hanya senang berada di dekatmu, itu saja " aku mencoba untuk jujur terhadap diriku sendiri dan rival, tanpa terasa butiran butiran air mataku jatuh dan membasahi pipiku, tak sanggup mengungkapkan semua ini, tapi itu harus aku lakukan.
"aku juga je, aku juga suka kamu je, cuma kamu," bisik rival sambil mengusap air mataku.
aku tidak menjawab pertanyaan rivai, memilih untuk diam.
"je, please say something, please be mine," bisik rival
"jangan paksa aku, rival. aku engga mau menyakiti dan melukai perasaan andi," jawabku
seharusnya dari awal aku sudah mematikan semua perasaanku kepada kamu, tidak terhanyut dengan semua rasa ini. namun, apakah kita mampu menolak datangnya rasa cinta yang sewaktu waktu hadir ditengah tengah kita? Cinta tak pernah memilih kepada siapa dia akan datang. cinta tak pernah mengenal waktu kapan sebaiknya dia datang, dan cinta itulah yang bisa saja membuat sebuah rasa kekecewaan.
keheningan menyelimuti kami berdua. aku terpaku yang aku rasakan kali ini merupakan hal diluar kehendakku. mengapa rasa sedih dan bahagia bisa terjadi dalam satu waktu yang bersamaan? disatu sisi aku bahagia bahwa aku mengetahui perasaanku terhadapnya terbalaskan, tapi disisi lain ada goresan perih yang mengiris hatiku, aku tak mampu untuk melukai andi, aku sangat menyayanginya.
"rival, sebaiknya kita jalan sendiri sendiri. jangan mendekatiku secara personal lagi, aku harus menjaga perasaanku untuk andi, aku minta maaf untuk semuanya aku pikir persahabatan lebih baik untuk kita, masalah siapa yang akan aku pilih pada akhirnya aku masih mempertimbangkan semua itu, beri aku waktu untuk saat ini" aku menggantungkan permintaanku, sesuatu yang berat bagiku untuk meminta hal ini kepadanya.
kami membisu, aku tau bahwa apa yang aku katakan kepadanya sangat menyakitkan hatinya, merupakan sebuah syarat yang sangat berat baginya. tetapi itu adalah syaratku. apakah dia mampu melakukannya? entahlah, aku tidak tau karena akupun tidak yakin terhadap diriku sendiri bahwa aku akan mampu bertahan dalam kondisi ini, dekat, tapi tak mampu menggapainya, karena dia bukan milikku. mungkin ini adalah hukuman yang harus aku jalani karena berani mencintai sahabatku sendiri.
seminggu kemudian...
Kejadian antara aku dan Rival yang terjadi di puncak seminggu yang lalu selalu menari nari dipikiranku, semua mengalir begitu saja. air mata kembali mengalir. sejujurnya, aku sangat bahagia karena rival begitu dekat denganku akhir akhir ini. rival selalu mampu membuat hari hariku menjadi berwarna, membuat hatiku menjadi berbunga bunga, membuat semangatku selalu menyala,itu semua karena dia. hal terindah yang pernah terjadi didalam kehidupanku.
Jika kini aku menangis, aku tidak yakin atas apa yang aku rasakan. mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan dia di dalam situasi seperti ini? ada alasan apakah dibalik semua ini? apakah memang sejak awal sebenarnya kami berdua tidak boleh bersama? dan, kini saat Tuhan memberi jalan bahwa kami akhirnya ketahuan, siapa yang patut dipersalahkan?
andi memang tau bagaimana kedekatanku dengan rival, mungkin semuanya baik baik saja, tapi masalah hati kami pun terluka, kini aku memutuskan untuk menyendiri, aku memutuskan andi kali ini, dan akupun menjauh dari rival, mungkin karena aku tak mampu lagi melihat mereka yang terluka oleh aku. andi dan rival selalu bertahan walau akupun selalu menyakiti, aku tau ini semua tak adil dan ini sudah terjadi, aku tak sanggup, semua ini aku yang mulai dan sekarang pun harus aku yang mengakhirinya.

20, November 2012
Dear Rival, kenapa disaat aku memiliki rasa itu dunia ini seolah olah menyuruh aku untuk mengakhiri semua rasa itu, mungkin disini posisi aku yang terlalu memaksa, hingga ada yang harus terluka karena aku, aku pun sadar kamu pun terluka karena aku, memang tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata, dan akupun siap untuk terluka, tapi cinta tak mungkin berhenti secepat seperti aku jatuh hati, dan cinta pun tak mudah berganti, berganti menjadi benci, walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar tapi karena cinta ini juga yang membuat aku memilih semua ini, dan kini aku harus pergi, aku harus menyudahi semua cerita ini, kini aku minta satu hal darimu. belajarlah mencintai wanita lain selain aku, maka akupun akan belajar untuk mencintai orang lain sejak sekarang, maafkan aku untuk semua ini.

Yang selalu merindukanmu,
Jessy,

dan kini, aku memilih Andi untuk saat ini, aku belajar untuk mencintainya sejak awal, mencoba menerimanya kembali, dan mencoba memperbaiki kisah kami yang sempat terhempas oleh cinta yang lain. karena akhirnya kehidupan hanyalah sepenggal cerita...

thanks for reading kaka^^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar