Selasa, 20 November 2012

mungkin nanti

“aku telah melewati beribu ribu jarak, beribu ribu hari, membawa ruang kosong dihatiku. Cinta ini telah kutitipkan pada masa lalu, tetapi aku masih menyimpan sehelai harapan masa depan bersamamu. Aku masih ingat semua kata demi kata yang terucap manis dari bibir indahmu, memberikan aku sepucuk harapan yang menghilang bersama langkahmu yang menjauh”

    “Je....”
seseorang memanggilku dengan keras, tapi siapakah dia? Sepertinya aku sangat mengenal suara itu, cara dia memanggilku membuat aku merasakan semua perasaan itu, perasaan yang telah lama ku lupakan. Oh Tuhan, itu suara dia! Ya dia, dia yang aku cinta dulu, dengan perasaan ragu aku menoleh ke arah suara tersebut. Tidak ini tidak mungkin. Itu bukan dia, tidak mungkin. Aku mencoba membantah tebakanku sendiri akan sosok yang kini ada dihadapanku. No! Tidak mungkin dia.

“apa kabar je, masih ingat sama aku?” tanya seseorang yang kini ada di hadapanku, sebuah sosok yang pernah hadir dalam kehidupanku, yang tak mungkin untuk aku lupakan. Andai saja aku bisa mengilang sekarang juga, akan kulakukan itu, karna aku masih belum sanggup untuk bertemu dengan dia, aku belum mampu untuk lupakan semuanya.
   
    “Je, kamu baik baik aja kan?” panggilnya sekali lagi, mungkin dia khawatir karena sejak tadi aku tidak berkata apapun kepadanya.
    “apa kabar?”

“baik,” sahutku kaku, melihat uluran tangannya yang penuh dengan kengerian. Jika saja aku boleh melanggar semua etika yang pernah diajarkan oleh orang tuaku, aku tidak ingin menyambut uluran tangan itu dan lebih memilih untuk pergi dan menjauhi dia saat ini juga.

Akhirnya, aku menyambut uluran tangannya dengan enggan. Ah betapa benci aku dengan situasi ini, Tuhan izinkan  aku untuk secepatnya pergi meninggalkan tempat ini.

“sama siapa je kesini ?” tanya seseorang itu dengan senyum manisnya, senyum yang masih sama seperti dulu.

Aku menatapnya dengan penuh kekuatan “sendiri,” jawabku singkat dan dingin.

“je, maafkan aku,” ucapnya lirih. Membuka kembali ingatanku tentang peristiwa itu, sungguh ada apa dengan hari ini, kenapa hari ini begitu memilukan.

“maaf untuk apa?” jawabku penuh rasa bimbang, aku harus apa no? Apa aku harus membuka kembali cerita kita dulu? Tapi aku engga sanggup buat lupain semuanya, terlalu sakit untukku.

“maaf untuk 2 tahun ini, aku engga pernah bermaksud untuk ninggalin kamu je, tolong percaya sama aku, aku bisa jelasin semuanya, tolong dengerin aku je.

Jangan tanyakan bagaimana cepatnya jantungku berdetak saat ini. Jangan tanyakan bagaimana kerasnya suara detak jantungku saat ini. Ini adalah satu satunya ucapan yang tidak aku dengar, karena aku tidak ingin hati ini terluka kembali. Aku melirik keadaan sekitarku, hanya ada beberapa orang yang sedang menunggu bis disini, sama seperti aku, akhirnya aku terpaksa membuka lagi ingatanku tentang semua masa lalu itu.


Aku berusaha untuk bersikap cuek. “Reno, dengerin aku, aku udah lama lupain semua itu, aku udah maafin kamu,” aku memalingkan wajahku darinya, mencoba melihat kearah lain. Aku lebih memilih untuk bersikap tidak peduli atas semua tatapan yang dia berikan kepadaku.
Aku melihat Reno menelan ludahnya, dia tidak berkata apapun lagi, hanya kesunyian yang mengisi detik demi detik yang kini ku lalui.

“ini tempat pertama kali kita ketemu ya je, aku suka tempat ini, dan aku rindu semua kenangannya” Reno mengedarkan pandangannya ke sekeliling, “aku fikir aku engga bisa lagi ketemu sama kamu lagi setelah kejadian itu, tapi syukurlah keajaiban yang mempertemukan kita saat ini” ucapnya seraya membuat aku memutar otak, kejadian itu? Kejadian apa, kenapa dia engga pernah cerita sama aku.

“maksud kamu kejadian itu, kejadian apa ren?” tanya ku penuh selidik.
Reno terdiam masih menatapku, terdengar helaan hapasnya “aku sungguh sungguh minta maaf, aku tau mungkin kamu udah benar benar melupakan semuanya, tapi tidak dengan aku, aku tidak pernah melupakan semua tentang kita, dan itu selalu membawa duka yang sangat menyakitkan bagi hatiku. Dua tahun lalu ayahku divonis mengidap sakit kanker getah bening, beberapa kali beliau melakukan check up dan berobat ke luar negri, tapi engga banyak membawa perubahan, akhirnya terakhir kali ayah harus berobat ke singapura.”

Aku tercengang mendengar semua penjelasan Reno, ayah Reno sakit waktu itu, tapi kenapa aku engga tau itu, aku menggali semua kenangan tentang Reno, tapi tetap saja aku tidak tau apa apa tentang keluarganya.
“ibu memintaku untuk menemani beliau disana, menemani pengobatan ayah yang entah sampai kapan. Karena itu aku tiba tiba mengundurkan diri dari sekolah dan menghilang begitu saja dari kamu je.

“apa...apa ayahmu membaik?”
Reno menggelengkan kepalanya, “ayah membaik, tapi kondisi ayah terlalu lemah untuk pulang, apalagi pengobatannya harus berlanjut, biaya pulang pergi Jakarta-Singapura tidak sedikit. Kami memutuskan untuk menjual rumah, dan harta benda lainnya untuk biaya pengobatan ayah dan memutuskan untuk tinggal disana. Tapi ayahku hanya bertahan satu setengah tahun saja.”

Tanpa sadar tanganku menyentuh sebelah tangan Reno, ikut merasakan duka yang dia alami. Reno menatap tanganku yang menyentuh sebelah tangannya, aku tersadar dan hendak menarik tanganku dari tangannya, tapi Reno menahannya dan menggenggam erat tanganku untuk tetap ditempatnya. Kini, kemi bertatapan. Aku tidak dapat berkata apapun kepadanya.

“je...,” panggil Reno. “aku engga mau kehilangan kamu lagi, bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?”
aku kembali merasakan sakit di dada karena mengingat hancurnya perasaanku, aku masih mengingat bagaimana duka yang aku alami kala itu, air mata tak bisa berhenti setiap aku merindukan dia.
“je, please...” genggamannya semakin erat, semakin memberikan aku kehangatan yang dulu sempat membuatku merasa sangat nyaman. Tatapan matanya seperti menghipnotisku untuk kembali merindukan dia, ya memang aku benar benar merindukan dia, sesungguhnya aku tak mampu untuk lupakan dia sampai detik ini.

Aku mengangguk pelan. Memberikan sebuah kepastian akan perasaanku saat ini.
Apakah aku sedang bermimpi saat ini no? Karena ini yang selalu aku impikan, bahwa kita akan bertemu kembali.

Hari sudah semakin sore, dan langit pun menunjukan tanda tanda akan turunnya sang hujan. Entah perasaan apa yang menghampiriku saat ini, aku bingung dengan semua ini, masih tak percaya bisa kembali seperti masa lalu itu, aku sungguh bahagia Reno.

“i miss you, i love you, you are the last for me je...” bisiknya di telingaku, tak sadar butiran air mata mengalir lembut di pipiku.

“i miss you and love you too” balasku. Tanpa berfikir panjang Reno langsung mencium keningku, kecupan hangat yang aku rasakan dari seseorang yang sangat aku rindukan saat ini. Dan Reno pun memutuskan untuk mengantar aku pulang.

Semakin terasa rintikan air hujan semakin deras, tak hentinya menerpa motor Reno yang melaju kencang kearah rumahku. Tanpa aku duga Reno menarik erat tanganku, membalutnya kelingkar pinggangnya, terasa sekali ada perasaan berbeda dihatiku. Getaran cinta yang terasa semakin yakin bahwa dia akan menjadi kekasih terindahku.

Laju Kecepatan motor yang kencang, membuat tanganku semakin erat memegang lingkaran pinggang kekasihku, dan tanpa terasa seperti ada suara gesekan ban dengan aspal yang sangat keras, membuat telinga terasa sakit untuk mendengarnya, lontaran dan suara jeritan terdengar samar-samar lagi semuanya terasa gelap dan hilang, namun rasa sakit di tubuh ini sangat aku rasakan.

Saat mata masih terpejam mata rapat, namun pikiranku terasa hidup kembali, membayangkan gesekan ban motor yang kencang lalu mengingatkanku pada Reno, ingin aku berteriak dan mamanggil namanya, tapi terasa sangat susah dan sakit sekali, perlahan ku mencoba membuka kedua mataku, ku lihat sekelilingku terasa asing, dan kenapa ayah dan ibu sekarang ada di sampingku, ada apa dengan semua ini? Dimana Reno dan kenapa aku terbaring lemas disini, semua fikiran fikiran itu berkeliling di benak ku, perasaan takut dan ragu menyelimuti diriku. Hanya ada beberapa keluarga dan teman dekatku yang sejak tadi sudah menanti kesadaranku.

Sungguh aku tak tau apa yang terjadi dan sekarang dimana Reno, aku sangat merindukan dia, masih merindukan semua tentang dia.
“sayang gimana keadaan kamu?” tanya ibu dengan memeluk erat tubuhku.
“dimana Reno bu, kemana dia?” tanya ku tanpa memperdulikan pertanyaan ibu. Tapi ibu hanya terdiam dan hanya raut bimbang di wajahnya.

“je, yang sabar ya, Tuhan pasti punya rencana yang indah atas semua kejadian ini, kamu yang kuat ya.” ucap bella sahabatku.
Kini semua orang menangis, aku semakin bingung dengan semua ini.

 “hey, ada apa? Kalian kenapa dan dimana Reno, dimana?” ucapku parau. Tiba tiba ibu membelaiku dengan penuh kasih sayang “sayang Reno tidak bisa di selamatkan, tapi ibu bersyukur Tuhan masih memberi kamu keselamatan.”

seperti ada petir yang menggelegar tepat di telingaku saat ini, membuatku mendadak menjadi tuli, menggosongkan hatiku, menghancurkan semua indraku, dan membuatku menjadi batu yang mulai retak untuk hancur berkeping keping. Apakah ibu sedang membohongiku? Tapi untuk apa ibu membohongiku? Jika benar Reno sudah tiada. Kini hanya air mata yang mampu menjelaskan tentang bagaimana perasaanku saat ini.

Sengguh aku tak percaya dengan semua ini, aku menggentakkan bahuku, tidak tau harus bagaimana lagi sekarang. Pikiranku serasa tersumbat, tidak mampu berpikir, dan tidak mampu berkata kata untuk saat ini. Aku hanya ingin menangis sekarang. Rasa sakit di dada ini seakan mampu membuatku mati berdiri, begitu nyeri yang aku rasakan hingga mampu merontokan seluruh tulang yang ada di dalam tubuhku.

Aku masih tetap di posisiku, tidak bergerak, masih benar benar tidak percaya dengan semua kejadian ini. aku menghela napas panjang "aku sungguh sungguh tidak percaya dengan semua ini, please Ren kamu tunjukin sama mereka, kalo apa yang mereka kata kan itu engga benar." ucapku dalam hati.
Tanpa pikir panjang kini ku berlari menyusuri setiap lorong lorong di Rumah sakit untuk mencari dimana Reno, aku tak peduli seberapa lemahnya diriku, yang ada di fikiranku saat ini hanyalah bertemu dan memeluknya, karena aku sangat merindukannya.

Dan kini, aku melihat Reno sudah tak berdaya, tubuhnya memar dan bekas darah yang masih memerah terlihat disekujur tubuhnya, namun dia tetap Reno ku yang aku sayang, dia tetaplah yang terindah bagiku.

andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin bertemu lebih lama lagi denganmu Reno, mengukir kisah cinta kita hingga tak lekang oleh waktu. Andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin tidak pernah terpisah darimu oleh berbagai alasan karena hati ini terpaut olehmu. Hingga saat ini, aku masih tidak bisa melepas bayanganmu dari ingatanku, dari kepedihan hatiku yang paling dalam. Kita memang tak lama, bahkan kita tak memiliki kisah cinta seperti pasangan yang lain, tetapi ternyata kita sanggup saling menyakiti hati kita masing masing sangat dalam. Namamu tak pernah hilang dari diriku sejak aku bernapas dan akan tetap ada hingga aku tak sanggup bernapas lagi.

aku mengingat setiap hal yang terjadi diantara kita dengan sangat jelas, kenangan itu tetap tersimpan rapi dalam hatiku. Hingga saat ini kamu terpahat sangat dalam dihatiku, Reno. Ingin ku menyalahkan diriku atas semua ini, rasanya benar-benar aku ingin sekali menolak takdir ini, dibalik semua itu aku terfikirkan jalan aspal yang licin dan gesekan ban yang kencang dan itu semua dibuat oleh hujan. Dan hujan telah menjadi saksi cintaku dengan Reno, mengingatkanku pada semua tentang Reno.

Kini aku harus menelan kenyataan pahit bahwa Reno telah benar benar pergi dari hidupku, aku harus merelakan semuanya membawa seluruh cintaku bersamanya. Dan, kini, aku mengetahui bahwa kisah cintaku bersama Reno harus berakhir, tapi tidak dengan semua rasa cintaku untuknya yang tak akan pernah lengkang oleh waktu. Kisah cinta ini yang sesungguhnya sangat indah bagiku, kisah cinta yang tiada pernah aku lupakan.

"matahari mengeluarkan cahanyanya yang paling indah di sore hari, saat menjelang malam, saat bulan pun mulai naik ke singgahsananya dan menguasai langit. cahaya oranye, merah dan keemasan disambut indahnya langit biru yang terpantul dari laut dan samudra. supaya esok, langit tetap ingat pada mataharinya yang mempesona. aku pun akan memberikan yang terbaik yang bisa kuberikan padamu. Agar kau terus teringat padaku, pada esok, setiap hari yang kau lalui, dan kuharap, seperti langit, kau bisa menyambut pesonaku, meski itu yang terakhir"

Dan aku akan melanjutkan hidup tanpa pernah melupakanmu. Semoga kamu bahagia di sana Ren, aku akan meminta kepada Tuhan agar sang malaikatNya menemanimu kala ku tak bersamamu. Sampai jumpa lagi, Reno. Bila mimpiku di dunia telah usai, aku akan pergi ke tempatmu...
selamat jalan, Reno ku...

Zikha Aini Julianty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar